Tugas Syar’i; Beban atau Rahmat?



Oleh: Hadi Shadiqi

Sebagian orang berpendapat bahwa jika Tuhan adalah pengasih dan penyayang lalu mengapa Tuhan membebani hamba-hambanya dengan setumpuk kewajiban dan taklif yang telah membuat mereka bersusah paya dan mengalami berbagai bentuk kesulitan hidup di dunia ini, dan disebabkan kelalaian dan pelanggaran mereka atas sebagian taklif atau kewajiban-kewajiban yang ada mereka harus disiksa, sesungguhnya apa pentingnya sebuah taklif? dan mengapa mesti ada siksaan?

Manusia di zaman modern senantiasa ingin bebas dan melepaskan diri dari segala bentuk batasan, belenggu dan berbagai ikatan. Agama dan syariat dipandang sebagai aturan dan batasan-batasan yang mengikat kaki dan tangan manusia, jika di zaman ini kepercayaan terhadap Tuhan masih harus berlanjut dan dipertahankan maka hanya Tuhan cintalah yang layak untuk diperkenalkan, yaitu Tuhan yang selalu mengasihi dan menyayangi hamba-hambanya dan tidak menghendaki mereka untuk bersusah paya dan juga tidak akan pernah melarang atau memberi perintah, Tuhan yang senantiasa memberi kebebasan kepada manusia dan membiarkan mereka untuk melakukan apa saja yang mereka inginkan dan pada akhirnya mereka akan ditempatkan atau dimasukkan kedalam surga kenikmatan-Nya dan tidak ada lagi berita tentang siksaan dan hari perhitungan. Tuhan seperti inilah yang dapat diterima di zaman modern.

Tuhan Kaum Modernis

Manusia di zaman modern senantiasa ingin bebas dan melepaskan diri dari segala bentuk batasan, belenggu dan berbagai ikatan. Agama dan syariat dipandang sebagai aturan dan batasan-batasan yang mengikat kaki dan tangan manusia, jika di zaman ini kepercayaan terhadap Tuhan masih harus berlanjut dan dipertahankan maka hanya Tuhan cintalah yang layak untuk diperkenalkan, yaitu Tuhan yang selalu mengasihi dan menyayangi hamba-hambanya dan tidak menghendaki mereka untuk bersusah paya dan juga tidak akan pernah melarang atau memberi perintah, Tuhan yang senantiasa memberi kebebasan kepada manusia dan membiarkan mereka untuk melakukan apa saja yang mereka inginkan dan pada akhirnya mereka akan ditempatkan atau dimasukkan kedalam surga kenikmatan-Nya dan tidak ada lagi berita tentang siksaan dan hari perhitungan.Tuhan seperti inilah yang dapat diterima di zaman modern.

Dalam pandangan kaum modernis Tuhan di zaman sebelumnya adalah Tuhan yang bermuka masam, pemarah, kejam, berbahaya, selalu melarang dan memberi perintah, dogmatis, kasar, diktator serta egois.

Mereka berkeyakinan bahwa Tuhan yang semestinya ada dan menggantikan Tuhan yang mempunyai sifat-sifat tersebut adalah Tuhan yang pengasih, penyayang dan  memiliki kekuatan atau kekuasaan terbatas (sebab ketidakterbatasan kekuasaan Tuhan adalah sangat menakutkan), tanpa larangan dan perintah, menyenangi semua manusia, menyiapkan segala bentuk kebutuhan dan kenikmatan hidup serta kesejahteraan mereka, memberi kebebasan kepada manusia dan seterusnya, Tuhan seperti ini menemukan relevansi dan keselarasan dengan peradaban modern dunia barat, olehnya itu sangat memikat hati kaum modernis.

