Kenabian




Mukadimah

Apakah manusia membutuhkan bimbingan para nabi dan rasul yang diutus oleh Tuhan? Gerangan apakah yang terjadi jika duta-duta Tuhan  itu tidak pernah muncul dalam sejarah manusia?

Kita akui bahwa bimbingan dan tuntunan para nabi sangat diperlukan pada masa itu. Namun, apakah hal itu berlaku pula di zaman kita sekarang yang telah mengalami perkembangan dan kematangan berpikir serta penalaran sebagaimana kita lihat dan rasakan?

Untuk apa para nabi itu datang? Apa risalah mereka? Apa manfaat dan fungsi segala tuntunan yang yang dibawa oleh mereka?

Pertanyaan-pertanyaan di atas merupakan sebagian dari sekian pertanyaan yang terdapat dalam kajian tentang kenabian. Kendati di pengatar buku ini telah kami singgung bahwa buku ini hanya sekedar pengantar untuk mengenal Akidah Islam yang di antara fungsinya kita akan bisa menjawab semua pertayaan yang dipaparkan dalam pembahasan ini secara terperinci, namun kita akan upayakan untuk menjawab soal-soal terpenting mengenai hal tadi meskipun dengan penjelasan yang amat sederhana.

a. Siapa Nabi Dan Apa Wahyu Itu?

a.1. Siapa Nabi Itu?

Kata “nabi” memiliki dua arti. Jika “nabi” berasal dari kata naba`, maka maksud dari kata tersebut adalah pemilik kabar dan berita penting. Sedangkan, jika kata tersebut diambil dari akar kata nubuwah,maka arti nabi adalah orang yang mempunyai posisi atau kedudukan yang tinggi.

Adapun dalam istilah ilmu Kalâm, nabi adalah seorang yang telah diutus oleh Tuhan dengan membawa wahyu dengan tujuan untuk membimbing manusia dalam mencapai kesempurnaan akhir.

Dari definisi di atas dapat dipahami bahwa mengenal nabi tanpa wahyu merupakan hal yang amat mustahil. Oleh karena itu, secara ringkas kita akan menjelaskan sekelumit tentang apa itu wahyu.

a.2. Apakah Wahyu Itu?

Wahyu secara linguistik memiliki berbagai arti, di antaranya isyarat, penulisan, tulisan, risalah, misi, dan wangsit (perkataan yang yang tidak diketahui asal muasalnya).[1]

Namun, Al-Qur’an menggunakan kata wahyu dalam empat makna, di antaranya:

1. Petunjuk yang samar, seperti ayat Al-Qur’an yang mengatakan, ”Ia keluar dari mihrab dan menuju kaumnya, kemudian ia isyaratkan pada mereka untuk bertasbih siang dan malam.[2]

2. Bimbingan instingtif, artinya sebuah petunjuk dalam setiap spesies, termasuk tumbuhan, hewan, manusia, bahkan wujud yang yang tak beryawa, seperti batu, juga memiliki insting yang selalu dimilikinya selama mereka hidup, dan dengan itu mereka dapat bertahan dan meneruskan hidupnya. Al-Qur’an mengatakan, ”Dan Tuhanmu telah mewahyukan (memberikan ilham instingtif) kepada lebah, ”Buatlah sarang di bukit-bukit, pepohonan dan di tempat-tempat yang telah dibikin manusia, kemudian makanlah setiap bunga dan tapakilah jalan yang telah ditentukan dan dimudahkan bagimu oleh Tuhanmu.[3]

3. Ilham atau wangsit. Orang-orang suci kerap kali mendapatkan wangsit atau bisikan dari alam ghaib atau alam supranatural di sepanjang hidupnya. Wangsit-wangsit ini acapkali muncul pada waktu-waktu terdesak dan tertekan atau ketika menemukan jalan buntu, sehingga ketika datang, ia bak cahaya yang menerangi jalan dan meloloskan pemiliknya dari kebuntuan. Ilham semacam ini yang berasal dari alam ghaib atau yang bersumber dari Tuhan disebutkan dalam Al-Qur’an dengan wahyu. ”Dan Kami wahyukan (ilhamkan) kepada ibu Musa supaya ia menyusuinya, dan ketika kamu khawatir atasnya, lepaskan ia (Musa) di sungai Nil, dan janganlah takut dan bersedih sesungguhnya Kami akan mengembalikannya kepadamu dan kami akan menjadikannya salah satu dari utusan kami.[4]

