Meraih Sifat-sifat Kemuliaan (Awshaf al-Ashraf)



Oleh : Khwajah Nasir al Din al Tusi

Risalah ini berasal dari Khwajah Nasir al Din al Tusi (597-672 H / 1201-1273-4 M), seorang filosof yang terkenal, ahli theologi, dan astronom yang hidup selama periode kekacauan yang diakibatkan invasi Hullagu Khan ke Iran dan pada masa kejatuhan kekhalifahan Abbasiah.

Risalah ini ditulis, seperti yang disebutkan dalam pendahuluan yang ditulisnya, bertahun-tahun setelah karyanya yang berjudul Akhlaq-e Nairi, sebuah karya tulis klasik berbahasa Persia tentang Etika Muslim.

Penerjemahan ini berdasarkan edisi hasil karya Sayyid Mahdi Shams al-Din (Teheran, Sazman-e Chap wa Intisharat-e Wizarat-a Farhang wa Irshad e Islami, Edisi kedua, musim panas [1370 H, Sh./199]). Editor telah menggunakan dua manuskrip karya tersebut milik Perpustakaan Publik Ayatullah Najafi Marashi (yang satu tertanggal 16 Rajab 1064 H. dan yang lainnya tanpa tanggal). Sebuah edisi faxsimili diterbitkan di Berlin pada tahun 1927 (dicetak ulang pada tahun 1957), dan sebuah edisi tercetak diterbitkan sekitar tahun 1967 oleh Kitab Furushi-ye Islamiyyah, Teheran.

Terjemahan Bahasa Indonesia oleh Ahmad Y. Samantho, S.IP, dari edisi berbahasa Inggris yang diambil dari al-Tawhid Islamic Journal, vol XI, No. 3 & 4, yang diterjemahkan dari Bahasa Persia oleh Ali Qulli Qarai.

Kata Pengantar

Bismillahi al-rahman al Rahim,

Puji syukur hanya bagi Allah SWT, Yang realitasnya tak dapat dimengerti oleh akal dan pengetahuan mengenai Wujud-Nya tak dapat dipahami oleh pemikiran dan ilmu pengetahuan. Jika pun ada sesuatu ekspresi yang menggambarkan Dia, jika menegaskan wujudNya, maka pikiran tak akan dapat membayangkan-Nya tanpa jejak-jejak anthropomorphism (penyerupaaan dengan wujud manusiawi), dan jika berupa penolakan, tak dapat dibayangkan dengannya dalam satu cara yang aman dari skandal yang keji berupa pengingkaran terhadap sifat-sifat-Nya (tatil).

Oleh karena itu, Pemimpin yang terpilih, teladan bagi para wali (awliya), dan Penutup para Nabi, Muhammad al Mustafa, semoga Allah memberikan shalawat kepadanya dan kepada Alhul-Baitnya, telah berkata:

�� Aku tak dapat menghitung pujian bagi-Nya. Keindahan-Nya hanyalah setara dengan apa yang dipujikan oleh-Nya sendiri. Dan Keindahan-Nya di atas apa-apa yang dikatakan oleh para penggambar (dalam menggambarkan Dia).[1]

Semoga shalawat dan salam yang berlipat ganda, segala pujian dan berkah terlimpah kepada jiwanya yang suci dan kepada para arwah Ahl al-Bayt-nya yang Suci, khususnya para Imam Masum, juga kepada para Sahabatnya yang terpilih, demi Haq-Mu yang Allah.

Setelah menulis buku yang berjudul Etika Nasirian (Akhlaq-e Nasiri) yang mendiskusikan watak-watak yang mulia dan suara-suara bijak perilaku bermoral menurut jalan para filosof (hukama), penulis risalah ini dan yang berwenang dalam wacana ini, Muhammad al-Thusi, telah memiliki ide dalam benaknya untuk menulis sebuah risalah ringkas yang menjelaskan jalan/cara (Suluk, Pen.) dari para wali (awliya) dan metode para pencari (Salik, pen.) berdasarkan prinsip-prinsip para penempuh jalan Tarekat (Tariqah), dan para pencari Kebenaran Hakiki(haqiqah) dan sesuatu berdasarkan prinsip-prinsip penalaran dan tradisi, yang terdiri dari teori-teori yang halus (tak kentara) dan point-point praktis yang membentuk intisari dan esensi disiplin ilmu ini.