Konsepsi-konsepsi Murni Tentang Tuhan

Dalam membahas atau mengkaji masalah-masalah taklif, pahala dan siksaan dibutuhkan adanya gambaran atau konsepsi-konsepsi benar terhadap Tuhan, syariat, surga dan neraka. Konsepsi atau penggambaran yang terdapat dalam pandangan-pandangan orisinil tentang Tuhan dibagi kedalam tiga kelompok, ketiga jenis konsepsi ketuhanan ini melahirkan tiga bentuk religiusitas (ketaatan dalam beragama), yaitu religiusitas orang awam, intelektual dan para pecinta.

Religiusitas Orang Awam

Bentuk religiusitas seperti ini biasanya ditemui dalam kelompok masyarakat awam yang tidak terpelajar, mereka mengkonsepsikan wujud Tuhan sebagai penguasa yang kejam dan tidak mengenal belas kasih serta mewajibkan berbagai aturan dan perintah yang apabila dilanggar akan membuat-Nya marah dan efek kemarahan-Nya akan menyulut kobaran api neraka dimana para pendosa atau pelanggar akan dimasukkan kedalamnya, tetapi jika mereka berdo`a dan memohon ampun atau mendatangkan seorang penjamin(pemberi syafaat) maka hal itu bisa saja meredakan api kemarahan Tuhan dan menyebabkan hilangnya siksaan dan Tuhan seakan menutup mata dari dosa-dosa mereka.Gambaran tentang siksaan, api, surga dan neraka bagi mereka adalah non hakiki dan bersifat kesepakatan yang dapat berubah atau mengalami penambahan dan pengurangan atau kemudian tergantikan dengan adanya permintaan dan sikap memohon seorang hamba, konsepsi dan perilaku keberagamaan seperti ini disebut dengan keberagamaan awam.

Religiusitas Kaum Cendekia

Pada jenis keberagamaan ini, yang umumnya terdapat dalam kelompok masyarakat terpelajar dan telah banyak bersentuhan dengan wacana-wacana teologi dan filsafat, yang dipahami adalah bahwa relasi antara Tuhan dengan kosmos (alam semesta) serta manusia yang merupakan bagian didalamnya sebagai relasi takwini yang berpijak pada serangkaian hukum yang berlaku atas seluruh wilayah eksistensi. Pahala dan siksaan adalah sebuah realitas takwini dan hakiki, bukan sesuatu yang bersifat kesepakatan dan non hakiki, demikian pula halnya dengan doa, taubat dan syafaat yang tidak akan memberi efek sedikit pun tanpa adanya perubahan pada realitas kedirian seseorang. Taklif sendiri hanyalah serangkaian petunjuk dan bimbingan Tuhan dalam hubungannya dengan serangkaian aturan atau hukum-hukum yang mengendalikan alam semesta dan begitu pula dengan perbuatan dan kehendak bebas manusia. Perbuatan-perbuatan manusia senantiasa mengikuti serangkaian hukum dan aturan yang apabila manusia mengetahuinya akan membuat mereka mampu mengetahui hubungan perbuatan mereka dengan apa yang dihasilkannya sehingga mereka dapat memilih bentuk atau jenis-jenis perbuatan yang bisa mengantarkan mereka pada tujuan tinggi kemanusiaan. Sesungguhnya taklif atau kewajiban-kewajiban yang ada dalam syariat (agama) adalah sebuah bentuk interpretasi atau penafsiran hakiki atas serangkaian hukum-hukum yang telah disebutkan serta menginformasikan dimensi-dimensi keburukan ataupun kebaikan dari sebuah realitas, penerimaan atau penolakan terhadapnya tidak meniscayakan siksaan atau pahala yang sifatnya perjanjian, tetapi menyebabkan seseorang sampai pada hakikat realitas suatu perbuatan. Surga dan neraka pada hakikatnya merupakan jelmaan atau manifestasi dari perbuatan-perbuatan baik dan buruk seseorang. Ketika seseorang melakukan perbuatan baik dan terpuji, pada jiwanya akan tercipta suatu kondisi atau keadaan surgawi, yaitu sebuah kondisi dimana sekiranya seseorang berada didalam surga dan tersifati dengan sifat atau perbuatan baik tersebut maka ia akan menemukan (mengalami) keadaan yang sama. Pepohonan, aliran-aliran sungai, minuman dan makanan-makanan surga secara esensi (dzati) tidaklah baik bagi manusia, tetapi kelezatan yang timbul dan dihasilkan dari mereka itulah yang baik dan bermanfaat baginya, bentuk kelezatan seperti ini akan tercipta dan mengaktual dalam diri seseorang dengan perbuatan  baik. Tetapi hal itu tidak pernah terasa oleh seseorang disebabkan ia masih dalam keadaan ‘tertidur’. Setelah meninggal, seseorang akan terbangun dari tidur panjangnya dan pada saat itu ia akan merasakan suatu keadaan jiwa yang berbeda, ia akan merasakan kelezatan surga yang seakan tak bertepi dan begitu pula dengan pedihnya siksaan yang merupakan hasil atau jelmaan dari perbuatannya sendiri.

