Tarekat Ahlul Bait



Oleh: JALALUDDIN RAKHMAT[*]

Apa sebetulnya tarekat itu? Mengapa pula kita harus membahas tarekat Ahlul Bait? Sebelumnya, saya akan berbicara tentang tarekat. Tarekat itu sendiri berhubungan erat dengan tasawuf. Kalau kita bicara tarekat, maka kemudian kita akan dibawa dan diantar orang menuju tasawuf. Karena itu, kita akan membicarakan tasawuf lebih dahulu.

Dalam bahasa Inggris, tasawuf disebut mistisme (mysticism). Kata mistisme (mysticism), misteri (mystery), dan mitos (myth) berasal dari satu kata dalam bahasa Yunani mystheon, yang artinya menutup mulut. Karena itu, mistisme, misteri, dan mitos adalah sesuatu yang disampaikan sambil tutup mulut. Akan tetapi, memang, kata tasawuf tidak berasal dari mistisme. Ada banyak teori tentang asal-usul kata tasawuf. Sebagian mengatakan bahwa tasawuf berasal dari kata shuf, yang berarti baju bulu atau wol yang dulu dipakai oleh orang-orang fakir. Ada yang mengatakan kalau tasawuf berasal dari kata shafa, yang artinya membersiahkan diri, dan sufi adalah orang yang membersihkan dirinya. Ada juga yang mengatakan bahwa tasawuf berasal dari kata dalam bahasa Yunani, yaitu theos dan sophos. Theos berarti Tuhan dan sophos bermakna mencintai. Jadi, tasawuf bisa kita artikan mencintai Tuhan. Memang ada betulnya juga, karena tasawuf adalah sebuah mazhab yang ditegakkan di atas kecintaan kepada Tuhan. Tasawuf adalah mazhab cinta.

Saya mulai pembahasan ini dengan doa munajat penempuh jalan tarekat. Doa ini berasal dari Imam Zainal ‘Abidin. Saya kutipkan sebagai kecil darinya. “Dengan asma’ Allah Yang Mahakasih dan mahasayang. Mahasuci Engkau—Subhanaka. Alangkah sempitnya jalan bagi orang yang tidak memiliki jalan. Alangkah terangnya kebenaran bagi orang yang Kau tunjuki jalan. Ilahi, bimbinglah kami menuju ke banyak jalan menuju-Mu. Lapangkanlah kepada kami jalan terdekat ke arah-Mu. Dekatkan bagi kami yang jauh. Mudahkan bagi kami yang berat dan sulit. Gabungkan kami dengan hamba-hamba-Mu yang berlari cepat mencapai-Mu, yang selalu mengetuk pintu-Mu, yang malam dan siangnya selalu beribadah kepada-Mu, yang bergetar takut karena keagungan-Mu, yang Kau bersihkan tempat minumnya, yang Kau sampaikan keinginannya, yang Kau penuhi permintaan-Nya, yang Kau puaskan—dengan karunia-Mu—kedambaannya, yang Kau penuhi—dengan kasih-Mu—sanubarinya, yang kau hilangkan dahaganya dengan kemurnian minuman-Mu.”

Pada bagian awal doa ini sebenarnya tersimpul inti dari tasawuf. Jadi, tasawuf adalah perjalanan menuju Allah Swt. Istilah tasawuf dikenakan untuk orang yang tengah menempuh jalan tarekat, yang tenagh melangkahkan kaki menuju perjalanan tak terhingga menuju Allah Swt. Jalan ini tidak gampang dan sangat tidak mudah, sebagaimana diungkapkan Imam Zainal ‘Abidin, “Alangkah sempitnya jalan bagi orang yang tidak punya jalan.” Kalau tidak ada dalil, petunjuk atau pembimbing, sempit betul rasanya jalan ini. Akan tetapi, di antara kafilah ruhani yang berjalan menuju Allah itu, ada sebagian dari mereka yang sudah mencapai rumah Tuhan, yang sudah mengetuk pintu-Nya, yang telah disambut Tuhan dengan anugerah-Nya, dan diberinya minum kecintaan-Nya, dan mereka pun melepaskan dahaga di sana. Itulah kelompok wali (auliya’) Allah dan kekasih-kekasih-Nya.

Saya kutipkan lagi doa Imam Ali Zainal ‘Abidin, yang menggambarkan situasi kejiwaan orang yang sudah sampai ke rumah Tuhan, sudah mengetuk pintu-Nya, dan sudah dibukakan. Saya percaya bahwa Anda sekalian sudah mengalami pencerahan yang cukup tinggi sehingga tidk menafsirkan ucapan saya dengan pemahaman orang awam. Inilah ungkapan orang yang sudah dekat dengan Allah Swt. “Perjumpaan dengan-Mu kesejukan hatiku. Pertemuan dengan-Mu kecintaan diriku. Kepada-Mu kedambaanku. Pada cinta-Mu tumpuanku. Pada kasih-Mu gelora rinduku. Ridha-Mu tujuanku. Melihat-Mu keperluanku. Mendampingi-Mu keinginanku. Mendekati-Mu puncak permohonanku. Dalam menyeru-Mu damai dan tenteramku.”

