Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam



بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Salawat dan salam semoga senantiasa tercurahkan atas Muhammad dan keluarga beliau, serta laknat Allah semoga terlimpahkan atas para musuh mereka.

Mukadimah

Ijtihad Dan Taklid

Berkenaan dengan masalah ibadah dan segala jenis transaksi (mu‘âmalah), walaupun berkenaan dengan hal-hal yang sunah dan mubah, setiap mukalaf yang belum mencapai jenjang ijtihad wajib bertaklid atau ber-ihtiyâth, asalkan ia mengetahui tempat-tempat pelaksanaan ihtiyâth. Dan sangat sedikit sekali orang yang mengetahui tempat-tempat pelaksanaan ihtiyâth ini. Kewajiban ini gugur berkenaan dengan hukum agama yang termasuk dalam kategori dharûriyât ad-dîn (ajaran agama yang wajibnya sudah gamblang). Atas dasar ini, amalan seorang awam—yang tidak mengetahui tempat-tempat pelaksanaan ihtiyâth—adalah batal bila tidak didasari dengan taklid, sesuai dengan penjelasan berikut ini.

Masalah 1: Kita boleh ber-ihtiyâth, meskipun hal itu menuntut kita harus mengulangi (sebuah amalan).[1]

Masalah 2: Taklid adalah mengamalkan (sebuah amalan) dengan bersandarkan kepada fatwa seorang faqih. Ya, sesuatu yang menjadi legitimasi atas keabsahan sebuah amalan adalah pelaksanaan amalan tersebut atas dasar sebuah hujah, seperti fatwa seorang faqih, meskipun pelaksanaan amalan itu tidak dinamakan taklid.

Masalah 3: Marja‘ taklid harus seorang  mujtahid, adil, berkelamin laki-laki, bermazhab Syi‘ah Imamiah, dan wara’ dalam agama Allah. Bahkan berdasarkan ihtiyâth wajib, ia tidak boleh mencintai dan rakus terhadap harta dunia, baik berupa kedudukan maupun harta benda.[2]

Masalah 4: Setelah taklid terlaksana, kita boleh berpindah taklid[3] dari seorang marja‘ yang masih hidup kepada marja‘ lain yang juga masih hidup, asalkan mereka memiliki kedudukan yang sama dalam ilmu pengetahuan.[4] Dan berpindah taklid ini—berdasarkan ihtiyâth wajib­—adalah wajib bila marja‘ yang kedua terbukti lebih a‘lam daripada marja‘ yang pertama.

Masalah 5: Berdasarkan ihtiyâth wajib,[5] kita wajib bertaklid kepada marja‘ yang a‘lam, bila hal itu memungkinkan. Dan kita juga wajib mencari marja‘ yang a‘lam tersebut. Jika dua orang marja‘ memiliki kedudukan yang sama (dalam kelimuan), maka kita bisa memilih (salah satunya). Jika salah seorang dari mereka lebih wara’ atau lebih adil (dibandingkan dengan yang lainnya), maka berdasarkan ihtiyâth mustahab kita hendaknya memilih marja‘ yang lebih wara’ atau lebih adil.[6] Begitu juga, jika dua orang marja‘ memiliki kedudukan yang sama (dalam keilmuan), maka kita boleh memilah taklid dengan cara mengambil (hukum) sebagian masalah dari marja‘ pertama dan (hukum) sebagian masalah yang lain dari marja‘ kedua.[7]

Masalah 6: Dalam masalah kewajiban bertaklid kepada marja‘ yang a‘lam, kita harus bertaklid kepada marja‘ yang a‘lam. Jika marja‘ itu berfatwa bahwa kita boleh bertaklid kepada marja‘ yang tidak a‘lam, maka kita bisa memilih bertaklid kepadanya atau kepada marja‘ lain (yang tidak a‘lam). Sementara itu, apabila ia berfatwa bahwa kita tidak wajib bertaklid kepada marja‘ yang a‘lam, maka kita tidak boleh bertaklid kepada marja‘ yang tidak a‘lam.



1 2 next