Hari Kebangkitan




Hari Kebangkitan Dan Posisinya Dalam Islam

Salah satu dasar dan pondasi keyakinan dalam agama Islam adalah keyakinan terhadap Ma’ad atau hari kebangkitan.[1] Semua manusia yang datang dan pergi silih berganti, sesaat ia menetap dan  hidup. Semua makhluk yang tinggal di alam lain tak terkecuali akan hidup kembali dan hadir di hadapan pengadilan Tuhan. Mereka akan mendapatkan balasan atau siksaan yang abadi, surga ataukah neraka.

Beriman kepada hari kebangkitan merupakan syarat dan konsekuensi seorang muslim. Dengan demikian, siapapun yang mengingkarinya, ia tidak tergolong orang Islam.

Semua utusan Tuhan –dari Adam sampai Muhammad SAWW- selalu menjelaskan dasar keimanan terhadap hari kebangkitan setelah menetapkan keimanan terhadapap Tuhan. Mereka menyeru sekalian manusia untuk beriman kepada kehidupan akhirat.

Iman Kepada Hari kebangkitan setelah Beriman Kepada Tuhan

Dalam Al-Qur’an banyak terdapat ayat-ayat yang mengilustrasikan kehidupan pasca kematian, hari kebangkitan, cara menghidupakn kembali orang-orang yang telah mati, timbangan, perhitungan, dan masalah-masalah lain yang berkaitan dengan kehidupan setelah kematian.[2] Jumlah yang tak sedikit tersebut mengindikasikan posisi agung keyakinan terhadap hari kebangkitan dalam Islam dan peran aktifnya dalam menciptakan kebahagiaan manusia. Oleh karena itu, sering kali didapati keimanan kepada hari kebangkitan disebut tanpa terpisah setelah penyebutan keimanan kepada Tuhan. Seperti yang kita baca dalam ayat 62 surah al-Baqarah: “Sesungguhnya orang-orang Mukmin, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani, dan orang-orang Sabiin, siapa saja di antara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kebangkitan dan beramal saleh, mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kehawatiran terhadap mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati”.[3]

Sekelompok ayat menjelaskan dampak-dampak pahit dan mengerikan dari pengingkaran akan hari kebangkitan,[4] sekelompok lagi menjelaskan kebahagiaan[5] dan kesengsaraan abadi,[6] sebagaimana Al-Qur’an dengan pelbagai metode telah memaparkan hubungan dan relasi antara perbuatan baik dan buruk dengan balasan ukhrawinya. Al-Qur’an dengan berbagai metode menjelaskan bahwa terjadinya hari kebangkitan adalah hal yang mungkin terjadi[7] dan sebuah peristiwa yang lazim.[8]

Urgensi Hari Kebangkitan

Argumentasi Urgensi Hari Kebangkitan

Dalam beberapa ayat, Al-Qur’an membawakan argumentasi pentingnya hari kebangkitan. Untuk itu kami akan meringkas argumentasi itu sebagai bentuk pengenalan saja buat para pembaca budiman.

1.  Dunia Sia-Sia Tanpa Hari Kebangkitan

Kehidupan dunia tak mungkin menjadi tujuan akhir dari penciptaan manusia. Karena kehidupan dunia bersifat temporal, singkat dan dipenuhi oleh pelbagai kesengsaraan, rintangan, dan pada akhirnya ketiadaan. Oleh karena itu, jika hari kebangkitan tidak terjadi, niscaya kehidupan manusia hanya terbatas di dunia saja, dan penciptaannya akan sia-sia belaka. “Apakah kamu mengira, bahwa Kami menciptakanmu dengan sia-sia belaka, dan bahwa kamu  tidak akan dikembalikan kepada Kami?.” (QS. Al-Mu`minûn: 115) 

2. Hari Kebangkitan Konsekuensi Keadilan Tuhan

Di dunia ini terkadang pribadi-pribadi baik dan orang pembuat durjana berada pada satu tingkat kehidupan. Mereka masih dapat menikmati kenikmatan dunia, bahkan terkadang para pelaku durjana memiliki taraf kehidupan lebih baik dan lebih mapan. Keadilan Tuhan mengatakan mereka harus dibedakan, dan setiap dari mereka harus dapat menikmati hasil amal perbuataan mereka masing-masing. Karena hal ini tak bisa didapatkan di dunia, maka butuh dan harus ada alam lain selain alam ini.

“Apakah orang-orang yang berbuat kejahatan itu menyangka  bahwa Kami akan menjadikan mereka sama seperti orang-orang yang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, di mana  kehidupan dan kematian mereka sama satu sama lain? Amat buruklah apa yang mereka sangka dan hukumi itu”. (QS. Al-Jâtsiyah: 21)

3. Hari Kebangkitan Konsekuensi Rahmat Tuhan

Tuhan memiliki rahmat yang luas dan tak terbatas. Konsekuensi dari rahmat  yang tak  terbatas ini adalah anugerah dan rahmat Tuhan tidak akan terhenti dan terputus karena sekedar kematian, dan senantiasa nikmat yang diterima oleh para hamba-hamba saleh tetap terjaga, dan mengalir.

“Ia telah menetapkan atas diri-Nya kasih sayang. Ia sungguh-sungguh akan menghimpun kamu pada hari kiamat yang tidak ada keraguan terhadapnya”. (QS. Al-An’âm: 12)

Motif Dan Sangkalan Para Pengingkar Hari Kebangkitan

Mayoritas manusia menginginkan hidup secara bebas dan tidak terkekang oleh beban apapun, sehingga ia dapat mengekspresikan segala hal yang didengar, dilihat, dan diucapkan. Namun di sisi lain, keyakinan terhadap hari kebangkitan dan adanya pengadilan di sana, serta balasan terhadap amal perbuatan yang telah dilakukan, menutup jalan manusia untuk merealisasikan obsesinya tersebut. Ketentuan-ketentuan dan undang-undang telah membatasi ruang lingkup dan geraknya. Atas dasar ini, manusia mengingkari dan menolak kabar para nabi tentang adanya hari kebangkitan kelak di Kemudian hari.[9]

“Apakah manusia mengira bahwa Kami tidak akan mengumpulkan (kembali) tulang belulangnya? Bukanlah demikian, sebenarnya Kami kuasa menyusun (kembali) jari jermarinya dengan sempurna/menyamakan sidik jari mereka? Manusia tidak meragukan kekuasaan kami (untuk membangkikan kembali mereka kelak di kemudian hari). Akan tetapi, mereka ingin (bebas dan menampakkan ketidaktakutan akan hari itu) berbuat maksiat terus-menerus sepanjang umurnya. (QS. Al-Qiyâmah: 3-5).