Inilah kelompok kekasih Tuhan, para wali Allah. Di dalam menyeru Tuhan, ketika menyebut nama-Nya, waktu berzikir dan berdoa kepada-Nya, mereka menikmati dan merasakan kedamaian serta ketenteraman. Mereka laksana bayi-bayi lapar yang menghentikan tangisannya dalam dekapan bundanya. Lalu, dengan penuh kebahagiaan, mereka memandang wajah bundanya itu. Mereka adalah orang-orang yang menderita, yang menemukan kawan yang mau mendengar jeritannya, yang memahami kesulitannya dan memberikan jalan keluar. Mereka seperti pengelana di padang pasir, yang berkali-kali dikecoh fatamorgana dan kemudian berhasil menemukan oase yang memancarkan air bening, bersih, dan sejuk.

Nah, doa ini—seperti kita ketahui berasal dari Imam Ali Zainal ‘Abidin, salah seorang di antara mereka yang sudah singgah di halaman rumah Tuhan. Beliau digelari As-Sajjad karena banyaknya melakukan sujud. Dikisahkan bahwa ada banyak tempat di kota Madinah yang tanahnya menjadi keras karena seringnya Imam Ali Zainal ‘Abidin bersujud di situ. Padahal, ketika bersujud, tanah itu beliau siram dan basahi dengan linangan air mata. Dulu banyak orang yang datang ke temapt itu untuk meminta berkah. Setiap malam bintang-gemintang menyaksikan beliau merintih di rumah Tuhan atau di tempat shalatnya. Padahal, beliau termasuk keluarga Rasulullah saw. (Ahlul Bait) yang disucikan sesuci-sucinya. …Innama yuridullah li-yudzhiba ‘ankum al-rijsa ahl al-bait wa yuthahhirakum tathhiran. Sesungguhnya Allah bermaksud menghilangkan dosa-dosa dari kamu, wahai Ahlul Bait, dan mensucikan kamu sesuci-sucinya. (QS Al-Ahzab [33]: 33)

Berikut ini saya bacakan sebuah doa yang dibaca Imam Ali Zainal ‘Abidin ketika beliau bersujud disudut Kabah di bawah mizab, yaitu pancuran air. Nah, di bahwa pancuran iar inilah Imam Ali Zainal ‘Abidin berdoa sambil bersujud. “Inilah hamba sahaya-Mu rebah di halaman kebesaran-Mu. Inilah si malang-Mu rebah di halaman kebesaran-Mu. Inilah si fakir-Mu rebah di halaman kebesaran-Mu. Inilah pengemis-Mu di halaman kebesaran-Mu. Tuhanku, demi kebesaran-Mu, keagungan-Mu, dan kemuliaan-Mu, sekiranya sejak Engkau menciptakan aku, sejak masa permulaanku aku menyembah-Mu sekekal badai rububiyah-Mu, dengan setiap lembar rambutku, setiap kejam mataku sepanjang masa, dengan pujian dna syukur segenap makhluk-Mu, maka aku takkan mampu mensyukuri nikmat-nikmat-Mu yang paling tersembunyi padaku. Sekiranya aku menggali tambang besi dunia dengan gigiku, dan menanami buminya dengan lmbar-lembar alis mataku, dan menangis takut kepada-Mu dengan air mata dan darah sebanyak samudera langit dan bumi, maka semua itu kecil dibandingkan dengan banyaknya kewajibanku atas-Mu. Sekiranya, setelah itu, Engkau menyiksaku dengan azab seluruh makhluk, Engkau besarkan tubuh dan ragaku, Engkau penuhi Jahanam pada seluruh sudutnya dengan tubuhku sehingga di sana tidak ada lagi yang disiksa selainku, tidak ada lagi kayu bakar selain diriku, maka semua itu kecil dibandingkan dengan keadilan-Mu dan besarnya hukuman-Mu yang harus kuterima mengingat dosa-dosa yang kulakukan.”

Doa ini sangat indah dan menyentuh. Kepada Imam Ali Zainal ‘Abidin ini bersambung hampir semua silsilah tarekat. Lewat beliau, silsilah itu naik kepada ayahnya, dan kepada kakeknya, yaitu Rasulullah saw. Dari beliau, para penempuh jalan kesucian belajar mengetuk pintu Tuhan. Dari beliau, mereka belajar doa yang mengungkapkan kerinduan dan kecintaan kepada Tuhan. Dari beliau pula, mereka belajar mensucikan batin agar layak berdampingan dengan Dzat Yang Mahasuci.

