CIRI-CIRI PARA WALI ILAHI



(Syarah Hadis Mi’raj 4)

 

 

Mereka adalah orang-orang yang memandang ( menilai ) kepada makhluk-makhluk dengan pandanganku kepada mereka dan tidak menyandarkan semua kebutuhannya kepada makhluk. Perut-perut mereka kosong dari makanan haram, kenikmatan mereka didunia adalah dzikir kepadaku, kecintaanku serta keridhoanku kepada mereka. Wahai Ahmad! Jika engkau menginginkan menjadi manusia paling wara’ (hati-hati) diantara manusia maka zuhudlah terhadap dunia dan berharaplah (kebaikan) di akherat. Nabi Muhammad saw. berkata : ya Ilahi! Bagaimana aku aku berbuat zuhud di dunia?

Tuhan berfirman: ambil sedikit apa yang ada dunia sedikit[1] dari makanan dan minuman serta pakaian dan janganlah menyimpannya untuk esok hari serta teruslah berdzikir kepadaku. Beliah berkata: wahai Tuhanku! Bagaimana aku terus menerus berdzikir kepadaMu? Tuhan berfirman: (berdzikirlah) di kesendirian tanpa manusia dan kebencianmu kepada manis dan pahitnya ( dunia ) serta kosongkanlah perut dan rumahmu dari dunia.

Wahai Ahmad! Hati-hatilah engkau jangan sampai seperti seorang anak kecil ketika melihat kepada warna hijau dan kuning (kenikmatan dunia) dia akan mencintainya dan ketika diberi sesuatu yang manis atau pahit dia akan mengikutinya…”

 

 Mereka adalah orang-orang yang memandang kepada makhluk-makhluk seperti aku memandang mereka…”

Penjelasan dari kutipan riwayat diatas adalah kecintaan kepada manusia merupakan bagian dari kecintaan kepada Tuhan mereka dimana ketika manusia tidak mencintai Tuhan serta memiliki hubungan dekat denganNya maka manusia tidak akan bisa mencintai makhluk lain karenaNya. Pada dasarnya, ketika manusia memiliki kecintaan kepada Tuhan maka cinta ini akan memancarkan kecintaan kepada setiap orang yang memiliki hubungan dekat dengan Tuhan. Ketika dia melihat bahwa seseorang dicintai oleh Tuhan maka dengan berdasarkan kecintaannya kepada Tuhan, dia akan mencintai orang tersebut. Oleh karena itu, orang seperti ini akan memandang masyarakat seperti Tuhan memandang memandang mereka; artinya setiap orang yang mulia disisi Tuhan maka dalam pandangan dia pun akan mulia dan tidaklah demikian bahwa Tuhan mencintai seseorang tersebut berdasarkan satu sisi sementara dia mencintainya berdasarkan sisi yang lain, akan tetapi terdapat satu sudut pandang dan satu ukuran dalam memandang manusia.

 



1 2 3 4 5 6 7 8 9 next