Hidup yang Tidak Dikaji, Bukanlah Hidup



Oleh: Akmal Kamil

Barangkali Anda sangat familiar dengan aporisme di atas. Tentu bagi mereka yang memiliki kuriositas tentang kehidupan sudah barang tentu sering mengulang-ngulang aporisme ini. Sebuah aporisme yang menantang manusia untuk membuat hidup lebih berarti dan bermakna. Lebih dinamis dan progresif. Socrates demikian juga Plato muridnya dalam menemani manusia mencari makna hidup bertutur bijak: “Hidup yang tidak dikaji bukanlah hidup.” Iya, hidup yang tidak dihayati, diinternalisasi dan dikaji tidaklah pantas disebut sebagai hidup. Manusia yang menjalani hidup sedemikian tidak lain kecuali seonggok jasad yang mengikuti pergiliran siang dan malam, reproduksi generasi, menyitir Iqbal, hanyalah seorang pengembara berkenala mengikuti pundak usianya, ia lalui siang dan malam, semakin jauh dari kehidupan, semakin dekat kepada kematian.

Bertitik-tolak dari aporisme inilah manusia dengan berbagai jalan dan upaya berusaha mengkaji hidup ini. Aporisme ini boleh jadi memiliki arti bagi mereka yang masih mencari makna hidup dan akan semakin berarti bagi mereka yang ingin menambah luas cakrawalanya tentang hidup. 

What is a life? Why are we created? What is our’s goal life? Demikian pertanyaan yang barangkali segera muncul dalam benak kita setelah beraporisme. Ketiga pertanyaan fundamental, eksistensial sekaligus enigmatis ini acapkali menjambangi pikiran manusia. Pertanyaan ihwal arti dan tujuan hidup ini. Apa arti hidup? Mengapa manusia harus dicipta dan mencicipi kehidupan? Dan apa tujuan hidup itu?  

Rentetan pertanyaan ini tidak pernah sepi dan hening dari kehidupan manusia. Fitrah yang bersemayam dalam lubuk hati manusia senantiasa terketuk dan berdenyut untuk membahas dan membincangkan pertanyaan hayati ini. Pemikiran-pemikiran beradu dan berpadu. Para filosof, bijak-bestari, kaum cendekia, orang-orang awam silih berganti muncul untuk menjawab pertanyaan ini. Semua itu melukiskan kembara tiada ujung ide manusia ihwal kehidupan dan penciptaan ini.

Pertanyaan eksistensial seperti untuk apa ia hidup, mengapa ia harus hidup, kemana ia harus ayunkan langkah kaki hidupnya, merupakan rangkaian pertanyaan yang penuh teka-teki bagi manusia.

Mengapa engimatis lantaran dalam menjawab pertanyaan ini banyak cara yang dilakukan oleh manusia sedemikian sehingga sebagian orang tergiring untuk berpandangan nihilistik, hedonistik dan humanistik dalam menyikapi hidup ini.

Nihilisme, Hedonisme dan Humanisme

Nihilisme yang merupakan sebuah school of thougth dan berpijak di atas ajaran Materialisme meyakini bahwa tiada tujuan tertentu di balik penciptaan manusia. Manusia bebas melakukan apa saja,  dan jalan apa saja yang ia pilih. Sebuah pandangan yang memandang segala sesuatunya sebagai nothing (tidak ada). Nihilism (dari latin, nihil, “nothing”), adalah maktab filsafat yang menolak segala nilai-nilai positif dan menolak meyakini sesuatu. Filsafat Nihilisme ini dapat dilacak hingga masa Yunani, dimana Gorgias (380 SM) dapat kita  kategorikan sebagai filosof Nihilisme. Gorgias mengekspresikan filsafatnya dalam tiga proposisi: “Tiada yang wujud, Jika ada yang wujud, ia tidak dapat dikenal;  Jika ada yang wujud dan dapat dikenal, ia tidak dapat dikomunikasikan.” Di abad modern salah satu pentolan Nihilisme adalah Albert Camus (1960) yang memproklamasikan, “I proclaim that I believe in nothing and that everything is absurd.” Sebuah proklamasi yang menegaskan tidak adanya keyakinan pada segala sesuatu karena segalanya adalah absurd, konyol dan nihil.

