Agama Epistemologis



Ditulis Oleh Pedar Basil

Mengapa dewasa ini agama terlihat berjarak jauh dengan prilaku masyarakat penganutnya? Di negara-negara yang dihuni oleh komunitas yang ‘taat’ beragama, korupsi merajalela bahkan membudaya, ketidakdisiplinan menjadi ‘gaya hidup’ dan kriminalitas menjadi ‘menu utama’ bahkan yang sangat sadis.

Setidaknya, ada dua cara memandang agama. Agama dapat dipandang secara fenomenologis, berupa sejarah kemunculan, tata cara dan prilaku para penganutnya. Agama juga dapat dipandang secara epistemologis, berupa tujuan-tujuan prinsip-prinsip yang melandasinya.

Jika kita mempelajari agama secara fenomeologis, maka kita harus mengumpulkan sebanyak mungkin data yang bertalian dengannya sebagai sebuah gejala atau fenomena sosial dan sejarah, seperti aliran-aliran dan para penganutnya.

Cara pandang fenomologis bisa mengantarkan kepada kebimbingan tentang koherensi agama dengan dinamika masyarakat dan prilaku penganutnya. Tidak hanya itu, ia juga bisa memunculkan sekularisme berupa penolakan partikular dan deisme sebagai penolakan menyeluruh terhadap agama.

Sekularisme dan deisme telah melahirkan sejumlah teori yang kini dan kelak menjadi paradigma dan pola pikir manusia modern, seperti liberalisme, pluralisme, eksistensialisme, individualisme, sosialisme, kapitalisme dan masih banyak lagi. Demokrasi, kesetaraan gender, pluralisme dan wacana-wacana modern lainnya adalah contoh produk aliran-aliran tersebut.

Penolakan terhadap agama memiliki akar historis dalam masyarakat manusia, teruatama masyarakat Eropa. Trauma terhadap kesewenang-wenangan para tokoh agama yang memaksakan kehendak dengan kedok agama, telah menciptakan sebuah gerakan penolakan terhadap agama secara frontal dan radikal pada abad 18 dan 19 Masehi.

Tibanya era pencerahan yang ditandai dengan revolusi Perancis dan revolusi Industri di Inggris telah menimbulkan kesan traumatik dan negatif terhadap agama secara keseluruhan. Pada gilirannya, muncullah sejumlah mazhab pemikiran dan filsafat dan berkembanglah sain dan teknologi secara pesat.

Montesquieu, Voltaire, Rousseau mengajak manusia untuk meninggalkan agama wahyu. Bukankah Nietzsche mengumukan “kematian Tuhan” sebagai usaha menyelamatkan manusia, Marx menganggap agama sebagai candu, demi menghapus eksploitasi kaum kapitalis, Comte menganggap agama sebagai dari masa mitos dan folklor atau era sesudahnya, metafisika.

Salah satu ciri sekularsime adalah ‘desakralisasi’. Masyarakat dan individu sekular mengabaikan dan tidak meyakini adanya sesuatu yang sakral, padahal keyakinan akan sesuatu yang sakral merupakan titik kesmaan semua agama. Istilah ‘sakral’ adalah ungkapan tentang kehormatan dan nilai spiritual di hadapan segala sesuatu yang hanya mengandung nilai material, seperti masjid, gereja, kuil dan tempat-tempat peribadatan agama lainnya dibandingkan dengan hotel dan pertokoan.  

Reaksi ekstrem yang muncul dari kalangan tertentu dalam masyarakat agama adalah fundamentalisme dan radikalisme, yang dari beberapa sisi justru mengacaukan dan menjauhkan masyarakat modern dari agama.

Cara kedua adalah memandang agama secara epistemologis. Bila kita hendak mempelajari sebuah agama secara epistemologis, maka kita harus mempelajari klaim-klaim yang merupakan prinsip-prinsipnya. Agama fenomenologis adalah agama yang tampak di permukaan, sedangkan agama epistemologis, boleh jadi, belum bisa ditemukan dalam permukaan.

Perspektif epistemologis akan menuntut kita untuk membentuk perspektif fenomologis tentang agama. Dengan kata lain, konsep akan memandu kita untuk mencari bentuk objektifnya, bukan sebaliknya.