Imam Ja’far Ash-Shaddiq—cucu Imam Zainal ‘Abidin yang melanjutkan tradisnya—menyimpulkan inti tarekat beliau, tarekat keluarga Nabi saw., “Ad-dinu huwa al-hubb.” Agama itu cinta. Para filosof pun menyimpulakn keberagaman mereka dengan mengatakan, “Ad-dînu huwal ‘aqlu. La dina liman la aqla lahu.” Agama itu akal. Tidak ada agama bagi orang yang tidak berakal.

Ketika Islam dimaknai dengan berserah diri atau pasrah, maka para pengikut tarekat menambahkan cinta sebagai syarat mutlak penyerahan diri dan kepasrahan. Para filosof menyerahkan diri kepada Tuhan setelah akal mereka menunjukkan mereka kepada-Nya. Para fakih atau ahli hukum Islam pasrah kepada-Nya setelah mengetahui hukum-hukum-Nya, seperti taatnya warga negara kepada hukum negerinya. Para sufi merbahkan diri di hadapan-Nya, mau melakuka apa pun yang diperintahkan oleh-Nya, asalkan mereka tidak diusir dari sisi-Nya—sebagaimana seorang pecinta yang pasrah di depan kekasihnya. Karena boleh jadi, seseorang pasrah kepada-Nya karena takut siksa, hukuman, atau kekuasaan-Nya. Mungkin juga ia menyerahkan diri karena mengharapkan pamrih, pahala, atau ganjaran. Para sufi menyerahkan diri mereka sepenuhnya kepada Tuhan karena cinta. Ketika mereka berdoa, mereka memohonkan agar semua balasan itu diberikan kepada orang lain, sebagaimana diungkapkan dengan indah oleh L.A.Ara, seorang penyair muslim dari Aceh, dalam puisinya yang berjudul Doa Orang Buta.

Tuhan, beri sinar kepada mereka yang awas matanya.
Tuhan, beri cahaya kepada mereka yang memandnag dunia dengan mata terbuka.
Tuhan, kepadaku kirim saja percik kasih-Mu, tidak untuk membuka mataku, tapi untuk menyiram hatiku.

Salahkah dia yang pasrah kepada-Nya karena akalnya? Tidak. Dia diberi sinar untuk membuka matanya. Salahkah dia yang pasrah karena takut akan hukuman-Nya, atau karena takut menginginkan pahala-Nya? Tidak. Banyak jalan menuju Dia. Salah satu di antara jalan itu adalah jalan kesucian yang ditempuh para sufi, yaitu mereka yang ingin dikirimi percik kasih Tuhan untuk menyiram hatinya.

Jadi, secara singkat, tasawuf adalah sebentuk keberagamaan yang didasarkan pada cinta. Kalau orang bertanya apa mazhab tasawuf, maka tasawuf itu akan menjawab, “Madzhabuna madzhab al-hubb”. Mazhab kami adalah mazhab cinta.

Tasawuf: Mazhab Cinta
Cinta dan kerinduan, mahammad dan ‘isyq, adalah inti keberagamaan yang disebut tasawuf. Apa arti cinta? Dalam bahasa Arab, cinta disebut hubb. Kata Abdurrahman Al-Sulami, seorang sufi besar abad ke-5, “Hubb terdiri dari dua huruf, ha dan ba’. Ha adalah huruf akhir pada ruh, dan ba’ adalah huruf awal pada kata badan. Badan menjadi ruh tanpa badan. Badan menjadi badan tanpa ruh. Segala sesuatu bisa dijelaskan kecuali cinta. Cinta itu terlalu lembut dan terlalu halus untuk diterangkan. Karena itulah, Allah Swt. menciptakan malaikat untuk berkhidmat, jin untuk kekuasaan, setan untuk laknat, dan menciptakan para arif untuk cinta.” Saya juga tidak mengerti apa yang dimaksud Al-Sulami. Simpanlah ini untuk bahan renungan Anda.

Akan tetapi, Al-Sulami memberikan anekdot-anekdot sufi tentang cinta. Junaid Al-Baghdadi, salah seorang sufi terkemuka, menjelaskan cinta dengan cinta. “Aku melihat seorang anak memukuli orang tua. Tetapi orang tua itu hanya tertawa. Aku bertanya, “Mengapa Anda tertawa?” Orang tua itu menjawab, “Bagaimana aku tidak tertawa, tangannya ruhku, cambuknya hatiku, hidupnya hidupku. Bagaimana mungkin aku mengadukan diriku kepada diriku?”