Bagaimanapun juga keasyikan yang tak terhitung banyaknya dan rintangan sia-sia tidak mengijinkan dia untuk keluar dari padanya, dan apa yang telah dia miliki dalam benaknya tak dapat dimunculkan dari potensi ke aktualitas, sampai pada saat ini, ketika ideanya terwujudkan pada pengumpulan tanda-tanda kemuliannya ., Pangeran pedang dan pena, Pemuka terpilih di antara bangsa Arab dan non-Arab, Matahari kebenaran dan keimanan (Shams al-haqq wa al-din), Kemuliaan Islam dan Kaum Muslim, Pemuka para Kasyaf, Tempat bergantung para sultan penguasa, Kebanggaan kaum elit dan bangsawan, Penjelmaan keadilan dan kedermawanan, Orang yang paling berjasa di dunia dan Paling sempurna, Tempat berlindung dan berteduh bangsa Iran, Pencinta para Awliya, Muhammad bin Sahib al-Said Bahaal-Din Muhammad al-Juwayni, semoga Allah memperkuat para penolongnya, dan menambah kekuasaannya dua kali lipat. Ketika kesempatan menjadi mungkin, waktu dan keadaan menjadi kondusif, rencana pada akhirnya terwujudkan, untuk memperluas pikiran tersebut akan terbantu dan menjadi layak dalam memandang beragam rintangan dan banyaknya keasyikan dalam mengumpulkan, untuk melengkapi dengan tata aturannya dan untuk mentaati perintahnya, risalah singkat ini dibagi dalam beberapa bab, yang menjelaskan dan memaparkan kebenaran-kebenaranya dan menggambarkan rahasia-rahasianya. Dalam setiap bab, dia menyajikan ayat-ayat wahyu (al Quran) demi membuktikannya, seperti:

{ ��� ��������� ���������� ���� ������ �������� ����� ���� �������� �������� ���� ������� �������}(����/42).

�� Tidak ada yang datang kepadanya (Al Quran) kebathilan baik dari depannya maupun dari belakangnya. �� (QS, Fushilat, 41:42)

Dan ketika dia tidak dapat menemukan sesuatu yang dapat menjelaskan kepentingan yang ia yakini sendiri kepada sesuatu yang yang dapat lebih dimasuki.

Dia telah menamakan risalah itu Awsaf al-Asraf (Sifat-sifat Kemuliaan) dan ketika itu dipandang menyenangkan matanya yang mulia, tujuannya dapat tercapai, sebaliknya dalam cara pandang yang telah dinyatakan dengan penuh permohonan maaf, diharapkan bahwa dirinya yang mulia, dengan wataknya yang mulia dan kebaikan yang luhur, akan memaafkan penyelewengannya dan menutupinya dengan jubah pemaafan-Nya yang lembut, maka Allah Yang Maha Mulia, semoga melimpahkan kepadanya kelembutan hati ilahiyah dan kedaulatan kekuasaan yang kekal dalam dunia nyata, sebagaimana dengan cara yang sama, Allah telah memilihnya sebagai pemimpin dunia nyata. Sungguh Allah Maha Pemurah dan Maha Mengabulkan Doa.

Pendahuluan:

Kiranya pantas di awal risalah/tulisan ini untuk menyebutkan isi risalah singkat ini. Tak ada keraguan bahwa ketika seseorang merenungkan pernyataan seseorang (membaca ahwal, daripada afal), seseorang akan mendapati dirinya membutuhkan sesuatu di samping dirinya sendiri, dan sesuatu yang lain yang dibutuhkannya itu kurang sempurna. Dan ketika seseorang peduli dengan ketidaksempurnaannya, maka muncullah dari dalam sanubarinya suatu kerinduan untuk mencari kesempurnaan. Hal ini mendorongnya untuk melakukan perjalanan pencarian kesempurnaan yang disebut sebagai Suluk ( mussyafir/ Wayfaring ) oleh orang-orang pengikut Tarekat (Tariqah, jalan mistik/tasawwuf). Dan barang siapa yang ingin melakukan perjalanan (tarekat) tersebut membutuhkan enam hal, yaitu:

Pertama, pembimbing/pedoman perjalanannya yang dibutuhkan agar perjalanan bisa dilakukan, dan hal ini sebagaimana ketentuan dibutuhkannya pembimbing (guide) dalam perjalanan secara fisik.

Kedua, menghadapi hambatan-hambatan dan rintangan dalam perjalanan.

