Pondok Pesantren Dayah Darussalam



Pendirinya disayang Bung Karno, alumninya menyeber ke seantero negeri Induk semua pesantren di Aceh.

Di Jawa Timur ada Lirboyo. Di Sumatera Utara ada Tawalib. Di Serambi Mekah ada Dayah Darussalam. Seperti kolega-koleganya di tempat lain, Darussalam telah melahirkan ribuan teungku (Ulama) yang kini menjadi Pimpinan pesantren di Aceh.

Bahkan, tak sedikit santri asal dayah (sekolah) ini merantau ke Makassar, Padang Panjang (Sumatera Barat), Barus (Sumatera utara), Pulau Jawa serta Madura. Bahkan Malaysia dan Brunei Darussalam. Di sana, mereka mendirikan dayah serupa.

Sekilas dayah ini tak jauh beda dengan dayah lain di Aceh.Terutama dalam hal pengajaran ilmu balaghah, ma'ani, bayan dan badi'. Demikian juga dalam hal ilmu ushul fiqih dari berbagai kitab Islam serta ilmu mustahalah hadis, ilmu tafsir Alquran, ilmu mantiq, a'rudh, serta tasawuf.

Namun, satu hal yang tak bisa ditepis adalah dari dayah inilah berkembang pula ajaran tarekat naqsyabandiyah yang kini masih melekat dan diamalkan ribuan santri serta jamaahnya di Aceh bahkan di wilayah lain di Nusantara.

Di bulan Ramadhan misalnya, tak kurang seribu santri serta jamaah dari berbagai daerah di Aceh, tumpah ke dayah itu. Selain memperdalam ilmu Agama, mereka pun larut dalam ritual yang disebut suluk atau berkhalawat. Inilah salah satu amalan tarekat Naqsyabandiyah.

Menurut tarekat ini, suluk diyakini sebagai salah satu jalan menuju penyucian diri dengan cara mendiam diri (menyepi), selama 40 hari 40 malam tanpa menikmati hidangan berdarah, seperti ikan dan daging. Kalaupun berbuka puasa hanya dengan air dan nasi putih, ditambah sayur-sayuran.

Selama melaksanakan suluk, jemaah diwajibkan berzikir, bersalawat serta membaca Alquran sampai khatam. Mereka baru diperolehkan keluar bilik kelambu ukuran 2x2 meter itu, hingga Idul Fitri tiba.

Bagi penganut paham ini, ada dua suluk yang dapat dilakukan. Pertama, saat Ramadhan ke dua, dibulan Maulid atau yang disebut Suluk Maulud. Pelaksanaan ritual kedua suluk itu tidak ada berbeda.

Tapi apa itu suluk atau berkhalawat? Mencontoh sunah Rasulullah Saw. kala berkhalwat di gua Hira, dan nabi Musa kala melakukan hal serupa di Bukit Sinai. Para Jamaah yang berkhalawat ini, meninggalkan anak dan Istrinya sementara waktu untuk mengasingkan diri seraya mendekatkan diri kepada sang Khalik. Mereka bermujahadah dalam menghadapi hawa nafsu, melalui zikir dan ibadah yang diajarkan mursyid, pimpinan spiritual yang ditunjuk pimpinan dayah.

Adalah Haji Syeikh Muhammad Muda Waly Al Khalidy yang mengembangkan ajaran tersebut. Bermula dari berdirinya Darussalam pada tahun 1931, Syekh Muda Waly berpendapat untuk melahirkan seorang ulama, tak cukup sekedar mengajarkan ilmu fiqih, tauhid, tafsir Alquran, dan hadis. Mereka harus dibekali dengan perjalanan dan pergulatan batin yang suci dari pengaruh duniawi. salah satu mediasinya adalah melalui pelaksanaan tarekat tadi.

Kini,sebagai dayah tertua di Aceh, Darussalam memiliki dua ribuan santri dengan 300 guru, yang umumnya alumni Darussalam. Dan menjadi guru di sana menjadi kewajiban para alumni. Bisa disebut, inilah masa magang mereka sebagai dai atau ulama.

Sebelum terjun membangun dayah sendiri, para santri yang telah dinyatakan lulus dan layak menyandang gelar teungku, diwajibkan menularkan ilmunya kepada santri lainya di Darussalam. selanjutnya baru melanjutkan belajar ke mesir atau Arab Saudi.

Selain melahirkan tokoh-tokoh semacam Teungku Adnan Mahmud dari Bakongan, Aceh Selatan, Teungku Muhammad Daud Zamzami dari Aceh besar, Teungku Abdul Aziz Saleh Mesjid dari Raya Samalangga, Aceh utara, serta Teungku Muhammad Amin (Tu Min) dari Blang Bladeh, Bireun, tangan dingin Syeikh Muda melahirkan ribuan ulama tangguh lainnya di Aceh.

Lazimnya pesantren lain di Indonesia, Darussalam memakai dua sistem pendidikan, yaitu metode qadim dan madrasah. Qadim adalah sistem tradisional yang menekankan penguasaan kitab-kitab agama. Dalam sistem ini, seorang santri harus tamat mengkaji kitab. Karenanya, dalam proses pembelajaran, setiap diajarkan dengan cara membaca matan, menterjemah dan mengenal sepintas pengertian yang terkandung didalamnya.

Sementara sistem madrasah lebih dikenal dengan sebutan sistem kuliah atau kelas. Tempatnya pun tak lagi di masjid atau dayah, tapi di gedung khusus atau kelas. Sistem kedua ini, tak lagi menekankan tamat mengaji kitab, tapi lebih pada keharusan banyak diskusi untuk pedalaman materi dari guru yang mengajarkannya.