Keberimanan Tanpa Kata



Oleh: Rasul Ja’fary

Pada tingkat manusiawi, keberimanan masih berupa proses dan bertujuan untuk mencecap, merefleksikan, dan menyingkap Realitas lewat jejak-jejak rasio, kualitas etika, dan praktik pemujaan. Sementara pada tingkat yang Ilahi, keberimanan sudah mencapai titik puncak kesempurnaannya sehingga memungkinkan individu untuk menjamah, bercengkrama, melebur, dan mengalami-Nya langsung (fana) secara personal tanpa mediasi apapun.

--------------------------------------------------------------

“I have therefore found it necessary to deny knowledge

in order to make room for faith.”

(Akhirnya saya memahami pentingnya menyangkal pengetahuan

demi menciptakan ruang bagi keimanan )

—Immanuel Kant—

HUBUNGAN agama dan iman dalam ranah kenyataan kolektif dan pemahaman individu ternyata sangat rawan persoalan. Dengan dukungan penuh pembenaran doktrinal dan klaim teologis, matriks hubungan ini tak jarang merajut jaring pemaknaan yang kerdil dan superfisial. Karena itu wajar bila dalam lingkup kehidupan sosial, implikasi yang ditimbulkannya seringkali mengerikan, kolosal, dan berdarah-darah.

Dulu, pertikaian antar-agama dalam skala lokal hingga global, merupakan akibat lazim dari kekeliruan atau kedangkalan memahami hubungan tersebut. Di masa kontemporer, saat ketegangan dan konflik antar-agama mulai mereda atau setidaknya menjadi laten, kesalahpahaman itu menjadi pihak yang paling bertanggung jawab atas berkembang biaknya ‘terorisme’ dan kebiadaban politik ‘menghalalkan segala cara’ yang bersembunyi di balik jubah agama.

Karenanya, pertama kali mesti ditekankan bahwa agama, baik secara moral, normatif, maupun intelektual hanyalah sebuah sarana atau jalan membentang, bukan tujuan. Pengandaian ini bertolak belakang dengan anggapan ‘fundamentalisme’ (sebuah istilah yang akhirnya berkonotasi miring setelah dilekatkan pada sekelompok kecil ‘Muslim’ yang cenderung menyempal, keras kepala yang selalu diliputi amarah, memiliki sikap mental dan pikiran terbelakang, berorientasi ke masa lalu, dan masih mempraktikkan tindakan-tindakan tidak beradab); bahwa agama (bukan Tuhan, karena barangkali agama sendiri sudah dipertuhankan) adalah tujuan dan sudah tuntas pada dirinya. Sehingga, dalam pengertian ini, sadar atau tidak, Tuhan hanya diposisikan sebagai salah satu komponen dalam bangunan agama, sekadar berperan sebagai ‘tukang stempel’, terasing, dan bukan segala-galanya.

Bertolak dari asumsi di atas, konsep keberimanan kiranya dapat dipahami lebih jernih dan menyeluruh. Keberimanan, sebagaimana disepakati, mentransendensi atau meng-atas-i agama-agama dalam kesatuan wawasan spiritual (the unity of spiritual horizon). Karenanya, beriman dalam artian konsepsi ini merupakan penghayatan mendalam masing-masing individu terhadap eksistensi dirinya yang memuncak pada Realitas Ultim. Sehingga, beriman tak harus (dan memang tidak) dibatasi hal-hal duniawi, fenomen-fenomen, atau simbol-simbol dan kapling-kapling keagamaan yang nyata-nyata bersifat profan, historis, dan majemuk.

Menjadikan agama sebagai tujuan, sebagaimana dikabarkan sejarah, akan memerangkap keberimanan dalam sudut yang suram, dangkal, sempit, untuk kemudian membusuk dan hanya tinggal kulit luarnya saja. Setidaknya, ia akan terjerat dalam—sesuai kritik pionir eksistensialisme, S?ren Kierkegaard—fenomena ritualisasi dan formalisasi iman. Agama yang tampil sebagai penakluk iman semacam ini hanya dipahami dan dimaknai sebagai objective religion yang memberlakukan secara rinci dan kaku prosedur-prosedur ritual yang disangga prinsip-prinsip dogmatis. Sementara keberimanan hakiki yang begitu lentur, lincah, hangat, dan semestinya menjadi poros penggerak dinamika keberagamaan, justru dibungkam, diamputasi potens Ilahinya, dan bahkan dicurigai sebagai unsur-unsur primitif (hermeticism) dan bidah yang bersumber dari sikap syirk, tahayul, magisme, dan klenik.

