Cahaya Segala Cahaya



Oleh: Akmal Kamil

Syaikh Syihabuddin Abul Futuh Yahya Suhrawardi yang lebih dikenal sebagai Syaikh Isyraq, Syihab al-Maqtul, Syaikh al-Maqtul, founding father Filsafat Isyraq dan merupakan salah seorang filosof besar Islam pada abad ke 6 Miladi (587 H). Ia lahir pada tahun 549 H/1154 M di kota Suhraward bagian barat laut Iran. Setelah menyelesaikan studi ilmu filsafat dan ushul fiqih di Maragah, dari Majduddin Jili yang juga merupakan guru Fakhrurazi, dan di Isfahan, ia melewati hidupnya beberapa tahun  di barat daya Anatolia. Setelah itu ia pindah ke Halab (Aleppo, Suriah) tahun 579 H/1183 M. Di tempat ini ia mengajar dan menjadi teman gubernur, al-Malik al-Zahir al-Ghazi (putra Salahuddin Al-Ayyubi).  Penghormatan yang berlebihan dari gubernur ini membuat iri dan hasad para ulama fiqih Sunni. Dan di kota ini ia dituding oleh para fuqaha masa itu, dan melalui titah Salahuddin Ayyubi, Syaikh Isyraq ditangkap.  Dan dengan alasan yang dibuat-buat, para ulama itu mendesak Shalahuddin Ayyubi untuk menghukum mati Syaikh Iysraq.  Akhirnya ia syahid pada tahun 587 H/1179 M di kota Halab.

Sebagian orang memandang Suhrawardi sebagai seorang ulama yang memiliki karamah dan keutamaan. Dan sebagian lain mengklaimnya sebagai kafir dan musyrik. Dikatakan bahwa alasan utama kesyahidan dia adalah karena dialognya tentang “akhir kenabian”. Dan boleh jadi juga lantaran alasan politis. Para peneliti kontemporer berkeyakinan bahwa “wilayah” sebagai pokok akidah Suhrawardi dan menurut dia walaupun kenabian telah berakhir, namun “wilâyah (kepemimpinan hakiki pasca Nabi)”, yang sebagaimana diyakini oleh kaum Syiah, terus dan tetap berlanjut.

Karya-karya Syaikh Isyraq

Karya-karya Syaikh Isyraq dapat dibagi menjadi beberapa kategori. Kategori pertama, merupakan karya utama filsafatnya yang ditulis dalam bahasa Arab, misalnya al-Talwihat , al-muqawamat , Kitab al-Masyari’ wa-’l-Mutarahat  dan Hikmat al-Ishraq. Karya-karya yang menjelaskan pergerakan dari hikmah bahtiyyah menuju hikmah dzauqiyyah, dari yang sifatnya diskursif menuju yang lebih intuitif. Kategori kedua, adalah karya-karya yang memuat kisah-kisah simbolik yang kebanyakan ditulis dalam bahasa Persia seperti Risalah ‘Aql-e Surkh, Âwaz-e Pur Jibril, Ruzi Ba Jamaat-e Sufiyân. Kategori ketiga adalah karya-karya yang ditulis dalam risalah pendek Arab, seperti  Hayakil al-Nur. Dan yang lainnya dalam bahasa Persia yang menjelaskan filsafat iluminasionis dalam bentuk yang lebih sederhana dan beberapa ulasan dan terjemahan.

Sistem Filsafat Isyraq

Sistem filosofis Isyraq merupakan salah satu sistem yang paling bernilai dalam filsafat Islam. Fondasi filsafat Isyraq yang dikenal hari ini, dibangun dan dikerangka oleh seorang pemikir, arif, alim Syihabuddin Suhrawardi. Pengaruh filsafat Isyraq bagi kesempurnaan filsafat di Iran dan khususnya pengaruhnya pada bidang irfan teoritis (nazhari) boleh jadi melebihi sistem-sistem filsafat lainnya. Fondasi historis filsafat Isyraq dari satu sisi bertengger di atas ajaran-ajaran transendental al-Qur’an dan dari sisi lain berdiri di atas maktab-maktab (schools of thought) Platonis dan Neo-Platonis.

Corak filsafat Isyraq tidak seperti filsafat Peripatetik yang mengandalkan proses rasionisasi (ta’aqqul) dan demonstrasi akal (an sich), filsafat Isyraq mengandalkan proses rasionisasi (ta’aqqul) dan demonstrasi akal bersandar kepada pengenalan cahaya yang eksis pada subjek. Wujud atau eksisten dalam perspektif filsafat Isyraq merupakan cahaya mujarrad yang sumbernya memancar dari Cahaya Segala Cahaya (Nur al-Anwar) dan memenuhi seluruh semesta.

Dalam filsafat Isyraq pendekatan hudhuri (presentif) dan syuhudi (intuisi) kedudukan dan kehakikiannya adalah lebih utama dan pertama dari demonstrasi akal (burhan) dan ta’aqqul; dan hal ini merupakan poin yang mengemuka dalam neo-filsafat khususnya fenomenologi  Husserls. Dan titik perbedaan di antara fenomenologi Husserl dan filsafat Isyraq, fenomenologi Husserl memberikan penjelasan yang kurang utuh tentang ilmu hudhuri sementara Suhrawardi menjelaskannya lebih komprehensif dan bercorak isyraqi dan pengenalannya bersandar kepada intuisi isyraqi.