Mengikuti hawa nafsu adalah penyebab keingkaran terhadap hari kebangkitan, dan dengan berbagai justifikasi mereka menolak keberadaannya. Berdasarkan ayat-ayat Al-Qur’an penentangan dan pengingkaran mereka ini beraneka-ragam. Di antaranya mereka mengatakan:

1. Tidak ada argumentasi atas terjadinya hari kebangkitan.[10]

2. Hari kebangkitan merupakan salah satu kebohongan dan dongeng orang-orang terdahulu.[11]

3. Hari kebangkitan adalah kebohongan dengan mengatas namakan Tuhan, dan ucapan ngelantur.[12]

4. Menghidupkan kembali orang-orang yang telah mati adalah sihir dan tipu daya saja.[13]

5. Jika hari kebangkitan memang betu-betul ada, bangkitkanlah leluhur kita.[14]

6. Menghidupkan kembali orang-orang yang mati adalah pekerjaan yang sangat sulit.[15]

7. Menghidupkan kembali orang-orang yang mati berada di keluar kekuasaan Tuhan.[16]

8. Tuhan tidak mengetahui organ-organ tubuh manusia yang telah terpisah. Oleh karena itu, Ia tak mampu untuk membangkitkan kembali manusia-manusia yang sudah mati.[17]

Al-Qur’an dalam menjawab berbagai kritikan dan sangkalan ini, mengingatkan manusia akan kekuasaan absolut dan komprehensif Tuhan. Ia berfirman, ”Mereka tidak mengenal Tuhan sebagaimana yang seharusnya dikenal.[18]

Ia yang memiliki kekuasaan untuk menciptakan langit, pastilah memiliki kemampuan pula untuk membangkitkan orang yang sudah mati.[19] Ia yang pada awalnya mampu memberi kehidupan,  pada kali kedua tentu mampu melakukannya lagi.[20] Dan Tuhan Maha Mengetahui mayat-mayat yang terpendam dalam bumi.[21] [22]

Hakikat Kematian

Apakah kematian adalah ketiadaan dan kesirnaan atau perpindahan dari satu alam ke alam lain?

Pertanyaan ini merupakan pertanyaan mendasar dan utama bagi setiap manusia, dan setiap manusia selalu mencari jawabannya.

Jalan terbaik untuk mendapatkan jawaban atas soal tersebut adalah merujuk pada Al-Qur’an. Al-Qur’an dalam hal ini memakai kata tawaffâ. Di dalam berbagai tempat Al-Qur’an selalu menggunakan kata tawaffâuntuk mengungkapkan kematian.[23] Tawaffâ secara linguistik berarti pengambilan sesuatu secara utuh dan sempurna. Di saat manusia menarik sesuatu dengan betul-betul dan utuh sehingga tak ada yang tersisa, dalam bahasa Arab diungkapkan dengan kata tawaffâ. Tawaffaitul Mal (aku telah ambil seluruh harta bendaku tanpa kurang dan lebih).[24]

Dalam menjawab mereka-mereka yang berasumsi bahwa manusia ketika telah mati ia dikebumikan, kemudian hancur dan sirna, lalu dengan dalil ini mereka mengingkari hari kebangkitan,[25] Al-Qur’an menjawab mereka seraya berkata, ”Katakanlah, “Malaikat maut yang diserahi tugas (untuk mencabut nyawamu) akan mematikan kamu; kemudian hanya kepada Allah lah kalian akan dikembalikan”. (QS. As-Sajdah: 11).[26]

Dari kelompok ayat yang memakai kata tawaffâ dapat kita simpulkan bahwa berdasarkan perspektif Al-Qur’an kematian adalah pengambilan kembali. Dengan kata lain, ketika manusia mati semua keperibaian dan eksistensinya berada di tangan para pesuruh Allah (malaikat pencabut nyawa), dan mereka telah mengambil manusia. Dari kelompok ayat ini kita dapat mengambil 3 poin berikut:

1. Kematian bukanlah kesirnaan dan ketiadaan, akan tetapi perpindahan dari alam satu pada yang lain, dan manusia dengan cara lain melanjutkan kehidupannya di sana.

2. Realitas manusia yang sering diungkapkan dengan kata “saya” bukanlah badan dan organ-organ tubuhnya. Karena badan dan organ-organ tubuh yang lain ketika mati tidak dapat dipindah dan dicabut oleh para pesuruh Allah. Ia menetap di alam ini dan secara bertahap akan sirna. Realitas manusia yang sering dikatakan dengan kesayaan adalah nafs atau ruh sebagaimana telah diungkapkan oleh Al-Qur’an.