Ketiga, melakukan pergerakan atau perpindahan yang akan membawa seseorang dari titik awal kepada tujuan; Hal ini terdiri dari suluk (perjalanan) dan maqom/kedudukan salik (penempuh perjalanan) selama latihannya.

Keempat, Maqom-maqom/ tahapan kedudukan yang terjadi kepada para salik dalam latihan perjalanannya dari start awal perjalanan sampai titik tujuannya.

Kelima, Maqom-maqom yang akan menimpa siapa saja yang telah melengkapi perjalanannya (ahl al-wusul) setelah perjalanan (suluk)-nya.

Keenam, Akhir perjalanan (suluk) dan puncak perjalanan yang disebut fana (ketiadaan) dalamtawhid (kesatuan ilahiyah).

Masing-masing yang telah disebut di atas terdiri dari beberapa hal, kecuali akhir perjalanan di mana tidak ada lagi keberagaman (multiplicity). Kita akan mendiskusikan keenam hal di atas dalam enam bab, masing-masing mempunyai enam bagian, dengan perkecualian bagi bab terakhir yang tidak diikuti dengan suatu keberagaman.

Sebagaimana diketahui bahwa dengan cara yang sama seperti dalam sebuah perjalanan yang bersifat fisik, perlintasan setiap bagian jalan tergantung dari upaya melintasi bagian yang terdahulu dan keberhasilan melampaui bagian yang lain kecuali bagian yang terakhir masing-masing maqom/tahapan tersebut adalah tingkatan perantara/pertengahan di antara akhir dari tingkatan/tahapan sebelumnya dengan permulaan tingkatan/tahapan berikutnya, maka dari itu setiap tingkatan adalah tujuan akhir yang dicari karena tahapan sebelumnya dekat tujuannya dan ditinggalkan dibelakangnya dan terlarang seseorang kembali mendekati tahapan yang telah berhasil. Karenanya setiap tahapan/tingkatan adalah suatu kesempurnaan dalam hubungannya dengan tahapan/tingkatan sebelumnya dan menetap di dalamnya adalah sebuah cacat/kerusakan ketika seseorang harus beralih ke tahapan berikut yang diinginkannya. Oleh karena itu Rasulullah, SAAW, telah berkata:

��Barang siapa yang dua harinya adalah sama, dialah orang yang merugi. [2]

Dan karena itulah mengapa telah dikatakan:

��Kebaikan dari orang shaleh adalah sifat buruk bagi para wali (muqorobbin).[3]

Bab 1

Titik Awal Mula Perjalanan (Suluk) dan Persyaratannya

Bab ini terdiri dari enam topik,masing-masing dibahas dalam bagian-bagian berikut ini:

Bagian pertama: tentang Kepercayaan/Keimanan (Iman)

Bagian kedua: tentang Ketabahan / Kesetiaan (Thubat)

Bagian ketiga: tentang Niat (Niyyah)

Bagian keempat: tentang Kebenaran (Sidq)

Bagian kelima: tentang Penyesalan (Inabah)

Bagian keenam: tentang Ketulusan/Keikhlasan (Ikhlas)

Bagian Pertama: Tentang Keimanan

Allah SWT, Yang maha Mulia, telah berfirman:

��������� ������� ������ ���������� ������������ �������� ���������� ������ �������� ������ �����������(�������/82)

Mereka yang beriman dan tidak mencampuradukkan keimanan mereka dengan kezaliman (syirk), mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS Al-Anam, 6: 82)

Iman, secara literal (harfiah) berarti penegasan/pembenaran (affirmation), sehingga kepercayaan/keimanan, dalam terminologi para pencari, berarti suatu jenis khusus penegasan/pembenaran, yang telah diketahui untuk hal tertentu dan yang telah disabdakan oleh Rasulullah SAAW. Ilmu pengetahuan (marifah) dari Nabiyullah adalah tak dapat dipisahkan dari ilmu pengetahuan yang berasal dari Yang Maha Abadi, Yang Maha Kuasa, Yang Maha Mengetahui, Yang Maha Hidup, Yang Maha Lembut, Yang Maha Mendengar dan Maha Melihat, Yang Maha Berkehendak dan Berbicara, dan telah mengirim para Utusannya dan menurunkan Al Quran kepada Muhammad al-Mustafa, SAAW, yang menyusun keberlangsungan hukum-hukum, kewajiban-kewajiban dan Sunnah, sah menurut hukum dan tidak sah menurut hukum sebagaimana ditegaskan melalui kepakatan dari seluruh ummat.

