Tujuan Pamungkas Manusia; Perspektif Pelbagai Mazhab



Setiap aliran, isme dan keyakinan, pada langkah pertamanya senantiasa berusaha untuk memberikan jawaban terhadap pertanyaan berikut, “Harus menjadi apakah manusia pada akhirnya?” Hal ini dikarenakan pengenalan kelayakan-kelayakan dan kepantasan-kepantasan manusia merupakan salah satu persoalan manusia yang urgen dan paling penting, dan pada hakikatnya nilai dari setiap isme dan aliran bergantung pada bagaimana mereka menjawab persoalan ini.

Cita-cita dan harapan manusia bukanlah sebuah persoalan yang baru diketengahkan pada salah satu dari dua kurun akhir, melainkan telah menjadi pusat perhatian dan wacana yang ramai diperbincangkan sejak mula, yaitu sejak mulai ditemukannya berbagai isme dan agama.

Dengan mengesampingkan agama-agama Ilahi yang dalam perjalanan sejarahnya telah memberikan jawaban terhadap persoalan asasi dan fundamental ini, pada mayoritas agama-agama dan aliran-aliran di India, dan di Cina –yang merupakan bangsa-bangsa yang memiliki keyakinan-keyakinan dunia terkuno- telah memberikan perhatiannya terhadap perkara tersebut. Masing-masing mazhab, aliran-aliran, pandangan dunia dan agama-agama membincangkan wacana ini dalam bentuk perspektif sebagai pandangan dunia dan ideologi yang kemudian mendasari dan mendominasi pemikiran mereka. Poin-poin setara yang mayoritas bisa ditemukan dalam isme-isme ini adalah realitas berikut bahwa mereka mengajak manusia kepada kesempurnaan maknawi, ruhani, dan spiritual.

 Dan di sini kami akan mengisyaratkan beberapa aliran dan isme yang penting, di antaranya:

1. Hedonisme (Prinsipalitas Kenikmatan)

Karena mereka melihat bahwa manusia senantiasa berada dalam usahanya untuk mencari kenikmatan, kesenangan, dan kelezatan, dan senantiasa berusaha untuk menghindarkan diri dari segala bentuk penderitaan dan kesusahan, maka para pengikut aliran ini berusaha untuk membuktikan bahwa kebahagiaan akhir manusia bergantung pada sejauh mana mereka memperoleh dan meraih kenikmatan dan kesenangan, dengan artian bahwa dengan semakin banyaknya diperoleh kenikmatan dan kelezatan ini, berarti seseorang akan dikatakan semakin berbahagia dan beruntung.

Aristib, seorang tokoh yang sezaman dengan Plato, menjelaskan bahwa tujuan dari sebuah kehidupan adalah berasaskan pada prinsip “Mencari segala bentuk kenikmatan” dan “Menghindarkan diri dari segala bentuk penderitaan”. Menurut prinsip dan asas ini, manusia harus mengambil manfaat yang semaksimal mungkin dari kenikmatan-kenikmatan sesaat yang ada dalam kehidupan dunia ini, sebelum hal-hal tersebut hilang, sirna, dan musnah.

Banyak yang mengatakan bahwa dia senantiasa menyandarkan perkataannya kepada salah seorang penyair Yunani bernama Horace yang mengatakan, “Kita tidak boleh takut dan khawatir terhadap hari esok” atau “Ketahuilah hari ini sebagai sesuatu yang berharga dan cepat berlalu”.

Dalam catatan sejarah Filsafat, Epicure pun termasuk salah seorang dari pengikut aliran Hedonisme ini. Pendapat dan pandangannya hingga batasan tertentu adalah logis dan masuk akal, karena ia juga memberikan perhatiannya pada kenikmatan-kenikmatan spiritual dan ruhani.

