Pesantren Midarussalam, Sukalaksana, Tasikmalaya



Berbicara seputar tahun kelahiran dan berdirinya Pondok Pesantren Midarussalamm, KH Yusuf Shidiq, sang pimpinan pondok, selalu mengatakan lupa tahun persisnya. Namun yang jelas cikal-bakal pesantren yang sekarang dipimpinnya itu sudah ada sejak zaman pemerintahan Belanda.

Kala itu, yang menjadi sesepuhnya adalah KH Masduki. Tapi keberadaan pesantren itu diberangus kompeni. Sekitar 1971, KH Yusuf kembali membangun pesantren yang dihancurkan kompeni itu. Namanya pun mengalami perubahan. Semula bernama Pondok Pesantren (ponpes) Asy Syalafiah menjadi Midarussalamm.

Menurut KH Yusuf, nama itu diambil berdasarkan nama orang yang mewakafkan tanahnya yaitu sepasang suami-istri, Dalimi dan Salmi. Kata pertamanya--Mi--diambil dari kedua nama yang telah mewakafkan tanahnya.

Pesantren yang dibangun di atas lahan kurang lebih satu hektare dan berlokasi sekitar tujuh kilometer dari arah timur Gunung Galunggung, tepatnya di Kampung Cibeureum, Desa Sukalaksana, berada dalam suasana alam pegunungan yang asri dan segar. Karenanya, sangat cocok untuk belajar dan menimba ilmu.

Saat ini, santri yang belajar di pesantren tersebut mencapai 200 orang. Ada 18 kobong (lokal asrama) yang disediakan sebagai tempat tinggal santri putra. Sedangkan santri perempuan menempati delapan kobong. Di antaranya dari Karawang, Garut, Sumedang, Ciamis, Purwakarta, dan Sumatra.

Proses pendirian Pesantren Midarussalam ini tidak terjadi begitu saja. Awalnya, ketika KH Yusuf menjalin persahabatan dengan putra bungsu KH Masduki, yakni KH Endang Abdullah yang saat ini memimpin Ponpes Bantargedang. Persahabatan itu kian akrab ketika KH Yusuf belajar di Bantargedang pada 1965, dan secara rutin bertemu dengan Endang Abdullah.

Dan sudah menjadi sebuah keharusan yang tidak tertulis, setiap santri yang sudah dianggap selesai menuntut ilmunya, langkah selanjutnya adalah mukim. Artinya, ia harus tinggal di sebuah tempat dan menjaring santri-santri baru, selanjutnya membangun pondok pesantren.

Langkah pertama yang dilakukan KH Yusuf Shidiq setelah ia menikah adalah menata kembali pesantren peninggalan KH Masduki yang kini jadi mertuanya. Awalnya, santri yang mengaji ke sana hanya beberapa orang saja. Namun, setelah tiga tahun, mulai terlihat ada perkembangan. Terbukti, jumlah santri yang datang dan ingin menimba ilmu di sana semakin banyak.

Bahkan, guru-gurunya, KH Khoer Affandy (Miftahul Huda), KH Isak Farid (Cintawana), dan KH Ruhiyat (Bantargedang) yang semuanya telah almarhum, juga ikut membantu mengembangkan Pesantren Midarussalam. Caranya, dengan mengirimkan beberapa orang santrinya untuk mengaji di pesantren milik KH Yusuf.

Menurut KH Yusuf, di pesantrennya, setiap santri harus memperdalam ilmu sampai tiga tingkatan. Tingkat pertama mempelajari kitab-kitab dasar yang biasa dipelajari, seperti Safinah dan Jurumiyah. Tingkat II mulai menapaki Alfiyah, Mantek dan Ilmu Bayan, tata cara menerjemahkan Alquran. Tingkat terakhir lebih menukik lagi yaitu antara lain mendalami Johar Makmun, Jamul Jawame dan Mustholat Hadist.

Menilik lokasi pesantren yang berada di kaki Gunung Galunggung, Pesantren Midarussalamm selain berpotensi menjaring santri juga berpotensi untuk mengembangkan dan melatih santrinya dalam bidang agrobisnis.