Ra`îsul Muhadditsîn, Syeikh Shaduq



 



Cerita kelahiran Syeikh Shaduq telah kita ketahui ketika kita membaca biografi ayahnya yang bernama Ali bin Babawaeh. Ia dilahirkan berkat doa Imam Mahdi a.s. pada tahun 311 H. Nama lengkapnya adalah Muhammad bin Ali bin Babawaeh Al-Qomi. Ayahnya --seperti telah kita ketahui bersama-- adalah salah seorang ulama kaliber yang hidup di Qom. Ketika Muhammad masih muda dan setelah ia berhasil menguasai ilmu-ilmu mukadimah yang diperlukan, ia mempelajari ilmu hadis dan fiqih dari ulama-ulama besar yang ada di Qom kala itu, seperti ayahnya sendiri, Muhammad bin Hasan bin Walid (salah seorang faqih kenamaan), Ahmad bin Ali bin Ibrahim Al-Qomi dan Husein bin Idris Al-Qomi. Di masa Syeikh Shaduq, Iran secara keseluruhan dikuasai oleh dinasti Alu Buyeh yang menganut mazhab Syi’ah. Hal ini memberikan kesempatan emas kepadanya untuk mengadakan kunjungan kepada ulama-ulama kaliber yang hidup di luar kota Qom dan belajar dari mereka. Ia tidak menyia-siakan kesempatan emas tersebut.

Pada tahun 347 H., ia mempelajari ilmu hadis dari Abul Hasan Muhammad bin Ahmad bin Ali Al-Asadi di Rei. Pada tahun 352 H., ia juga belajar hadis dari ulama-ulama kota Nisyabur, seperti Abu Ali Husein bin Ahmad Al-Baihaqi dan Abdurrahman Muhammad bin Abdus. Begitu juga, di kota Marv ia mempelajari hadis dari ulama-ulama kaliber seperti Abul Hasan Muhammad bin Ali bin Faqih dan Abu Yusuf Rafi’ bin Abdillah yang ia pernah mempelajari hadis di Kufah, Makkah, Baghdad, Balkh dan Sarakhs.

Pada tahun 347 H., atas permintaan Ruknud Daulah Ad-Dailami ia menetap di Rei dan menjadi pemimpin para pengikut Syi’ah di seluruh dunia dalam segala bidang.

Syeikh Shaduq hidup ketika masyarakat Syi’ah secara umum memiliki kebebasan yang relatif luas sehingga ia dapat mengadakan kunjungan ke berbagai daerah dengan leluasa dalam rangka menyebarkan ajaran-ajaran Ahlul Bayt a.s. dan meluruskan segala isu miring tentang Syi’ah yang berkembang di tengah-tengah masyarakat kala itu.

Karena keagungan pribadi dan spiritual yang telah menjadi darah dagingnya dan keluasan ilmunya dalam bidang hadis, Syeikh Shaduq dijuluki dengan ra`îsul muhadditsîn.

Guru-gurunya

Syeikh Shaduq pernah belajar dari guru-guru kalilber yang tak terbilang banyaknya. Syeikh Abdurrahim Rabbani Asy-Syirazi hanya menyebutkan 252 gurunya. Di sini akan disebutkan 16 orang dari mereka yang banyak dikenal oleh pakar-pakar Islam:

1.      Ali bin Babawaeh Al-Qomi, sang ayah.

2.      Muhammad bin Hasan bin Walid.

3.      Ahmad bin Ali bin Ibrahim Al-Qomi.

4.      Ali bin Muhammad Al-Qazvini.

5.      Ja’far bin Muhammad bin Syadzan.

6.      Ja’far bin Muhammad bin Qaulawaeh Al-Qomi.

7.      Ali bin Ahmad bin Mahziyar.

8.      Abul Hasan Al-Khayuthi.

9.      Abu Ja’far Muhammad bin Ali bin Aswad.

10.  Abu Ja’far Muhammad bin Ya’kub Al-Kulaini.

11.  Ahmad bin Ziyad bin Ja’far Al-Hamadani.

12.  Ali bin Ahmad bin Abdillah Al-Qaraqi.

13.  Muhammad bin Ibrahim Al-Laitsi.

14.  Ibrahim bin Ishak Ath-Thaliqani.

15.  Muhammad bin Qasim Al-Jurjani.

16.  Husein bin Ibrahim Al-Maktabi.

Murid-muridnya

Di antara murid-murid yang pernah menimba ilmu dari Syeikh Shauq adalah:

