Pesantren Putri Salafiyah, Bangil, Pasuruan



Tidak ada yang tahu kapan persisnya pesantren khusus perempuan ini didirikan oleh KH. Abdul Rachim. Tapi yang pasti jika ada yang bertanya di mana pesantren ini berada, semua orang di kota Bangil hampir pasti tahu semua. Dari pejalan kaki biasa sampai tukang becak pasti memberi arah yang tepat untuk menuju ke Kauman Tengah. Sejak dari awal berdiri, pesantren yang sekarang dipegang oleh anak menantu KH. Abdul Rachim, KH. Chairan Husien ini, sudah menerapkan sistem klasikal. Baik untuk pengajian maupun kegiatan madrasinya.

Ada tiga tingkatan sekolah yang diselenggarakan di pesantren, yaitu, madrasah Diniyah ; merupakan sekolah khusus yang mengajarkan agama dengan memakai kitab-kitab tradisional standar. Lalu madrasah Tsanawiyah dan Aliyah. Untuk mengikuti madrasah Diniyah, calon siswi diharuskan mengikuti semacam 'placement-test' terlebih dahulu. Jika ternyata dianggap belum saatnya mengikuti pelajaran kelas satu, ybs diharuskan memasuki jenjang Sekolah Persiapan Diniyah.

Selain ada kategori sekolah agama seperti di atas, para siswi juga dianjurkan untuk mengikuti sekolah yang mengajarkan materi umum. Waktunya dari pukul 13.30 sampai 17.30. Selain materi pelajaran, Salafiyah mengajarkan keterampilan-keterampilan lain seperti, kursus bahasa Arab, bahasa Inggris, kaligrafi (tahsinul khat), khithabah (pidato). Yang unik, selain disediakan kegiatan majalah dinding dan korsepondensi luar negeri, setiap Jum'at pagi secara bergiliran setiap siswi diwajibkan berdakwah melalui siaran radio dari stasiun pemancar swasta yang ada di Bangil.