Epicure mengelompokkan kecenderungan dan kenikmatan-kenikmatan alami manusia dalam tiga kelompok, yaitu:

1.     Kecenderungan-kecenderungan dan kenikmatan-kenikmatan yang alami dan urgen, seperti makan dan tidur.

2.    Kecenderungan-kecenderungan dan kenikmatan-kenikmatan yang alami dan non urgen, seperti instink seksual.

3.    Kecenderungan-kecenderungan dan kenikmatan-kenikmatan yang non alami dan non urgen.

Berdasarkan pendapat Epicure, jika manusia menghendaki kebahagiaan, maka ia harus memuaskan kecenderungan-kecenderungannya yang alami dan urgen itu, dan dia juga harus menyeimbangkan kecenderungan-kecenderungannya yang alami dan non urgen, akan tetapi, dia harus menghilangkan kecenderungan jenis ketiganya yaitu kecenderungan-kecenderungannya yang non alami dan non urgen.

Sedangkan mengenai kenikmatan-kenikmatan hakiki, dimana manusia didorong dan diarahkan ke arah kebahagiaan, Epicure mengatakan, “Ketika kita mengatakan bahwa kenikmatan merupakan sesuatu yang tinggi, maka maksud kami berlawanan dengan apa yang diklaimkan oleh sebagian dari orang-orang yang berpikiran pendek yang senantiasa bersitegang dengan kami dan merusak keyakinan kami. Kenikmatan bukanlah permainan hawa nafsu dan kenikmatan-kenikmatan syahwat, melainkan kenikmatan yang kami maksudkan adalah kenikmatan yang kosong dari kesusahan dan penderitaan jasmani, dan terlepas dari keresahan, ketegangan dan kekhawatiran ruhani, karena kenikmatan yang seperti ini tidak membutuhkan pada pesta pora dan kesia-siaan, tidak membutuhkan pada perjamuan yang agung dan tidak pula membutuhkan kenikmatan-kenikmatan yang dihasilkan dari persetubuhan serta tidak pula muncul dari daging, ikan dan sajian makanan yang beraneka ragam, ketahuilah bahwa dengan segala hal-hal tersebut tidak akan bisa diperoleh kehidupan yang beruntung dan berbahagia, melainkan kebiasaan yang cerdas, sederhana, dan rasional yang senantiasa mencari sebab-sebab keterkabulan atau keterpaksaan, dan menolak keyakinan yang menyebabkan terjadinya ketegangan ruh-lah yang mampu menciptakan kehidupan yang berbahagia. Jadi, sumber dari seluruh sifat ini dan sekaligus sumber yang terbesar adalah ikhtiyat, kehati-hatian, dan kekokohan. Cara berpikir yang jauh memandang masa depan dan kuat harus diketahui sebagai sesuatu yang lebih tinggi dari filsafat, karena hal tersebut merupakan sumber dari seluruh kemuliaan, dan kemuliaan-kemuliaan ini memberikan pelajaran kepada kita bahwa tanpa adanya kekuatan, kekukuhan, kehati-hatian, kemuliaan, dan keadilan, kita tidak akan pernah berhasil untuk menciptakan kebahagiaan; dan kekuatan, kehati-hatian, kemuliaan, serta keadilan tidak akan mungkin bisa diperoleh tanpa adanya kenikmatan.[1]

Kelemahan yang terdapat dalam teori ini adalah, jika kita meletakkan kenikmatan itu sebagai tujuan akhir, maka tidak mungkin bisa diterima sebagai sebuah rangkaian nilai-nilai insani, dengan artian bahwa jika kenikmatan kita letakkan sebagai tujuan puncak, maka nilai-nilai seperti kesetiaan dan pengorbanan tidak akan bisa lagi diterima, karena akar pamungkas dari seluruh perbuatan manusia dalam hubungannya dengan pencarian kenikmatan akan kembali lagi pada dirinya sendiri, sementara untuk sampai pada tingkatan spiritual yang tinggi dan memperoleh nilai-nilai yang berada di luar gambaran orang awam, seseorang harus mengesampingkan dan mengorbankan dirinya sendiri.

