Identitas Al-Kitab



Tim Al-Balagh

Usaha dan upaya bapa-bapa suci yang dilakukan dalam membagi-bagikan Injil secara gratis ke berbagai negara dan khususnya di kalangan umat Muslimin dan generasi muda telah mengalami kemajuan.

Di sini kita tidak akan membahas bagaimana bapa-bapa suci dan para penginjil telah dibolehkan dan mendapatkan izin untuk menunaikan tugas dan kegiatan mereka secara bebas. Juga tidak mengulas seberapa banyak yang dialokasikan oleh pemerintah kolonial Barat, atau penguasa apa yang menopang kegiatan misionaris bebas yang mereka lakukan.

Masalah ini merupakan masalah yang memerlukan diskusi tersendiri dan tidak akan dibahas di sini. Di sini kita akan mengkaji beberapa poin yang bertalian dengan naskah Suci agama Kristen.

Diharapkan bahwa para bapa suci menghentikan untuk membagi-bagikan Injil di kalangan Muslimin, sehingga kami tidak terpaksa untuk mengekspos tabiat asli mereka sekaligus kitab mereka.

Kitab Injil merupakan kitab yang terdiri dari Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Perjanjian Lama termasuk Taurat (kitab Hukum untuk orang-orang Yahudi) dan kitab-kitab para nabi. Perjanjian Baru yang dibuka dengan kalimat “Perjanjian Baru Tuhan dan Penyelamat kami, Yesus Kristus,” terdiri dari 27 pasal – 4 Injil menurut Matius, Markus, Lukas dan Yohanna, 21 surat dinisbahkan kepada Paulus Rasul dan yang lainnya. Dengan “Kisah para Rasul” and “Wahyu kepada Yohanes (Apocalypse), kitab Perjanjian Baru secara total terdiri dari 27 bagian.

Perjanjian Lama

Spinoza, filosof terkenal Yahudi, telah menulis secara panjang lebar tentang Perjanjian Lama. Berikut ini adalah ringkasan dari pengamatannya terhadap kitab Perjanjian Lama:

Setiap orang beranggapan bahwa Musalah yang pertama kali menulis lima kitab Taurat. Tempat pharises[1] banyak ditekankan pada asumsi ini dan memandang siapa saja yang menentang keyakinan ini dipandang sebagai pembawa biang bid’ah. Atas alasan ini, Ibnu Azra[2], orang yang merupakan pada tingkatan tertentu merupakan seorang pemikir bebas dan pertama kali menemukan kesalahan ini, tidak pernah berani membincangkan masalah ini secara terbuka.

Namun, Spinoza menulis, “Aku tidak memiliki rasa takut menjelaskan masalah khusus ini.” Ia kemudian mengisahkan beberapa bukti yang diberikan oleh Ibnu Azra bersama dengan beberapa pengamatannya sendiri yang menyimpulkan bahwa penulis asli lima buku Taurat hidup beberapa abad setelah Musa. Ia juga melakukan investigasi buku-buku yang tersisa dari Perjanjian Lama dan menolak menerima bahwa kitab itu benar-benar ditulis oleh orang-orang yang namanya diatributkan kepada mereka. Ia berkata, para komentator Alkitab telah berupaya dengan keras untuk menjustifikasi usaha-usaha tersebut, mereka sebenarnya telah mengolok-ngolok para pengarang kitab Perjanjian Lama.[3]

Perjanjian Baru

Kitab ajaran Injil (Gospels) dan kitab-kitab yang telah dinisbahkan kepada Yesus dan para muridnya, di samping ia tidak dapat dipercaya juga tidak dapat diandalkan secara historis, dan tidak komplit. Meminjam kejadian-kejadian sejarah, tambahan-tambahan, misaplikasi pada teks-teks, Perjanjian Baru tidak lagi terbebas dari perubahan dan distorsi. Demikian juga, gaya dan penyusunan kata dalam Perjanjian Baru secara jelas membedakan mereka yang berasal dari kalangan para nabi.

