Sayid Murtadha Alamulhuda



 



Nama lengkapnya adalah Abul Qasim Ali bin Husein bin Musa yang lebih dikenal dengan nama Sayid Murtadha Alamulhuda. Ia lahir pada tahun 355 H. di sebuah keluarga mulia yang silsilah nasab mereka sampai kepada Imam Musa Al-Kazhim a.s. hanya dengan lima perantara. Yaitu Ali bin Husein At-Thahir bin Musa bin Muhammad bin Musa bin Ibrahim bin Musa Al-Kazhim a.s. bin Ja’far Ash-Shadiq a.s.

Ia adalah salah satu ulama kaliber Syi’ah yang menguasai semua jeni ilmu rasional dan tradisional, seperti tafsir, teologi dan satra Arab. Karena penguasaannya yang sangat dalam terhadap ilmu-ilmu keislaman, pada abad ke-4 H. ia disebut sebagai modernis mazhab Syi’ah.

Ketenarannya tidak hanya terbatas di kalangan ulama Syi’ah, bahkan ketenaran itu juga mewarnai dunia Ahlussunnah. Ibnu Khalakan, salah seorang sejarawan, Ibnu Atsir dalam Kâmilut Tawârîkhnya, AL-Yafi’i dalamMirâtul Jinânnya, As-Suyuthi dalam At-Thabaqâtnya, AL-Khatib Al-Baghdadi dalam Târîkh Baghdadnya dan Ibnu Atsir As-Syami mengenang dan menyebut Sayid Murtadha dengan ungkapan-ungkapan yang terindah.

Seorang sastrawan Mesir pernah berkata: “Saya melihat pembahasan-pembahasan yang dimuat di dalam buku Al-Ghurar wad Durar karya Sayid Murtadha yang tidak kudapatkan di buku-buku ahli Nahwu lainnya”.

Ada satu cerita menarik berkenaan dengan permulaan belajarnya. Syeikh Mufid adalah salah seorang guru Sayid Murtadha. Pada suatu malam ia bermimpi didatangi oleh Sayidah Fathimah a.s. dengan menuntun Imam Hasan dan Imam Husein a.s. Setelah datang di hadapannya, ia langsung berkata: “Wahai Syeikh, ajarkan fiqih kepada kedua anak ini”.

Syeikh Mufid bingung melihat mimpi aneh tersebut. Keesokan harinya, Fathimah, ibu Sayid Murtadha datang menghadapnya dengan membawa kedua putranya yang masih kecil. Mereka adalah Sayid Murtadha dan Sayid Radhi. Setelah sampai di hadapan Syeikh Mufid, ia mengucapkan kata-kata yang diucapkan oleh Sayidah Fathimah Az-Zahra` a.s.: “Wahai Syeikh, ajarkanlah fiqih kepada kedua anak ini!” Dengan peristiwa itu, Syeikh Mufid mengetahui ta’bir mimpinya. Karena melihat sesuatu yang luar biasa dalam diri kedua anak kecil tersebut, Syeikh Mufid sangat memperhatikan pendidikan mereka.

Satu cerita menarik lainnya berkenaan dengan julukannya Alamulhuda. Para sejarawan menulis bahwa Abu Sa’id Muhammad bin Husein, salah seorang mentri Al-Qadir Billah yang berkuasa pada tahun 381-422 H., ditimpa sebuah penyakit parah pada tahun 420 H. Di suatu malam ia bermimpi berjumpa dengan Amirul Mukminin Ali bin Thalib a.s. Imam Ali a.s. berkata kepada sang Mentri: “Mintalah doa dari Alamulhuda jika engkau mau sembuh”.

“Siapa yang Anda maksud dengan Alamulhuda, wahai Amirul Mukminin?”, tanyanya.

“Ali bin Husein Al-Musawi”, jawab Imam a.s.

Keesokan harinya, ia menulis surat kepada Sayid Murtadha supaya mendoakannya demi kesembuhan penyakitnya dan di dalam surat itu ia memanggilnya dengan Alamulhuda. Sayid Murtadha merasa keberatan dengan julukan agung tersebut dan meminta darinya untuk tidak menyebutnya lagi dengan julukan itu. Sang Mentri menjawab: “Demi Allah, Amirul Mukminin memerintahkanku untuk menyebutmu demikian”.

Setelah Mentri tersebut sembuh karena doa Sayid Murtadha, ia menceritakan semua yang terjadi atas dirinya dan keengganan Sayid Murtadha untuk menerima julukan tersebut kepada Khalifah. Mendengar hal itu, Khalifah Al-Qadir Billah menulis surat kepada Sayid Murtadha yang isinya adalah sebagai berikut:

“Tidak pantas jika Anda menolak julukan yang telah diberikan oleh kakek Anda”.

Sejak itu, semua surat-surat resmi negara yang ditujukan kepada Sayid Murtadha dimulai dengan sebutan Alamulhuda. Dan masyarakat pun memanggilnya dengan julukan tersebut.

Hauzahnya

Hauzah yang dibangunnya dipenuhi oleh para murid yang mempelajari berbagai disiplin ilmu darinya. Di samping itu, ia juga menentukan bayaran khusus bulanan kepada setiap murid yang belajar di situ sesuai dengan kadar keilmuan masing-masing. Misalnya, Syeikh Thusi menerima sebanyak 12 Dinar emas dan Qadhi Ibnul Barraj menerima 8 Dinar emas setiap bulan.

Guru-gurunya

Ia pernah belajar dari guru-guru kaliber yang telah berhasil mendidiknya menjadi seorang ulama kenamaan, di antaranya Syeikh Mufid, Ibnu Nabatah, seorang satrawan dan Syeikh Hasan Babawaeh.

Murid-muridnya

Ia juga memiliki murid-murid yang sangat memiliki peran penting di dalam arena ilmu pengetahuan. Seperti Syeikh Thusi, Qadhi Ibnul Barraj, Abu Shalah Al-Halabi, Abul Fath Al-Karajiki dan Sallar bin Abdul Azizi Ad-Dailami.

Karya-karyanya

Almarhum Mudarris, pengarang buku Raihânatul Adab menyebutkan ± 72 jilid buku hasil karyanya. Di antaranya adalah sebagai berikut:

1. Al-Intishâr.

2. Jamâlul ‘Ilm wal ‘Amal.

3. Adz-Dzarî’ah fi Ushûlis Syarî’ah (dalam bidang Ushul Fiqih).

4. Al-Muhkam wal Mutasyâbih.

5. Mâ Tafarradat bihil Imâmiah minal Masâ`ilil Fiqhiyah.

6. Al-Mukhtashar.

7. Al-Mishbâh.

8. An-Nâshiriyât.

Wafatnya

Setelah tiga puluh tahun beraktifitas, akhirnya ia harus meninggalkan dunia fana ini di Baghdad pada tahun 436 H. Ia dikuburkan di rumahnya. Akan tetapi, belum lama ini, jenazahnya dipindahkan ke Karbala` dan dikuburkan di samping Imam Husein a.s.

Bibiliografi :

1. Raihânatul Adab, jilid 4 hal. 183-190.
2. Ar-Raudhât.
3. Adabul Murtadha, karya Dr. Abdur Razzak.
4. Mu’jamul Mu`allifîn, Umar Ridha Al-Kahhalah, jilid 7.