Pondok Pesantren Al Ijazi, Cipongkor, Bandung



Sangat jarang ada pesantren dengan serius mempelajari politik. Meski dewasa ini banyak jebolan pondok pesantren yang terjun ke dunia politik. Tengoklah bagaimana Partai Kebangkitan Bangsa banyak disesaki oleh mantan santri pondok. Salah satu dari yang sedikit itu adalah Pondok Pesantren Al-Ijazi, Cipongkor, Bandung.

Pesantren yang terletak di Kampung Dawuan, Desa Cijenuk, Kecamatan Cipongkor, Kabupaten Bandung ini menerapkan pelajaran fiqhus siyasah (ilmu politik) dalam kurikulum pengajarannya. Mata pelajaran ini mencakup kajian ilmu politik teoritis dan praktis.

Pada kajian teoritis, para santri diwajibkan mempelajari buku tentang politik. Sementara kajian praktisnya, para santri diminta untuk mengamati kondisi perpolitikan di Indonesia saat ini.

Pesantren yang dipimpin oleh H Asep Hilyatul Arifin ZA ini memiliki 300 santri. Pesantren rintisan KH Ijazi (Alm) tahun 1918 ini memang mengemban ajaran Nahdatul Ulama (NU). Meski demikian, pengelola pesantren ini membuka kesempatan kepada seluruh lapisan masyarakat untuk menimba ilmu di pondok pesantren ini.

Prinsip itu merupakan misi dari umat Islam dalam menjalin persatuan dan kesatuan sesama manusia. Hal itu juga merupakan perwujudan dari Surat At-Taubah ayat 6. Intinya, umat Islam wajib menolong siapapun yang memintanya tanpa ada kecuali.

Prinsip cucu KH Ijazi inilah yang diterapkan di Pontren yang masih bernuansa salafiah (tradisional) itu. Karenanya, tidak heran jika lulusan pesantren ini sering menjadi penasehat berbagai kalangan dari beragam golongan.

Dengan keterbukaan, syariah Islam bisa berkembang dengan sendirinya. Inilah salah satu jurus yang dicamkan kepada para santri di pesantren tersebut. Strategi itu juga yang dituangkan dalam bentuk pendirian Partai Kebangkitan Bangsa (PKB).

Menyikapi perkembangan partai di tanah air, pengajar ilmu politik di pesantren ini mengingatkan para santrinya untuk tidak terkecoh dengan partai. Utamanya, agar tidak terkecoh dengan slogan atau nama partai tertentu.

Pelajaran politik di pesantren Al Ijazi disampaikan dalam bentuk non formal. Artinya, seusai para santri menerima pelajaran Bahasa Arab, Aqidah, Ilmu Tafsir, Ilmu Hadist, Fiqih, serta Akhlak, para pengajar kerap mengajak para santri berdialog. Inilah barangkali, yang membedakan pesantren ini dengan pesantren lainnya.

Hingga saat ini, terdapat 13 pengajar yang setiap harinya membimbing para santri di Pontren tersebut. Tiga di antaranya kiai senior sedangkan 10 lainnya merupakan asisten kiai.

Setiap hari, para santri menerima materi pelajaran selama delapan jam. Sementara 16 jam sisanya dihabiskan untuk kegiatan ekstrakurikuler, berinteraksi dengan masyarakat, dan istirahat.

Ada tiga tingkatan pendidikan di pesantren ini. Pertama, Ula (dasar), artinya para santri dijejali pelajaran membaca Alquran. Kedua, tingkat Wusto (menengah), para santri diberi pemahaman hidup serta wawasan kebangsaan. Terakhir, Ulya (tingkat atas) para santri dibekali ilmu berdakwah guna mensosialisasikan ke masyarakat luas.

Selain itu, pengurus pesantren juga mengajarkan hidup mendiri kepada para santrinya. Sejak diterima di Pontren ini, para santri dituntut mengurus dirinya sendiri. Mulai dari menyediakan makan, mencuci, serta menanggung sendiri kebiasaan hidup lainnya.

Di atas lahan seluas 1,5 hektar, para santri dilatih bertanggungjawab terhadap diri dan bangsanya. Tujuannya, untuk mencapai kesejahteraan dunia dan akhirat.

Soal ilmu politik yang diajarkan, hal itu bertujuan untuk membekali para santri ketika akan terjun ke dunia pemerintahan. Saat ini, katanya, tidak sedikit para pejabat dan pelaku politik yang berangkat dari pesantren. Sayangnya, banyak golongan tersebut yang membawa agama ke dalam politik.

Karena itu, pengurus pontren ini mengimbau kepada santrinya untuk bisa membawa politik ke dalam agama. Artinya nilai-nilai agama disebarkan melalui politik.