Oleh karena itu, keimanan terdiri dari hal-hal tersebut, tidak lebih tidak kurang. Apabila kekurangan, itu berarti tidak ada keimanan sama sekali, dan jika berlebihan, penambahannya akan menjadi satu derajat lebih tinggi dari iman, berdampingan dengan keimanan. Dan tanda-tanda keimanan adalah mengetahui, mengatakan, dan melakukan hal yang telah diketahuinya, dikatakannya dan dilakukannya, dan menahan diri dari hal-hal yang telah dilarang. Hal-hal ini terkait dengan akhlak al-karimah (amal shalih) dan merupakan sesuatu yang dapat bertambah atau berkurang, dan merupakan sebuah bagian yang esensial dari penegasan/pembenaran yang telah disebutkan di depan. Karena itulah mengapa penyebutan keimanan selalu digabungkan dengan amal shalih, sebagaimana telah dinyatakan oleh al Quran:

��������� ��������� ������� ���������� �������������

Mereka yang beriman dan beramal shalih. (QS Al Baqoroh, 2: 25)

Dan telah diketahui bahwa keimanan itu mempunyai beragam derajat, yang terendah adalah pengakuan lisan/verbal. Sebagai-mana disebutkan dalam ayat berikut:

��� �������� ��������� ������� ������� ��������� ����������� ������������ ������� ������� ����� ��������� ������������ ������� ������� ���� ������ ������ �������� ��������� ��������������� ���������� ���������� ����������� ������� ������ ����� �������� ��������(������/136).

Hai orang-orang yang beriman,berimanlah kepada Allah dan rasul-Nya dan kepada Kitab yang diturunkan kepada para Rasul-Nya. ( QS An-Nissaa, 4: 136)

������� ����������� ������� ���� ���� ���������� �������� ������� ����������� �������� �������� ���������� ��� ����������� ������ ��������� ������� ����������� ��� ���������� ���� ������������� ������� ����� ������� ������� �������(�������/14).

Orang-orang Arab Badui itu berkata: Kami telah beriman. Katakanlah (kepada mereka): Kamu belum beriman, tetapi katakanlah kami telah tunduk/berislam. Karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu. Dan jika kamu taat kepada Allah dan Rasul-Nya , Dia tidak akan mengurangi sedikitpun (pahala) amalanmu, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS Al Hujuraat, 49:14)

Keimanan (orang-orang Arab Badui) tersebut adalah keimanan yang palsu, yang penegasan keyakinannya harus dikuatkan lagi, tapi hal ini bisa menyimpang. Ketika penegasan keimanan/keyakinan dicapai, ini harus selalu terkait dengan amal shaleh.

�������� �������������� ��������� ������� ��������� ����������� ����� ���� ����������� ����������� ��������������� ������������� ��� ������� ������� ���������� ���� �������������(�������/15).

Sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah, mereka itulah orang-orang yang benar. (QS Al Hujuraat, 49: 15)

Yang lebih tinggi dari keimanan tersebut adalah keimanan kepada Yang Ghaib, berdasarkan kata-kata dalam ayat al-Quran:

��������� ����������� ����������� (������/3).

..mereka yang beriman kepada Yang Ghaib ( QS Al Baqoroh, 2: 3)

Mereka yang mengemukakan keimanan mendalam terhadap hal-hal yang tak terjangkau (transcendence), sebagaimana jika seseorang menegaskan kebenaran sesuatu hal dari sisi luar sebuah tirai/hijab. Yang lebih tinggi dari itu adalah keimanan dari mereka yang dikatakan Allah :

�������� �������������� ��������� ����� ������ ������� �������� ����������� ������� �������� ���������� ������� ����������� ���������� ������� ��������� ��������������.

��������� ���������� ���������� �������� ������������� ��������� ���������� ���� �������������� ������ ������ ��������� ������ ��������� ������������ �������� ������� (�������(2-4-)

Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, bertambahlah iman mereka (karenanya) dan kepada Tuhannya mereka bertawakal. Yaitu orang-orang yang mendirikan shalat dan yang menafkahkan sebagian rejeki yang kami berikan kepada mereka. Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenarnya mereka akan memperoleh beberapa derajat ketinggian di sisi Tuhannya dan ampunan serta rezeki (nikmat) yang mulia. (QS Al Anfal, 8: 2-4)

Inilah tingkatan keimanan yang sempurna. Berikutnya dari hal ini adalah keimanan yang diyakini, yang akan diterangkan belakangan, dan inilah tingkatan derajat keimanan yang paling sempurna.