Dalam situasi pascamodern dewasa ini, kondisi tersebut diratapi makin meradikal. Konsekuensi logis dari anggapan bahwa agama adalah tujuan, dengan iman (yang telah mengalami formalisasi dan ritualisasi) sebagai sabuk pengamannya, ternyata bukan hanya mengakibatkan kemandekan dan kejumudan intelektual umat dalam skala luas. Di luar dugaan, dalam ruang nyata, semua itu mengakselerasi munculnya berbagai tindakan reaksioner dan bahkan tragedi atas nama agama. Para pendukung pola pemahaman tentang agama dan iman (berikut hubungan keduanya) seperti ini, umumnya sangat agresif secara politik dan memiliki kebiasaan menebar maut dan kepanikan di tengah umat manusia, hanya karena emosi agamanya sedikit tersinggung atau demi meraih tujuan yang seringkali kabur, sepele, atau tidak masuk akal.

Melancarkan teror umumnya menjadi metode yang diyakini kalangan ini sebagai satu-satunya cara paling handal untuk mengancam dan melawan ‘musuh politik’nya—yang sebenarnya mereka ciptakan sendiri. Sejarah kontemporer agama-agama memberi bukti nyata tentangnya; di antaranya, kasus Wahabisme dalam sejarah Muslim, Zionisme dalam sejarah Yahudi, atau Evangelisme dalam sejarah Kristen. Tak ada kemurnian dan kemutlakan iman yang intrinsik dalam spesies keberagamaan ini. Kecuali sekadar citra atau imaji semu tentang keimanan (pseudo-belief), yang pada gilirannya menjelma ke dalam institusi resmi, fanatisme kelompok, dogma-dogma irasional atau mitos-mitos provokatif, dan serangkaian ritus yang begitu gersang dan mekanis—yang tak jarang bercorak politis. Keberagamaan ini menjadi sebatas business as usual dalam kehidupan komunal sehari-hari dengan dibumbui jargon-jargon kering dan klise keagamaan—sehingga kondusif bagi terbangunnya rezim budaya dan politik berstempel agama.

Tentu saja akan berbeda hasilnya bila agama dimaknai sebagai anak tangga historis yang menembus kedalaman lubuk iman yang otentik, melampaui sejarah, dan transenden. Agama dalam konteks ini boleh diistilahkan sebagai subjective religion (dengan catatan, maknanya jauh lebih luas dari sekadar yang dimengerti secara fideistik oleh pencetus istilahnya, Kierkegaard). Fungsi agama ini tak ubahnya jenjang atau fase untuk melakukan lompatan eksistensial (existential leap); dari kondisi etis dan estetis menuju kondisi religius (imani) di dalam dan bukan hanya di orbit realitas Ultim.

IMAN YANG ILAHI, IMAN TANPA KATA

Relasi metafisik yang bersifat timbal balik antara agama dan iman, pada gilirannya melahirkan dua jenis keberimanan. Pertama, keberimanan manusiawi yang bertolak dari rasio, bahasa, dan kecenderungan psikis di tengah kehidupan simbolik maupun empirik (sosial). Agama-agama dunia tentu memiliki modus argumentasi dan norma teologis (sehingga bahasa mutlak diperlukan) untuk menjustifikasi totalitas sistem maknanya yang berlaku bagi seluruh kehidupan manusia, dalam skala privat maupun publik.

Sekaitan dengannya, agama bukan semata-mata berfungsi regulatif; suatu fungsi yang memaparkan dan dapat memaksakan (selaras dengan rumus punish and reward) aturan teknis prosedural (syariat) dan acuan moral. Fungsi ini menjadikan agama sebagai ajang melatih kepribadian ulung (moralitas) serta kedisplinan dan kepatuhan tinggi (syariat) di hadapan Sang Ultim. Namun, lebih penting dari itu, ia juga berfungsi diskursif dengan menjadi kerangka gagasan kultural yang menyeluruh dan utuh (agama sebagai ad-dien), yang dilandasi semangat pencarian kebenaran, keterbukaan, dan kebebasan berpikir.

Agama dalam konteks ini menjadi semacam cara pandang dan pola pemahaman rasional yang khas, common sense, dan komprehensif mengenai diri dan universum kehidupan, baik yang berhubungan dengan kenyataan sehari-hari maupun yang melampauinya.