1.      Syeikh Mufid.

2.      Muhammad bin Muhammad bin Nu’man.

3.      Husein bin Abdillah.

4.      Harun bin Musa At-Tal’akburi.

5.      Husein bin Ali bin Babawaeh Al-Qomi, saudaranya.

6.      Hasan bin Husein bin Babawaeh Al-Qomi, keponakannya.

7.      Hasan bin Muhammad Al-Qomi, pengarang kitab Târîkh-e Qom (sejarah kota Qom.

8.      Ali bin Ahmad bin Abbas An-Najasyi, ayah seorang Rijali agung Najasyi.

9.      Sayid Murtadha Alamul Huda.

10.  Sayid Abul Barakat Ali bin Husein Al-Jauzi.

11.  Abul Qasim Ali Al-Khazzaz.

12.  Muhammad bin Sulaiman Al-Hamrani.

Karya-karyanya

Syeikh Thusi dalam salah satu bukunya menyebutkan 300 jilid buku hasil karya Syeikh Shaduq dan dalam Al-Fehrestnya mencatat 40 jilid buku. Sementara Syeikh Najasyi mencatat 189 jilid buku hasil karyanya. Dengan demikian, dapat diambil sebuah kesimpulan bahwa seluruh karya Syeikh Shaduq berjumlah ± 350 jilid buku. Sebagai contoh di sini akan disebutkan sebagian dari buku-buku tersebut:

1.      Man Lâ Yahdhuruhul Faqîh. Buku ini adalah kumpulan hadis-hadis yang memuat hukum-hukum syari’at lengkap yang ditulis di sebuah desa bernama “Ilaq”. Buku ini sangat terkenal di kalangan fuqaha` dan banyak dari mereka yang menulis syarah atas buku tersebut. Syeikh Shaduq bercerita tentang sejarah penulisan buku di mukadimahnya: “Ketika aku ditakdirkan harus berdomisili di negeri orang, seorang keturunan Rasulullah SAWW yang bernama Abu Abdillah dan lebih dikenal dengan sebutan Ni’mat datang menemuiku. Aku sangat gembira ketika bertemu dengannya. Ia menceritakan sebuah buku karya Muhammad bin Zakaria Ar-Razi tentang ilmu kedokteran yang akhirnya diberi nama Man Lâ Yahdhuruhuth Thabîb (ketika dokter tidak ditemukan) kepadaku. Buku ini dapat diketahui fungsi dan urgensitasnya ketika kita tidak menemukan seorang dokter pun (yang mampu mengobati peyakit kita). Akhirnya ia meminta kepadaku untuk menulis sebuah buku tentang fiqih yang memuat halal dan haram dan dapat dijadikan sandaran oleh siapa pun dalam mencari hukum agama. Kuterima tawarannya dan buku itu kutulis dengan membuang sanad-sanad hadis yang ada”.

2.      Kamâluddin wa Itmâmun Ni’mah.

3.      Al-Âmâlî.

4.      Shifâtusy Syî’ah.

5.      ‘Uyûn Akhbârir Ridhâ a.s.

6.      Mushâdafatul Ikhwân.

7.      Al-Khishâl.

8.      ‘Ilalusy Syarâ`i’.

9.      At-Tauhîd.

10.  Itsbât Wilâyah Ali a.s.

11.  Al-Ma’rifah.

12.  Madînatul ‘Ilm.

13.  Al-Muqni’.

14.  Ma’ânil Akhbâr.

15.  Masyîkhatul Faqîh.

16.  ‘Uyûnul Akhbâr.

Ada satu cerita menarik dari kehidupan Syeikh Shaduq. Yaitu ketika ia mengadakan dialog dengan Ruknud Daulah Ad-Dailami. Syeikh Ja’far Ar-Razi bercerita: “Ketika Syeikh Shaduq memasuki istana, Ruknud Daulah dengan segala penghormatan mendudukkannya di sisinya. Terjadilah perdebatan sengit antara dia dan ulama Ahlussunnah yang hadir ketika itu dan ia dapat membuktikan kebenaran Syi’ah di hadapan mereka. Ketika perdebatan menyangkut masalah imamah, Ruknud Daulah bertanya kepadanya: Wahai Syeikh, dari mana mazhab Syi’ah yakin bahwa para imam pengganti Rasulullah SAWW adalah 12 orang?”

Ia menjawab: “Wahai yang mulia, imamah adalah salah satu kewajiban yang telah ditentukan oleh Allah SWT. Setiap kewajiban tentunya memiliki jumlah yang sudah ditentukan. Contohnya, dalam sehari dan semalam Ia mewajibkan 17 rakaat shalat, mewajibkan zakat untuk sebagian harta, mewajibkan puasa Ramadhan hanya sekali dalam setahun, dan mewajibkan haji hanya sekali dalam seumur. Begitu juga Ia membatasi jumlah imam dalam 12 orang. Sebagaimana kita tidak logis bertanya mengapa jumlah shalat wajib harian hanya 17 rakaat tidak lebih, begitu juga berkenaan dengan jumlah imam, sangat tidak logis kita bertanya mengapa hanya 12 orang tidak lebih? Jumlah para imam tidak ditentukan di dalam Al Quran. Yang Ia wajibkan hanyalah menaati ulul amr  dan Rasulullahlah SAWW yang menerangkan (jumlah) mereka”.

Ruknud Daulah menerima argumentasi Syeikh Shaduq dan memujinya karena itu.

Wafatnya

Syeikh Shaduq wafat pada tahun 381 H. dalam usianya yang ke-70-an lebih. Ia dikebumikan di kota Rei, Iran dan hingga sekarang kuburannya masih dizarahi oleh masyarakat Syi’ah dari berbagai penjuru dunia.