Motivasi Mengenal Sang Pencipta



Pertanyaan:

Sejak kecil, dan barang kali tepatnya sejak kami menduduki sekolah TK, kami sudah mulai diperkenalkan tentang adanya Tuhan pencipta yang memiliki berbagai sifat kesempurnaan; Mahakuasa, Mengetahui, memiliki surga dan neraka dan lain sebagainya. Usaha pengenalan tentang adanya tuhan Pencipta tersebut, tentu saja dilakukan secara dogmatis, sementara kami belum mampu untuk memikirkan apa-apa. Jadi hal itu kami terima secara taklid buta. Setelah menginjak usia dewasa, timbullah berbagai pertanyaan mengenai ketuhanan di dalam lubuk hati kami. Di antara pertanyaan itu adalah: Apa perlunya kita mengenal Tuhan Pencipta alam semesta ini dengan berbagai sifat-sifat-Nya?  Apakah sebenarnya yang mendorong manusia untuk mengenal Tuhan Pencipta tersebut?

Jawab:

Sesungguhnya setiap gerak dan tingkah laku manusia tidak kosong dari motivasi atau bahkan berbagai motivasi. Dengan kata lain bahwa adanya motivasi merupakan penggerak utama bagi seseorang untuk melakukan hal-hal yang sejalan dengan motovasinya tersebut. Upaya mengenal Tuhan Pencipta pun tidak lepas dari hal tersebut. Karena upaya untuk mengetahui dan mengenal Tuhan Pencipta alam semesta ini tidak akan dapat terlaksana tanpa adanya motivasi dan dorongan yang bersemayam di dalam jiwanya. Biasanya para filosof dan teolog menyebutkan tiga faktor utama yang mendorong seseorang untuk mengenal Tuhan Pencipta. Tiga faktor itu ialah: Motivasi Akal,  Motivasi Fitri dan Motivasi Kasih.   Mari kita ikuti perinciannya sebagai berikut:

1. Motivasi Akal

Tidak seorang pun yang tidak mencintai kesempurnaan. Setiap insan pasti mencintai kesempurnaan dirinya, karena cinta kepada kesempurnaan merupakan bagian dari naluri setiap insan. Hanya saja, setiap orang berbeda-beda dalam memandang dan menilai kesempurnaan dirinya. Yang jelas, pada umumnya dan kebanyakan manusia memandang kesempurnaan diri terletak pada hal-hal yang bersifat material dan fisikal, seperti berbadan sehat dan bugar, memiliki harta kekayaan yang cukup, menduduki jabatan yang terhormat, keamanannya terjamin dan lain sebagainya. Motivasi semacam ini disebut sebagai “naluri mencari keuntungan dan menghindari kerugian”. Berdasarkan pandangan ini, manusia melihat bahwa dirinya memiliki tugas untuk menyikapi secara serius hubungannya dengan segala hal yang bertalian dengan nasibnya di masa kini dan mendatang.

Pada umumnya, cinta kepada kesempurnaan, cenderung kepada keuntungan, baik yang bersifat material maupun spiritual, dan upaya menghindari segala bentuk bahaya dan kerugian, akan mendorong seseorang untuk mengadakan penelitian. Dorongan tersebut bersumber dari akalnya. Dengan kata lain bahwa akal pikirannya akan mendorongnya untuk mengadakan penelitian dan perhitungan; sejauh mana kemungkinan keuntungan itu dapat diraih, atau bahaya dan kerugian itu dapat menimpa dirinya. Semakin tinggi adanya kemungkinan untuk memperoleh keuntungan, atau menerima bahaya dan kerugian, maka penelitian atas persoalan tersebut semakin dianggap penting.

Tidak logis, jika seseorang merasa yakin terhadap adanya kemungkinan tentang suatu persoalan penting yang sangat menentukan nasibnya di masa mendatang, sementara ia tidak merasa tertarik untuk meneliti dan mengadakan analisa atas perkara tersebut.

Misalnya, ketika orang-orang yang tinggal di bawah kaki gunung merapi mendengar informasi dari sebagian orang yang tinggal di kota yang jauh dari gunung tersebut, bahwa gunung merapi yang bertengger di atas kepala mereka, kemungkinan besar -beberapa bulan lagi-  akan memuntahkan api dan meletupkan lahar panasnya.