Dalam pada itu, keberimanan yang manusiawi secara niscaya membutuhkan agama sebagai bagan penjelas sekaligus sarana pencerahan intelektual, upaya mengasah kepekaan primordial, dan pemantapan self-dicipline. Tanpa berpijak pada agama dalam pengertian ini, keberimanan manusiawi akan terlepas dari konteks metafisika rasional dan kerangka konstitutifnya. Selain juga hanya berwatak human (bukan divine), cenderung absurd, mendorong tumbuhnya sikap alergi terhadap hukum-hukum positif, serta melulu berorientasi asketis yang sepenuhnya berkarakter anti-nalar.

Kedua, keberimanan yang merupakan representasi intuitif (dzauqi). Jenis keberimanan ini adalah keberimanan yang Ilahi; sebuah keberimanan yang melampaui agama (post-religion belief), atau sebagaimana diistilahkan Robert N. Bellah sebagai beyond belief (beriman… melampaui iman). Tentu saja dengan istilah ‘melampaui’ bukan berarti peran, status, dan fungsi keberimanan yang manusiawi dan agama itu sendiri (yang telah dibangun lewat penghampiran diskursif rasional) harus ditinggalkan atau direduksi sedemikian rupa.

Justru sikap terlalu pragmatis ini akan meruntuhkan legitimasi sekaligus mencerabutnya dari konteks kemanusiaan dan keagamaannya (yang rasional)—sehingga demikian, keberimanan akan mengalami disorientasi, juga secara total dan mutlak bersifat spekulatif. Karenanya, dalam konteks keberimanan yang Ilahi, pola keberimanan yang manusiawi dan muatan agama (religion content), baik yang bersifat teoritis, esoteris, maupun praktis, tetap dibutuhkan sebagaimana adanya; hanya saja menjadi kian samar dan lebih dekoratif sifatnya karena telah mengalami transformasi diri lalu mengendap di balik kesadaran individu sebagai ‘stimmung’ (suasana hati yang menggejala).

Sebagaimana telah dikemukakan, keberimanan yang manusiawi masih mengandalkan argumentasi serta dipengaruhi kecenderungan psiko-religius; jadi masih bersifat rasional, normatif, dan emosional dalam cungkup religi. Dalam Islam, keberimanan ini memang harus diikhtiarkan dan direngkuh secara luas dan mendalam. Tak cukup meyakini bahwa Tuhan itu eksis, tapi juga bagaimana Tuhan itu Esa, Mahakuasa, dan sebagainya. Juga bagaimana pola dan mekanisme interaksi manusia dengan-Nya dalam tingkat praxis (orthopraxis) dan seterusnya.

Namun, demi menggapai keberimanan yang lebih otentik dan sublim (divine belief), simbol-simbol diskursif-linguistik (yang menjelma dalam kata, kalimat, konsep, dan seterusnya), serta kecenderungan emosional harus dicairkan dan divakumkan untuk kemudian tenggelam dalam—istilah Kierkegaard—samudra penghayatan iman (oceanic feeling). Samudra itu begitu sunyi mencekam dan sangat personal. Tapal batasnya adalah ketika manusia mampu mengoyak—meminjam istilah Max Weber—jejaring makna yang dia pintal sendiri.

Ini disebabkan Realitas Ultim tak dapat dipagari dalam definisi yang karenanya menerobos batas-batas nalar (yang mutlak membutuhkan bahasa dan makna). “Throw away reason… Be always with Reality. For the eye of the bat has no power to gaze at the sun (buanglah jauh-jauh nalar… Selalulah bersama Realitas. Sebab, mata kelelawar tak kuasa sekejap pun menatap mentari),” demikian metafor yang diungkapkan sosok ‘ârif termasyhur asal Persia, Mahmud Shabastari dalam karyanya, Gulshan-e Râz. Senada dengannya, filsuf Perancis, Voltaire, mengungkapkan secara jujur, “Faith consists in believing when it is beyond the power of reason to believe. It is not enough that a thing be possible for it to be believed (keimanan tergolong meyakinkan bilamana ia melampaui kekuatan nalar untuk mempercayai. Tidaklah cukup bahwa sesuatu itu mungkin—menurut hukum penalaran—untuk dipercaya).”

Keberimanan yang Ilahi adalah keberimanan tanpa kata-kata; keberimanan yang berdinamika dan bergerak leluasa dalam ‘ruang’ di mana diskursus dan kata-kata verbal telah terurai menjadi dekorasi yang menyelimuti seluruh wilayah kesadaran individu. Maksudnya, simbol-simbol bahasa diskursif atau linguistik yang sangat diperlukan di tingkat keberimanan manusiawi relatif menjadi tidak artikulatif, atau, setidaknya, telah mencair dan menggenang di balik kesadaran (karena, sekali lagi, telah menjadi stimmung).

