Ponpes Al-Washliyah, Cirebon



Menilik lokasinya yang terletak di tengah lokasi persawahan Desa Cempaka Kabupaten Cirebon ini, pondok pesantren (ponpes) ini memang tidak semegah yang lain. Namun ada yang khas dengan Pesantren Al-Washliyah ini.

Tidak seperti banyak pesantren yang menggunakan bahasa asing --Bahasa Arab atau Bahasa Inggris sebagai bahasa komunikasi sehari-hari-- di pesantren ini, para santri yang belajar pendidikan agama malah diwajibkan menggunakan bahasa bahasa 'ibu' alias bahasa Cirebon yang halus (krama inggil) dalam setiap kesempatan.

Hal itu, bukan berarti para santri dan santriwati tidak bisa berbahasa Inggris atau Arab. Namun, seperti yang diungkapkan pimpinan Ponpes Al-Washliyah, Ustad H Abdurakhman BA, penggunaan bahasa Cirebon oleh kalangan santri di ponpes yang dipimpinnya merupakan langkah positif untuk melestarikan budaya lokal yang dimiliki Cirebon.

Menurut Ustadz Abdurakhman, Bahasa Cirebon, khususnya krama inggil, saat ini sudah jarang digunakan oleh para generasi muda. Mereka lebih senang menggunakan bahasa gaul dan adakalanya menggunakan bahasa Cirebon dalam tingkatan ngoko (kasar). Akibatnya, berkomunikasi dengan orang yang lebih tua pun menjadi terkesan kurang hormat.

Selain penekanan terhadap pelajaran bahasa, para santri di ponpes yang memiliki beberapa ruang lokal ini juga mengutamakan pelajaran yang berkaitan langsung dengan fiqh.

Dengan para pengajar yang umumnya lulusan Ponpes Gontor dan Ponpes Tambak Beras Jombang, setiap hari, santri juga diajari hafalan Juz Amma, Bulughul Marom, kajian Al-quran, Tarekh, Tauhid, Arbain Nabawi, Koa Idul Ilal, Tajwid, Fatkhul Qorib, Ta'lim Muta'alim, Nahwu, Hidayatul Mustafid, shorof serta dua mata pelajaran muatan lokal yakni Bahasa Cirebon dan kaligrafi.

Untuk kaligrafi, santri Ponpes Al-Washliyah pernah meraih juara I tingkat pesantren se-wilayah III Cirebon. Selain itu, dalam MTQ ke-24 tingkat Jawa Barat, salah seorang santrinya ikut memperkuat tim Kabupaten Cirebon.

Mengenai pendanaan, Ustadz Abdurakhman secara terus-terang mengatakan bahwa dana yang diperoleh untuk menjalankan aktivitasnya berasal dari bantuan para donatur tetap Yayasan Al-Washliyah. Sementara bantuan dan perhatian dari pemkab setempat dan pemerintah pusat hingga saat ini belum ada realisasinya.