MENGENAL KESEMPURNAAN MANUSIA [2]



Definisi Kesempurnaan

            Sebagaimana yang telah kami katakan sebelumnya, yang dimaksud dengan kesempurnaan dalam wujud adalah dicapainya maksud dan tujuan yang sebelumnya tidak dimiliki atau diperolehnya sesuatu setelah ketiadaan sesuatu itu. Dari sini terdapat kemungkinan bahwa penciptaan eksistensi mempunyai tingkatan dan gradasi, dimana suatu tingkatan merupakan tingkatan yang lebih tinggi dan lebih sempurna dari tingkatan yang lain, dan pada derajat-derajat yang lemah senantiasa terdapat potensi untuk sampai pada derajat yang lebih tinggi, dan setelah melakukan gerak, sesuatu yang lemah itu akan menjadi sempurna.

Misalnya, di alam natural terdapat potensi sumber alam yang beragam, di alam natural dan tabiat ini juga terdapat tumbuhan dan tumbuhan ini kemudian menjadi makanan bagi hewan, lantas makanan ini berubah menjadi darah, lalu darah berubah bentuk menjadi sperma dan dari sperma akan terbentuk hewan lain dari generasi baru. Demikian juga, hewan inipun (misalnya kambing) akan menjadi makanan untuk manusia dimana dari makanan tersebut kemudian terbentuk nutfah yang selanjutnya akan menghasilkan manusia baru, dan pada manusia baru ini yang karena terjadi pertumbuhan dan perkembangan, secara lambat laun akan mulai belajar dan menjadi orang yang berpendidikan tinggi, lalu perlahan-lahan akal, pikiran, dan rasionalitasnya akan mengaktual dan akhirnya akan menjadi sebuah realitas wujud yang non-materi dan kemuadian menarik diri dari alam tabiat menuju alam metafisika dan alam malakuti. Atau karena pengaruh pensucian diri, akhlak yang mulia, dan ibadah yang ikhlas, dia akan hidup dan berbentuk menjadi jiwa malakuti dan Ilahi, dan setelah alam materi ini dia akan ditempatkan pada kedudukan yang paling tinggi kemudian dibangkitkan dan dikumpulkan bersama para Nabi dan Rasul, para kekasih-kekasih Tuhan, orang-orang yang shaleh, dan para malaikat-malaikat muqarrabin.

Sebuah Kesimpulan

            Dengan demikian, kita telah memahami bahwa kesempurnaan akan mungkin terwujud dan tercapai ketika:

Pertama, eksistensi mempunyai keragaman derajat dan tingkatan, mulai dari yang paling rendah hingga yang paling tinggi;

Kedua, setiap derajat dan tingkatan yang rendah, senantiasa memiliki potensi untuk sampai pada derajat yang lebih tinggi;

Ketiga, derajat dan tingkatan yang rendah ini, akan bisa sampai ke puncak tujuan dengan gerak dan usahanya sendiri. Akan tetapi berdasarkan pendapat kaum materialis dan liberalis modern yang tidak menerima realitas sesuatu kecuali materi, mengatakan bahwa kesempurnaan sama sekali tak bermakna dan tidak mungkin ada.

            Dari pendahuluan di atas, akhirnya kita sampai pada kesimpulan bahwa setiap aliran pendidikan yang berpikir terhadap pembinaan dan pertumbuhan manusia dan berpikir untuk membimbing generasi manusia, selama mereka belum memiliki pengenalan yang mendetail dan hakiki tentang dimensi-dimensi wujud manusia, apapun yang mereka desain dan rencanakan untuk pembinaan manusia merupakan hal yang jauh dari harapan dan tidak akan mampu melakukan penghidmatan hakiki kepada masyarakat sedikitpun, dan apabila mereka tidak bisa mengalihkan masyarakat dari kesesatan dan menghindarkan mereka dari segala penyimpangan, maka aliran-aliran pendidikan dan pembinaan ini tidak akan pernah bisa memberikan hidayah dan bimbingan.

            Seluruh ikhtilaf pendapat yang terdapat pada konsep etika-etika barat dan non-barat bersumber pada ketiadaan pengenalan manusia dalam dimensi-dimensi hakikinya. Apabila mereka telah mengingkari baik dan buruknya perbuatan, berarti mereka telah menganggap etika dan akhlak sebagai sesuatu yang nisbi dan relatif, mereka tidak menganggap pentingnya ilmu dan pembinaan etika untuk manusia, mereka menganggap pembinaan etika dan akhlak hanyalah akan membatasi kebebasan dan ruang gerak manusia saja, atau mereka menganggap prinsip dan asas persoalan etika bersumber pada instink dan masalah-masalah seksual, yang hal ini muncul dari ketiadaan pengenalan yang mendetail dan hakiki atas diri manusia dan ketiadaan pemahaman terhadap kelayakan kehidupan duniawi dan ukhrawi manusia.[1]

 

Etika dan Kemuliaan di Era Kontemporer

            Pada masa kontemporer, generasi manusia telah terjerumus ke dalam kehidupan hedonisme, egoisme, fanatisme, konsumerisme dan sikap angkuh dan sombong. Mereka sama sekali tidak meyakini adanya nilai kebahagiaan dan kehidupan hakiki serta tidak sepakat adanya tindakan yang harus dilakukan untuk membatasi pemuasan syahwat dan kesenangan pribadi.



1 2 3 4 5 6 7 next