2. Aliran Egoisme (Prinsipalitas Diri)

Sebagian dari para pengamat mengenai perubahan-perubahan yang terjadi dalam sejarah menganggap bahwa tujuan perilaku, tindakan, dan perbuatan manusia adalah untuk memuaskan ego dan kehendak dirinya semaksimal mungkin. Mereka berkata, karena manusia secara fitrah adalah egois dan mementingkan dirinya sendiri, dan segala sesuatu yang berada di sekitarnya dipandang dengan pandangan keegoisannya itu, maka dia harus senantiasa memperhatikan kemaslahatan dan keuntungannya sendiri serta menjauhkan segala sesuatu yang akan mengganggu kemaslahatan dan menghalangi keinginan-keinginannya. Manusia dalam menggapai keinginan-keinginan dan keuntungan dirinya tidak seharusnya memperhatikan kehendak orang lain, bahkan jika keinginan-keinginannya ini bertentangan dengan keuntungan selainnya.

Niccolo Machiavelli adalah salah satu dari peletak teori seperti ini dan dia menyarankan prinsip-prinsip di bawah ini kepada para pemerintah dan penguasa negara, sebagai berikut:

1.    Berpikirlah hanya pada keuntungan dan kesenangan pribadi;

2.    Jangan menghormati siapapun kecuali diri sendiri;

3.    Berbuatlah sesuatu yang buruk, akan tetapi tampakkanlah bahwa tujuan dari perbuatan tersebut adalah baik;

4.    Tamaklah dan berusahalah semampu mungkin dalam mengumpulkan harta;

5.    Pelit dan bakhillah;

6.    Tegas dan jangan berbelas kasih pada siapapun;

7.    Manfaatkanlah kesempatan sekecil apapun untuk melakukan tipu muslihat dan kelicikan;

8.    Singkirkan musuh dari sekitar dan jika perlu jangan berbelas kasih dengan sahabat-sahabatmu;

9.    Prioritaskan perilaku yang keras kepada masyarakat dan jangan berlemah lembut terhadap mereka;

10. Jangan berpikir apapun kecuali perang.

Dikatakan bahwa Thomas Hobbes dan Friedrich Nietzche pun merupakan orang-orang yang mendukung aliran Egoisme ini, dan Friedrich Nietzche bukan saja pendukung bahkan ia termasuk perintis dan penggagas dari teori kekuasaan sentris.

Friedrich Nietzche dalam pemikirannya mengetengahkan egoisme -yang meletakkan prinsip pada kebutuhan-kebutuhan negatif manusia- sebagai keinginan untuk berkuasa. Menurutnya, hal yang asasi dalam diri manusia dan dunia adalah kehendak dan keinginan terhadap kekuasaan, dan tujuan kehidupan pun tak ada yang lain kecuali keinginan untuk berkuasa, sebagaimana hal ini tersirat dalam salah satu kalimatnya yang berbunyi, “Pada sesuatu yang di dalamnya tidak terdapat kehendak untuk berkuasa, berarti di dalamnya terdapat degenerasi, kemunduran, dan kemerosostan”.

Sementara secara prinsipil, hal penting yang akan mengantarkan manusia untuk meraih kekuasaan dan kekuatan adalah kemuliaan dan hakikat, sedemikian hingga meskipun terdapat penghalang yang menghambat di depan mata, akan bisa terlewati dan ternafikan. Kehendak untuk berkuasa adalah kehendak manusia untuk berkembang dan meningkat dalam hal memuaskan kesempurnaan kekuatan dan potensi internalnya, dan bukan sesuatu yang lain.