3. Ruh manusia dari sisi maqam lebih tinggi dan utama dari materi dan hal-hal material. Dengan kematian, ruh akan pindah ke alam lain yang sesuai dengannya. Dengan kata lain, ketika mati, hakikat metafisik itu akan kembali ke alamnya.[27]

Hubungan Kematian dengan Tidur

Poin yang perlu kita perhatikan di sini adalah Al-Qur’an juga mengungkapkan tidur dengan kata tawaffâ. “Dan Ialah yang menidurkan kamu di malam hari dan Ia mengetahui apa yang kamu kerjakan pada siang hari. Kemudian Ia membangunkanmu pada siang hari untuk disempurnakan umurmu yang telah ditentukan. Kemudian kepada Allahlah kalian akan kembali, lalu Ia memberitahukan padamu apa yang telah kamu kerjakan”. (QS. Al-An’âm: 60)

Dengan dipakainya kata tawaffâ ini, berarti ada indikasi keserupaan relatif antara kematian dan tidur. Ayat  berikut ini lebih gamblang lagi menjelaskan dan mengungkap keserupaan di antara keduannya. “Allah yang memegang (mengambil secara utuh) ruh manusia di saat kematiannya, dan memegang ruh orang yang belum mati di saat tidurnya, maka Ia tahan jiwa orang yang telah ditetapkan kematiannya dan Ia melepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang telah ditentukan. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi mereka yang berpikir”. (QS. Az-Zumar: 42)

Dalam sebuah riwayat disebutkan Imam Baqir a.s ditanya tentang kematian, apakah kematian itu? Beliau menjawab, ”Ia adalah tidur yang setiap malam mendatangimu, hanya saja ia sangat panjang masanya”.[28]

Dari kompilasi antara ayat-ayat dan beberapa riwayat tadi, dapat kita ketahui bahwa kematian adalah sebuah kondisi mirip tidur, sedang kebangkitan seperti keterjagaan dari tidur. Tidur adalah kematian yang singkat dan sebentar, kematian adalah tidur yang panjang dan lelap sekali. Dan dalam dua tahapan tersebut ruh manusia berpindah dari alam satu pada yang lain. Dengan satu perbedaan, kalau manusia terjaga dari tidur ia tidak menyadari dan memperhatikan kalau pada hakikatnya ia telah pulang dari sebuah perjalanan, sedang dalam kematian tidaklah demikian; segala sesuatu jelas baginya.[29]

Alam Kubur (Barzakh)

Dari ayat-ayat Al-Qur’an dan riwayat-riwayat dapat dipahami bahwa manusia setelah mati tidak akan memasuki hari kebangkitan secara langsung. Namun, ia akan singgah di alam antara dunia dan akhirat yang bernama Barzakh.

Barzakh secara linguistik bermakna jarak (pemisah) antara dua sesuatu. Oleh karena itu, jarak dan pemisah antara kehidupan dunia  dan Kiamat dinamakan Barzakh.[30]

Kata ini sekurang-kurangnya diulang sebanyak tiga kali dalam Al-Qur’an. Salah satu berkaitan dengan masalah alam pemisah antara dunia dan hari kebangkitan.

“Hingga apabila datang kematian kepada seorang dari mereka, ia berkata, ”Ya Tuhanku, kembalikanlah aku (ke dunia) agar aku berbuat amal saleh terhadap yang telah aku tinggalkan”. Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada dinding sampai hari mereka dibangkitkan. (QS. Al-Mukminûn: 99).[31]

Ayat ini menggambarkan bahwa setelah mati manusia mengungkapkan rasa penyesalannya, dan meminta dari Tuhan untuk mengembaliknnya lagi ke dunia. Namun keinginan mereka tersebut hanya sekedar isapan jempol belaka.

Dari berbagai ayat Al-Qur’an lain juga dapat kita pahami bahwa ada kehidupan antara kematian dan hari kebangkitan, dan secara utuh manusia akan merasakan kehidupan itu; ia berbicara dan mendengar, mendapatkan kenikmatan dan merasakan siksaan serta menikmati kehidupan penuh bahagia atau kehidupan penuh siksa. Ayat-ayat yang jumlahnya sekitar 15 ayat ini terbagi dalam beberapa katagori[32]:

1. Ayat-ayat yang “merekam” dialog yang terjadi antara para hamba-hamba saleh dan orang-orang durhaka dengan para malaikat. Dialog tersebut terjadi berlangsung selepas kematian mereka.“Sesungguhnya orang-orang yang diambil nyawanya oleh  malaikat dalam keadaan menganiaya diri sendiri, malaikat bertanya, ”Dalam keadaan bagaimana kamu ini? Mereka menjawab, ”Kami orang-orang tertindas di negeri (Makkah)”. Para malaikat berkata lagi, ”Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah di dalamnya?” Tempat orang-orang itu di Neraka Jahanam, dan Jahanam itu seburuk-buruk tempat kembali”. (QS. An-Nisâ`: 97).

Ayat ini berkenaan dengan orang-orang yang hidup di lingkungan non-kondusif, dan mereka menjadikan hal tersebut sebagai alasan. Para malaikat setelah mencabut nyawa mereka, berdialog dengan mereka, dan para malaikat mengatakan justikasi mereka itu cacat alias tak bisa diterima. Karena usaha dan upaya terkecilpun seperti berhijrah tidak mereka lakukan.

2. Ayat-ayat yang menunjukkan bahwa para malaikat setelah berdialog dengan para saleh berkata kepada mereka, “Dari sekarang nikmatilah kenikmatan Ilahi”. Atas dasar ayat-ayat ini, Mukminin yang beamal saleh sebelum terjadinya Kiamat, dapat menikmati kenikmatan Ilahi.

“Orang-orang yang diwafatkan dalam keadaan baik oleh para malaikat, mereka mengatakan,  “Salamullah Alaikum (salam sejahtera bagi kalian)” masuklah kamu ke dalam surga itu karena apa yang telah kalian kerjakan”. (QS. An-Nahl: 32).[33]

3. Kelompok ayat yang secara langsung menjelaskan kehidupan bahagia yang dinikmati hamba-hamba saleh dan siksaan yang diderita para toleh di alam Barzakh.