Jalan lain yang ditempuh oleh sebagian manusia adalah jalan hedonisme. Hedonisme merupakan maktab resmi yang berpandangan bahwa kita hidup di dunia ini adalah untuk bersenang-senang. Dan bahwa bersenang-senang ini merupakan satu-satunya dan sebaik-baiknya kebaikan dalam hidup ini. Berusaha bertungkus-lumus untuk mencapai kesenangan dan kepuasan duniawi merupakan tujuan ideal dari hidup ini.

Humanisme, adalah sebuah ajaran yang mendudukkan manusia di tempat Tuhan dan manusia dijadikan sebagai sentral dalam kehidupan ini. Menukil August Comte (1857), penyembahan kepada manusia merupakan sebuah pekerjaan yang paling mulia dan dianggap sebagai tugas yang harus dijalankan oleh setiap manusia, dan tidak ada kesempurnaan yang lebih baik selain berbuat baik kepada manusia.

Aliran ini tidak mengakui –atau minimal tidak menaruh perhatian sedikit pun terhadap- adanya kehidupan akhir dan final manusia dan hubungannya dengan Tuhan, Sang Maha Pencipta. Erich Fromm (1980) memandang bahwa cinta kepada kemanusiaan dan keadilan merupakan ganti Tuhan dan firman Tuhan harus dicampakkan.

Nilai kebaikan hakiki manusia tidak diukur dari sisi ketuhanannya, keruhaniannya, dan malakutinya. Namun berdasarkan otak buminya dan cara pandangnya sebagai ia manusia dalam kehidupan ini.  Bukan tempatnya di sini untuk membahas secara jeluk ketiga schools of thougt ini apatah lagi meninjaunya secara kritis. Hal itu memerlukan ruang dan waktu lain.  

Pandangan Alternatif

Tentu Socrates dan Plato dengan ajakannya beraporisme di atas tidak sejalan dengan pandangan Nihilisme di atas. Kedua filosof besar Yunani ini bahkan berdiri berhadap-hadapan dengan pembesar maktab Nihilisme, Gorgias. Secara sepintas, ajakan beraporisme ini merupakan alamat penentangan mereka dengan proposisi Gorgias. Karena mengkaji hidup adalah usaha untuk memaknai hidup. Sementara puak nihilisme memandang bahwa hidup ini sebagai “nothing” apatah lagi untuk memaknainya. Artinya ketika hidup ini dipandang sebagai nihil, maka giliran untuk memaknainya tidak akan kesampaian.

Lalu bagaimana Islam menjawab pertanyaan di atas? Pertanyaan kesekian yang boleh jadi mengemuka dalam pikiran Anda. Apakah Islam mengamini sikap nihilistik, hedonistik dan humanistik di atas? Sebelum menjawab pertanyaan ini, saya akan mengajak Anda bersama Rumi untuk bersenandung syair penciptaan di bawah ini:

Ruzehâ-ye Fikr-e Man inast wa be Syabhâ Sukhanam

Ke Cerâ Ghafil az ahwâl-e Khisytanam

    Mondeam Sakht Ajab Ke Che Sabab Sâkhte Marâ

    Ya Che Bude ast Murâd-e Wei az In Sâkhtanam

Az Kujâ Âmadeam, Âmadanam Bahre Che Buwad

Be Kujâ Mirawam Âkhir Nanimâi Watanam

Pagi dan petang kumerenung dan berbisik lirih pada diriku

Mengapa kulalai dari ihwal kedirianku

    Kutakjub bertanya sebab apa Dia merekaku

    Atau gerangan apa maksud Dia menciptaku

Kudatang darimana, untuk tujuan apa kedatanganku

Dimana akhirnya titik persinggahanku. (Rumi)

Rumi dengan bahasa puitisnya, sebagaimana Socrates dan Plato meski dengan gaya yang berbeda, mengajak kita untuk merenung dan berpikir untuk apa kita datang ke dunia ini? Mengapa Tuhan menciptakan kita? Mengapa ia harus ada dan untuk apa ia harus hidup? Gubahan syair Rumi di atas merupakan terjemahan bebas dari sabda Imam ‘Ali As; “Semoga Allah merahmati orang yang mempersiapkan dirinya dan menyiapkan dirinya untuk alam kubur? Orang yang mengetahui dari mana? Di mana? Dan kemana ia akan menuju?”