Derajat/tingkatan minimum yang kurang daripada keimanan yang tidak sempurna dalam perjalanan (Suluk), adalah keimanan melalui peniruan dan keimanan kepada yang Ghaib, yang hanya sekedar keimanan secara lisan adalah bukan iman yang sebenarnya. Hal ini merujuk kepada pernyataaan Al Quran berikut:

����� �������� ������������ ��������� ������ ������ �����������(����/106).

Dan sebagian besar dari mereka tidak beriman kepada Allah, melainkan dalam keadaan mempersekutukan Allah (dengan sembahan-sembahan lain). (QS Yusuf, 12:106)

Perjalanan (Suluk) dengan ketenangan jiwa adalah dimungkinkan ketika ada keyakinan penuh atas kepercayaan terhadap eksistensi (keberadaan) Wujud Mutlak Yang Maha Sempurna, Tuhan Sang Maha Pencipta. Perolehan kepercayaan seperti itu adalah sangat sederhana dan dapat dicapai dengan upaya yang sedikit saja.

Bagian Kedua: Ketabahan/Kesetiaan (Keteguhan)

Tuhan Allah, Yang Maha Agung dan Maha Mulia, telah berfirman:

��������� ������� ��������� ������� ����������� ���������� ��� ���������� ���������� ����� ��������� ��������� ������� ������������� ���������� ������� ��� �������(�������/27).

Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat; dan Allah menyesatkan orang-orang yang zalim dan memperbuat apa yang dikehendakinya.(QS Ibrahim, 14: 27)

Kalau keimanan tidak disifati dengan ketabahan, keteguhan atau kesetiaan, ketenangan jiwa yang begitu penting (esensial) bagi para pencari kesempurnaan tidak akan diperoleh, karena seseorang yang goyah dalam kepercayaannya tidak dapat menjadi pencari kesempurnaan. Ketabahan/keteguhan (kesetiaan) terhadap iman tergantung dari pencapaian kepastian yang di sana ada Kesempurnaan dan Wujud Maha Sempurna. Tanpa kepastian seperti ini, pencarian kesempurnaan tidak akan terwujud dan sampai ketetapan hati untuk mencari kesempurnaan dan keteguhan hati atas ketetapan hati terhadap hal ini tidak tercapai, perjalanan (suluk. pen.) tidak mungkin terjadi. Seseorang yang membuat ketetapan hati tanpa menjadi tabah (setia) terhadapnya, adalah seperti orang yang bingung, yang terpenjara oleh setan di muka bumi:

��������� ������������� ������������� ��� �������� ��������� ���� ��������� (�������/71)

��seperti orang yang telah disesatkan setan di pesawangan (bumi) yang menakutkan dalam keadaan bingung�� (QS Al An-aam,6:71)

Orang yang bingung tak punya ketetapan hati, dan sampai ia cukup pasti untuk maju dalam satu arahan, tidak akan ada pergerakan, perjalanan atau suluk. Kalaupun ada pergerakan pada akhirnya, ini akan dibarengi dengan kebimbangan dan keraguan yang tak ada hasilnya dan sia-sia belaka.

Penyebab ketabahan (keteguhan & kesetiaan) adalah sebuah wawasan ke dalam (insight) mengenai kebenaran yang dipercaya, sebuah kesenangan karena telah menemukannya dan suatu ketekunan di dalam maqom/tahapan ini, sebagai sebuah kondisi kebiasaan dalam sanubari diri yang terdalam. Oleh karena itu mengapa penampilan amal shaleh dari orang-orang yang memiliki ketabahan/keteguhan & kesetiaan (kesungguhan) ini adalah terus-menerus sepanjang dibutuhkan.

Bagian Ketiga: Niat

Allah, yang Maha Agung, telah berfirman:

���� ����� �������� ��������� ���������� ���������� ������� ����� �������������(�������/162).

Katakanlah: Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidup dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. (QS Al Anaam, 6: 162)

Niyyah (niat) berarti maksud, pamrih, tujuan, dan niat adalah sebuah kaitan antara pengetahuan dan amal (aksi). Tanpa seseorang mengetahui pada awalnya bahwa dia harus melakukan sesuatu, seseorang tidak dapat bermaksud unrtuk melakukan hal itu, dan tanpa adanya niat seseorang tak dapat melakukan sesuatu aksi. Titik awal mula dalam perjalanan (suluk) adalah niat untuk mencapai sebuah tujuan tertentu, dan sejak tujuannya adalah untuk mendapatkan kesempurnaan dari Yang Maha Mutlak Sempurna, niat akan menjadi satu meraih kedekatan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, Yang Maha Mutlak Sempurna.

