Pesantren Isiteks, Imogiri, Yogyakarta



Pesantren biasanya identik dengan orang belajar mengaji. Tapi tidak di Pesantren Isiteks (Islam, Ilmu, Teknologi, dan Seni), Imogiri, Yogyakarta. Aktifitas pesantren ini justru dominan dengan kegiatan pengobatan. Pesantren ini didirikan oleh H. Djaka Sasmita yang sekaligus merangkap sebagai pengajar pesantren terpadu ini.

Kalaupun ada kegiatan "nyantri", santrinya bukan anak-anak atau remaja, tapi orang-orang dewasa yang sedang 'menyelaraskan' ilmu pendidikan formalnya dengan ilmu Al Quran. Jadi, pesantren yang terletak persis berdekatan dengan terminal bus Imogiri ini mirip laboratorium penelitian.

Ada misalnya, seorang sarjana pertanian tengah mencari kebenaran hasil temuannya dalam Al Quran. Yang bersangkutan berhasil menemukan varietas tebu jenis baru. Atau ada pula seorang guru yang sengaja datang belajar Al Quran untuk memantapkan pilihan profesinya itu.

Namun di luar semua itu, Isiteks lebih dikenal orang sebagai tempat berobat dengan gelombang non-elektromagnetik. Nama Isiteks memang kurang lazim dijadikan nama pesantren. Terkesan kurang Islami. Tapi ternyata tidak juga.

Pesantren Isiteks ini menjadi tempat untuk mengkaji Islam, teknologi dan seni sekaligus mengamalkan ilmu.

Bangunan pesantren pun lebih mencerminkan seperti rumah biasa. Terdiri dari dua lantai, dengan sebuah paviliun panjang, di sebelah rumah. Paviliun itu tampaknya menjadi semacam ruang tunggu bagi pasien.

Yang unik, selain menjadi tempat orang mengkaji Al Quran, pesantren ini juga menyediakan terapi penyembuhan penyakit. Yakni, menggunakan gelombang non-elektromagnetik yang dipadukan dengan aktifitas biochip. Chip di Isiteks ini berbeda dengan chip dalam dunia elektronika, yang biasanya merupakan rangkaian terpadu komponen transistor. Chip yang ada di dunia itu dibuat dari bahan-bahan biologis tetapi sifatnya mati. Sedangkan di Isiteks, biochip itu hidup dan seolah punya kepekaan rasa terhadap getaran pikiran dan perasaan manusia.

Jika dipersamakan dengan dunia medis, sebenarnya biochip yang dimaksud Kiai Djaka itu tidak beda dengan tablet atau pil. Jadi, sambil menjalani terapi gelombang non-elektromagnetik, pasien di Isiteks masih harus minum pil. Pil biochip itu sudah 'diisi' dengan berbagai jenis gelombang, disesuaikan dengan jenis penyakit peminumnya.

Bagi orang awam, kedengarannya memang agak 'aneh' dan berbau mistik. Tapi sebenarnya pengobatan ini malah kental dengan nuansa ilmiah dan keislaman. Menurut Kiai Djaka, chip-chip itu dirancang untuk mampu merespons pengobatan dan penyembuhan berbagai jenis penyakit.

Penyakit seperti stroke, kanker, diabetes, hepatitis, katarak, patah tulang, gangguan saraf, dan penyakit-penyakit lainnya, bisa disembuhkan melalu terapi itu.

Memang, dalam ilmu fisika dikenal adanya berbagai jenis gelombang. Ada
gelombang alfa, beta, delta, dan gamma. Akan tetapi jenis gelombang yang dipakai Isiteks punya karakteristik tersendiri.

Gelombang inilah yang dipakai untuk mendeteksi adanya penyakit dalam tubuh, sekaligus memberikan jenis terapinya. Gelombang itu dapat mengaktifkan bagian-bagian tertentu dari organ tubuh yang sakit untuk melawan penyakit itu sendiri.

Hasil Riset Diuji ke Belanda

Awalnya pengobatan ini cuma salah satu bentuk kajian kesehatan di Pesantren Isiteks. Dari kajian itu ditemukan, seringkali timbul kekecewaan dari kebanyakan pasien, terhadap kinerja obat-obatan farmasi yang memberi efek samping. Hal itulah yang kemudian mendorong Kiai Djaka Sasmita mengadakan penelitian.

Akhirnya Kiai Djaka berhasil meneliti alternatif pengobatan dari sisi gelombang. Tahun 1987, ia membawa hasil risetnya ke Belanda untuk diteliti dan didalami lebih jauh lagi. Kiai Djaka kemudian menyebut hasil risetnya itu sebagai Metode Siklus, yaitu dasar dari segala gelombang.

Konon Kiai Djaka juga berhasil menyusun rumus kompresi data komputer dan meraih gelar doktor di negeri kincir angin itu. Gelombang yang dihasilkan metode siklus di Isiteks ini dapat dibuktikan melalui media penguji, seperti radio transistor.

Agar gelombang itu dapat terindra oleh pendengaran, pasien diminta mencari frekuensinya karena secara fisik gelombang itu tidak dapat disentuh. Gelombang yang dimaksud adalah gelombang non-elektromagnetik, yang dikembangkan dari ilmu kesatuan medan, serta dari gelombang elektromagnetik yang diubah menjadi non-elektromagnetik.

Yang mengagumkan, meskipun harus memakai frekuensi tertentu, gelombang ini dapat dipancarkan secara massal dengan menggunakan alat khusus yang dirakit langsung oleh Kiai Djaka.

Alat itu --yang dioperasikan oleh seorang operator-- berupa seperangkat komputer dengan program khusus, yang mampu menterapi 500 orang pasien sekaligus setelah sebelumnya menelan biochip. Pengobatan massal ini dilakukan setiap hari Ahad di masjid yang berdekatan dengan pesantren.

Untuk mengikuti pengobatan di tempat ini memang tidak mudah. Namun untuk mengobati kekecewaan, Kiai Djaka tak menolak bila ada pasien yang ingin berkonsultasi lewat telepon. Silakan hubungi di 0274-367517 pada pukul 05.00 sampai pukul 06.00. Bisa juga menghubungi beberapa cabangnya yang ada di Jakarta dan Bekasi.

Untuk Jakarta bisa menghubungi nomor 021-7201954 atau 021-71793169, sedangkan Bekasi di nomor 021-8845078.n