Tetapi bukan berarti bahwa keadaan atau kondisi yang tercipta pada jiwa seseorang tidak dapat berubah dan keburukan-keburukan yang ada tidak bisa tergantikan dengan kebaikan dan begitu pula dengan kemustahilan hilangnya kebaikan dari seseorang. Seorang yang melakukan perbuatan buruk ibarat orang yang terjatuh dari suatu tempat yang tinggi dan mengalami patah kaki, ia bisa saja menyembuhkan dirinya dengan melakukan upaya perawatan yang baik atau dengan merujuk kepada seorang dokter hingga pada upaya melakukan operasi atau pembedahan, tapi sebaliknya apabila ia meremehkan dan seakan tidak peduli dengan keadaannya maka kaki yang patah itu tidak akan sembuh dan menjadikannya cacat seumur hidup, bahkan jika kaki yang patah dan terluka tersebut mengalami infeksi maka boleh jadi dengan terpaksa ia  harus memotong kakinya. Keburukan atau dosa-dosa seseorang dapat dihilangkan dengan upaya taubat dan do`a atau bahkan dengan syafaat dan sebaliknya sikap malas dan tidak peduli hanya akan membuatnya semakin kokoh dan mengakar sehingga tidak bisa lagi tergantikan dengan kebaikan. Hal ini pun bisa terjadi pada perbuatan-perbuatan baik seseorang dimana dengan perbuatan buruk yang ia lakukan setelahnya bisa saja  menghapus atau menghilangkan kebaikan yang telah ia lakukan sebelumnya, dan jika perbuatan yang ia lakukan itu perbuatan baik maka akan semakin menguatkan perbuatan-perbuatan baik sebelumnya. Dalam suatu literatur keagamaan disebutkan bahwa keistiqomahan dalam suatu perbuatan jauh lebih sulit dari pada melakukan perbuatan itu sendiri, dengan alasan bahwa mungkin saja perbuatan-perbuatan yang dilakukan setelahnya menghilangkan efek perbuatan-perbuatan sebelumnya, hal ini sangat jelas mengingat bahwa efek atau hasil dari suatu perbuatan bukan sesuatu yang besifat kesepakatan dan non hakiki serta berada diluar wujud manusia dimana perbuatan-perbuatan selanjutnya tidak memberikan efek atau pengaruh sedikit pun. Dengan penggambaran ini orang akan lebih mudah memahami bagaimana lenyapnya suatu perbuatan (amal) bisa terjadi… Mereka itu adalah orang-orang yang lenyap amal-amalnya di dunia dan di akhirat;…(Ali Imran:22), dan demikian pula dengan kemungkinan berubahnya suatu keburukan menjadi kebaikan …dan mereka menolak kejahatan dengan kebaikan;… (Al Qishas:54), …sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan perbuatan-perbuatan yang buruk;… (Hud:114). Begitu pula dengan prihal do`a dan taubat yang memberikan efek perubahan pada diri seseorang dan bahkan dengan jalan ini bisa mengangkat atau menghilangkan efek merusak dari dosa serta menggantikannya dengan kondisi-kondisi surgawi dalam jiwa seseorang, dengan alasan inilah do`a dan taubat harus dimunculkan dari dalam diri seseorang sehingga benar-benar bisa memberikan efek. Hal ini pun berlaku pada syafaat, sebab tawassul dan keterhubungan dengan orang-orang baik (orang-orang yang di ridhoi Tuhan) pada dasarnya selalu disertai dengan adanya perubahan yang terjadi pada jiwa (ruh) sehingga tercipta adanya keselarasan atau kesesuaian antara seseorang dengan wasilahnya. Ketaqwaan yang muncul pada diri seseorang pada hakikatnya adalah suatu bentuk perubahan eksistensial yang menyebabkan diri (wujud) seseorang berubah dan keburukan-keburukan yang ada padanya berubah menjadi kebaikan-kebaikan serta mejadikannya layak sebagai penghuni surga. Jenis religiusitas ini disebut dengan religiusitas orang-orang bijak(intelektual).