Spinoza menulis bahwa ia meyakini argumen Paulus yang dalam dan panjang lebar dalam “Surat kepada Jemaat di Roma” tidak berdasar kepada wahyu Ilahi, tapi semata bersandar kepada kekuatan penalaran normalnya. Demikian juga, gaya dan cara mereka menggunakan redaksi kalimat yang tercantum dalam Alkitab secara gamblang membantah bahwa ia bukan berasal dari wahyu Ilahi atau Rahmat Tuhan, tetapi, ia mengandung logika personal dan pendapat-pendapat penulisnya.[4]

Terlebih, hal ini merupakan versi-versi yang beragam Injil dan naskah-naskah lainnya yang telah ditolak oleh gereja. Pada dasarnya, tidak pasti bahwa apakah versi-versi ini merupakan versi yang sama yang diterima secara tradisi oleh gereja sebagai “Wahyu Ilahi” Britannica Encyclopedia mendata nama-nama sepuluh Ajaran (Gospels) dan Surat.[5]

Penulis Exhumes telah mendaftar naskah-naskah dimana orang-orang kuno Kristen telah menisbahkannya kepada Kristus sendiri, murid-muridnya dan pengikutnya yang lain:

7 Surat Paulus

7 Surat Yesus

8 Surat Maria

11 Surat Petrus Sang Nabi

9 Surat Yohanes

2 Surat Andreas 

2 Surat Matius

2 Surat Philipus Sang Nabi

1 Surat Bartholomew Sang Nabi

5 Surat Thomas Sang Nabi

3 Surat Yakobus Sang Nabi

3 Surat Mathias

3 Surat Markus

2 Surat Barnabas

1 Surat Theodos

15 Surat Paulus

 Setelah menyebut ciri dan fitur 74 surat ini, di sini patut kita ajukan sebuah pertanyaan ini, bagaimana kita dapat mengetahui bahwa naskah-naskah Ilahi yang kita terima adalah sama dengan naskah-naskah yang diterima oleh kaum Protestan?[6]

Apakah Al-Kitab Merupakan Kitab Samawi dan Ilahi?

Secara umum, Alkitab yang kini diterima oleh kaum Kristian sebagai sebuah karya suci adalah terbebas dari pemalsuan. Bukti yang menunjukkan adanya pemalsuan terhadap kitab ini sangat banyak. Contoh-contoh berikut ini merupakan bukti yang dimaksudkan:

1. Terdapat kontradiksi antara Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru atau di antara murid-murid mereka, sebagai contoh, terlepas dari apa yang disebutkan sebelumnya, akan dijelaskan pada bagian kelimabelas dari pembahasan ini.

2. Takhayul dan kerancuan yang terdapat di sepanjang Alkitab (Injil Suci), seperti penisbatan bahwa para nabi meminum anggur, Nabi Ya’kub bergulat dengan Tuhan dan sebagainya.

3. Kekurangan dan ketaksempurnaan Alkitab dari sudut pandang ajaran-ajaran Ilahi dan sebagainya, ketika kita membaca dengan serius dan teliti, kita temukan, bahwa dalam pasal-pasal yang berbeda Tuhan berjalan, menunjukkan tobat, pengetahuan-Nya terbatas, dan sebagainya.

4. Diskrepansi historis dan non-historis, adalah contoh-contoh yang telah Anda baca dari bagian kedua pembahasan ini.

 Tentu saja, dengan bukti-bukti yang sedemikian meyakinkan ini orang  yang berakal sehat akan berkesimpulan bahwa Alkitab  yang sekarang diimani oleh kaum Kristian tidak memiliki landasan dan tidak bersifat Ilahiah. Atas alasan ini, Felicien Chalet menyimpulkan pada akhir argumennya, “Bagaimanapun, kitab ini merupakan ciptaan dan rekaan manusia dan jadi mustahil memandangnya sebagai Firman Tuhan. “[7]

Sumber:


[1]  Sebuah ras yang merupakan sebuah sekte Yahudi, biasanya secara umum; Pharises bermakna seklusi (khalwat dan pengasingan).

[2] Ibrahim Ibn Azra, seorang astrolog, fisikawan,  matematikawan dan seorang cendikia Yahudi lahir pada tahun 513 M.

[3] Lihat, Risalates-e-fil-lahut-uas-siyassah,  hal. 265-326, Mesir.

[4] .Lihat, Risâlates-e-fil-lahut-uas-siyassah, hal. 330.

[5] . Pendahuluan Injil Barnabas hal. 47 (dalam bahasa Persia).

[6] Lihat, Izhâr-ur-Haq, jilid 1, hal. 285-288.

[7] A Concise History of The Great Religions of The World, hal. 441; Tehran University Press