Untuk kasus ini, niat itu sendiri lebih baik daripada amal ketika dilakukan sendiri, yaitu: Niat dari kaum mukminin adalah lebih baik daripada pekerjaan amalnya[4]

Jadi Niat adalah seperti jiwa dan amal adalah seperti tubuh, dan sebagaimana Rasulullah telah katakan:

Sesungguhnya (nilai intrinsik) dari pada amal perbuatan hanya tergantung daripada niatnya (yang ada dibaliknya). [5]

Maka, kehidupan dari tubuh jasmani adalah melalui jiwanya. Dan (sebagaimana Rasulullah SAAW telah katakan):

��Setiap orang mendapatkan apa-apa yang telah diniatkannya: seseorang yang berhijrah menuju Allah dan Rasulullah, maka ia akan hijrah menuju Allah dan Rasulullah, dan bila seseorang berhijrah untuk mendapatkan kepentingan duniawi atau untuk menikahi seorang wanita, maka hijrahnya akan membawa dia kepada tujuan yang telah diniatkan sebelumnya.[6]

Sebuah amal shalih yang dilengkapi dengan niat untuk mendekatkan diri kepada Allah tentu akan mendapatkan kesempurnaannya, sebagaimana pernyataan Allah SWT:

��� ������ ��� ������� ���� ����������� ������ ���� ������ ���������� ���� ��������� ���� ��������� ������ �������� ������ �������� ������ ���������� ��������� ������� �������� ��������� ������� ��������(������/114)

Tak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat makruf atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Dan barang siapa yang berbuat demikian karena mencari keridhaan Allah, maka kelak kami akan memberi kepadanya pahala yang besar. (QS An Nisaa, 4:114)

Bagian Keempat: Tentang Berlaku Benar (Sidq)

Tentang penggambaran hal ini Allah SWT telah berfirman:

��� �������� ��������� ������� �������� ������� ��������� ���� ������������(������/119).

Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kalian kepada Allah, dan jadilah kamu bersama orang-orang berlaku benar (al-Shadiqiin).(QS Al-Taubah, 9:119)

Sidq secara harfiah berarti berbicara benar dan membenarkan janjinya. Di sini berlaku benar berarti benar dalam pembicaraan, sebagaimana benar dalam niatnya dan tekadnya dan memenuhi janji yang telah dibuatnya dalam segala keadaan.

Siddiq adalah seseorang yang benar dalam segala hal sebagaimana benar sebagai sebuah kebiasaannya, dan apa-apa yang bertentangan dengannya dalam sikap apapun, tidak hanya pada dirinya sendiri juga tidak ada bekas-bekasnya (yang bertentangan) ditemukan padanya.

Para Ulama telah berkata bahwa jika sesorang melalui mimpi-mimpinya menjadi benar dan akan menjadi benar. Ayat al Quran :

���� �������������� ������� �������� ��� ��������� ������� �������� ���������� ���� ����� �������� ���������� ���� ���������� ����� ��������� ����������(�������/23).

Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka sedikitpun tidak merubah (janjinya). (QS Al Ahzab, 33:23)

Ayat ini telah diturunkan berkenaan dengan mereka. Orang yang benar telah digambarkan sebagai berdiri dalam tingkatan yang sama dengan para Rasul Allah dan para Syuhada:

������ ������ ������� ������������ ������������ ���� ��������� �������� ������� ���������� ���� ������������� ���������������� �������������� ��������������� �������� ���������� ��������(������/69).

Dan barang siapa yang mentaati Allah dan Rasul-Nya, mereka itu akan bersama-sama orang-orang yang dianugrahi nikmat oleh Allah, yaitu para Nabi, para Shiddiqqin, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.(QS An-Nisaa, 4:69)

Dan seperti Nabiyullah yang agung Ibrahim as dan Idris as. telah digambarkan sebagai orang-orang siddiq, dengan kata-kata:

��������� ��� ���������� ������������ ������� ����� ��������� ��������(����/41).