Mendengar informasi yang mengancam jiwa raga dan harta ini, mereka yang akal pikirannya sehat, dapat dipastikan akan bertanya-tanya, meneliti dan melakukan analisa; dari mana sumber informasi tersebut? Siapa yang membawa berita itu? Sejauh mana kebenaran berita yang disampaikannya? Selama sekian tahun ini, sudah berapa kali gunung merapi itu meletus? Dan seterusnya. Apabila ternyata informasi tersebut meyakinkan, dan kemungkinan besar akan terjadi letusan yang dahsyat dari gunung tersebut, maka dapat dipastikan mereka akan bergegas dan segera meninggalkan tempat tersebut demi menyelamatkan diri, keluarga dan harta benda mereka.  

Misal lainnya adalah, seperti orang-orang yang tinggal di tepi pantai laut, sebagaimana kebiasaan dan adat suku Bugis secara turun temurun, atau mereka yang tinggal di pinggiran sungai Mahakam atau sungai Musi. Ketika mereka menerima informasi dari orang-orang yang tinggal agak jauh dari mereka akan terjadi bencana alam, seperti pasangnya air laut dan bahaya banjir di musim hujan, pasti mereka akan meneliti kebenaran informasi tersebut. Dan ketika mereka percaya dengan berita tersebut, pasti mereka semua akan segera pindah ke tempat yang lebih aman demi menyelamatkan diri dan anak-isteri mereka dari bencana yang dimungkinkan akan segera menimpa mereka. Hanya orang-orang dungu dan kurang waras akalnya yang tidak merasa tertarik untuk meneliti, menganalisa dan bergerak lari dari ancaman bencana tersebut.

Demikian pula misalnya, ketika sebagian orang yang tinggal di desa menerima informasi tentang adanya pekerjaan dengan gajih yang besar, atau perdagangan yang menghasilkan keuntungan yang berlipat ganda di sebuah kota. Secara logis, mereka pasti merasa tertarik  dan kemudain mengadakan penelitian sejauh mana kebenaran informasi tersebut, sebelum mereka pergi ke kota untuk tujuan memperoleh keuntungan demi masa depan yang menjanjikan.

Ketika orang-orang jujur dan ikhlas; para utusan Tuhan, nabi dan muballig menyampaikan dakwah mereka kepada umat manusia tentang adanya balasan surga bagi orang-orang yang beriman, saleh dan taat menjalankan agamanya, dan ancaman  neraka bagi mereka yang berbuat jahat dan mengingkarinya, maka akal sehat akan mendorong mereka untuk meneliti dan mengkaji kebenaran dakwah tersebut.  Jika dakwah dan seruan itu benar, maka akal sehat pun akan mendorong mereka untuk menerima dan mentaatinya.  Lebih dari itu, karena iman kepada Tuhan Pencipta dan pengkajian agama, merupakan perkara yang niscaya. Sebab, teks-teks agama dengan jelas memuat persoalan-persoalan yang berhubungan dengan nasib baik-buruk perilaku manusia yang berhubungan erat dengan iman.

Untuk menjelaskan masalah ini, kami bawakan perumpamaan lainnya. Misalnya ketika seseorang berada di persimpangan dua jalan. Di sini dia menghadapi tiga pilihan: tetap berdiri selamanya di tempat itu, berjalan menuju ke arah A atau ke arah B.

Ketika dia tahu bahwa tetap berdiri di tempat itu bukan saja tidak ada manfaatnya, tetapi malah akan membahayakan dirinya, sementara salah satu dari dua jalan yang ada di hadapannya itupun mengancam keselamatan jiwanya dan yang satunya lagi menjanjikan kebahagiaan dan keuntungan yang abadi.  Maka pada kondisi seperti itu, ia dituntut untuk meneliti dua jalan tersebut dan berusaha mencari indikasi-indikasi dan bukti-bukti untuk keduanya. Karena mengabaikan kedua-duanya adalah bertentangan dengan akal sehatnya. Apabila hasil penelitian dan analisa akal sehatnya menyimpulkan bahwa tetap berdiri di tempat itu dan memilih jalan ke arah A tidak membawanya kepada kebahagiaan dan keselamatan, sementara jalan B menjanjikan keselamatan dan kebahagiaan yang sejati, maka pasti akal sehatnya segera mendorongnya untuk melangkah dan meniti jalan B. Meskipun jalan B yang ia tempuh itu -berdasarkan hasil penelitiannya- masih bersifat kemungkinan besar, belum sampai kepada tingkat yakin. Hal ini sesuai dengan kaidah akal: “menghindari kerugian yang dimungkinkan” merupakan turunan dari motivasi akal. Tentu saja, kaidah logika ini tidak ditujukan kepada mereka yang enggan menggunakan argumentasi logis. Sebab, apabila kaidah ini ditujukan  kepada orang-orang yang keras kepala, pongah dan fanatik, pasti tidak bermanfaat dan tidak ada gunanya untuk mereka.