Alangkah indahnya Rumi menggubah hadis ini menjadi sebuah syair yang menawan; “Kudatang dari mana, untuk tujuan apa kedatanganku? Dimana titik akhir persinggahanku?

Menyitir John Poweristi (ilmuan Jerman): Semakin maju manusia makan pertanyaan ini akan semakin menganga bahwa mengapa manusia harus mati dan apa tujuan dari kedatangan dan kepergian ini?

Sebelum menjawab pertanyaan tujuan penciptaan manusia dari sudut pandang Islam yang menitikberatkan pada pendekatan filosofis dan gnostis dengan menggunakan ayat dan riwayat, kami mengajak Anda untuk memperhatikan beberapa poin berikut ini:

Apa tujuan (goal, hadaf) itu? Tujuan bermakna poin dan tanda yang disasar oleh pemanah ketika ingin melontarkan panah. Tujuan dalam bahasa keseharian kita, adalah hasil dari sebuah pekerjaan yang bebas dan penuh ikhtiar. Dimana seorang yang berakal dan bebas memikirkannya semenjak awal bahwa untuk sampai ke poin tersebut ia harus melakukan beberapa persiapan dan pendahuluan. Tentu saja kalaulah ia tidak bermaksud untuk meniti jalan kepada tujuan, pikiran ini tidak akan terlintas dalam benaknya. Pikiran untuk sampai tujuan ini disebut sebagai ghayat karena yang disasar adalah akhir dari perjalanan. Poin dan tanda yang menjadi maksud pelaku semenjak awal ini disebut sebagai hadaf dan gharadh. Dan dari sisi idealnya tujuan yang mengikat kehendak pelaku untuk mengerjakan perbuatan tersebut disebut sebagai “illat ghâyai”. (Muhammad Taqi Misbah Yazdi: 1999)

Dalam meniti jalan menuju tujuan ada lonceng peringatan yang berdentang ritmis; Pada langkah perdana pencarian, dalam menemukan tujuan dan jalan untuk sampai padanya, langkah kaki kita diiringi dengan lonceng peringatan yang meski mengguncang namun untuk ketelitian dan kesadaran fungsinya sangat bermanfaat. Lonceng peringatan itu berkata kepada kita: “Kehidupan ini hanya sekali dan tiket yang tersedia hanya untuk sekali perjalanan.” Peringatan ini mendorong kita untuk berpikir lagi dan memantapkan tekad untuk berusaha bertungkus lumus sampai pada tujuan yang dicanangkan sejak awal.

Pandangan Irfan dan Filsafat

Dua pandangan ini masing-masing berjajar secara vertikal dan dapat dibedakan antara satu dengan yang lain. Tuhan dalam pandangan Irfan adalah Wujud nir-batas dan absolut yang memiliki instanta luaran. Dan tiada wujud lain yang dapat dijumpai secara horizontal dan vertikal di bawahnya yang sama atau berbeda dengan wujud-Nya. Namun dalam sudut pandang Filsafat, Wujud Tuhan berada secara horizontal dan vertikal dan terdapat wujud-wujud yang lain di bawah-Nya, dan menjadi sebab untuk seluruh kesempurnaan hakiki dan faktual seluruh wujud tersebut. Dzat Wajib berada dalam hierarki wujud, dan tidak memiliki kait-kait partikular dan imkan-imkan yang lain.   Namun harus diperhatikan bahwa para filosof setelah melesak melintasi tangga-tangga kausalitas, memahami bahwa Dzat Pencipta tidak memiliki kait-kait dan bersifat absolut. Dan pada puncak perjalanan seorang filosof, ia hinggap pada pengakuan terhadap kesatuan wujud.