“Janganlah kalian mengira orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati. Akan tetapi, mereka itu hidup di sisi Tuhannya dan mendapatkan rizki. Mereka dalam keadaan gembira disebabkan karunia Allah yang diberikan kepada mereka, dan mereka bersenang hati terhadap orang yang tinggal di belakang yang belum menyusul mereka, bahwa tidak ada kehawatiran terhadap mereka dan tidak pula mereka bersedih hati”. (QS. Âli ‘Imrân: 169-170).[34]

Ayat ini menggambarkan secara gamblang bahwa orang-orang yang mati di jalan Allah itu hidup dan mendapatkan kenikmatan dari Tuhan. Sebagaimana ayat ini juga menggambarkan bahwa mereka (orang-orang yang telah mati) sadar dan tahu akan keadaan para manusia yang belum mati dan yang akan menyusul mereka.

“Fira’un beserta kaumnya dikepung oleh azab yang sangat buruk. Kepada mereka dinampakkan neraka pada waktu pagi dan petang, dan pada hari terjadinya Kiamat (dikatakan kepada malaikat) “Masukkanlah Fira’un dan kaumnya ke dalam azab yang yang sangat keras”. (QS. Al-Mukmin: 45-46).

Dari ayat tadi dapat kita pahami bahwa Fira’un dan kaumnya di azab dengan dua macam siksaan:pertama, azab yang buruk yang terjadi sebelum kiamat, dan hal itu dengan cara didatangkannya api neraka sebanyak dua kali dalam setiap harinya tanpa harus mereka masuk ke dalamnya, dan kedua, siksaan paling dahsyat yang akan mereka rasakan kelak di hari kebangkitan.

Pada azab yang pertama disebutkan kata-kata pagi dan petang, berbeda dengan azab yang kedua. Hal ini disebabkan azab pertama berkaitan dengan alam Barzakh dan di alam Barzakh mengikuti dunia yang memiliki waktu pagi dan sore, minggu, bulan serta tahun, dan hal itu jelas tidak kita dapati dalam alam akhirat.

Ilustrasi Alam Kubur Dalam Riwayat

Terdapat riwayat-riwayat yang tak sedikit yang menjelaskan alam Barzakh, kondisi, dan undang-undang yang berlaku di sana. Salah satu dari riwayat-riwayat tersebut yang paling kompilt dalam merekam dan menjelaskannya adalah riwayat yang memiliki sanad yang beragam dan banyak didapati dalam kitab-kitab hadis. Riwayat ini dînukil dari Amirul Mukminin Ali as.

“Kala tiba pada manusia hari terakhir dari kehidupan yang sekaligus awal dari kehidupan hari kebangkitan, istri, anak, harta dan amal perbuatan akan menjelma sebagai sebuah makhluk dan hadir di hadapannya. Dalam hal ini manusia yang baru  mati akan menghadapi harta dan berkata, ”Demi Allah, aku sangat berambisi untuk mendapatkanmu. Sekarang katakan padaku manfaat apa yang dapat aku ambil darimu?” Harta menjawab, ”Ambillah kain kafan dariku, dan bawalah bersertamu”. Kemudian ia menghadap makhluk jelmaan anaknya seraya berkata, ”Demi Allah, aku sangat cinta dan selalu melindungi kalian, lalu apa yang dapat aku manfaatkan dari kalian?” Mereka menjawab, ”Kami hanya sanggup mengiringi dan mengantarmu sampai ke kuburan dan kami akan menguburmu di sana”. Akhirnya ia pun menghadap makhluk jelmaan amal dan berkata, ”Demi Allah, dulu aku berpaling darimu dan dengan segala kesulitan dan rintangan aku mendapatkanmu, sekarang beritahukanlah padaku apa yang dapat aku manfatkan darimu?” Amal berkata, ”Aku akan menemanimu dan menyertaimu di alam kubur sampai hari kiamat nanti, aku akan senantiasa bersamamu sampai kamu bertemu Tuhan”.[35]

Nah, ketika manusia yang mati itu tergolong wali Allah (orang saleh), akan datang dan hadir di sisinya makhluk terbagus, beraroma wangi, berpakaian rapi, serya berkata, ”Kabar gembira atasmu (selamat atasmu) yang telah datang di tempat peristirahatan dari segala kesusahan, selamat datang dan menikmati hidangan surga, dan rumah abadi dan terbaik”. Orang saleh yang baru mati itu bertanya, ”Siapakah Anda gerangan?” Ia menjawab, ”Aku adalah amal salehmu”. Kemudian dikatakan padanya, ”Maka engkau adalah penunjuk jalannya dari dunia menuju surga”. Kemudian ia berharap dari orang-orang yang memandikan dan mengkafaninya untuk mempercepat pekerjaaan mereka.

Ketika mayit itu diletakkan di dalam kubur, dua malaikat datang. Mereka adalah para penanya di alam kubur. Rambut mereka sepanjang tubuh mereka, kaki mereka menancap kokoh di atas bumi, suara mereka seperi halilintar, mata mereka tajam bagai kilatan petir. Mereka menanyakannya, ”Siapakah Tuhanmu? Siapakah nabimu? Dan apa agamamu?” Ia menjawab, “Allah adalah Tuhanku, Muhammad SAWW adalah nabiku  dan Islam adalah agamaku”.

Kemudian kedua malaikat tadi berdo’a supaya Mukmin tadi ditetapkan pada apa yang telah ia sukai (yakini), dan ini merupakan firman Allah SWT dalam surah Ibrahim ayat ke 27. Allah akan menetapkan hamba-hamba yang beriman dengan perkataan yang tetap pada kehidupan dunia.[36] Kemudian liang kubur itu melebar selabar dan sejauh mata memandang, dan di sana terdapat pintu dari pintu surga, dan dikatakan padanya, ”Tidurlah dengan penuh ketenangan seperti perjaka yng terlena dalam kenikmatan”. Dan hal ini adalah firman Allah yang berkata, ”Penduduk-penduduk surga pada hari itu paling baik tempat tinggalnya dan paling indah peristirahatannya”. (QS. Al-Furqân: 24).[37]

Dan jika mayit itu adalah musuh Tuhan, akan datanglah padanya makhluk paling dekil dan paling jelek seraya berkata, ”Selamat merasakan neraka dan apinya yang menyala-nyala”. Pada saat itu ia meminta dan berharap orang-orang yang memandikan dan yang membawanya untuk memeprlambat pekerjan mereka.