Kepada orang-orang yang enggan menggunakan akal sehatnya, hingga mereka memiliki anggapan bahwa Tuhan Pencipta, hari pembalasan amal perbuatan dan alam kubur itu tidak ada, hendaknya kita katakan: “Jika benar  apa yang kalian katakan bahwa Tuhan Pencipta dan Hari Kiamat itu tidak ada, maka pada hari akhirat kelak, kami adalah orang-orang selamat dan kalian pun demikian juga. Tetapi, jika benar  apa yang kami yakini -dan memang demikian kenyataannya- maka kami termasuk orang-orang yang selamat, beruntung dan akan meraih kebahagiaan sejati yang abadi, sedangkan kalian pasti termasuk orang-orang yang binasa dan sengsara untuk selamanya”.

2. Motivasi Kasih

Barang kali Anda pernah mendengar ucapan orang-orang bijak bahwa: “Manusia adalah hamba kebaikan”,atau “Dengan perbuatan baik, hati akan tertaklukkan”. Ungkapan lainnya yang hampir senada dengan itu, sebagai sebuah nasihat yang cukup berharga: “Lakukan kebaikan kepada siapa saja, niscaya engkau menjadi tuannya.

Apabila kita renungkan dengan seksama pesan-pesan semacam itu dan yang semisalnya, dapat kita pahami bahwa sebenarnya pesan-pesan tersebut sejalan dengan akal pikiran yang sehat dan naluri setiap insan. Karena secara logis setiap hati orang pasti akan takluk kepada siapa saja yang telah berbuat baik kepadanya dan akan murka kepada siapa saja yang berlaku buruk kepadanya.  Perhatikanlah contoh yang kami bawakan di bawah ini yang terjadi pada selain makhluk manusia.

Setiap orang pasti mengenal raja hutan; singa atau harimau, bahkan anak-anak kecil sekalipun. Binatang buas ini tidak hanya menerkam dan memangsa binatang lainnya yang lebih lemah, bahkan manusia pun menjadi sasarannya. Tetapi jika ia diperhatikan secara serius, diperlakukan dengan baik dan segala keinginannya dipuaskan, seperti makan, minum dan tidur, maka bukan saja si raja hutan tersebut tidak menerkam majikannya, bahkan ia siap melakukan apa saja yang diperintahkan kepadanya demi berkhidmat kepada majikannya yang telah berbuat baik tersebut. Bukankah Anda pernah menyaksikan permainan dan akrobatik sirkus; bagaimana binatang-binatang seperti gajah, singa ataupun kuda dapat mendemonstrasikan kemampuan dan kebolehannya di hadapan khalayak ramai?  Contoh lain yang paling gamblang adalah binatang anjing. Hanya dengan sepotong tulang si pencuri dapat menaklukkannya untuk kemudian melakukan operasi pencuriannya dengan lancar. Dengan kebaikan yang sedikit saja, seekor anjing siap mentaati dan menjalankan perintah apa saja yang datang dari majikannya. Apabila anjing dan binatang buas saja dapat berbuat baik dan berkhidmat kepada majikannya sebagai balas jasa kepadanya, tentunya sangat wajar dan logis jika makhluk manusia yang dibekali akal pikiran yang sehat berterimakasih dan berusaha untuk membalas jasa atas kebaikan yang dilakukan oleh seseorang kepadanya.