Pada waktu yang lain, Abul Al-Husain Al-Nuri bertanya kepada Junaid tentang cinta yang menjadi dasar tasawuf. Kata Junaid, “Akan aku kisahkan sebuah cerita. Pada suatu hari aku bersama sekelompok orang berada di kebun. Kami menunggu seseorang yang akan menemui kami. Orang itu rupanya datang terlambat. Kami pun naik untuk melihat-lihat. Tiba-tiba kami melihat ada orang buta berjalan bersama anak yang sangat cantik sekali rupanya. Orang buta itu berkata, “Engkau perintahkan aku begini dan begini. Semuanya aku lakukan. Engkau melarang, semuanya aku tinggalkan. Aku tidak pernah membantahku. Sekarang, apa lagi yang engkau inginkan?” Anak itu menjawab, “Aku ingin engkau mati”. Si buta itu pun berkata, “Baiklah. Aku akan mati”. Lalu ia berbaring dan menutup wajahnya. Aku pun berkata kepada sahabat-sahabatku, “Lihat, si buta itu tidak bergerak sama skali. Keadaannya seperti sudah mati. Padahal tidak mungkin ia mati”. Kami segera menghampirinya. Kami gerak-gerakkan tubuhnya. Ia betul-betul telah mati.

Kisah-kisah Junaid Al-Baghdadi tampaknya sukar kita cerna. Marilah kita ngatkan Dzunnun Al-Mishri. Ia berkunjung kepada orang sakit dan ia dapatkan si sakit sedang mengaduh. Dzunnun berkata, “Tidak sejati ia mencintai jika tidak sabar akan pukulannya.” Si sakit berkata, “Tidak sabar dalam mencintai jika tidak menikmati pukulannya.” Dari sudut rumah ada suara, “Tidaklah mncintai Kami secara sejati orang yang masih mengharap kecintaan selain Kami.” Ketika ditanya bagaimana ia mencintai sahabatnya, ia menjawab, “Jika aku melihatnya, aku ingin agar aku tidak melihat apa pun selain dia. Jika aku mendengar suaranya, aku ingin tidak mendengar apa pun selain suaranya.” Al-Mutanabbi bersyair, “Sekiranya aku bisa mengendalikan mataku, aku tidak akan membukanya kecuali ketika melihatmu.”

Kita akhiri perbincangan tentang cinta dengan penjelasan singkat dari Al-Syibli (walaupun katanya, cinta itu tidak dapat dijelaskan). Ia berkata, “Hakikat cinta adalah engkau berikan seluruh dirimu kepada yang engaku cintai sehingga tidak tersisa milikmu padamu sedikit pun.”

Memang, semua sufi sepakat bahwa tasawuf adalah mazhab cinta. Tetapi cinta adalah maqam tertinggi dalam perjalanan tasawuf. Dan memang, cinta sangat sulit untuk dijelaskan. Cinta—dengan memakai istilah filosof agama, Trueblood—bukanlah “a matter of contemplatoin” (sesuatu untuk direnungkan). Cinta adalah “a matter of enjoyment” (sesuatu untuk dinikmati). Karena itu, sebaiknya kita melihat tasawuf dalam artinya yang paling sederhana dan rujukannya dalam hadits-hadits Rasulullah saw.

Tasawuf: Mazhab Ali
Ketika menjelaskan arti tasawuf, Al-Suhrawardi mengutip sabda Rasulullah saw., “Perumpamaan risalah yang aku bawa dari Allah berupa petunjuk dan ilmu seperti hujan deras yang jatuh ke bumi. Ada sebagian dari bumi yang menerima air dan menumbuhkan tanaman dan pohon-pohonan yang banyak. Ada sebagian lagi yang menyerap, menampung air, yang dengan air itu Allah memberikan manfaat kepada manusia. Dari air itulah mereka minum, menyiram, dan bercocok tanam. Ada juga bagian bumi lain yang gersang, tidak dapat menampung air, dan tidak dapat menumbuhkan tanaman. Begitulah, (yang pertama adalah) perumpamaan orang yang mengerti agama Allah dan memperoleh manfaat dari risalah yang aku bawa dari Allah berupa petunjuk ilmu. (Yang kedua adalah) perumpamaan orang yang tidak mau memerhatikan dan tidak menerima petunjuk Allah yang aku bawa.”

Kemudian, ia menjelaskan hadits itu: “Untuk menerima apa yang dibawa Rasulullah saw., Tuhan telah mempersiapkan hati yang paling suci dan diri yang paling bersih. Maka, tampaklah perbedaan tingkat kesucian dan kebersihan karena perbedaan faidah dan manfaat. Ada hati yang kedudukannya seperti tanah yang baik, subur dengan pepohonan dan tanaman. Inilah hati orang yang memperoleh manfaat dari ilmunya untuk dirinya dan memperoleh petunjuk. Ilmunya berguna bagi dia, membimbingnya ke jalan yang lurus dengan mengikuti Rasulullah saw. Ada hati yang kedudukannya seperti tanah penyerap (akhadzat), yaitu seperti kolam, ia mengumpulkan dan menampung air. Inilah perumpamaan kebersihan diri para ulama yang zahid dari kalangan sufi dan syuyukh (guru-guru sufi) serta kesucian hati mereka. Hati mereka berlimpah dengan faedah dan jadilah mereka akhadzat. Masruq berkata, “Aku pernah bergaul dengan sahabat Nabi saw. Aku dapatkan mereka itu seperti akhadzat. Hati mereka menjadi penyimpan ilmu dan diberi kesucian pemahaman.”