Jawaban Filsafat dan Irfan

Filsafat dan Irfan dalam menjawab pertanyaan apa hidup itu? mengapa kita dicipta? Dan untuk tujuan apa? mengajak Anda untuk mencermati poin-poin berikut ini.

1.     Hubb Dzat; Keindahan-Nya nyata-benderang tak-tersembunyikan. Tujuan penciptaan adalah Dzat Tuhan itu sendiri. Lantaran Dia mencintai diri dan karya-Nya yang menyebabkan Dia mencipta sehingga dengan cinta-diri ini sifat-sifat-Nya bertajalli. Dialah yang menciptakan manusia dari ketiadaan (’adam) kepada keberadaan (wujud).  Sebelum manusia mendapatkan anugerah kehidupan, terlebih dahulu ia mendapatkan nikmat keberadaan. Kehidupan merupakan anugerah Ilahi kepada manusia. Tuhan Wujud dan Mewujudkan bahkan Swa-Eksisten. Tuhan Hidup dan Menghidupkan, Sumber kehidupan bahkan Swa-Hidup dan Ever-Living. Hidup yang didapatkan oleh manusia adalah bersumber darinya. Boleh jadi Tuhan mewujudkan sesuatu dimana dalam hal ini manusia namun tidak memberikan kehidupan kepadanya. Manusia setelah dicipta (diwujudkan) lalu ditiupkan nafas kehidupan pada dirinya. 

Dar Azal Partu husnat ze Tajali Dam Zad

Isyq paida Syud wa Atasy bar hame ‘Alam Zad

Pada azal pancaran keindahan-Mu menjelma

Terajut cinta dan api membakar seluruh semesta (Hafiz)

Maksudnya bahwa tatkala Tuhan menghendaki dzat-Nya bertajalli muncullah cinta dan cinta itu membakar seluruh semesta dan manusia. Semesta dan manusia yang terbakar cinta bergerak berlari ke arah-Nya. “Ingatlah, bahwa kepada Allah-lah kembali semua urusan.” (Qs. Syura [42]:53) Dalam ayat ini verba yang digunakan adalah verba present contionuos tense (mudhâre’) yang menunjukkan kedawaman dan kesenantiasaan. Artinya bahwa seluruh urusan seluruhnya senantiasa dan secara dawam kembali kepada Allah Swt. (Al-Mizan, Muh. Husain Thaba-thabai)

Hubb-Dzat ini dapat kita jumpai dalam sebuah hadis qudsi yang terkenal sebagai hadis kanz, “Aku adalah Khazanah tersembunyi, Aku cinta untuk dikenal, maka Kumencipta supaya dikenal.”

Dengan demikian seluruh jagad raya ini bergerak berputar menyasar tujuan ini. Dan manusia, mau-tak-mau, tahu-tidak-tahu, bergerak menuju pada tujuan tersebut. “Dan hanya kepunyaan Allah-lah timur dan barat. Maka ke arah mana pun kamu menghadap, di situlah terdapat “wajah” Allah. Sesungguhnya Allah Maha Luas lagi Maha Mengetahui.” (Qs. Baqarah [2]:115)

Dimanapun engkau palingkan wajahmu engkau jumpai Tuhan Mahatahu dan Mahaluas

Jiwa merupakan tirai kecintaan-Nya

Melihat cermin pancaran diri-Nya

Setiap bunga yang bersemi adalah karya, corak dan semerbak firman-Nya (Hafiz)

2.  Istijla’: Jala bermakna melihat diri sendiri. Misalnya melihat diri di hadapan cermin. Istijla’ artinya Allah Swt menampilkan diri-Nya di luar sehingga Dia menyaksikkan diri-Nya. Kesempurnaan istijla ini hanya dapat disaksikan pada sosok manusia sempurna (insan kamil); satu-satunya manusia yang menjadi jelmaan sempurna Haq Swt. Pada diri insan kamil Allah Swt menyaksikan jelmaan diri-Nya dan dialah yang mengemban amanat berat Ilahi di pundaknya.(Yadullah Yazdan Panah:2001)

