PonPes Kampung Damai, Sumber, Cirebon



Nama Kampung Damai, sepertinya tak asing lagi bagi warga Kabupaten Cirebon. Itu adalah nama pesantren yang berdiri awal tahun 1990-an. Awalnya, pesantren yang terletak di Kelurahan Perbutulan, Kecamatan Sumber dan berada persis di tepi Sungai Cipager ini bernama Darussalam.

Di tahun 1995, pengelola pesantren itu ingin meng-Indonesia-kan nama pesantrennya. Mulai saat itulah, pesantren yang pola pendidikannya mengadopsi dari Pesantren Gontor, Ponorogo, berubah nama menjadi Pesantren Kampung Damai.

Nama tersebut, dipilih bukan tanpa alasan. Di balik nama itu tersimpan harapan agar pesantren itu mampu membuat santrinya benar-benar damai di dunia dan akhirat. Santri yang belajar di situ umumnya anak remaja dari luar daerah Cirebon.

Sebenarnya sejarah berdirinya pesantren itu cukup panjang. Konon, awalnya pesantren tersebut didirikan oleh KH Abdul Manan. Dia adalah seorang tokoh Islam paling berpengaruh di Kabupaten Cirebon pada tahun 1920. Dulu, pesantren tersebut pernah menjadi salah satu pesantren panutan bagi pesantren lain di Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Tapi, setelah wafatnya KH Abdul Manan, pesantren mengalami kevakuman karena tidak ada pengelola yang meneruskannya. Mulai dekade 80-an, salah seorang cucu KH Abdul Manan menghidupkan kembali pesantren tersebut setelah mengenyam pendidikan di Pesantren Gontor.

Menurut pimpinan Pesantren Kampung Damai, Ustadz Noor Zein, dirinya mulai menerapkan kepada setiap santrinya untuk berpedoman agar terus menghidupkan pesantren meski tokoh sentralnya meninggal. Untuk menancapkan pemahaman seperti itu, Ustadz Noor dibantu asistennya mengajarkan seluk-beluk sejarah pesantren kepada setiap santri-santri baru. Lewat pengajaran tersebut, para santri menjadi mampu mempertahankan dan memperjuangkan semangat kepesantrenan. Dari semangat itulah, proses kaderisasi berjalan.

Tenaga pengajar yang mendidik para santri di pesantren itu umumnya lulusan dari Pesantren Gontor. Selain itu, pesantren tersebut juga banyak mendatangkan pengajar dari Pesantren Gontor. Materi yang mereka ajarkan kepada para santrinya tidak hanya ilmu ketauhidan, tapi juga pengetahuan soal realitas kehidupan sehari-hari.

Santri lebih banyak diarahkan pada pengenalan lingkungan dan interaksi masyarakat. Seringkali, para santri didorong untuk berdiskusi soal problem-problem yang dihadapi masyarakat sekitar pesantren. Beberapa hal yang sering mereka bahas antara lain soal tawuran, peredaran minuman keras, juga penyakit sosial lainnya. Kebanyakan ilmu yang diajarkan kepada santrinya diserap dan diadopsi langsung dari Gontor. Penerapan sistem pengajaran Kuliyatul Mualimin Al Islamiyah (KMI) tetap menjadi sistem pembelajaran wajib.

Pengelola pesantren juga memasukkan bahasan muatan lokal yang ada di Kabupaten Cirebon. Salah satu muatan lokal yang diajarkan di pesantren itu adalah pendidikan kesalafiahan, yang selama ini banyak diajarkan di pesantren-pesantren lain di Cirebon.

Setelah santri menempuh pendidikan di Pesantren Kampung Damai, para calon alumni wajib mengabdi di pondok pesantren di luar daerah. Program tersebut dikenal dengan istilah shahadah. Program tersebut menjadi syarat bagi calon alumni untuk mendapatkan pengakuan dan ijazah dari Pesantren Kampung Damai.

Biasanya, para santri menempuh program shahadah di luar Jawa, seperti Sumatera, Nusa Tenggara, dan Sulawesi. Program tersebut sudah berlangsung lama dan wajib diikuti oleh santri.

Ustadz Noor selama mengelola pesantren banyak memperoleh pengalaman yang menyenangkan dan menyedihkan. Di tahun 1990-an, pesantrennya pernah ditutup oleh pemerintah setempat karena dinilai tidak sejalan dengan keinginan pemerintah. Alasan penutupan pun terlihat dibuat-buat, yakni belum lunas pajak bumi dan bangunan (PBB), juga belum punya izin pendirian pesantren.

Dalam kondisi seperti itu, pihaknya tetap berusaha keras untuk menjaga kelangsungan pendidikan di pesantrennya. Ustadz Noor bersama para santrinya terpaksa belajar di tempat yang berpindah-pindah untuk menghindari intimidasi. Tapi makin lama tuduhan itu hilang, dan pesantren tersebut berjalan normal kembali.

Dengan motto 'Kampung Damai berdiri di atas dan untuk semua golongan' pendidikan di pesantren tersebut mendorong santrinya untuk berbaur dengan masyarakat.

Setiap tahun, di pondok pesantren yang asri dan rindang itu diadakan haul. Peristiwa itu biasanya jatuh pada tanggal 1 Muharam. Pada kesempatan tersebut, seluruh santri menggelar beragam acara keagamaan seperti diskusi, bedah buku, pawai obor, dan khitanan massal.