Ustad Ma’rifat dalam hal ini menulis, “Ketika Musa as lahir, ibu beliau sangat terguncang dan galau. Seketika terlintas dalam benaknya untuk pasrah pada Tuhan dan menyusuinya. Ketika merasakan bahaya, ia letakkan Musa as dalam sebuah kotak kayu dan dihanyutkan di atas sungai. Dan juga telah terlintas dalam benaknya bahwa balitanya itu akan kembali pada dirinya, sehingga tak perlu disesali dan diratapi, karena ia telah memasrahkan dan menyerahkan anaknya itu kepada-Nya. Semua itu terlintas dalam pikiran ibu Musa as, dan cahaya harapan terdapat dalam benaknya. Karena ia tidak mengingat siapapun selain Tuhan. Petunjuk yang merupakan penerang dan penyelamat dari ketakutan dan kegalauan tersebut, merupakan ilham dan ‘inâyah Tuhan yang senantiasa datang dan menyapa hamba-hamba saleh yang terjepit problema dan kesulitan”.[5]

Hanya saja, Al-Qur’an juga menyebut bisikan setan sebagai sebuah wahyu. Al-Qur’an mengatakan, ”Dan sesungguhnya setan membisikan pada kroni-kroninya untuk bangkit dan berdebat dengan kalian, dan jika kalian menaati mereka, niscaya kalian akan mejadi orang-orang yang menyekutukan Allah.[6]

4. Wahyu risâlî. Wahyu ini khusus turun atas para nabi. Al-Qur’an menyebutkan kata wahyu dengan arti yang terakhir ini lebih kurang sebanyak 70 kali. Seperti firman Allah, ”Dan begitulah Kami wahyukan padamu Al-Qur’an ini dengan bahasa Arab yang fasih supaya kamu memberikan  peringatan pada penduduk Makkah dan masyrakat sekitarnya.[7]

Wahyu risâlî adalah sebuah petunjuk Ilahi yang diberikan kepada hamba-hamba pilihan untuk membimbing manusia menggapai kebahagiaannya, dan mereka adalah penerima misi dan tugas Tuhan yang bertugas menyampaikannya kepada manusia. Mereka adalah pribadi-pribadi agung dan sempurna yang memiliki kelayakan dan potensi untuk menerima dan mengemban tugas berat itu. Tuhan pun mengetahui kelayakan ini. “Allah lebih mengetahui di mana Ia harus menempatkan tugas risalah-Nya”. (Al An’âm : 124)

Nabi SAWW bersabda, ”Tidaklah Tuhan mengutus seorang nabi dan Rasul kecuali akalnya telah sempurna, dan akalnya pun lebih utama dari semua akal umat-Nya”.[8]

Imam Hasan Al-Askari as berkata, ” Allah telah menjadikan hati  Muhammad SAWW paling utama dan paling sadar dari sekian banyak hati manusia. Oleh karena itu, Tuhan memilihnya sebagai seorang nabi.[9]

Wahyu risâlî adalah seperti sebuah ilham (arti wahyu yang ketiga), hanya saja dalam ilham, sumbernya tidak jelas, sedangkan wahyu rissâlî memiliki asal muasal yang kongkrit. Oleh karena itu, dalam menerima wahyu para nabi tidak akan mendapatkan kesalahan dan kekeliruan.

Zurârah bertanya kepada Imam Shâdiq as tentang bagaimana cara para nabi merasa yakin bahwa apa yang diterimanya adalah berasal dari Allah SWT, dan bukan bisikan setan? Beliau menjawab, ”Sesunguhnya ketika Allah memilih seorang dari hamba-Nya sebagai rasul, Ia memberikan ketenangan (kepadanya). Dengan itu, setiap apa yang datang dari-Nya, ia akan menerimanya dengan sangat jelas seperti mereka melihatnya dengan mata telanjang”[10].[11]

Pengaruh Wahyu Dalam Diri Para Nabi

Kendati fenomena wahyu merupakan hal non-indrawi yang sama sekali tidak bisa diindra, akan tetapi pengaruh dan dampaknya bisa dirasa dan diketahui, sebagaimana keberanian, ketakwaan dan kejiwaan lain yang tak bisa dilihat, didengar atau diraba. Namun, kita dapat memahami keberadaan sifat-sifat tersebut pada seseorang lewat dampak dan pengaruhnya.

Wahyu Ilahi juga memiliki pengaruh yang begitu besar bagi pribadi seorang Rasul, dan menciptakan perubahan yang amat besar dan mendalam, serta memperkuat dan menggembleng segala daya dan kemampuan mereka untuk mampu memberikan petunjuk pada umat manusia.[12]

Ringkasan

·   Jika nabi diambil dari akar kata naba`, maka nabi adalah pemilik kabar berita penting. Namun jika kata itu diambil dari akar kata nubuwah, maka seorang nabi adalah pemilik kedudukan yang tinggi.