Dan ketika masuk ke liang kubur para penanya di alam kubur datang dan mencampakkan kafan yang dipakainya seraya berkata, ”Katakan siapa Tuhamu? Siapa nabimu? Dan apa agamamu?” Ia menjawab, “Aku tidak tahu”. Mereka berkata, ”Kamu tidak tahu dan tersesat”. Kemudian dengan pentungan besi mereka memukulnya dengan pukulan yang semua binatang di dunia merasa cemas dan takut kecuali jin dan manusia. Ketika itu terlihatlah pintu dari pintu-pintu neraka dan mereka berkata, ”Tidurlah dengan kondisi terburuk”. Kondisi di mana kesempitan membuat ia berada seperti ujung tombak seakan-akan otaknya keluar dari kuku dan daging mereka. Ular, kalajengking dan binatang-binatang bawah tanah mengepung dan menggigitnya. Mayit akan tinggal dengan kondisi seperti ini sampai Tuhan membangkitkannya dari kubur. Masa-masa ini ia lalui dengan penuh kesengsaraan sampai-sampai ia berharap hari kebangkitan cepat terjadi.[38]

Pertanyaan dan Siksa Kubur

Bedasarkan  riwayat tadi, di tambah riwayat-riwayat lain, malaikat Munkar dan Nakir akan mendatangi orang yang baru mati, mereka akan menanyai masalah Akidah, seperti Tauhid, agama dan nabi yang dipilih olehnya. Pertanyaan-pertanyaan tersebut seperti kejadian-kejadian yang lain akan terjadi setelah kematian dan di alam kubur. Dan hanya mereka yang telah mati yang mampu menjelaskan ilustrasi alam kubur itu sendiri.

Sebagaimana dalam riwayat-riwayat yang beraneka ragam disebutkan[39] bahwa pertanyaan dalam kubur khusus bagi Mukminin dan kaum zalim, dan tidak akan mencakup orang-orang lemah dan yang berada pada posisi tengah-tengah antara kedua kelompok tersebut. Allamah al-Kulaini dalam al-Kâfî meriwayatkan, ”Dalam alam kubur akan terjadi pertanyaan dan interogasi. Hal ini mencakup orang-orang yang memiliki keimanan yang murni dan orang-orang yang memiliki kekafiran yang murni pula. Sedang orang yang lain akan dibiarkan pada keadaan mereka sendiri dan tak akan ditanyai”.[40]

Ali bin Ibrahim al-Qumi menukil dari Dzaris Kannasi dalam tafsirnya, ”Aku bertanya kepada Imam Bâqir as, ”Aku persembahkan jiwaku padamu, orang-orang yang bertauhid dan mengakui kenabian Muhammad SAWW namun mereka berbuat dosa, tak beriman, dan tidak mengenal Anda, bagaimanakah keadaan mereka setelah kematian mereka?” Imam berkata, ”Mereka akan menetap di alam kubur, jika mereka beramal saleh dan tidak menunjukkan permusuhannya dengan kami Ahlul Bayt, maka pintu surga akan dibuka untuknya, dan angin kebahagian akan bertiup ke arahnya, sampai ia bertemu dengan Tuhannya. Tuhan akan memperhitungkan amal baik dan buruk yang dilakukannya. Mereka adalah orang yang nasibnya bergantung pada Tuhan semata. Orang-orang lemah, orang-orang ediot dan dungu, anak-anak kaum Mukmin yang mati dalam keadaan belum baligh juga memiliki keadaan yang sama dengan mereka”.[41]

Pertemuan Orang yang Meninggal Dunia dengan Sanak Keluarganya

Allamah al-Kulaini dalam al-Kâfî menukil dari Imam Shâdiq as, ”Mukmin setelah mati akan berjumpa dengan kerabat dan familinya, dan amal baik yang dilakukan kerabat akan ditampakkan pada mereka, sedang amal buruk yang dilakukan tidak dibeberkan kepadanya”.

Pada riwayat lain disebutkan, ”Tiada Mukmin dan kafir (yang meninggal dunia) kecuali pada setiap siang datang dan menjumpai sanak keluarganya. Ketika Mukmin melihat keluarganya melakukan kebaikan, ia pun bersukur dan memuji terhadap Tuhan, sedang kafir saat melihat keluarganya melaksanakan kebaikan, ia menyesal dan timbul iri pada dirinya”.

Riwayat yang tak sedikit juga menyebutkan hal yang sama seperti yang terdapat dalam dua riwayat yang kita bawakan tadi. Sebagaian dari riwayat tersebut menjelaskan bahwa ruh orang-orang yang sudah mati akan menjelma menjadi burung-burung nan lembut yang hinggap di dinding rumah keluarganya, dan mereka mengetahui apa yang dilakukan oleh sanak keluarganya. Hal ini merupakan salah satu dari bagian pembahasan Tajassumul Arwah (penjelmaan arwah).

Kiamat dalam Al-Qur’an[42]

Satu-satunya jalan untuk memahami kejadian dan kondisi yang akan terjadi di hari kebangkitan adalah merujuk pada Al-Qur’an dan tuntunan para ma’shûm. Dengan memperhatikan ayat-ayat Al-Qur’an dapat dipahami bahwa terjadinya hari kiamat akan seiring dengan terjadinya kerusakan dan kehancuran sistem alam ini dimana alam ini akan digulung dan muncullah alam baru. Kala itu manusia dari awal penciptaan sampai akhir penciptaan akan hidup dan bangkit kembali, dan akan melihat hasil perbuatan yang telah dilakukannya di dunia. Berikut ini sekilas apa yang akan terjadi di alam itu sesuai dengan penuturan ayat-ayat Al-Qur’an.