Untuk memberi contoh hati yang menyimpan, Al-Suhrawardi membawakan hadits Nabi saw. Ketika turun ayat, “Agar kamu jadikan peristiwa itu pelajaran dan agar disimpan oleh telinga yang bersifat penyimpan.” (QS 69: 12). Telinga yang bersifat penyimpanan adalah terjemahan yang kurang tepat untuk udzunun wa’iyah. Wa’iyyah bermakna mengandung, yang menyimpan, yang memeilihara dalam ingatan, yang mengingat, yang mengetahui dengan hati, yang menyadari, yang memperhatikan, yang melihat dengan jelas.

Rasulullah saw. pernah berkata kepada Ali bin Abi Thalib, “Aku bermohon kepada Allah Swt. agar Dia menjadikan telinga penyimpanan itu adalah telingamu.” Kata Ali, “Sejak itu, aku tidak pernah melupakan apa pun. Tidaklah mungkin bagiku untuk lupa.” Kata Abu Bakar Al-Wasithi, “Itulah telinga yang menyimpan rahasia Allah.” (Lihat Abdul Qahir Al-Suhrawardi, ‘Awarif Al-Ma’araif, Darul Kitab Al-‘Arabi, Beirut, 1983: 12-13).

Para sahabat Nabi saw., kata Masruq, mempunyai hati yang wa’iyyah. Dalama kemampuan menyimpan rahasia Allah, di antara mereka, ‘Ali bin Abi Thalib adalah puncaknya. Ia digelari Taj Al-‘Arifin atau “mahkota orang-orang arif”. Ia disebut oleh mahagurunya, yaitu Rasulullah saw. sebagai “pintu kota ilmu”. Beliau bersabda, “Aku kota ilmu dan Ali pintunya. Siapa yang menginginkan ilmu, datangilah pintunya. Siapa yang datang tidak melewati pintu, ia dihitung sebagai pencuri dan ia menjadi tentara iblis.” (Lihat Al-Hakim dalam Mustadarak, 3: 126; Al-Khatib, Tarikh Baghdad, 2:377; Al-Qanzudi Al-Hanafi, Yanabi Al-Mawaddah, hlm 183; Ibnu Hajar, Shawa’iq Al-Muhriqah, hlm 37; Ibnu Katsir, Al-Bidayah wal Nihayah, 7: 358; Al-Muttaqi Al-Hindi, Kanz Al-’Ummal, 5: 30, dan sebagainya). Ia menyimpan rahasia Allah Swt. yang disampaikan kepadanya oleh Rasulullah saw. yang mulia, atau yang ia peroleh selama perjalannya menuju Allah Swt.

Rasulullah saw. dididik Allah Swt. secara langsung. Kepada beliau berguru Ali bin Abi Thalib. Kepada beliau dan Ali berguru para sahabat Nabi untuk memperoleh petunjuk dalam mengarungi samudera Ilahi. Abu Bakar ra. berkata, “Tinggalkan aku. Aku bukan yang paling baik di antara kamu selama ada Ali di tengah-tengah kamu.” Ucapan ini bukan hanya menunjukkan kerendahan hati yang berbicara, tetapi juga menunjukkan keutaman orang yang dibicarakannya. Berkata At-Tirmidzi, yang meriwayatkan hadist ini, “Ia (Abu Bakar) mengatakan itu karena ia tahu keadaan Ali kw., dan martabatnya dalam khilafah sebenarnya, yang pokok dan yang pasti, berdasarkan urutan, secara hakikat, meurut akal, dan atas keterikatan kepada Allah Swt. (takhallufan, wa tahaqquqan, wa ta’aqquqan, wa ta’alluqan) (Lihat Al-Bahrani, Ghayat Al-Maram, bab 53).

Umar berkata, “Tentang Ali, aku pernah mendengar Rasulullah saw. bersabda dan menyebut tiga hal. Sekiranya satu saja dari yang tiga itu berkenaan dengan aku, ia lebih berharga dari apa pun yang dinaungi cahaya matahari. Waktu itu, aku berada bersama Abu ‘Ubadah, Abu Bakar, dan banyak sahabat lainnya. Tiba-tiba Nabi saw. menepuk bahu ‘Ali seraya berkata, “wahai Ali. Kamu adalah Mukmin yang pertama beriman, Muslim yang pertama berisalam, dan kedudukanmu terhadapku sama seperti kedudukan Harun terhadap Musa’.” (Ibnu Ali Al-Hadid, Syarh Najh Al-Balaghah. Al-Khawarizmi juga meriwayatkan hadits ini dalam Al-Manaqib).

