Pesantren Putri Ar-Ridwan, Petukangan, Jakarta



Pendiri dan pimpinan Pesantren Ar-Ridwan adalah K.H. Domiry, seorang alumnus Pondok Modern Gontor tahun 1974. Pondok Pesantren Ar-Ridwan yang kini memiliki 200 santri putri itu didirikan pada 1988. Awalnya, bangunan pesantren tersebut berasal dari rumah kontrakan.

Pondok Pesantren Putri Ar-Ridwan, yang berlokasi di Jalan Komplek Kostrad No. 2, Petukangan Utara, Pesanggrahan, Jakarta Selatan secara rutin mengadakan latihan berpidato (muhadlarah) bahasa Indonesia. Setiap pekan, digelar tiga kali latihan berpidato dalam tiga bahasa: Indonesia, Arab, dan Inggris. Tempat yang biasa digunakan sebagai tempat (muhadlarah) adalah berupa sebuah masjid tua terbuat dari bambu seluas 10 x 10 meter.

Tentang mengapa Pesantren Ar-Ridwan hanya mendidik santri perempuan, Kyai Domiry memberi alasan bahwa wanita merupakan tiang agama, wanita adalah pendidik utama dan pertama bagi anak-anak. Karena itu, mereka harus dipersiapkan dengan matang. Selain itu, lanjutnya, karena pesantren khusus putri itu belum banyak di Tanah Air. Padahal pada masa akan datang, peran kaum wanita sangat penting dalam pembangunan bangsa.

Untuk mendidik dan membina sebanyak 200 santri wanita tersebut, tidak seluruh guru di pesantren itu adalah wanita. Dari 43 guru yang bertugas di sini, hanya enam orang wanita.

Sistem pendidikan yang digunakan Pesantren Ar-Ridwan diadopsi dari sistem pendidikan yang diterapkan di Pondok Modern Gontor, terutama yang berkaitan dengan bahasa dan disiplin santri. Hanya saja, di pondok yang banyak ditumbuhi pepohonan hias tersebut, untuk penguasaan bahasa Arab para santri mendapat tambahan berupa pelajaran kitab kuning.

Saat ini, santri yang belajar di pesantren Ar-Ridwan sebanyak 200 orang dari berbagai daerah di Indonesia. Tidak hanya olah raga dan musik, kiai yang gemar tanaman itu juga membiarkan para santrinya untuk berkesenian sesuai dengan kecenderungan masing-masing.