Sekaitan dengannya, menantu sekaligus sepupu Nabi Islam, Sayyidina Ali bin Abi Thalib, memliki ungkapan yang sangat cemerlang, “Awalnya agama adalah ma’rifatullâh (memantapkan pengenalan tentang eksistensi, kemutlakan, dan atribut ketuhanan Allah lewat argumentasi diskursif)… dan ujungnya adalah penafian terhadap segala sifat-sifat-Nya (menolak pem-bahasa-an Tuhan).”

Alhasil, pertama-tama, manusia memang mesti merumuskan semacam religious language (bahasa akustik dan diskursus agama) untuk mengapresiasi dan mengekspresikan keberimanannya secara sadar dan otentik dalam pola-pola yang rasional dan empirik, sekaligus sakral dan mistis. Tanpa rumusan bahasa nalar-agama ini, keberimanan sebagai sebuah proses teologis akan dijamin gagal dan karam; kalau bukan malah cenderung mengalami distorsi sehingga mengental dalam sikap fanatik, absurd, nihil-makna, berorientasi ke ruang fantasi, serta irasional. Semua itu pada gilirannya akan membuahkan sentimen komunal yang sangat picik dan mengawang berbenderakan kemanusiaan bahkan ketuhanan. Setidaknya pada level filosofis, akan berujung pada fideisme moderat ala Wittgenstein maupun yang radikal ala Kierkegaard; menganggap iman hanya urusan hati dan bebas dari campur tangan nalar.

Namun, merasa puas diri dengan rumusan intelektual seputar keberimanan juga hanya menjerumuskan kita pada fenomena religion intellectualism, yang biasanya menciptakan jarak antara individu dengan agama dan keimanannya. Bahkan, pada titik ekstrim, gejala ini menciptakan keterasingan (alienasi) satu sama lain. Intelektualisme religius adalah kecenderungan untuk—paling tidak ujung-ujungnya—meletakkan agama dan iman di atas meja kerja analisis, tanpa hasrat untuk terlibat apalagi tenggelam dan melebur di dalamnya. Kebenaran dan pengalaman yang terungkap lewat bahasa dan analisis terhadapnya, adalah kebenaran dan pengalaman ‘past-tense dan post-factum’, bukan ‘sedang terjadi dan di sini’.

Dengan demikian, semua itu harus segera ‘dilampaui’ (istilah ini bukan bermakna ‘meninggalkan begitu saja’, melainkan secara konsisten, ‘masih menyertakan unsur-unsur yang ada pada tahap sebelumnya namun telah mengalami transformasi diri’). Hakikat beriman dan tidak beriman (kecuali pada tahap keberimanan manusiawi) bukan lagi diukur berdasarkan simbol yang diusung, gerbong sejarah yang ditarik, ritus formal yang dipraktikkan, atau bendera keagamaan yang dikerek. Atau memformulasikan konsep tercanggih tentang Sang Ultim. “Secanggih-canggihnya sebuah konsep [keagamaan],” ungkap Komaruddiun Hidayat, “pasti tak mungkin mampu menyentuh dan mengangkat kompleksitas pengalaman keagamaan karena puncak pengalaman ini berada di luar jangkauan rasionalitas dan bahasa akustik.” Melainkan justru bagaimana mencairkan dan mengurai segala bentuk endapan-endapan verbalisme, simbolisme, dan bahkan rasionalisme untuk kemudian terbang sebebas-bebasnya menuju atmosfir kefanaan (nothingness).

Pada tingkat manusiawi, keberimanan masih berupa proses dan bertujuan untuk mencecap, merefleksikan, dan menyingkap Realitas lewat jejak-jejak rasio, kualitas etika, dan praktik pemujaan. Sementara pada tingkat yang Ilahi, keberimanan sudah mencapai titik puncak kesempurnaannya sehingga memungkinkan individu untuk menjamah, bercengkrama, melebur, dan mengalami-Nya langsung (fana) secara personal tanpa mediasi apapun.

Sebab, justru di tingkat ini, pemahaman diskursif yang terbangun dari tatabahasa akustik cenderung kontraproduktif, dan hanya menjadi semacam selubung (hijab) cahaya yang menyekat dan menciptakan jarak antara sang beriman dengan Yang Diimani; sebagaimana sebelumnya ketika selubung kebodohan yang absurd dan gelap menjadi dinding pemisah antara individu dengan diskursus keimanan (yang berfungsi sebagai sarana pencerahan religius).[Islat]

Wallahu a’lam bi ash-shawab

Penulis: Pemerhati Ilmu ilmu Teologi dan Filsafat.