3. Aliran Utilitarianisme (Prinsip Kebaikan Masyarakat)

Sebagian dari para pemikir berpendapat bahwa tujuan manusia dalam kehidupannya adalah berbuat sesuatu untuk kebaikan masyarakat dan keuntungan umum. Mereka sepakat bahwa manusia harus senantiasa berusaha supaya dalam kehidupannya menghasilkan buah yang riil dan hakiki; dan semakin banyak seseorang mampu memberikan manfaat dan keuntungan kepada masyarakat maka dia akan memiliki nilai dan citra yang semakin tinggi pula.

“Menurut Wang, manusia senantiasa harus memperhatikan agama dan religi supaya dengan bimbingan agamanya ini dia bisa memilih tujuan-tujuan praktis yang diperlukan dalam setiap putaran sejarah dimana untuk sampai pada tujuan-tujuan ini manusia harus berjuang dan berusaha”.[2]

Salah satu dari penggagas teori ini adalah Jeremy Bentham, dimana berkontradiksi dengan teori Epicure –yang sepakat dengan prinsip egosentris- dia berusaha untuk menggantikan posisi kenikmatan dan kelezatan individual dengan keuntungan sosial dan kemanfaatan umum.

Berdasarkan prinsip kemanfaatan dan kemashlahatan umum yang merupakan pondasi terpenting dari aliran Utilitarianisme ini, kebahagiaan dan keberuntungan yang hakiki dan riil adalah terpenuhinya kenikmatan dan kebahagiaan yang semaksimal mungkin bagi sebanyak mungkin individu. Menurut Bentham, orang yang berbahagia adalah mereka yang mengumpulkan keutamaan-keutamaan bagi masyarakat umum untuk masa depannya. Teori Bentham ini kemudian diikuti oleh John Stuart Mill dimana sebagaimana halnya Bentham dia juga bersikukuh dengan kebaikan umum dan keuntungan sosial. Akan tetapi, bertentangan dengan Bentham, Mill lebih banyak memfokuskan diri pada dimensi kualitas kenikmatan-kenikmatan yang berpengaruh pada kemanfaatan dan kemashlahatan umum daripada dimensi kuantitasnya –dimana dimensi ini telah menjadi view point dalam teori Bentham. 

Teori ini memiliki berberapa kelemahan, di antaranya adalah tidak adanya tolok ukur dan parameter yang tertentu untuk menentukan perilaku, tindakan, dan perbuatan manusia! Siapakah yang harus menjadi penjamin bagi kebahagiaan mayoritas individu? Berdasarkan parameter apakah sehingga bisa dikatakan dan ditentukan bahwa suatu perintah adalah baik atau buruk? Harus ada sebuah prinsip bagi manusia yang bisa dipegang dan dijadikan sandaran sebagai tujuan dan target yang memiliki nilai mutlak sehingga tujuan dan target tersebut tidak terpaksa harus mengalami perubahan atau pergantian dan tidak pula menjadi bahan permainan bagi orang-orang tertentu. Ketika kita meletakkan kebaikan umum dan keuntungan sosial sebagai tujuan kita, maka kita akan berhadapan dengan problematika berikut bahwa tujuan dan sasaran ini ditentukan dengan mengikuti selera dan keinginan orang-orang tertentu dan setiap orang akan menganggap bahwa sesuatu yang berdasar pada keinginan-keinginan pribadinya-lah yang merupakan hal terbaik bagi keuntungan, kemashlahatan, dan kebaikan masyarakat.

4. Humanisme (Prinsipalitas Manusia)

Para pendukung aliran Humanisme sepakat bahwa kebahagiaan manusia hanya bisa terpenuhi dengan memberikan prinsip kepada manusia dan mendukung nilai-nilai tinggi kemanusiaan.