Tidak cukup tempat dalam tulisan ini untuk memuat penilaian sahabat lain tentang Ali. Cukuplah di sini dikutip ucapan Mu’awiyah, yang sepanjang hidupnya memusuhi Ali. Sekali waktu, demi menyenangkan hati Mu’awiyyah, Al-Dhabi menceritakan kedatangannya dari pertemuan dengan Ali, “Aku datang kepadamu dari manusia yang paling bakhil (maksudnya Ali).” Di luar dugaan, Mu’awiyyah berkata, “Celakalah kamu. Bagaimana mungkin kamu menyebut dia manusia yang paling bakhil, padahal sekiranya ia memiliki rumah dari emas dan rumah dari jerami, ia akan memberikan rumah emasnya sebelum rumah jeraminya. Dia sendiri yang menyapu Baitul Mal dan melakukan shalat di dalamnya. Dia juga yang berbicara kepada emas dan perak, ‘Wahai kuning dan putih. Tipulah orang selainku!’ Dialah yang tidak akan meninggalkan warisan, walaupun seluruh dunia menjadi miliknya.”

Sebenarnya, Mu’awiyah hanya mengulang apa yang pernah dilaporkan kepadanya oleh Dhahar bin Dhamrah. Ketika Dhahar berada di istana Mu’awiyah, ia diminta untuk menceritakan sifat-sifat Ali. Anda tahu, pada waktu itu, Mu’awiyah mengharuskan para khatib Jumat mengutuk Ali di mimbar-mimbar dan menghukum orang yang tidak mau melakukannya. Siapa saja yang memuji Ali, maka ia akan dianggap subversif. Bahkan diam saja, tidak mengecam Ali, akan dipandang menentang penguasa. Misalnya, Hujur bin ‘Adi dan kawan-kawannya, mereka dihukum mati (sebagian dikubur hidup-hidup) karena tidak mau mengutuk Ali pada waktu shalat Jumat. Dalam kadaan seperti itu, tentu saja Dharar keberatan. Jika ia menceritakan yang sebenarnya, ia akan dianggap memuji dan mengkultuskan Ali. Bagi yang tidak senang bunga mawar, menyebut mawar itu harus sudah dianggap pujian, padahal harum adalah sifat mawar.

“Bebaskan saya,” kata dharar, “Tidak akan aku bebaskan,” tegas Mu’awiyah. Berkatalah Dharar, “Jika harus tetap aku ucapkan juga—demi Allah—Ali adalah orang yang cendikia lagi perkasa, berbicara dengan jernih dan menghukum dengan adil. Ilmu memancar dari segenap pribadinya. Hikmah berbicara dari seluruh dirinya. Ia menjauhkan diri dari dunia dengan segala perhiasannya. Ia menyendiri di malam hari bersama kegelapannya. Ia—demi Allah—banyak berurai air mata dan banyak berpikir. Ia membolak-balik tangannya seraya meneysali dirinya. Ia senang pakaian yang kasar dan makanan yang keras. Ia, demi Allah, seperti orang kebayakan. Jika kita minta tolong, ia memenuhinya. Jika kita undang, ia mendatanginya. Walaupun begitu, demi Allah, walaupun ia dekat dan akrab dengan kami, kami tidak sanggup berbicara kepadanya karena kewibawannya. Kami tak mampu mulai berkata karena kemuliannya. Jika ia tersenyum, senyumnya bagaikan untaian mutiara. Ia memuliakan ahli agam. Ia mencintai orang miskin. Di hadapannya, yang kuat tidak mau melakukan kebatilan, dan yang lemah tidak putus asa akan keadilan. Aku bersaksi kepada Allah, aku pernah menyaksikannya dalam bberapa penggalan malam. Ketika malam sudah menjulurkan tirainya, gemintang sudah tenggelam, ia berada di mihrab shalatnya. Ia memegang janggutnya. Ia menggigil seperti orang sakit yang menderita demam. Ia menangis seperti tangisan orang yang menderita. Seakan-akan masih kudengar ia berkata, ‘Hai dunia, tipulah orang selainku. Di depanku kamu berhias? Di hadapanku kamu mencumbu? Menjauhlah dariku. Aku sudah mentalakmu tiga kali. Tidak mungkin lagi rujuk. Usiamu singkat. Hidupmu rendah. Bahayamu besar. Aduh, betapa sedikitnya bekal, alangkah jauhnya perjalanan, dan betapa sepinya jalan’.”