Empat Tingkatan Filsafat Isyraq

Tingkatan pertama: Pensucian jiwa dan kesiapan untuk mukasyafah (disclosure) dan menyambut pendaran Ilahi.

Tingkatan kedua: Tingkatan penyaksian cahaya Ilahi dan menerima cahaya-cahaya yang kompatibel yang membentuk fondasi makrifat dan ilmu.

Tingkatan ketiga: Tingkatan struktur ilmu yang benar. Pada tingkatan ini, filosof menggunakan filsafat dan ilmu logika  dan “rangkapannya” yang dicapai pada tingkatan pertama dan kedua dianalisa pada sistem logika argumentatif dan burhani dan seterusnya; dan bangunan makrifat akan terkerangka. Dengan kata lain, tingkatan ketiga merupakan tingkatan penerapan struktur ilmu yang bersandar kepada pengalaman-pengalaman nafsani, batini, dan isyraqi. Natijah dari tingkatan ini adalah datangnya ilmu yakin dan sebuah sistem yang memiliki bentuk dan karakteristik tipikal yang dapat dianalisa secara filosofis.

Tingkatan keempat: merupakan tingkatan memprasastikan dan menyusun apa yang dihasilkan dari tingkatan satu hingga tingkatan ketiga. Artinya selepas  mendapatkan tingkatan yakin seorang filosof seyogyanya menyusun apa yang telah didapatkannya itu secara filosofis dan argumentatif. Untuk menyusun dan memprasastikan natijah-natijah tersebut, terdapat dua jenis “bahasa” yang digunakan. Yang pertama adalah bahasa biasa yang bersandar kepada ilmu logika dan yang kedua bahasa metaforis. Dalam perspektif Suhrawardi, bahasa metaforis dan simbolik merupakan media yang paling baik dalam menjelaskan hasil dan natijah keempat tingkatan yang disebutkan di atas.

Maktab Syaikh Isyraq

Syaikh Isyraq adalah orang yang piawai dan mahir dalam filsafat Peripatetik, namun dengan semua itu, ia memandang konsep peripatetik dan Aristotelian sebagai konsep yang rapuh dan melontarkan kritikan yang tajam terhadapnya. Dan pendekatan yang ia lakukan, yaitu Hikmat Isyraq dan hikmat cahaya, ia klaim sebagai pendekatan para filosof Timur (Oriental). Kendati fondasi Hikmat Isyraq disandarkan pada para filosof Timur, namun lafaz Isyraq nampaknya tidak memiliki relasi dengan lafaz Syarq (Timur). Penyandaran isyraq kepada sebagian filosof ini dikarenakan maktab mereka memandang mampu mencapai makrifat sempurna melalui jalan isyraq batin dan kecerlangan hati.

Cahaya dan Hakikatnya

Salah satu pembahasan utama dalam filsafat Isyraq adalah cahaya. Syaikh Isyraq dalam pembahasan cahaya beranggapan bahwa cahaya itu merupakan suatu hakikat yang gamblang, badihi, dan aksiomatik (tidak memerlukan defenisi). Dia menyatakan bahwa apabila terdapat sesuatu di alam eksistensi ini yang tidak membutuhkan penjelasan dan defenisi, maka kami katakan bahwa sesuatu itu adalah cahaya, karena tidak ada sesuatu yang lebih terang dan lebih jelas kecuali cahaya itu sendiri. Oleh karena itu, tidak ada sesuatu yang setara dengan cahaya yang tidak memerlukan keterangan, penjelasan, dan defenisi. Dan yang kami maksud dengan ’sesuatu tidak memerlukan defenisi’ di sini adalah suatu yang dalam zat dan kesempurnaannya tidak bergantung dan tidak bersandar pada sesuatu yang lain. Pandangan Syaikh Isyraq ihwal cahaya ini mengingatkan kita tentang pandangan Mulla Shadra ihwal wujud.

Cahaya Segala Cahaya

Sebagaimana Mulla Shadra, bahwa wujud itu harus berujung dan bermuara kepada Wajibul Wujud, Syaikh Isyraq juga memandang bahwa cahaya harus bersandar pada Cahaya yang tak memerlukan lagi cahaya. Dan Syaikh Isyraq membuktikan bahwa apabila cahaya murni itu bergantung pada realitas yang lain maka kebutuhannya bukan pada substasni gelap atau benda tak hidup, karena benda tak hidup tidak bisa menjadi sebab bagi keberadaan sesuatu (cahaya murni) yang lebih sempurna dan lebih tinggi dari semua aspek. Dan juga aksiden kegelapan bukan sumber eksistensi cahaya murni. Maka dari itu, kebutuhan dan kebergantungan cahaya murni niscaya pada cahaya murni yang lain. Karena tasalsul atau mata rantai yang tak terbatas pada keberadaan maujud-maujud adalah mustahil terjadi, dengan demikian mata rantai keberadaan cahaya-cahaya murni ini harus berakhir. Semua benda, aksiden kegelapan, cahaya tak murni, dan cahaya murni harus bergantung pada satu cahaya yang tidak ada lagi cahaya setelahnya, cahaya ini disebut cahaya segala cahaya (Nur al-Anwar) yang Maha Meliputi, Pemberi Wujud, Maha Suci, Maha Agung, Maha Menguasai, dan Maha Kaya. [Sumber: Wisdoms4all.com]