“Sesungguhnya Kami telah menawarkan amanat kepada langit, bumi, dan gunung-gunung, lalu semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan khawatir akan mengkhianatinya. Tetapi manusia (berani) memikul amanat itu. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh (lantaran ia tidak mengenal amanat itu dan menzalimi dirinya sendiri).“ (Qs. Al-Ahzab [33] :72)

3.  Mengenal Tuhan dan Semesta; Tujuan penciptaan manusia adalah manusia melihat dan mengenal semesta dengan pandangan Ilahiah; “Allah-lah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi. Perintah Allah senantiasa turun di antara keduanya, agar kamu mengetahui bahwasanya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan sesungguhnya ilmu Allah benar-benar meliputi segala sesuatu.” (Qs. Thalaq [65]:12) Beriman kepada Allah yang kekuasaan dan ilmu-Nya tiada terbatas sangat konstruktif bagi manusia. Dengan anggapan bahwa Dia mengetahui segala sesuatu, oleh karena itu kita harus berhati-hati untuk tidak terkontaminasi. Karena Dia berkuasa atas segala sesuatu, oleh karena itu kita harus berhati-hati untuk senantiasa menempatkan Dia dalam setiap urusan dan hanya pada-Nya meminta pertolongan. (Abdullah Jawadi Amuli:2000)

4.  Penghambaan kepada Tuhan; Manusia diciptakan untuk beribadah dan menghamba kepada Tuhan dan tiada menyembah selain-Nya: “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.“ (Qs. Al-Dzariyat [51] :56) Lantaran ibadah yang menjadi maksud penciptaan mausia. Namun apa yang dimaksud dengan ibadah itu hanya terfokus pada shalat, zakat, puasa, haji dan semacamnya? Tentu saja tidak. Hakikat penghambaan adalah manusia hanya menyembah kepada Tuhan dan dalam kehidupannya tiada tempat yang ia jadikan sandaran selain Tuhan. Dialah sebagai satu-satunya tumpuan asa dan harapan. (Mizan, Allamah Thaba-thabai). Dengan kata lain, setiap gerakan dan perbuatan baik yang dilakukan manusia takala ia maksudkan untuk Tuhan dan berwarna Ilahiah maka gerakan dan perbuatan tersebut tergolong sebagai ibadah. Dalam keadaan sedemikian makan, tidur, belajar, pekerjaan seluruhnya dalam pancaran satu cahaya. Shalat dan pujian yang seragam berseru “Katakanlah Dia Allah.” Dalam kaitan ini, Baba Thahir bersenandung:

Khusya Anan ke Allah Yarasyan bi

Ke Hamdu Qul HuwaLlah Karaysan bi

Khusya Anan ke Daim dar Namazand

Behesyt Jâwidan Ma’wasyan bi

Alangkah bahagianya mereka Tuhan menjadi penolongnya

Hamd (memuji) dan QulHuwallah (berkata Allah) perbuatannya

Alangkah bahagianya mereka yang senantiasa dalam kondisi shalat

Jannatul Ma’wa tempat kembalinya (Baba Thahir)

Ayat di atas menunjukkan dan menegaskan bahwa “makhluk atau ciptaan adalah penyembah Tuhan”, dan bukan bermakna bahwa “Dia adalah yang disembah oleh makhluk”, karena hal ini bisa dilihat dari ayat yang mengatakan “… supaya mereka menyembah-Ku“, bukannya mengatakan “Akulah yang menjadi sembahan mereka”.Pada dasarnya yang ingin disampaikan adalah bahwa manusia itu harus secara sadar, berpengetahuan, dan bebas menjadi hamba Tuhan. Manusia harus yakin bahwa Tuhanlah yang layak untuk disembah dalam segala bentuknya. Tuhan tidak ingin memaksa makhluk dan ciptaannya untuk menyembahnya. Dengan demikian, manusia dan makhluk adalah penyembah Tuhan yaitu bahwa ia senantiasa menyembah-Nya. Jadi titik tekan penyembahan dan ibadah di sini adalah bahwa manusia dan makhluk sebagai subyek yang menyembah, bukan obyek yang disembah (baca: Tuhan).