Dalam keluhan Ali, “Aduh, betapa sedikitnya bekal, alangkah jauhnya perjalanan, dan betapa sepinya jalan” tercermin makna tasawuf. Al-Suhrawardi menghimpun banyak definisi tentang tasawuf dan mengakhirinya dengan mengatakan, “Pendapat para guru sufi tentang definisi tasawuf lebih dari seribu. Akan terlalu panjang mengutipnya.” Di sini, cukuplah bagi kita menjelaskan tasawuf tidak dengan definisi, tetapi dengan perilaku dan ucapan Ali. Lalu mengapa tidak mencontoh Rasulullah saw. saja secara langsung?

Mengapa Harus Mencontoh Ali?


Ada dua jawaban: yang sederhana dan yang sulit. Pertama, yang sederhana. Dari manakah kita belajar sunnah Nabi? Jawabnya, dari para sahabat. Dari ‘Aisyah ra., kita tahu bahwa Rasulullah saw. menangis ketika melakukan shalat malam sampai janggut beliau menjadi basah. Dari Umar ra., kita tahu kalau Nabi saw. berbaring pada tikar yang kasar sehingga tikar itu meninggalkan bakas pada wajahnya. Dari Ibnu ‘Abbas ra., kita tahu kalau Rasulullah saw. pernah menjama’ shalat Zuhur dan Asahr di Madinah bukan karena sakit, bukan karena bepergian, dan bukan karena hujan. Hanya melalui ucapan dan perilaku sahabatlah kita dapat meneladani sunnah-sunnah beliau.

Walhasil, Anda tidak dapat mencontoh Rasulullah saw. secara langsung. Karena itulah, untuk memperoleh petunjuk jalan dalam safar ruhani kita yang panjang, ikutilah Ali. Ia pasti sudah sudah mengikuti Rasulullah saw. Kalimat yang benar bukan pertanyaan, “Apakah kita meneladani Nabi saw. atau Ali?” Yang benar adalah pernyataan, “Kita meneladani Nabi saw. dengan meneladani Ali.”

Jawaban kedua agak sulit dijelaskan. Ketika saya ingin mengikuti Imam Ali, Anda pasti bertanya mengapa tidak mengikuti Rasulullah saw. saja? Baiklah, Anda mengikuti Rasulullah saw. Saya pun akan balik bertanya, “Mengapa tidak mengikuti Allah saja?” Pertanyaan semacam ini pernah diajukan kepada saya, ketika saya mendirikan Pesantren Muthahhari. Saya ingin mendidik para santri agar mereka kelak menjadi ulama seperti Muthahhari: pemikir, aktivis, ahli agama, dan ahli ilmu sekaligus. Kawan saya menegur, mengapa tidak langsung mencontoh Nabi Muhammad saw. saja? Ketika saudara saya mengikuti Imam Syafi’i, ia juga bertanya, mengapa tidak mengikuti Nabi saw. saja.

Saya menjawab kalau Rasulullah saw. adalah sumber syariat yang kedua setelah Allah. Pada Allah dan Rasul-Nya berpangkal semua pemahaman kita tentang agama. Allah dan Rasul-Nya adalah Islam itu sendiri. Islam adalah air hujan yang turun drai langit. Kita adalh tanah yang menerima tetesan dan curahan hujan itu. Di antara bidang-bidang tanah itu ada petak demo yang menjadi percontohan bagi tanah-tanah yang lain. Perilaku Rasulullah saw. adalah sunnah. Kita mengamalkan pemahaman kita tentang sunnah. Sebagaimana tanah yang memiliki kemampuan menampung air yang berbeda, seperti itulah penerimaan kita pada sunnah. Sepanjang sejarah, kaum Mukmin berusaha memahami dan menjalankan sunnah Nabi saw. Sebagian kecil dari mereka ada yang sudah memahami sunnah dengan baik, menjadi akhadzat. Mereka mengamalkan sunnah itu dalam kehidupannya, dan sebagian besar kaum Mukmin mencontoh mereka yang disebut pertama. Dari madrasah Nabi saw., murid tladan yang pertama adalah Ali bin Abi Thalib. Kepadanya para sahabat merujuk. “Law la ‘Ali, lahalak ‘Umar, kata Umar bin Khathab. “Sekiranya tidak ada Ali, celakalah Umar.”

Ketika kawan saya tidak paham atau tidak mau paham, saya hrus menjelaskannya dengan konsep isnad dalam ilmu hadits atau silsilah dalam tarekat.