Kesimpulan dari semua ini adalah; barangsiapa berbuat baik dan berkhidmat kepada orang lain, pasti si penerima kebaikan itu akan memiliki kecendrungan untuk mengenal pelakunya dan berterima kasih kepadanya. Bahkan lebih dari itu, ia akan berpikir dan berusaha untuk melakukan balas jasa atas kebaikan tersbut. Semakin tinggi nilai sebuah kebaikan, maka akan semakin takluk hati si penerimanya dan semakin tinggi pula keinginannya untuk mengenal pemberi kebaikan tersebut. Namun, perlu diperhatikan bahwa konsep berterimaksaih kepada pemberi kebaikan, terlebih dahulu diakui oleh rasa kasih, sebelum dibenarkan oleh mahkamah akal sehat.

Izinkanlah, kami ingin mengajak Anda untuk mrenungkan beberapa pertanyaan dan ungkapan berikut ini, karena dengan cara itu, Anda akan lebih dapat merasakan manfaat pembahasan ini. Tahukah Anda berapa harganya diri Anda yang tersusun dari dua unsur; unsur materi dan ruhani?  Pernahkah Anda bertanya kepada dokter spesialis mata; berapakah harga kedua biji mata Anda itu?  Bersediakah Anda menukar kedua bola mata Anda itu dengan sebuah istana yang megah lengkap dengan isinya, tetaoi Anda menjadi buta? Jika Anda mencoba menghitung dan menjumlah -secara materi-  nilai dan harga seluruh anggota dan organ-organ tubuh Anda itu, kemudian Anda diminta oleh si pemberinya untuk mambayarnya seluruhnya, menurut Anda, berapakah harga yang layak untuk diberikan kepadanya? Mampukah Anda memberikan semua itu?  Hingga saat ini, pernahkah Anda ditagih dan dimintakan uang untuk membayar sewa atau pajak dari penggunaan semua anggota tersebut?

Apabila telah Anda pahami dan ketahui betapa tinggi nilai diri Anda dan berbagai kenikmatan yang diberikan kepada Anda selama hayat ini, logiskah jika Anda merasa enggan atau tidak peduli untuk mengetahui dan mengenal siapa yang memberikan semua kenikmatan itu kepada Anda?  Wajarkah jika si pemberi berbagai kenikmatan tersebut akan meminta pertanggung jawaban dari kita atas penggunaan yang kita lakukan selama hayat di kandung badan?   Apabila Anda diberi hadiah sebesar seratus juta dolar -misalnya- oleh seseorang, bagaimana cara Anda berterimakasih kepadanya?  Setiap orang yang mendapatkan hadiah sebesar itu, pasti akan berusaha mengenal siapa pemberinya, dan berpikir bagaimana caranya berterimakasih kepadanya.   Apabila hal itu telah Anda pahami dengan baik, kami yakin, pasti Anda sependapat dengan kami, bahwa selayaknya bahkan seharusnya manusia yang telah menerima berbagai kenikmatan ini berusaha mengenal si pemberinya dan penciptanya. Dialah Tuhan Pencipta Anda dan alam semesta ini dengan berbagai isinya yang penuh dengan kenikmatan.

Kami akhiri bagian ini dengan sebuah syair yang pernah disampaikan oleh seorang pujangga Arab ternama sebagai sebuah isyarat kecil:

Berbuat baiklah kepada insan,

Niscaya hati mereka takluk kepada tuan,

Demikianlah insan adalah budak ihsan.

3. Motivasi Fitri

Makhluk manusia, di samping memiliki sarana akal dan pikiran untuk menjalani bahtera kehidupan di muka bumi ini, iapun dibekali dengan berbagai perasaan hati.  Terkadang manusia -berbeda dengan binatang- melalui perasaan hatinya yang dalam dapat mengerti dan memahami wujud dan hakikat sesuatu. Artinya, tanpa melalui studi, pengkajian, bimbingan atau pemikiran rasional, ia dapat memahami atau menilai sesuatu. Perasan insan di dalam lubuk hatinya yang dalam itulah disebut fitrah insani. Pengetahuan secara fitrah artinya pemahaman dan pengetahuan yang diperoleh seseorang melalui perasaan lubuk hatinya yang dalam dan tanpa melalui proses belajar, mengkaji dan berpikir.  Misalnya secara fitrah setiap manusia mencintai keindahan, suka perdamaian dan membenci kezaliman. 