5.  Pagelaran ujian; Tuhan Yang Mahapengasih dan Mahabijaksana menyediakan lahan dan pelataran semesta sehingga segala potensi menyempurna yang dimiliki manusia teraktualisasi secara menyeluruh. “Yang menciptakan mati dan hidup supaya Dia mengujimu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.“ (Qs. Al-Mulk:2)

Allamah Thaba-thabai Ra dalam menafsirkan ayat ini berkata: “Bahwa adanya penciptaan hidup dan mati adalah untuk diketahui siapa yang lebih baik amalnya. Maksudnya orang-orang yang lebih baik amalnyalah yang sebenarnya menjadi maksud penciptaan. Adapun orang-orang selain mereka diciptakan lantaran keberadaan orang-orang ini.” (Tafsir Al-Mizan) Dengan kata lain, untuk amal shalehlah hidup dan mati diciptakan. Kehidupan dan kematian digelar sebagai arena dan gelanggang bagi manusia untuk beramal shaleh.

6.  Kedekatan (taqarrub) dan meraih rahmat Ilahi; Tujuan penciptaan manusia adalah sampainya manusia ke rahmat dan qurb Ilahi;  “Jika Tuhanmu menghendaki, tentu Dia menjadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat, kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Tuhanmu. Dan untuk (menerima rahmat) itulah Allah menciptakan mereka.“ (Qs. Hud [11]:118-119)

Posisi tertinggi yang bisa diraih oleh manusia adalah maqam kedekatan kepada Tuhan. Yang dimaksud dengan kedekatan kepada Tuhan adalah bahwa manusia sampai pada derajat dimana dia menemukan hubungannya dengan Tuhan.

Sebagaimana Anda ketahui bahwa seluruh eksistensi dan maujud-maujud dalam penciptaan memiliki interaksi dengan-Nya. Seluruh maujud-maujud alam tidaklah bergantung sebagaimana kebergantungan mereka kepada-Nya.

Dalam salah satu ayat-Nya, Allah Swt berfirman, “Hai manusia, kamulah yang memerlukan kepada Allah; dan hanya Allah-lah Yang Maha Kaya lagi Maha Terpuji.” (Qs. Fathir [35]: 15)

Yang dimaksud dengan kesempurnaan akhir adalah bahwa manusia akan sampai pada suatu stasiun (maqam) dimana dia memahami kekurangan dan kebergantungannya kepada Tuhan. Pemahaman ini, bukan merupakan pemahaman yang diperolah secara hushuli (perolehan) karena pemahaman perolehan ini bisa diperoleh dengan bantuan dari argumentasi-argumentasi filosofi, melainkan yang dimaksud pemahaman di sini adalah pemahaman hudhuri dan penyaksian irfani (mukasyafah dan musyahadah).

Artinya bahwa manusia akan menggapai maqam tersebut dimana dia tidak ada sesuatupun yang akan mampu menarik perhatiannya selain Tuhan, wujudnya seakan telah memurni dan tidak ada satu perbuatanpun yang dilakukannya selain untuk mencari keridhaan Ilahi. Manusia yang telah mencapai maqam dan posisi seperti ini sama sekali tidak akan pernah menganggap adanya kemandirian untuk dirinya dan dia mengarungi kehidupannya salam satu interaksi permanen dan penyaksian irfani dengan Tuhan. Pada posisi dan derajat seperti ini, dimana tidak ada lagi bekas dari diri dan kedirian baginya, apapun yang ada adalah dari Tuhan. Imam Ali As berkaitan dengan interaksi pemahaman hudhuri dan penyaksian irfani bersabda, “Aku tidak menyembah Tuhan yang tidak aku lihat.” “Aku tidak melihat sesuatu kecuali aku melihat Tuhan bersamanya.”