Kehancuran Bumi, Gunung-gunung dan Tumpahnya Lautan

Di bumi akan terjadi gempa yang begitu dahsyat,[43] dan ia akan memuntahkan segala isi yang dikandungnya.[44] Bumi akan hancur berkeping-keping,[45] lautan akan terpecah dan tumpah ruah,[46]gunung-gunung akan bergerak[47] dan berbentuaran lalu hancur lebur,[48] dan Kemudian akan menjelma seperti tumpukan pasir,[49]  berhamburan laksana kapas[50] yang beterbangan di udara,[51] dan gunung-gunung itu berhamburan di langit sehingga hanya fatamorgana yang tersisa.[52]

Keruntuhan Langit dan Bintang-Bintang

Bulan,[53] matahari,[54] bintang-bintang atau galaksi yang amat besar, bahkan bermilyun-milyun lebih besar dari matahari, akan padam dan meredup,[55] dan tatanan dan gerak mereka akan berantakan.[56]Bulan dan matahari akan menyatu,[57] langit yang seperti atap yang kokoh dan kuat akan runtuh,[58] dan akan terbelah dan terpecah,[59] dan lembarannya akan segera dilipat,[60] bintang-bintang akan menjelma seperti luluhan perak[61], cakrawala alam dipenuhi oleh asap[62]

Tiupan Sangkakala Kematian Pertama

Dalam kondisi yang semacam ini, terompet kematian ditiup, yang membuat apapun yang bernyawa akan mati semua,[63] dan di dunia tak akan didapati satu makhluk hidup pun. Ketakuatan dan kegalauan menghantui setiap orang kecuali mereka yang memahami hakikat wujud dan misterinya, serta mereka yang hatinya tenggelam dan dipenuhi oleh rasa cinta terhadap Tuhan. Merekalah adalah para pribadi mukhlashTuhan.[64]

Tiupan Sangkakala Kehidupan Kedua

Setelah itu terciptalah alam lain yang abadi dan kekal.[65] Alam akan bersinar dengan cahaya Tuhan.[66] Ketika itu sangkakala kedua ditiup,[67] tiupan yang menghidupkan kembali semua manusia sampai hewan sekali pun.[68] Dalam sejenak mereka bangkit dari kematian dan tidur panjang mereka,[69]dengan kegusaran, kegalauan dan ketakutan seperti serangga yang bermunculan dari bumi,[70] dengan cepat[71] menuju dan hadir dalam pengadilan Tuhan.[72] Semua akan berkumpul dalam pentas agung tersebut,[73] dan banyak dari mereka yang berasumsi bahwa mereka hanya satu jam saja singgah di alam kubur, atau sehari, atau beberapa hari.[74]

Tegaknya Keadilan Tuhan dan Terputusnya Hubungan Sanak-Famili dan Sebab-sebab lain

Alam itu adalah alam transparansi yang segala hakikat tampak jelas dan gamblang[75] di hadapan semua orang. Semua akan memahami bahwa hanya pemerintahan Tuhanlah yang ada.[76] Semua orang begitu takut dan kacau-balau sampai-sampai hak bicara pun tak lagi mereka miliki.[77] Setiap orang hanya memikirkan nasib dirinya sendiri; anak lari dari orang tuanya, dan kerabat satu sama lain menjauh dan tidak memperdulikan satu sama lain,[78] dan mata rantai sebab/ hubungan[79] dan keturunan  terputus, persahabatan yang dibina di atas manfaat materi dan setan berubah menjadi permusuhan,[80] dan penyesalan dan ratapan hampir memenuhi hati-hati orang-orang kala itu.[81]

Pengadilan Tuhan

Kala itu terealisasilah pengadilan Tuhan. Amal perbuatan  manusia  akan diperiksa dan dikoreksi,[82]rapot-rapot amal mereka akan dibagikan,[83] dan perbuatan setiap orang akan jelas terpampang sehingga orang lain bertanya, ”Apa yang telah kau lakukan di dunia?”[84]

Dalam pengadilan ini, para malaikat, nabi, dan pribadi pilihan Tuhan akan hadir sebagai saksi,[85]bahkan tangan, kaki, kulit, dan semua anggota badan akan memberikan kesaksian.[86] Perhitungan semua orang akan dilakukan dengan penuh detail, dan akan ditimbang dengan mizan Tuhan[87] serta berdasarkan keadilan mereka akan iadili.[88] Setiap orang akan mendapatkan  hasil dan jerih payahnya.[89] Para hamba yang saleh akan memperoleh pahala mereka.[90] Tidak ada satu orang pun yang menanggung nasib orang lain.[91] Akan tetapi, orang-orang yang menyesatkan orang lain, selain mendapatkan siksa atas dosanya sendiri, ia juga akan merasakan siksaan tambahan “azab ekstra” akibat ulahnya menyesatkan orang lain.[92]Dosa mereka pun juga tidak dikurangi. Di sana juga pengganti dan tebusan tidak lagi diterima.[93]Pertolongan orang lainpun tak ada gunanya,[94] kecuali orang-orang yang yang telah diberi mandat oleh Allah untuk memberikan syafaat orang lain, dan itu pun dapat mereka lakukan berdasarkan tolok ukur dan standar Tuhan.[95]

Ke Surga atau ke Neraka

Setelah pengecekan amal perbuatan para hamba, hukum Tuhan mengumumkan[96] bahwa para hamba-hamba yang taat, supaya berpisah dari hamba-hamba yang selalu membangkang.[97] Mukminin dengan wajah putih berseri-seri bahagia dan dengan tertawa pergi menuju surga.[98] Sedangkan orang-orang kafir dan munafik berwajah hitam penuh sedih, dan dengan penuh kehinaan pergi dan digiring menuju neraka.[99] Namun semuanya akan melewati dan melintasi neraka,[100] dan Mukminin dengan cahaya yang dimiliki akan menerangi jalan mereka,[101] berbeda dengan orang-orang kafir yang akan melalui semua itu dengan kegelapan.