Ketika kita melihat sebuah pemandangan yang indah, atau sekuntum bunga yang semerbak mewangi dengan warnanya yang mempesona, pada saat itu kita merasa tertarik dengannya. Rasa tertarik dan cinta kepada keindahan tersebut timbul dari lubuk hati kita yang dalam. Apakah kita perlu belajar atau berpikir untuk tertarik dan mencintai keindahan tersebut? Jawabnya tentu saja tidak. Karena cinta keindahan merupakan persoalan fitri dan merupakan salah satu dari sekian banyak kecendrungan transendental jiwa manusia.

Upaya untuk mengenal Tuhan Pencipta alam semesta ini, bukan hanya merupakan perasaan esensial yang ada di dalam hati setiap manusia, lebih dari itu ia merupakan dorongan fitrah yang paling kuat yang bersemayam di dalam relung jiwa setiap insan.   

Oleh karena itu, umat manusia sejak masa purba hingga sekarang dan juga pada masa akan datang, senantiasa berupaya untuk mengenal dan mengetahui Tuhan Pencipta yang telah mewujudkan diri mereka dan alam semesta ini. Munculnya rasa keberagamaan dan mencari sembahan sejati, sejalan dengan fitrah insani tersebut.

Setiap orang yang membaca dan mengkaji dengan cermat perjalanan dakwah para utusan Tuhan, dapat memahami dengan baik bahwa dasar risalah mereka adalah memerangi kemusyrikan dan penyembahan terhadap berhala-berhala buta, dan mereka tidak mengedepankan pembuktian wujud Tuhan Pencipta. Mengapa demikian? Jawabnya, karena masalah wujud Tuhan Pencipta telah tertanam di dalam lubuk hati setiap manusia sebagai persoalan fitri. Dengan kata lain, bahwa manusia tidak menuntut pembuktian wujud Tuhan Pencipta untuk ditanamkan pada lubuk hati mereka. Karena persoalan wujud Tuhan Pencipta merupakan hal fitri setiap insan.  Oleh karena itu, para utusan Tuhan tersebut lebih banyak mengerahkan tenaga dan pikirannya untuk membunuh hama dan belukar yang acapkali membuat kering dan layu pokok keyakinan fitri tersebut, lalu menyiraminya dengan air budi pekerti yang luhur dan terpuji.

Di samping rasa tertarik dan cinta kepada keindahan, rasa ingin tahu dan cinta kepada pengetahuan pun merupakan persoalan fitri bagi setiap manusia. Rasa ingin tahu inipun merupakan pendorong yang kuat bagi setiap insan untuk mengenal Tuhan Pencipta alam raya ini.

Apakah mungkin seseorang yang menyaksikan sistem yang  menakjubkan di dalam dirinya dan di alam semesta yang luas ini, tetapi ia tidak merasa tertarik untuk mengenal pencipta sistem tersebut?

Apakah mungkin seorang ilmuwan yang telah meluangkan waktunya dan bersusah-payah selama puluhan tahun untuk mengenal kehidupan habitat semut, atau ilmuwan lainnya yang telah menghabiskan waktunya selama puluhan tahun untuk meneliti habitat burung, pepohonan, atau ikan-ikan di laut, sementara tidak terdapat dorongan di dalam lubuk hatinya untuk mengenal Tuhan Pencipta, selain cinta terhadap pengetahuan yang terpatri di dalam lubuk hatinya tersebut? Bagaimana  mungkin para ilmuwan itu tidak ingin mengenal sumber sejati penciptaan alam semesta tersebut?  Yang jelas bahwa rasa tertarik kepada pengetahuan, merupakan motivasi yang mendorong manusia untuk mengenal Tuhan Pencipta.

Alhasil, Akal setiap insan menuntut dan menuntun mereka untuk mengenal dan mengetahui Tuhan Pencipta alam semesta ini. Rasa kasih akan menarik mereka kepada keinginan tersebut  dan fitrah insani akan mendorong mereka untuk bergerak ke arah-Nya. Dengan jelas, telah kami uraikan mengenai berbagai motivasi yang mendorong manusia untuk mengenal Tuhan Pencipta.  Karena kebahagiaan dan perdamaian yang sejati dan hakiki tidak akan dicapai kecuali dengan jalan tersebut. [www.wisdoms4all.com]