Ceritakanlah (hai Muhammad) kisah Ibrahim dalam al-Kitab (al Quran) Sesungguhnya, ia adalah orang yang sangat membenarkan (siddiqon) dan seorang nabi. (QS Maryam, 19:41)

��������� ��� ���������� ��������� ������� ����� ��������� ��������(����/56).

Ceritakanlah (hai Muhammad kepada mereka) kisah Idris (yang tersebut) dalam al-Kitab (al Quran) Sesungguhnya, ia adalah orang yang sangat membenarkan (siddiqon) dan seorang nabi.(QS Maryam, 19: 56)

Dan mengenai yang lainnya, telah dikatakan:

����������� ������ ���� ����������� ����������� ������ ������� ������ ��������(����/50).

Dan kami anugrahkan kepada mereka sebagian dari rahmat kami dan kami jadikan mereka buah tutur yang benar (sidqin) lagi tinggi. (QS Maryam,19:50)

Dan karena jalan yang lurus merupakan jalan terpendek untuk mencapai tujuan, seseorang yang berjalan lurus lebih mungkin mendapatkan tujuan yang diniatkannya, Insya-Allah.

Bagian Kelima: Penyesalan (Inabah)

Allah yang Maha Agung dan Maha Mulia, telah berfirman:

����������� ����� ��������� ������������ ���� ���� ������ ���� ������������ ���������� ����� ��� �����������(�����/54).

Dan kembalilah kamu kepada tuhanmu dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang azab kepadamu kemudian kamu tidak dapat ditolong (lagi). (QS Az-Zumar, 39:54)

Inabah, berarti kembali kepada Allah dan taat mengikuti-Nya. Inabah terdiri dari tiga hal, pertama, kembali dengan diri sendiri seseorang, sehingga ini selalu kembali kepada Allah Yang maha Agung, dan untuk meraih kedekatan kepada-Nya dalam setiap pemikiran dan niat seseorang, dan untuk itu merujuk pada ayat:

���� ������ ������������ ����������� ������� �������� �������(/33

(yaitu) orang yang takut kepada Tuhan yang Maha Pemurah sedangkan Dia tidak kelihatan (olehnya). Dan ia datang dengan perasaan menyesal. (QS Qaaf, 50:33)

Yang kedua, untuk mengikuti perkataan seseorang yang berarti mengingat Dia dan apa-apa yang disukainya dan untuk mengikat siapa saja yang lebih dekat kepada-Nya, sebagaimana yang dirujuk kepada ayat:

����� ����������� ������ ���� �������(����/13

��Dan tiadalah mendapatkan pelajaran kecuali orang-orang yang kembali (dengan rasa penyesalan kepada Allah).(QS Al Mukmin/Ghofir, 40:13)

Yang ketiga, (untuk kembali kepada-Nya) dalam perbuatan yang tampak dari sesorang, yang berarti selalu waspada dalam perilaku pengabdian dan peribadahan. Hal itu mesti dibentuk berdasarkan niat untuk mlakukan pendekatan (taqorub), seperti melalui ibadah wajib dan ibadah sunnah, dengan menbuang apa-apa yang telah dihindari oleh figur pemimpin kaum beriman, memberikan sedekah, menunjukkan kebaikan kepada sesama makhluk ciptaan Tuhan, memberikan harta untuk kemanfaatan mereka, dan mencegah sebab-sebab yang akan melukai atau menyakiti mereka, mematuhi perbaikan atau pembetulan dalam setiap urusan, bersikap adil dalam memberikan penghormatan diri seseorang serta kerabat keluarganya, dan ringkasnya, mematuhi hukum-hukum Syariah dengan niat mendapatkan kedekatan kepada Allah danmencari ridho-Nya, Sungguh Dia Yang Maha Agung telah berfirman:

������ ������� ����������� ���� ����������� ��������� ���� ���� �������

������������ ���������� �������������� ������ �������

����� ��� ���������� ������� �������� �������

���� ������ ������������ ����������� ������� �������� �������.

����������� ��������� ������ ������ ����������

������ ��� ���������� ������ ����������� �������.

��(Dan ingatlah akan) hari (yang pada hari itu) Kami bertanya kepada Jahannam: Apakah kamu sudah penuh? Dia menjawab: Masih adakah tambahan?

Dan didekatkanlah syurga itu kepada orang-orang yang bertaqwa pada tempat yang tidak jauh (dari mereka).