Munafikin yang dulunya hidup berdampingan dengan Mukminin di dunia, mereka akan memanggil orang-orang Mukmin seraya berkata, ”Tengoklah kami supaya kami dapat menikmati apa yang kalian dapatkan. Namun, dikatakan pada mereka, “Ingatlah apa yang kalian lakukan di dunia, lalu ambillah cahaya dari sana”. Pada saat itu tersingkaplah dinding yang berpintu di antara mereka yang di dalamnya terdapat rahmat Tuhan, sedangkan siksa Tuhan berda di luarnya.

Untuk kedua kalinya munafikin menyeru kaum Mukmin seraya berkata, ”Tidakkah kita dulu hidup bersama berdampingan di dunia?” Mukminin menjawab, ”Ya, tetapi kalian celakakan diri kalian sendiri, hati kalian dipenuhi oleh keraguan dan kekerasan, harapan dan khayalan yang terlalu berlebihan telah menipu kalian sehingga ketika perintah Tuhan datang, setan si penyesat menipumu, dan memalingkanmu dari perintah Tuhan. Sekarang tebusan apapun tidak akan diterima baik dari kalian atau dari orang-orang kafir yang lain, dan tempat kalian adalah neraka, dan ialah maulâmu.”[102]

Ketika Mukminin mulai mendekat ke surga, pintu-pintu pun terbuka, para malaikat rahmat datang untuk memimpin rombongan, dan dengan salam dan penuh hormat malaikat memberikan kabar gembira akan kebahagian mereka.[103]  Di sisi lain, ketika orang-orang kafir dan munafik mulai sampai di neraka, pintu-pintu neraka pun mulai terbuka  para malaikat azab dengan bengis dan kekerasan mengejek mereka, dan menjanjikan azab yang sangat pedih bagi mereka.[104]

Surga

Mukminin akan memasuki surga. Di dalamnya terdapat taman-taman yang luas seluas langit dan bumi,[105] dan dipenuhi oleh aneka macam tumbuh-tumbuhan dengan buah-buah yang sudah matang dan mudah dipetik serta mudah dijangkau.[106] Terdapat sungai-sungai dengan air jernihnya,[107] susu, dan madu serta minuman yang suci.[108] Di sana apa yang diinginkan penduduk surga,[109] bahkan apa yang diluar keinginan mereka pun telah tersaji.[110].

Para penduduk surga mengenakan pakaian sutra halus dan terhias dengan berbagai macam hiasan,[111].  Mereka duduk berhadap-hadapan, dan mereka bersandar di atas dipan-dipan yang empuk dengan bantal yang empuk,[112] mereka senantiasa memuji Tuhan,[113] mereka berbicara dan tidak mendengar omong kosong,[114] tidak merasakan dingin juga tidak kepanasan,[115] tidak tersiksa dan pula tidak lelah dan bosan,[116] tidak takut dan pula tidak susah,[117] dan hati-hati mereka telah tersucikan dari iri hati dan sifat-sifat tercela lainnya.[118]

Para pelayan nan elok rupawan berlalu lalang di sekitar mereka.[119] Mereka menuangkan cawan-cawan berisikan minuman-minuman surga yang rasanya tak bisa disifati lagi dan tak ada hal yang membahyakan di dalamnya (memiliki efek samping).[120] Mereka menyantap aneka buah, dan macam jenis burung,[121] dan mereka akan didampingi oleh istri-istri yang cantik dan suci.[122] Dan lebih dari itu, semua nikmat spiritual berupa keridhaan Allah SWT yang akan mereka dapatkan.[123] Berbagai anugerah dan kelembutan agung dari Tuhan mereka rasakan yang membuat mereka tenggelam dalam kebahagian puncak, kebahagian yang tak pernah dan tak akan terlintas dalam benak siapapun juga.[124]

Yang lebih penting lagi, kebahagiaan yang tak terhingga, dan nikmat-nikmat yang tak dapat disifati, serta rahmat dan kedekatan terhadap Tuhan ini akan terus berjalan selamanya,[125] dan tidak ada kata akhir di dalamnya.[126]

Neraka

Neraka adalah tempat orang-orang kafir dan munafik yang hati mereka tak pernah disinari oleh cahaya keimanan.[127] Kapasitas neraka sangatlah besar sekali sehingga ketika semua para pembangkang dan kaum durjana telah masuk semua ke dalamnya, ia masih meminta tambahan lagi, “Apakah ada tambahan lagi”. Begitulah ujar neraka.[128] Semua tempat di dalamnya dipenuhi oleh api dan siksaan.

Api menjulurkan lidahnya ke mana-mana. Bunyi dan suara teriakan dan hardikan, kebengisan dan kemarahan para penjaga neraka, menambah ketakutan.[129] Wajah-wajah mereka masam, penuh emosi, hitam, jelek, dan bengis,[130] sehingga para malaikat yang tinggal di sana tak terlihat lagi rasa sayang dan lemah lembut.[131]

Para penduduk neraka akan dibelenggu dengan rantai besi,[132] dan sekujur tubuhnya akan dijilat oleh api membara,[133] dan mereka sebagai kayu bakarnya.[134] Di sana ada suara dan bunyi yang terdengar kecuali rintihan, kegalauan, dan teriakan para penduduk neraka, serta hardikan penjaga neraka.[135]

Kepala mereka akan dituangi air mendidih yang akan mendidih dalam badanya,[136] dan kapanpun permintaan air akibat haus yang mencicik terdengar dari mereka, maka air panas dan kotor serta menjijikkan disajikan, dan dengan semangat mereka teguk.[137]

Makanan para penduduk neraka adalah pohon Zaqqûm, sebuah pohon yang tumbuh dari api dan menambah rasa panas dalam tubuh mereka.[138]

Pakaian mereka dari bahan hitam dan lengket yang akan sangat menyiksa dan merepotkan mereka.[139]

Teman duduk para penduduk neraka adalah para setan dan jin yang berbuat dosa, mereka berandai-andai supaya dapat jauh dari mereka.[140]