Dari keenam tujuan yang disebutkan di atas: Tujuan yang disebutkan pada poin 2 hingga 6 dapat disimpulkan pada satu tujuan dengan penjelasan bahwa Tuhan memberikan kebebasan kepada manusia sehingga dengan pilihannya, ia menapaki jalan makrifat dan ibadah kepada Tuhan.  Dan di atas jalan tersebut ia menggapai rahmat Ilahi dan meraup kebahagiaan. Dan dengan perantara rahmat itu ia mendekatkan diri kepada Tuhan. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa: Tujuan pamungkas dari penciptaan manusia adalah mendekatkan diri kepada Tuhan. Ujian manusia, beribadah kepada Tuhan masing-masing merupakan wasilah untuk sampai kepada tujuan pamungkas ini. Oleh karena itu selain mendekatkan diri dan rahmat Ilahi, terdapat tujuan-tujuan intermedit yang merupakan keniscayaan bagi manusia sampai kepada tujuan akhir ini. (Taqi Misbah Yazdi:1367)

Bagaimana sampai pada Tujuan

Sebagai penutup layak untuk disebutkan di sini bahwa secara selintasan jalan untuk sampai kepada tujuan penciptaan.

Allah Swt memberikan risalah di pundak manusia-manusia terunggul dari kalangan para nabi dan wali. Dan manusia dengan mengikuti jalan para nabi dan wali, mengamalkan petunjuk dan ajarannya maka ia akan sampai kepada tujuan utama penciptaannya; Al-Qur’an dalam hal ini menegaskan: “Maka bertakwalah kepada Allah. hai orang-orang berakal yang beriman. Sesungguhnya Allah telah menurunkan peringatan kepadamu, dan mengutus) seorang rasul yang membacakan kepadamu ayat-ayat Allah yang jelas supaya Dia mengeluarkan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal yang saleh dari kegelapan kepada cahaya.”  (Qs. Thalaq [56]:10-11)

Ayat ini dengan nada khusus menjelaskan realitas ini bahwa para nabi diutus untuk menarik tangan manusia, dan mengeluarkan manusia dari kegelapan lantaran kejatuhannya dari kediaman aslinya, kepada cahaya yang merupakan hakikat manusia dan ruh Tuhan yang terpendam dalam dirinya.

“Hai nabi, sesungguhnya kami mengutusmu sebagai saksi, pembawa kabar gembira, dan pemberi peringatan, dan sebagai penyeru kepada Agama Allah dengan izin-Nya dan untuk menjadi pelita yang menerangi.” (Qs. Al-Ahzab [33]:45-46)

Ayat ini dengan jelas mengisahkan realitas bahwa pengutusan para nabi adalah untuk menyeru dan mengajak manusia kepada Allah Swt dan mereka bak pelita benderang, menerangi jalan manusia untuk mencapai tujuannya.

Dari beberapa poin di atas dapat disimpulkan bahwa manusia dicipta bukan tanpa tujuan. Lantaran Tuhan Sang Pencipta, berdasarkan hikmah dan kebijaksanaan-Nya, tidak berbuat sesuatu tanpa memiliki tujuan. Penciptaan manusia dan semesta bagi Tuhan merupakan hubb-Dzati (kecintaan diri), medan bertajalli (manifestasi), supaya yang dicipta beribadah kepada Sang Pencipta, medan ujian, dan yang paling pamungkas adalah untuk mendekatkan diri kepada Tuhan.

Mengkaji hidup dengan cara sedemikian mengajak manusia untuk hidup yang lebih bernilai, berbobot dan berkualitas. Hidup yang berada di bawah pancaran mentari Ilahi yang memberikannya kehidupan. “Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan rasul apabila rasul menyerumu kepada suatu yang memberi kehidupan kepadamu.” (Qs. Al-Anfal [8]:24)