Auguste Comte sebagai salah satu pendukung pertama aliran ini mengetengahkan bahwa manusia sempurna -yang di dalamnya meliputi seluruh manusia dalam seluruh zaman- adalah merupakan sebuah eksistensi yang bisa dan layak untuk disembah. Dia menambahkan bahwa manusia harus dibantu dan didukung supaya sampai pada tingkat kesempurnaannya, sebuah kesempurnaan yang tidak bisa diperoleh dengan cara apapun selain dengan berkhidmat kepada sesama. Menyembah manusia digolongkan sebagai sebuah kewajiban dan tugas yang paling mulia dan paling suci bagi manusia. Setelah Auguste Comte, Karl Marx, dan Jean-Paul Sartre merupakan pemikir-pemikir barat yang bangkit untuk mendukung teori Humanisme ini.

Erich Fromm adalah salah satu dari pemikir yang ada pada era kita yang sepakat terhadap aliran Humanisme ini. Menurut pendapatnya, manusia hanyalah merupakan sebuah eksistensi yang berpikir terhadap keberadaan dirinya dan berusaha supaya keberadaan dirinya ini bisa berbaur, dan seluruh aliran dan mazhab pun berusaha untuk menemukan jawaban untuk eksistensi dan keberadaan manusia.

Menurut pendapat Erich Fromm, manusia harus memilih kecintaan kepada manusia dan keadilan daripada kecintaan terhadap Tuhan, hal ini karena manusia tidak akan pernah bisa meraih kebahagiaan dan keberuntungan selain melalui cara tersebut. Dia menyarankan untuk menghentikan pembicaraan yang berkaitan dengan Tuhan dan menggantikannya dengan memfokuskan seluruh kekuatan untuk membuka topeng penyembah berhala dunia modern.

Para pendukung Humanisme berpandangan bahwa tidak ada lagi dunia lain setelah dunia manusia. Apapun yang ada, hanya ada di dalam dunia yang ada di hadapan kita ini, sedangkan alam metafisika adalah sesuatu yang tidak mungkin bisa diterima dan tertolak. Manusia merupakan sebuah eksistensi yang asli dan hakiki, dia memiliki segala sesuatu dalam zat dan substansinya sendiri dimana hal ini tidak dimiliki oleh eksistensi-eksistensi lainnya yang terdapat di alam ini. Penanggung jawab segala kemalangan, penderitaan, dan kesusahan manusia tidak lain adalah manusia itu sendiri dan ia tidak bisa meletakkan atau melemparkan hal ini ke atas tanggung jawab Tuhan atau maujud selainnya. Nasib manusia berada di tangan dirinya sendiri dan dia harus berusaha supaya dia bisa merubah dirinya maupun alam sekitarnya dengan bersandar pada diri pribadinya.

Kesalahan besar yang terdapat pada seluruh pengikut humanisme adalah sangkaan dan anggapan mereka akan adanya kontradiksi antara keyakinan terhadap Tuhan dengan prinsip-prinsip kemanusiaan. Maksudnya, jika kita menerima nilai-nilai yang bersumber dari Tuhan, berarti kita tidak akan mampu lagi sepakat dengan nilai-nilai yang berasal dari manusia dan prinsip-prinsipnya, kenapa, karena dengan demikian berarti manusia akan kehilangan seluruh potensi dan kekuatan aktualnya. Namun yang benar adalah dengan ketiadaan hubungan dengan Tuhan dan penolakan nilai-nilai dari-Nya, manusia tidak saja merupakan eksistensi yang tidak berharga bahkan ia pun akan kehilangan seluruh potensi dan dimensi hakikinya.

Secara prinsipil, masalah-masalah yang berkaitan dengan manusia tidaklah hanya terbatas pada persoalan bahwa dengan menyembah dan menjunjung tinggi manusia maka kebutuhan-kebutuhan material dan spiritualnya akan terpenuhi, karena manusia mempunyai sebuah kebutuhan dimana kebutuhan ini tidak akan bisa terpuaskan dengan melakukan sebuah bentuk penyembahan kepada manusia. Manusia membutuhkan ideologi dan pandangan dunia, atau dengan ibarat lain, manusia adalah ideolog dan berusaha supaya dirinya dan dunia sekitarnya bisa berubah, dan dengan semakin luas dan sempurnanya pandangan manusia, maka ia akan menjadi manusia yang semakin berharga dan bernilai.