Religiusitas Para Pecinta

Religiusitas pada jenis ini pada dasarnya merupakan bentuk penafsiran  yang lebih dalam dari jenis keberagamaan sebelumnya atau dengan kata lain masih merupakan jenis religiusitas yang kedua dengan penisbahan ruh kehidupan dan pengetahuan atas serangkaian hukum dan hubungan-hubungan yang berlaku dalam kosmos. Berbeda dengan jenis ini, pada jenis religiusitas sebelumnya tidak ada tinjauan tentang eksistensi kesadaran, pengetahuan, kehendak dan kehidupan pada hubungan-hubungan yang terjadi dan berlaku atas alam semesta. Hubungan antara Tuhan dengan makhluk-Nya adalah bentuk hubungan antara pecinta dan yang dicintainya. Keberadaan hubungan-hubungan yang menguasai alam eksistensi pada hakikatnya tercipta dari relasi kecintaan antara Tuhan dengan makhluk-Nya dimana didalamnya terdapat pengetahuan dan kesadaran, jiwa dan kehidupan, serta memandang totalitas keberadaan (eksistensi) sebagai wujud yang hidup dan dalam keadaan bergerak menuju kekasih abadi dan gerakan ini senantiasa disertai dengan kehendak, pengetahuan, kesadaran, ketertarikan dan pujian.

Berdasarkan konsepsi ini relasi antara Tuhan dan manusia adalah hakikat hubungan antara pecinta dan kekasihnya. Kasih sayang Tuhan  terhadap makhluk-Nya tidak terbatas, Tuhan senantiasa memanggil dan mengajak manusia mendekati-Nya, undangan dari seorang kekasih menjadikan totalitas wujud seorang pecinta dipenuhi dengan perasaan senang dan gembira serta memberinya daya gerak, yaitu gerak yang bersifat prinsip, orisinil, bertujuan dan penuh makna, suatu gerak untuk sampai pada kekasih yang menjadi dambaan setiap manusia, yakni meraih segala bentuk kesempurnaan atau dengan kata lain ‘mencapai’ wujud yang tak terbatas.

Taklif dalam penggambaran ini ibarat sepucut surat dari seorang kekasih dimana didalamnya tertulis petunjuk-petunjuk dengan ratusan pengungkapan tentang jalan menuju rumah sang kekasih. Taklif bagi seorang pecinta adalah paling lembutnya sapaan yang dapat terbayangkan, sebab dalam taklif atau kewajiban agama, seorang mukmin memahami bahwa Tuhan yang Maha pengasih dan penyayang menyukai dirinya serta menunjukkan kecintaan padanya. Ia seakan merasa layak dan mendapat kesempatan untuk berdialog dengan-Nya dan yang terpenting dari semuanya bahwa ia telah mendapat izin untuk hadir menyapa dan menyatakan cinta dihadapan sang kekasih.

