THAHÂRAH (BERSUCI)



BAB I

PASAL 1

AIR

Air diklasifikasikan dalam dua kalsifikasi: air mutlak dan air mudhâf. Air mudhâf adalah air perasan buah-buahan, seperti perasan air delima, atau air yang telah bercampur dengan benda dan tidak bisa disebut air lagi, seperti air gula atau air garam.

Air mutlak ada beberapa macam: air mengalir, air sumber yang tidak mengalir, air hujan, air sumur, dan air yang tergenang.

Masalah 19: Air mudhâf adalah suci, tetapi tidak dapat menyucikan hadas, baik hadas besar maupun hadas kecil. Jika air mudhâf kejatuhan benda najis, maka seluruh air itu menjadi najis, meskipun sebanyak seribu kur. Ya, jika air itu mengalir dari atas ke bawah dengan tekanan yang kuat, meskipun mengalir secara perlahan-lahan, lalu bagian bawah air itu kejatuhan benda najis, maka hanya bagian air yang kejatuhan benda najis dan air yang berada di bawah bagian itu saja adalah najis.

Masalah 20: Seluruh macam air mutlak itu menjadi najis bila salah satu sifatnya; warna, rasa, dan bau, berubah lantaran kejatuhan benda najis. Jika sifat-sifat air mutlak itu berubah hanya lantaran terletak berdampingan dengan benda najis, maka air mutlak ini tidak najis.

Masalah 21: Tolok ukur (kenajisan air mutlak) adalah keberubahan air itu lantaran sifat-siat sebuah benda najis, bukan lantaran sifat-sifat sebuah barang yang terkena najis. Begitu juga tolok ukur keberubahan air mutlak adalah keberubahan salat satu sifatnya lantaran kejatuhan benda najis, meskipun perubahan sifat air itu tidak sesuai dengan sifat-sifat benda najis tersebut. Olah kerena itu, jika warna air berubah menjadi kuning lantaran kejatuhan darah, maka air itu menjadi najis.

Masalah 22: Air mengalir adalah air yang memiliki mata air dan mengalir. Air ini tidak menjadi najis bila kejatuhan benda najis, baik kadar air itu banyak maupun sedikit. Air sumber yang tergenang memiliki hukum yang sama dengan air mengalir. Begitu juga air sumur berdasarkan pendapat yang aqwâ (paling kuat). Ya, seluruh air itu menjadi najis bila salah satu sifatnya berubah.

Masalah 23: Air tergenang yang masih bersambung dengan air mengalir memiliki hukum air mengalir. Jika air tergenang menjadi najis lantaran salah satu sifatnya berubah, maka air ini menjadi suci kembali setelah perubahan sifatnya itu sirna, baik sirna dengan sendirinya atau bercampur dengan air mu‘tasham, seperti air mengalir, air kur, dan air hujan.

Masalah 24: Jika air tergenang tidak memiliki mata air dan berukuran kurang dari 1 kur, maka air ini menjadi najis bila kejatuhan benda najis. Air tergenang ini menjadi suci kembali setelah bercampur dengan air mu‘tasham. Berdasarkan pendapat yang aqwâ, air tergenang tidak menjadi suci bila hanya bersambung dengan air mu‘tasham dan tidak bercampur.[1]

Masalah 25: Air tergenang yang berukuran 1 kur tidak menjadi najis bila kejatuhan benda najis, kecuali jika salah satu sifatnya berubah. Jika salah satu sifatnya berubah, dan kadar yang belum berubah masih berukuran 1 kur, maka kadar yang belum berubah itu tidak najis. Tetapi jika kadar yang belum berubah itu tidak berukuran 1 kur, maka seluruh air tergenang itu najis.

Masalah 26: Air kur dapat ditentukan dengan dua cara:



1 2 next