Para penduduk nereka saling melaknat dan mengejek satu sama lain.[141]

Mereka ketika meminta maaf pada Tuhan. Akan tetapi, langsung dibungkam dengan hardikan, ”Enyahlah kalian, dan diamlah”.[142] Kemudian mereka meminta bantuan para penjaga neraka untuk meringankan azab dan siksaan mereka, namun mereka pun berkata, ”Tidakkah Tuhan telah mengutus para nabi dan telah menyempurnakan hujjah-Nya atas kalian semua?”.[143]

Terkadang mereka ingin dimatikan kembali. Namun mereka mendengar jawaban, ”Kalian akan tinggal selamanya di neraka”.[144] Kematian mengepung mereka dari berbagai arah, tapi mereka tidak mati.[145]Dan ketika kulit mereka habis dan hangus, kulit mereka akan diganti dengan yang baru dan begitu seterusnya azab dan siksa tetap berlanjut dan lebih pedih dan menyakitkan. (QS. An-Nisâ`: 56)

Mereka menginginkan dari para penduduk surga untuk memberi mereka sedikit air dan makanan, namun para penduduk surga menjawab, ”Tuhan telah mengharamkan nikmat surga pada kalian”.[146]

Para penduduk surga bertanya pada mereka, ”Apa yang membuat kalian masuk pada jahannam?” Mereka menjawab, ”Kami tidak mendirikan shalat dan tidak pernah menyembah Tuhan. Ketika orang lemah datang meminta pertolongan, kami tidak menggubrisnya, dan kami berteman dan searah dengan para pembuat durjana, dan kami mendustakan hari kebangkitan”.[147]

Para penduduk neraka saling menyalahkan satu sama lain.[148] Orang yang tersesat mengatakan pada mereka yang menyesatkan, ”Kalianlah yang telah menyesatkan kami”. Mereka menjawab, ”Bukankah kalian dengan kemauan sendiri telah mengikuti kami”.[149]

Orang-orang lemah dan tertindas berkata pada orang-orang yang sombong, ”Bukankah kalian yang membuat kami jatuh dan tertimpa musibah yang besar ini?” Mereka menjawab, ”Bukankah kita memaksa kalian untuk mengikuti jalan yang lurus dan benar”.[150]

Akhirnya pada setan dikatakan, ”Kamulah yang membuat kami tersesat?” Ia menjawab, ”Tuhan telah menjajikan hal yang benar pada kalian, tapi kalian tak mau menerima, dan aku menjanjikan hal gombal dan bohong pada kalian, tapi kalian menguikutiku. Dengan demikian ejek dan makilah diri kalian sendiri, sekarang tiada satupun dari kalian yang dapat menolong orang lain”.[151]

Dan tiada hal lain yang bisa dinantikan dan dilakukan, selain menetap di neraka dengan  “mencicipi” aneka ragam siksaan dan azab di dalamnya.[152] (Mengingat pembahsan ini kami jelaskan sangat ringkas, maka tidak perlu lagi kami bawakan ringkasan dari pembahasan tersebut).

Syafa’at

Berdasarkan ayat-ayat Al-Qur’an dan riwayat-riwayat dari para ma’shûm dapat dipahami bahwa jika manusia beriman meninggal dunia, kendatipun amal perbuatannya tidak begitu mendapatkan kerelaan dari Tuhan, namun mereka tidak akan disiksa selamanya di neraka, dan pada akhirnya mereka akan masuk ke dalam surga.

Tuhan akan mengampuni dosa-dosa kecil orang beriman dengan syarat ia meninggalkan dosa-dosa besar.[153] Begitu dosa-dosa besar mereka pun akan iampuni jika mereka betul-betul bertaubat kepada-Nya. Dan jika ia tidak bertaubat, segala kesusahan dan kesulitan yang dialaminya semasa hidup di dunia akan mengurangi siksaannya. Dan jika masih ada saja dosa yang dipikulnya, tibalah giliran syafaat yang membantunya, sebagaiman disabdakan oleh nabi SAWW, ”Syafaatku akan mencakup para pelaku dosa-dosa besar dari umatku”.[154]

Dari sini dapat kita pahami bahwa syafa’at merupakan harapan terakhir dan terbesar yang dimiliki oleh seorang Mukmin yang berbuat dosa. Akan tetapi, hal ini tidak boleh disalah tafsirkan, sehingga dengan berasuransikan syafaat dari Rasul, seseorang melakukan segala macam dosa. Karena bertambahnya dosa akan menghilangkan dan memadamkan cahaya iman yang ada di dada, dan akan mengantarkan manusia pada kesengsaraan abadi nan kekal.[155]

Definisi Syafa’at

Syafaat yang barmakna genap berasal dari kata Syafa’a. Dalam wacana keagamaan, syafaat berarti uluran tangan para wali dan kekasih Tuhan untuk pengampunan dosa-dosa Mukminin. seakan-akan mereka -dengan dosa yang dimiliki- tidak memiliki hak sama sekali untuk mendapatkan rahmat Tuhan. Namun dengan bantuan seorang syâfi’ (pemberi syafaat), mereka mendapatkan potensi atau layak diberi nikmat tersebut.

Penafian Syafa’at Invalid dan Penetapan Syafaat Valid

Keyakinan terhadap syafaat tidak akan dapat diterima jika mengkonsekuensikan kekurangan Allah SWT. Keyakinan inilah yang dianut musyrikin yang dengan tegas Al-Qur’an membantahnya seraya berkata, ”Selain Tuhan tiada pelindung dan pemberi syafaat”.[156]

Di sisi lain, Tuhan juga menetapkan syafaat selain dari-Nya. Itupun berkat izin dari-Nya. ”Tiada pemberi syafaat kecuali setelah mendapatkan izin dari-Nya”.[157] Berdasarkan Al-Qur’an, para pemberi syafaat adalah mereka yang memberikan kesaksian atas kebenaran dan hakikat, serta memiliki ilmu.[158]