·   Nabi dalam terminologi ilmu Kalâm berarti seseorang yang telah diutus oleh Allah SWT dengan wahyu untuk memberikan petunjuk kepada manusia dalam mencapai kebahagian abadi.

·   Wahyu memiliki berbagai arti; isyarah, penulisan, tulisan, risâlah, misi, perkataan yang samar dan pemberian kabar dari tempat yang tersembunyi.

·   Al-Qur’an memakai kata wahyu dalam empat arti: pertama, isyarah yang samar (Maryam : 11), kedua,petunjuk instingtif (An-Nahl : 68), ketiga, ilham (Al-Qashash : 7), dan keempat, wahyu risâlî (Asy-Syûrâ : 7).

·   Wahyu risâlî adalah seperti ilham yang mengandung petunjuk Ilahiah, dengan perbedaan bahwa bahwa sumber ilham belum tentu jelas asal muasalnya, sedangkan sumber wahyu dalam wahyu risâlî  adalah jelas bagi para nabi.

b. Urgensitas Pengutusan Para Nabi

Suatu hal yang tak bisa dipungkiri, untuk sampai pada kebahagian dan kesempurnaan akhir manusia membutuhkan kepada hidayah khusus dari Tuhan sebagai Pencipta. Hidayah yang kita maksud itu adalah wahu yang diterima oleh para duta Tuhan (nabi). Oleh karena itu, Tuhan yang Maha Bijaksana yang selalu mengerjakan perbuatan baik, dan sama sekali tidak melakukan perbuatan buruk, pasti tidak akan menghalangi dan mencegah manusia untuk mendapatkan kebutuhan primer tadi. Hal ini merupakan ringkasan dari argumen urgensitas diutusnya nabi dengan berlandaskan kebutuhan manusia akan wahyu dan kenabian.

Untuk menjelaskan argumen di atas dengan secara detail kita dapat menerangkannya lewat proposisi-proposisi berikut ini:

1. Tujuan Tuhan dari penciptaan manusia adalah supaya manusia sampai kepada kesempurnaan akhirnya.

2. Manusia dapat sampai kepada tujuan tersebut dengan ikhtiar dan pilihan mereka sendiri. Dengan kata lain, ia bisa sampai kepadanya ketika di sepanjang hidupnya ia menempuh suatu jalan dan metode lurus.

3. Untuk menempuh jalan lurus yang sanggup menjanjikan kebahagiaannya, manusia perlu untuk mengenal jalan terlebih dahulu.

4. Manusia tidak mampu mengetahui jalan tersebut dengan hanya bermodalkan pengetahuan logis maupun indrawi.

Manusia sampai saat ini belum mampu mengetahui dimensi berbagai eksistensi, bahkan hakikat diri mereka sendiri belum dapat diketahui secara benar. Dapat kita katakan bahwa substansi manusia merupakan salah satu misteri terbesar baginya. Oleh karena itu, terdapat perbedaan pendapat yang sangat banyak dalam menentukan kebahagiaan sejati manusia.

Syahid Muthahhari mengatakan, ”Di dunia ini, sangat mustahil didapati dua filsuf yang bersepakat dalam menentukan jalan menuju kabahagiaan. Kebahagiaan diri yang menjadi tujuan pokok dan akhir, arti kebahagiaan – dengan sekilas pandang – adalah sebuah arti yang amat jelas. Namun, ia merupakan salah satu realita yang paling rumit; Apakah kebahagiaan itu, dan dengan apa kita dapat meraihnya? Apakah kesengsaraaan itu, apa faktor-faktornya dan bagaimana cara menghindarinya? Hingga saat ini hal-hal tersebut masih rancau dan belum mendapat titik terang. Mengapa? Karena sampai saat ini manusia sendiri dan kemampuan serta potensinya belum dapat diketahui”.[13]

Polemiknya, mengetahui jalan kebahagiaan manusia akan menjadi jelas ketika kita mengetahui bahwa manusia akan hidup abadi, dan hidup yang sekarang hanya merupakan sebuah lembaran dari sebuah kitab besar eksistensi mereka; sebuah kitab yang tak terhingga dan tak terhitung halamannya.

Dari sisi lain, dampak dari kesalahan sekecil apapun yang dilakukan dalam dunia yang singkat ini akan tersingkap dan terlihat di alam sana (akhirat).

5. Tuhan Yang Maha Bijaksana, semua perbuataan-Nya kokoh, tak ada perbuatan buruk yang dapat disandangkan pada-Nya, dan setiap perbuatan baik selalu dikerjakannya.