Inilah yang dijanjikan kepadamu, (yaitu) kepada setiap hamba yang selalu kembali (kepada Allah dengan rasa sesal) lagi memelihara (semua peraturan-peraturan-Nya),

(Yaitu) mereka yang takut kepada Tuhan yang Maha Pemurah sedangkan Dia tidak kelihatan (olehnya) dan dia datang dengan hati yang bertaubah (menyesal),

masukilah syurga itu dengan aman itulah hari kekekalan.Mereka di dalamnya memperoleh apa yang mereka kehendaki dan pada sisi Kami ada tambahannya. (QS Qaaf, 50:30-35)

Bagian Keenam: Tentang Ketulusan/Keikhlasan

Allah, Yang Maha Mulia dan Maha Agung, telah berfirman:

����� �������� ������ ������������ ������� ����������� ���� �������� ��������� ����������� ���������� ���������� ���������� �������� ����� ������������(������/5).

Padahal mereka tidaklah disuruh kecuali supaya mengabdi/ beribadah kepada Allah dengan memeurnikan ketaatan kepada-Nya dalam menjalankan agama dengan lurus�� (QS Al Bayyinah, 98:5)

Ikhlas dalam bahasa Persia berarti vizheh kardan (membuatnya eksklusif/khusus), yaitu untuk membersihkan sesuatu dari segala sesuatu yang lain yang tercampuraduk dengannya. Itulah yang di sini berarti bahwa semua pembicaraan dan perbuatan sesorang hanya ditujukan demi untuk mencari kedekatan kepada Alla Yang Maha Agung dan dikhususkan secara ekslusif demi Allah, tanpa dicampuri suatu yang bersifat duniawi atau kepentingan duniawi lainnya.

����� ������� �������� ���������� (�����/3).

Ingatlah, hanya kepunyaan Allah lah agama yang bersih�� (QS Az Zumar, 39:3)

Lawan dari ikhlas adalah jika ada banyak kepentingan lain yang bercampur baur dengannya, seperti cinta pada kehormatan dan harta benda, nama baik, atau harapan yang lain atau pahala duniawi, atau keselamatan dan pembebasan dari azab hukuman neraka, semua yang merupakan tanda-tanda syirk. Syirik ada dua macam: yang terbuka dan yang tersembunyi. Syirik yang terbuka ialah penyembahan berhala, dan yang selain dari pada itu adalah termasuk syirik tersembunyi. Rasulullah SAAW, telah bersabda:

Di antara sebagian besar orang-orang di kalangan ummatku, niatnya tercampuri dengan syirik yang lebih susah dilihat ketimbang semut hitam yang merayap di batu hitam di malam yang gelap gulita.[7]

Syirik adalah adalah rintangan yang bersifat merusak bagi para pencari kesempurnaan dalam jalan suluk/tarikat.

������ ����� �������� ������� ������� ������������ ������� �������� ����� �������� ����������� ������� �������(�����/110).

�� barang siapa yang mengharapkan perjuampaan dengan tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal shaleh dan janganlah ia mempersekutukan dengan sesuatupun dalam beribadah kepada Tuhan. (QS Al Kahfi,18: 110)

Dan ketika rintangan-rintangan berupa syirik tersembunyi ini tersingkirkan, maka perjalanan (suluk) dan pencapaian tujuan (wusul) akan menjadi mudah. Rasulullah bersabda:

��Jika seseorang mengikhlaskan dirinya hanya untuk Allah selama 40 hari, maka akan tumbuhlah kebijaksanaan, yang terpancar dari lubuk hatinya, dan terwujud dalam pembicaraannya. [8]


Note:

[1] Sunan Ibnu Majjah, ii, 1262, hadith 3841, ed. By Fu
ad Abd al baqi, Beirut: Dar al-Fikr li al-Tabaah wa al-nashr wa al-Tawzi. 
[2] Ibn Abi Jumhur,
Awali al-liali, I, 284, diedit oleh al-hajj Aqa Mujtaba al-Iraqi, edisi pertama, 1403/1983, Qum. Matbaah Sayyid al-Shuhada alayh al-salam.
[3]
Al Fayd al Kasshani, Mahajjat al bayda, vii, p.89, dari al-Imam al Shadiq. 
[4]
Al-Kulayni, Ushul al-Kafi, ii, 84, Beirut. 
[5]
Ibid, ii, 211 
[6]
Sunan Ibn Majah, ii, 1413, bab 26, hadist ke 4227 
[7]
Al-Majlisi, Bihar al-Anwar, Ixix,93, Beirut. 
[8]
Ibid., Ixvii, 242.