Seorang pecinta tidak akan pernah merasa lelah dan terbebani dengan keberadaan taklif sang kekasih bahkan sebaliknya ia senantiasa menikmati serta memahaminya sebagai bentuk perhatian dan kasih sayang yang paling tinggi, ketika hendak berdiri melakukan shalat perhatian dan konsentrasinya hanya tertuju kepada sang kekasih hingga melupakan seluruh kesibukan-kesibukan duniawi yang dapat mengotori jiwa (ruh)-nya, ia merasa tenang dalam perlindungan sang kekasih dan sesaat pun tidak pernah terlewatkan tanpa rasa nikmat dang senang bersama-Nya. Hubungan ini senantiasa menghaluskan jiwanya serta mempersiapkannya menjadi surga keridhoan, dalam keadaan ini ia akan merasakan paling tingginya kelezatan disebabkan ia berkesempatan untuk hadir dalam istana megah sang kekasih serta bertutur kata dengan-Nya. Taklif baginya secara lahiriah menyerupai beban tetapi secara batiniah adalah rahmat. Cara pandang seorang mukmin terhadap hakikat dan realitas membuat mereka mengerti dan memahami bahwa taklif agama bukanlah sebuah titah dari seorang penguasa diktator yang bertujuan melampiaskan hasrat berkuasanya, tetapi dari seorang penguasa yang penyayang dan memahami kemaslahatan dan lebih tinggi dari semuanya adalah dari seorang kekasih berhati lembut dimana seluruh kebaikan terkumpul padanya, sehingga dari lorong ke lorong kota cinta menggiring pecinta menemui kekasihnya. Dalam penggambaran ini apabila Tuhan meninggalkan manusia dan kepadanya tidak memberi larangan atau perintah serta tidak menentukan taklif untuknya dan kemudian berkata: Wahai manusia kalian bebas dan lakukanlah apa yang kalian inginkan…!, dan jika Tuhan tidak menujukkan batas-batas suatu jalan dari sebuah selokan serta tidak mengenalkan diri-Nya sebagaimana yang diinginkan kaum modernis, maka hal itu menunjukkan ketidak pedulian Tuhan terhadap pecinta-Nya, dan sesungguhnya sikap acuh seorang kekasih adalah paling pedihnya ketersiksaan.Ketidak pedulian kekasih terhadap seorang pecinta adalah kegelapan terbesar yang dapat menimpa  sang pecinta, oleh karena itu ketiadaan taklif sama saja dengan kegelapan(ketersiksaan) dan keberadaan taklif merupakan suatu rahmat.

Kepedihan yang dialami pecinta akibat keterjauhan dari kekasih  ibarat api yang membakar dan membuatnya tersiksa, api ketersiksaan karena  kehilangan kekasih dan keterjauhan dari keindahan-Nya ini bersumber dari kedalaman wujud seseorang sehingga tidak lagi memerlukan ‘kayu bakar’ yang lain …Peliharalah dirimu dari neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu;… (Al Baqarah:24), …Dan mereka itu adalah bahan bakar api neraka (Ali Imran:10). Para pendosa adalah mereka yang tak mengindahkan ajakan sang kekasih sehingga terjauhkan darinya. Dalam keadaan ini eksistensinya menjadi wujud yang dapat ‘mengatur’ dan ‘mengubah’, kewujudan ini menyebabkan keterasingan terhadap dirinya, di dalam dirinya ia memelihara dan mengembangkan api keburukan, dan api keburukan ini bukan sesuatu yang  bersifat non hakiki atau berada diluar wujudnya sehingga manusia dapat bertanya; mengapa Tuhan yang Maha kasih menciptakannya?, akan tetapi wujud api merupakan sebuah realitas hakiki dan takwini yang tercipta dari diri manusia itu sendiri. Tuhan hanya menunjukkan jalan kebaikan serta mengutus nabi-Nya untuk menasehati dan memberi peringatan kepada manusia …Sesungguhnya Kami telah mengutusmu(Muhammad) dengan kebenaran sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan;… (Al Baqarah:119), … Aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman(Al A`raf:188), bentuk religiusitas ini disebut dengan religiusitas para pecinta. [Sumber: wisdoms4all.com]

Dialih-bahasakan oleh Ali Imami dari buku : Dar Amadi Bar Kalam-e Jadid (2007).