Sejarah Hijab



Murtadha Matahhari

Pengetahuan saya tentang sejarah tidaklah sempurna. Kita baru bisa memberikan pandangan tentang berbagai budaya suku dan bangsa yang ada sebelum munculnya Islam, ketika kita memiliki pengetahuan dan wawasan sejarah yang sempurna. Namun ada satu hal yang telah diterima oleh semua kalangan yaitu bahwa sebelum kedatangan agama Islam budaya hijab telah ada pada sebagian suku dan bangsa.

Pada berbagai sumber yang telah saya baca berkenaan dengan hal ini, dijelaskan bahwa telah terdapat hijab di Iran Kuno dan kaum Yahudi. Begitu pula di India, terdapat kemungkinan adanya hijab. Namun hijab yang terdapat di semua kaum ini lebih ketat dari hijab yang terdapat dalam hukum Islam. Adapun  di kalangan kaum Arab Jahiliyah tidak terdapat hijab, karena hijab muncul di kalangan Arab melalui perantaraan agama Islam.

Will Durant dalam The History of Civilization (Sejarah Peradaban) tentang kaum Yahudi dan kitab Talmud menuliskan: "Apabila seorang wanita melanggar  ketentuan-ketentuan hukum Yahudi, seperti  keluar rumah tanpa mengenakan sesuatu yang menutupi kepalanya…dan berkumpul dengan orang-orang atau mengungkapkan perasaannya pada laki-laki atau berbicara dengan suara keras sehingga terdengar oleh tetangga maka suaminya berhak mentalaknya tanpa memberikan mahar."[1]

Oleh karena itu, hijab yang terdapat pada kaum Yahudi lebih keras dan lebih berat dari hijab Islam—sebagaimana yang akan dipaparkan pada pembahasan berikutnya secara terperinci.

Dalam buku yang sama, berkaitan dengan masyarakat Iran Kuno, Will Durant berkata:  "Di zaman Majusi—Zoroaster(penyembah api)—wanita mempunyai kedudukan yang tinggi, mereka berinteraksi dengan masyarakat dengan bebas dan wajah tanpa penutup..."[2]

Lantas ia melanjutkan perkataannya: "Setelah zaman Darwisy kedudukan wanita menjadi rendah, khususnya mereka yang berasal dari kalangan elit (kaya). untuk Para wanita miskin terpaksa harus keluar rumah bekerja,  berkumpul dengan orang-orang dan harus melindungi diri mereka sendiri. Sedangkan kebiasaan para wanita mengurung diri di dalam rumah ketika sedang haid terus berlangsung sehingga akhirnya aktivitas sosial mereka terhenti dan hal inilah yang kemudian dianggap sebagai penyebab munculnya hijab di kalangan kaum muslimin. Para wanita dari kalangan sosial atas juga tidak berani untuk keluar rumah kecuali dengan memakai penutup muka. Mereka tidak pernah diberi izin untuk berhubungan dengan laki-laki secara terang-terangan. Bahkana para wanita yang telah bersuami tidak berhak melihat laki-laki lain walaupun laki-laki itu adalah ayah atau saudara laki-laki mereka sendiri. Dari peninggalan lukisan-lukisan Iran Kuno tidak terlihat satu pun paras muka seorang wanita, begitu pula namanya..."[3]

Berdasarkan penjelasan Will Durant ini, maka jelaslah bahwa hijab yang sangat ketat berlaku di Iran Kuno sehingga ayah dan saudara laki-laki sekalipun dianggap bukan muhrim bagi  wanita yang telah bersuami. Lebih jauh, Will Durant berpendapat bahwa peraturan keras adat dan agama Majusi tentang wanita yang harus dikurung di dalam kamar selama masa haid dan diasingkan dari semua orang, adalah penyebab munculnya budaya hijab di zaman Iran Kuno. Peraturan dan adat seperti ini juga dikenakan bagi wanita haid di kalangan penganut agama Yahudi.

Tetapi, apakah maksud Will Durant dari pernyataan: ”Perkara ini (mengurung wanita haid) merupakan sebab diwajibkannya hijab di kalangan wanita penganut agama Islam?”. Apakah yang dimaksud adalah bahwa sebab munculnya hijab di dalam Islam adalah peraturan keras yang terjadi pada para wanita haid? Kita mengetahui bahwa tidak pernah ada peraturan seperti ini di dalam ajaran Islam. Wanita haid dalam Islam hanya mendapatkan dispensasi untuk tidak melakukan beberapa ibadah seperti shalat dan puasa serta larangan berhubungan seksual dengan suaminya selama masa haid. Dan tidak ada larangan baginya dalam hal interaksi dengan orang lain sehingga ia terpaksa harus mengurung diri pada saat itu.

Dan jika yang dimaksud Will Durant dari pernyataan tersebut adalah munculnya hijab di kalangan wanita muslim merupakan penularan dari adat dan kebiasaan penduduk Iran setelah mereka memeluk Islam, adalah sebuah analisa yang tidak benar. Karena sebelum orang-orang Iran masuk Islam, ayat-ayat yang berkaitan dengan hijab telah diturunkan. 

Dari ucapannya yang lain, dapat dipahami bahwa Will Durant berpendapat bahwa hijab muncul dan berkembang di antara kaum muslimin melalui perantaraan orang-orang Iran yang masuk Islam dan  larangan  berhubungan seksual dengan wanita haid cukup memberikan pengaruh dalam perintah mengenakan hijab bagi para wanita muslimah, atau paling tidak dalam pengasingan mereka di saat haid. Ia melanjutkan: 



1 2 next