Sekarang akan muncul pertanyaan semacam ini, siapakah yang memiliki pandangan yang lebih cermat dan lebih sempurna di anara dua kelompok manusia ini, manusia penyembah Tuhan ataukah manusia penyembah manusia? Apakah seseorang yang tidak menganggap bahwa manusia dan dunia ini adalah fenomena-fenomena yang tak berakal, tak bertujuan, dan tidak menganggap adanya gerak tak berakhir bagi manusia serta hanya menerima kebijaksanaan-kebijaksanaan Tuhan, akan lebih mampu menemukan akar ataukah manusia yang menganggap bahwa alam keberadaan ini hanyalah sebagai sesuatu yang kosong dari makna dan manusia tidak memiliki gerak yang tak berakhir?   Bukankah Humanisme itu meletakkan diri manusia itu sebagai tujuan, dan penyembahan manusia pada ujung-ujungnya akan berakhir pada penyembahan terhadap diri sendiri?

Humanisme dengan segala makna yang bisa kita ilustrasikan dan dengan segala tujuan yang bisa kita letakkan, secara pasti keimanan dan keyakinan kepada Tuhan memiliki keistimewaan dan dan keurgensian yang lebih tinggi dari aliran ini, dan apapun harapan-harapan yang kita sandarkan padanya tidak akan lebih baik daripada kepercayaan kepada Tuhan.

5. Aliran Naturalisme (Prinsipalitas Alam)

Pendukung aliran ini berasas pada keyakinan bahwa usaha dan upaya manusia harus berada dalam lingkup kemestian dan kecenderungan alami dari kehidupan ini. Dengan ibarat lain, jika seorang manusia bertindak sesuai dengan kemestian alami dan natural yang diperuntukkan bagi manusia, maka ia pasti akan memperoleh kehidupan yang ideal dan bahagia.

Salah satu dari penggagas teori ini adalah Lao Tzu/Laozi yang menganggap bahwa peradaban, teknologi, dan varian-variannya merupakan musuh bagi kebahagiaan manusia dan berkeyakinan bahwa manusia harus menyingkir dari hal-hal seperti itu.

Cyniques yang hidup pada masa Yunani kuno mengekspresikan teori semacam ini, bahwa orang-orang pada zaman Yunani kuno berada dalam keyakian dimana persoalan-persoalan semacam pemerintahan, kekayaan, perkawinan, dan kenikmatan-kenikmatan seksual seluruhnya merupakan persoalan-persoalan yang tidak bermanfaat, dengan demikian untuk memperoleh kehidupan yang berbahagia dan beruntung tidak ada cara lain kecuali dengan meninggalkan masyarakat dan kembali memulai sebuah kehidupan yang sederhana. Para pengikut Stoiciens pun hingga batasan tertentu merupakan pendukung dari teori ini, tentunya dengan perbedaan pendapat dalam masalah kesempurnaan manusia sebagaimana yang telah kami singgung sebelumnya.

Pada kurun akhir Jean-Jacques Rousseau memperbaharui teori ini dari dasar. Dia mencoba mengembalikan teori ini kepada alam dan dia meletakkan penghindaran dari segala hiruk pikuk peradaban sebagai inti bagi seluruh program pendidikannya.

6. Scientisme (Prinsipalitas Ilmu)

Sekelompok dari para ilmuwan menganggap ilmu dan pengetahuan sebagai tujuan tertinggi dari kehidupan manusia dan mereka menyarankan kepada manusia untuk meletakkannya sebagai sembahan dan menganggapnya sebagai tujuan akhir kehidupannya. Sigmund Freud sepakat bahwa ilmu harus disembah dan diletakkan sebagai pengganti posisi Tuhan dan mazhab.

