BUANG HAJAT (TAKHALLÎ)



PASAL 2

Masalah 32: Pada saat sedang buang hajat—sebagaimana juga kondisi-kondisi yang lain, kita wajib menutupi aurat kita dari pandangan orang lain yang sudah mumayyiz, baik ia laki-laki maupun perempuan, sekalipun orang gila dan anak kecil yang sudah mumayyiz. Begitu juga kita haram memandang aurat orang lain, meskipun ia adalah orang gila atau anak kecil yang sudah mumayyiz. Ya, suami dan istri masing-masing boleh melihat aurat yang lain.

Aurat orang perempuan dalam masalah ini vagina dan anus.[1] Sementara aurat orang laki-laki adalah kemaluan dan anus ditambah dua buah pelir. Dan berdasarkan ihtiyâth wajib, kita juga tidak boleh melihat bulu yang tumbuh di sekitar kemaluan (orang lain).

Masalah 33: Kita tidak boleh melihat aurat orang lain dari balik kaca, bahkan melalui cermin atau air yang bening.

Masalah 34: Jika kita terpaksa harus melihat aurat orang lain, seperti kita ingin melakukan pengobatan, maka berdasarkan ihtiyâth wajib[2] kita harus melihatnya melalui cermin yang diletakkan di hadapan aurat tersebut, bila keterpaksaan itu bisa teratasi dengan cara ini. Jika keterpaksaan itu tidak bisa teratasi dengan cara tersebut, maka kita boleh melihat auratnya.

Masalah 35: Pada saat buang hajat, haram kita membelakangi dan menghadap ke arah Kiblat dengan menggunakan bagian depan tubuh kita; yaitu dada dan perut. Tolok ukurnya adalah membelakangi dan menghadap yang dapat disebut membelakangi dan menghadap Kiblat secara ‘urf. Berdasarkan ihtiyâth wajib,[3] kita juga tidak boleh hanya mengarahkan kemaluan kita saja ke arah Kiblat. Begitu juga berdasarkan ihtiyâth wajib,[4] haram juga kita menghadap dan membelakangi Kiblat pada saat kita sedang melakukan istibrâ’, bahkan menurut pendapat yang aqwâ hal itu juga tidak boleh bila tetesan-tetesan air kencing masih keluar.

Masalah 36: Jika kita tidak mengetahui arah Kiblat, dan kita juga tidak mungkin meneliti di mana letaknya, serta sangat sulit kita menunda buang hajat hingga arah Kiblat dapat dipastikan, maka kita dapat menghadap ke arah mana saja. Tidak jauh kemungkinan kita wajib beramal sesuai sangkaan, bila kita memiliki sangkaan tentang arah Kiblat.

Bercebok (Istinjâ’)

Istinjâ’ adalah membersihkan tempat keluarnya air kencing dan air besar (bercebok).

Masalah 37: Berdasarkan ihtiyâth, kita wajib mencuci tempat keluarnya air kencing dengan menggunakan air sebanyak dua kali. Meskipun[5] menurut pendapat yang aqwâ, orang laki-laki cukup mencucinya sekali, asalkan air kencingnya keluar dari salurannya yang normal. Selain air tidak dapat menyucikan tempat keluarnya air kencing.

Dalam menyucikan tempat keluarnya air besar, kita bisa memilih antara mencucinya dengan air atau mengusapnya dengan benda yang dapat menghilangkan benda najis, seperti batu. Tetapi mencucinya dengan air adalah lebih baik. Menurut pendapat yang zhâhir, kita cukup[6] mengusap sekali saja sebagaimana kita juga cukup mencucinya dengan air sebanyak sekali, meskipun berdasarkan ihtiyâth mustahab[7] hendaknya kita mengusapnya sebanyak tiga kali sekalipun tempat keluarnya air besar itu bisa bersih bila diusap kurang dari tiga kali. Jika tempat keluarnya air besar itu belum bersih meskipun kita telah mengusapnya sebanyak tiga kali, maka kita harus mengusapnya hingga bersih.



1 2 next