Sekularisasi Mematikan Kehidupan



Zahrul Fata


Kandidat Doktor, Department of Quran and Sunnah Studies, International Islamic University Malaysia

Sekitar dua pekan lalu harian ini memuat pernyataan Azyumardi Azra bahwa sekularisasi tidak akan mematikan agama. "Sekularisasi tidak membuat agama mengalami kematian tetapi sebaliknya mendapat momentum baru yang sering disebut sebagai kebangkitan agama," demikian kata Azra seperti dikutip Republika (20/08/07).

Pernyataan mantan rektor UIN Jakarta itu sangat menarik dan perlu ditanggapi. Di satu sisi ia terkesan memberikan justifikasi bagi pengusung sekularisasi untuk terus menggulingkan ide tersebut. Di sisi lain, maksud pernyataan tersebut seolah-olah ingin meredakan kegusaran kaum agamawan akan bahaya sekularisasi.

Hemat penulis, agama boleh jadi tidak mati akibat sekularisasi, namun kehidupan beragama akan sekarat karena peran agama dipersempit atau dicabut dari wilayah publik. Agama bagi kehidupan laksana ruh bagi jasad. Agama berfungsi menuntun jalannya kehidupan individu maupun masyarakat ke arah yang benar selama ia belum terkontaminasi oleh nafsu.

Harvey Cox dalam bukunya, The Secular City, menyimpulkan bahwa sekularisasi tidak bisa lagi dibendung, sehingga setiap orang, mau tidak mau, harus mencintainya, kalau tidak ingin tersingkir dari pentas kehidupan. Dalam konteks Barat, kampanye sekularisasi bisa dipahami dan merupakan proses yang wajar. Hal ini karena, ajaran murni agama sudah bercampur aduk dengan intervensi gereja yang telah memanipulasi dan mempolitisasi agama untuk kepentingan pribadi sebagaimana yang digambarkan oleh Philip Schaff dalam bukunya History of the Christian Church. Sehingga yang tampak oleh pengikut Kristen adalah ajaran yang sudah direvisi oleh pihak gejreja yang sarat dengan kepentingan pribadi. Sedang ajaran murni agama, disembunyikan di 'belakang' gereja. Akibatnya, umat Kristiani meninggalkann gereja karena ajaran-ajarannya sudah tidak membumi lagi. Dibunuhnya para ilmuan Barat oleh pihak gereja karena penemuan mereka dianggap bertentangan dengan kitab suci, semakin menjauhkan masyarakat dari gereja.

Pelecehan terhadap teks-teks suci agama oleh pihak gereja sebenarnya tidak terjadi pada awal abad ke-16 yang memicu gerakan reformasi protestan pada saat itu, tetapi pada jauh hari sebelumnya. Pascakenabian Isa AS, sudah terjadi bahkan tidak hanya di kalangan Kristen, di kalangan Yahudipun demikian. Hal ini disinyalir dalam Alquran Surat Ali Imran ayat 187. Selama agama ditutupi kemurniannya, dilecehkan teks-teksnya dan ditukar dengan kepentingan pribadi, selama itu pula semakin banyak yang meninggalkan gereja (agama). Sehingga agama di Barat mengerucut menjadi fudiesme dan eupraxophy, dalam artian, asalkan percaya bahwa Tuhan itu ada, tanpa harus menganut agama tertentu, sudah dianggap beragama. Suatu kepercayaan yang amat naif, percaya dengan adanya Tuhan, tapi ajaran-ajaran-Nya dinafikan dan ditukar dengan kepentingan pribadi.

Itulah gambaran tentang agama (Kristen maupun Yahudi) di Barat. Agama sudah tidak lagi cantik dan memikat hati, ia sudah menjadi tua renta dan tidak menarik, sehingga ia ditinggalkan oleh para pengikutnya dan mereka memilih 'selingkuh' dengan 'agama- agama' baru yang lebih cantik dan menarik. Dalam konteks keislaman, apakah Islam akan mengalami hal yang serupa dengan agama di Barat? Bagaimana hubungan Islam dengan ilmu pengetahuan dan kemajuan? Sebelum menjawab pertanyaan ini ada baiknya kita mengetahui pandangan Islam tentang agama.

 

Tak bisa lepas



1 2 next