Perhatikan hadits Nabi saw. berikut, “Perumpamaanku dan perumpamaan apa yang aku bawa seperti lelaki yang mendatangi kaumnya: ‘Hai kaumku, aku melihat pasukan musuh dengan mataku sendiri…’.” Al-Suhrawardi menurunkan hadits ini dalam kitab ‘Awarif Al-Ma’arif. Ia menerima hadits itu dari Al-Husain bin Muhammad Al-zaini, yang menerimanya dari Karimah binti Ahmad, dari Abu Al-Haitsam, dari Muhammad bin Yusuf Al-farbari, dari Muhammad bin Isma’il Al-Bukhari. Al-Bukhari menerimanya dari Abu Akrib, dari Abu Usamah, dari Abu Barid, dari Abu Burdah, dari Abu Musa Al-Anshari, dari Rasulullah saw. Rangkaian nama yang panjang ini disebut sanad. Untuk pertanggungjawaban ilmiah, Al-Suhrawardi tidak langsung mengatakan ia mendengar hadits dari Nabi saw. Ia merinci jalur periwayatan hadits itu dari gurunya, dari guru gurunya, dan seterusnya. “Tidak ada agama tanpa isnad,” kata ahli hadits. “Cukuplah meniru Nabi saw., tidak perlu meniru Muthahhari,” kata kawan saya.

Dalam tarekat, sanad itu disebut silsilah—mata rantai yang menghubungkan guru kita dan guru-guru sebelumnya sampai kepada Rasulullah saw. Misalnya silsilah tarekat Qadiriyyah-Naqsyabadiyyah, ada guru-guru yang sampai kepada Ali Ar-Ridha. Ia menerima dari ayahnya, kakeknya, sampai kepada Ali bin Abi Thalib, dan akhirnya sampai kepada Rasulullah saw. Dari Ali Ar-Ridha, tarikat Qadariyah-Naqsyabandiyyah bersambung dengan apa yang dikenal sebagai silsilah emas (al-silsilah al-dzahabiyyah), yaitu untaian mata rantai keluarga Nabi saw. yang terkenal dalam kemakrifatannya dan kesalehannya. Inilah rangkaian imam yang oleh Nabi saw. disebut Safinah Nuh (Perahu Nuh) dan gemintang umat. “Terekat yang tidak bersambung kepada Rasulullah saw. tidak boleh diikuti. Ikutilah guru (mursyid), yang memperoleh ilmunya dari rangkaian guru yang bersambung kepada Ali bin Abi Thalib dan sampai kepada Rasulullah saw.,” kata pengikut tarekat. Kawan saya masih bertanya, “Mengapa harus melewati rantai yang panjang? Ikuti saja langsung Rasulullah saw.? Mengapa harus melewati Ali?” Saya tidak bisa menjelaskan lagi keculai mengatakan peribahasa Melayu lama: mengeja dari awal, mengaji dari alif.

“Tinggalkan semua hal yang berkaitan dengan guru atau keharusan mengikuti Ali. Yang jelas, tasawuf tidak terdapat dalam Al-Quran dan sunnah. Pada zaman Nabi saw. dan para sahabatnya, tidak dikenal kata tasawuf. Jadi, untuk apa mengikuti tasawuf, siapa pun gurunya, atau siapa pun imamnya. Tugas kita adalah menjalankan Al-Quran dan sunnah. Titik. Tidak perlu nama-nama itu,” argumen kawan saya yang lain.

Betul, kata tasawuf tidak terdapat dalam Al-Quran dan sunnah secara spesifik, sebagaimana juga kata ilmu fikih, ilmu tafsir, filsafat, tauhid, rkun iman, atau rukun Islam. Apakah karena tidak ada kata tauhid dalam Al-Quran dan sunnah, akidah kita tidak perlu ditegakkan di atas dasar tauhid? Apakah karena tidak ada kata fikih dalam Al-Quran dan sunnah, kita tidak perlu memelajarinya? Anda lupa bahwa ilmu tasawuf, seperti juga fikih, tafsir, dan tauhid muncul dan berkembang dari upaya umat Islam untuk menjalankan Al-Quran dan sunnah?

Kita akan mengakhiri tulisan ini dengan mempersilahkan pemuka tasawuf, Al-Suhrawardi, berkata, “Ketahuilah bahwa semua keadaan mulia yang dinisbatkan kepada sufi dalam buku ini adalah keadan orang yang berusaha mendekatkan diri kepada Allah Swt. sufi adalah nama muqarrab. Di dalam Al-Quran tidak ada kata sufi. Nama sufi dikenakan kepada setiap muqarrab seperti yang akan kita jelaskan dalam bab tentang itu. Tidak dikenal istilah sufi untuk orang yang mendekatkan diri kepada Allah di berbagai negeri Islam, baik di Timur maupun di Barat. Betapa banyaknya kaum muqarrabin di Maghribi, Turkistan, atau di negeri seberang sungai. Mereka tidak disebut sufi karena tidak memakai pakaian sufi… semua guru sufi yang nama-namanya disebut dalam kitab-kitab tasawuf adalah orang yang sedang menempuh jalan kaum muqarrabin dan ilmu mereka berkenaan dengan keadaan (ahwal) muqarrabin.”

Sumber: Ahmadsamantho Institute

 


[*] Ketua Dewan Syura Ikatan Jamaah Ahlul Bait Indonesia