Pondok Pesantren Al-Kausar, Sentani, Irian Jaya



Dari sebuah TPA, Al-Kausar tumbuh menjadi pesantren modern. Tapi, perkembangannya terhambat berbagai kendala khas Papua.

Masjid Ponpes ini diapit asrama. Di sebuah kanan asrama putra,sedangkan di sebelah kiri asrama putri. Di seberangnya, terdapat sejumlah bangunan lain tempat para pengurus kompleks itu tinggal.

Al-Kausar, yang didirikan enam tahun lalu, sebelumnya hanyalah sebuah taman pengajian Alquran (TPA) di bawah naungan Yayasan Pondok Karya Pembangunan (YPKP). Sampai kemudian datanglah Ustad Mansyur Al-Ghaf bersama dua temannya. Mansyur berasal dari sebuah pesantren di Jawa Tengah, sedangkan dua lainnya dari Jawa Timur. Kedatangan tiga orang itu, yang kemudian diberi tanggung jawab sebagai pengurus, akhirnya membangun Al-Kausar sebagai Ponpes modern yang menggabungkan metode pengajaran salafiah dan pendidikan umum. Yaitu, selain memberikan pelajaran berupa kajian kitab-kitab kuning, Ponpes tersebut juga memberikan pelajaran umum yang mengikuti kurikulum nasional.

Minat Masyarakat belajar di Al-Kausar ternyata lumayan besar. Setidaknya, pesantren itu kini menampung 143 santri yang jumlah santri laki-laki dan perempuannya hampir seimbang. Mereka dikutip iuran sebesar Rp. 7000 per bulan.

Orang tua santri rata-rata warga trasnmigran yang taraf ekonominya tergolong rendah. Sehingga, seperti Al-Kausar, Pondok-pondok pesantren di Papua mengandalkan pendanaanya kepada donatur yang jumlahnya juga tidak banyak. Dengan demikian, perkembangan pondok pesantren di Papua memang relatif lebih sulit dibandingkan dengan wilayah lain.

Belum lagi soal buku-buku atau kitab-kitab pelajarannya. Di Papua sungguh susah mencarinya. Al-Kausar sendiri mesti memesan dari Jawa. Dan, itu pun datangnya tidak bisa dipastikan, bisa sebulan atau malah tiga bulan baru tiba kiriman kitab-kitab itu.