Menurut persangkaan Freud jika kita menganggap ilmu sebagai sesuatu yang ideal dalam kehidupan manusia, maka di bawah pancaran keberadaannya akan tercipta persahabatan dan persamaan, dan seluruh kesulitan, keresahan, dan kesusahan manusia akan mendapatkan kemudahan dan ketenangan.

Bertrand Russell pun termasuk salah satu dari pendukung teori ini. Sebagaimana halnya Freud dia pun memiliki keimanan dan keyakinan yang begitu kuat terhadap ilmu dan dia juga menganggapnya sebagai sesuatu yang layak untuk disembah dan dijunjung tinggi. Menurut persangkaannya, ilmu mampu menambah kemampuan-kemampuan kita untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan yang baik dan buruk ,dan pada akhirnya keimanan dan keyakinan kepadanya akan mampu menciptakan hubungan sosial yang benar di antara para individu.

Pada prinsipnya akar dari Scientisme ini telah dimulai oleh Francis Bacon pada awal Renaisance dengan slogannya yang mengetengahkan kesejajaran ilmu dengan kemampuan dan kekuasaan, dan setelah itu Auguste Comte yang berkebangsaan Perancis dengan teriakannya bahwa mazhab generasi mendatang adalah ilmu dan pengetahuan.

Di dalam teori ini pun ditemukan beberapa kritikan dan kelemahan, karena pada hakikatnya ilmu hanyalah murni sebagai alat pengenal dan hanya mampu menjelaskan hubungan antara fenomena-fenomena dan persoalan-persoalan yang ada. Ilmu adalah pengetahuan tentang manusia dan alam. Manfaat dari ilmu adalah ia mampu menambah pengetahuan manusia dan menciptakan manusia untuk mendominasi alam. Ilmu merupakan alat dan perantara bagi manusia untuk mengetahui dan menambah kemampuan menguasai sesuatu. Akan tetapi, dengan adanya hal ini, bukan berarti bahwa manusia hanya membutuhkan pada ilmu saja! Karena lebih dari itu, manusia juga membutuhkan pada sesuatu yang lain, dan sesuatu-sesuatu yang lain tersebut adalah sesuatu yang menjadi pelengkap ilmu, dan ilmu akan mampu mengkonstruksi manusia hanya ketika ia berada dalam bayangannya. Tidak diragukan lagi bahwa hanya ketika berada di bawah pancaran iman-lah ilmu akan mampu melakukan gerak dan dinamika; dan iman jualah yang menunjukkan tujuan serta sasaran dari kehidupan manusia, ia mendorong manusia kepada semangat dan rasionalitas lalu mengkonstruksinya dari dalam.

Iman-lah yang mampu menentukan tujuan pengggunaan dan pemanfaatan ilmu. Ilmu tanpa iman tak ubahnya musibah dan bala bagi manusia, sebagaimana hal ini telah terjadi pada masa lalu maupun saat ini. Apakah seluruh perkembangan ilmu senantiasa dipergunakan untuk manfaat dan keuntungan manusia? Apakah dengan perkembangan ilmu dan pengetahuan manusia betul-betul akan mampu membuka pintu gerbang keberuntungan dan kebahagiaan?

Jika ilmu merupakan satu-satunya jalan penyelamat dan merupakan cita-cita tertinggi kehidupan manusia, lalu kenapa hingga kini masih saja terdapat jutaan manusia yang tersiksa dan musnah dibawah cecaran peluru-peluru dan molotov-molotov serta bom-bom yang merupakan hasil karya perkembangan ilmu? Apakah tragedi Hiroshima dan Nagasaki dan tempat-tempat sepertinya bukan merupakan bukti adanya ilmu yang tidak diiringi dengan iman? [Sumber:


[1] . Falosefe-ye Buzurg, Epicurus, hal. 56.

[2] . Muqadimeh-i bar Falsafah, hal. 304.