Pesantren Ummul Quro, Cililin, Bandung



Unik. Itulah penilaian yang pas untuk memberi kesan pada Pondok Pesantren Ummul Quro yang terletak di Desa Rongga, Kecamatan Cililin, Kabupaten Bandung. Secara fisik, bangunan dan sarana pesantren tersebut tergolong ketinggalan. Namun warna semi modern, terlihat dari kebiasaan para santrinya berbicara dalam bahasa Arab dan Inggris. Apabila mengunjungi pesantren tersebut, Anda bakal kesulitan menemukan santri yang berbincang dalam bahasa Sunda atau Indonesia. Kebiasaan bicara dalam kedua bahasa tersebut memang menjadi semacam kewajiban bagi setiap santri asuhan KH Oes Ma'mun itu.

Apabila ada santri yang sengaja atau tidak sengaja mengucapkan bahasa selain Ingris dan Arab akan dikenai sanksi oleh para pengurus pesantren. Tapi, sanksi yang dikenakan kepada mereka bukanlah tindakan yang mengerikan. Hukumannya sangat bersifat mendidik.

Hukuman mendidik itu misalnya berbentuk kewajiban menghafal sedikitnya 10 kata bahasa Arab dan Inggris dalam waktu semalam. Pagi-pagi mereka dites oleh pengurus pesantren mengenai kata yang wajib dihafalkannya itu.

Pesantren itu menghampar di atas lahan tanah kurang dari satu hektare. Sedangkan santri yang menjadi muridnya sekitar 108 orang. Mereka punya kesempatan dua hari sepekan untuk belajar dua bahasa itu secara intensif. Setiap hari Kamis dan Selasa seusai Shalat Shubuh santri belajar dua bahasa tersebut yang dipandu oleh ustadz.

Sedang jumlah ustadz yang menjadi pengajarnya 39 orang. Dari para ustadz itu, santri mendapatkan 50 persen ilmu keagamaan termasuk membaca Al Quran dan 50 persen lagi ilmu umum.

Hingga saat ini pesantren tersebut baru bisa mendidik santri setingkat murid SLTP atau mereka yang berusia 13-15 tahun. Santri yang baru masuk ke pesantren itu diberi jatah waktu sekitar dua bulan untuk beradaptasi dengan bahasa daerah atau nasional.

Namun setelah dua bulan, mereka sudah harus menggunakan dua bahasa andalannya dalam berkomunikasi dengan sesama santri. Bahkan setiap Kamis sore, lima santri secara bergiliran harus menyampaikan pidato dalam bahasa Inggris. Kemudian, malam Jumatnya, lima santri yang lain juga diharuskan berpidato dalam bahasa Arab.

Dengan kurikulum itulah, hampir setiap tahun lulusan SLTP Ummul Quro yang seluruh muridnya merupakan santri pesantren memperoleh nilai evaluasi murni (NEM) tertinggi di rayonnya (di atas 30).

Sampai saat ini pesantrennya belum pernah mendapat bantuan dari pemerintah. Bantuan hanya pernah diperolehnya dari Menristek Hata Rajasa sebesar 25 juta untuk pengadaan usaha peternakan ayam boiler.