Dari proposisi-proposisi di atas kita dapat menarik sebuah kesimpulan bahwa Tuhan yang Maha Bijaksana memberikan sebuah jalan melalui wahyu yang dapat membimbing manusia menuju kesempurnaannya, sedangkan nabi merupakan perantara untuk menyampaikannya kepada seluruh manusia.

Analogi

Untuk memperjelas argumen di atas, perhatikanlah contoh berikut ini:

Ada seorang berakal sehat ingin mengundang sekelompok teman dan sahabatnya untuk menghadiri jamuan makan dengan berbagai aneka sajian. Para pelayan telah disiapkan untuk menyambut dan menjamu mereka. Alhasil, semua telah dipersiapkan dengan matang-matang untuk mengadakan acara tersebut. Namun, para tamu yang diundangnya tidak mengetahui sama sekali alamat rumahnya. Mereka juga tidak mendapatkan petunjuk untuk sampai pada acara tersebut. Lebih parah lagi, di antara mereka juga tak seorang pun yang bisa menjadi penunjuk jalan. Orang yang berakal (pengundang) tadi pun menyadari dan mengetahui hal ini. Dalam kasus seperti ini, orang yang mengundang harus memberikan petunjuk; rute perjalanan dan lain sebagainya supaya para tamu yang diundang dapat sampai ke rumah tempat acara tersebut diadakan. Jika tidak demikian, pastilah kita layak meragukan “kewarasan” dan kebijakannya.

Kisah Tuhan dan hamba-Nya pun juga bisa kita samakan dengan kisah di atas. Tuhan telah menyiapkan surga untuk para hamba yang akan menghuninya. Akan tetapi, para hamba tidak mengetahui jalan dan cara untuk sampai kepadanya, dan mereka juga belum mendapatkan pengetahuan tentang jalan itu. Dengan demikian, Tuhan yang Maha Bijak pasti akan mengutus para delegasi (baca: nabi) yang akan datang sebagai penunjuk jalan untuk sampai ke surga.

Ringkasan

·   Tujuan Allah menciptakan manusia adalah supaya ia dapat mencapai kesempurnaan akhir.

·   Manusia dapat sampai kepada kesempurnannya ketika ia menempuh jalan yang benar dengan hasrat dan keinginannya sendiri.

·   Untuk menempuh jalan yang lurus tadi manusia harus mengetahui jalan yang benar tersebut.

·   Pengetahuan yang dimiliki manusia yang bersumber dari indra atau logika tidaklah cukup dan terbilang minim sekali untuk dapat mengetahui jalan tadi. Hal ini dikarenakan manusia sendiri belum dapat mengenal dirinya sendiri secara benar dan ia tak mengetahui kebahagiaannya yang hakiki serta tidak mengetahui cara dan dampak dari semua perbuatan yang telah dilakukannya dalam mencapai kebahagiaan abadi.

·   Tuhan adalah Maha Bijak. Dari kompilasi lima proposisi di atas kita dapat menarik sebuah kesimpulan bahwa Tuhan telah menyediakan jalan lain yang berupa wahyu bagi manusia untuk dapat mencapai kesempurnaan. Sedangkan para nabi merupakan perantara untuk menyampaikan hidayah tersebut.

Dampak Diutusnya Para Duta Tuhan (Nabi)

Peranan sejarah para nabi dan pengaruh positif dan revolusioner yang ditimbulkan mereka dalam peradaban dan kebudayaan manusia, bukanlah hal yang terselubung. Para nabi adalah reformis terbesar dan pemimpin paling berwibawa yang selalu berusaha semaksimal mungkin dalam menuntun manusia menggapai kesempurnaannya. Dalam kamus mereka tidak akan didapati kata takut dan menyerah dalam menyampaikan misi yang diembannya. Segala kesulitan dan rintangan mereka terima, dan jika perlu, mereka tebus dengan nyawa. Siksaan dan aniaya kaumnya mereka teguk laksana air segar. Dengan berbagai aral melintang tersebut mereka telah mampu menciptakan sebuah perombakan spektakuler dalam tatanan masyarakat sosial.

Untuk mengetahui lebih lanjut hal itu, cukuplah kita buka lembaran sejarah kaum Arab pada khususnya dan dunia pada umumnya pada awal kemunculan Islam. Perbandingan yang amat mencolok dan kolosal antara keberingasan kaum Arab sebelum masa diutusnya Nabi dan peradaban yang dibawa oleh Islam, kajian ini akan menyingkap berbagai realita yang tak terbantahkan. Namun sayang, kita tidak dapat mengakaji kajian historis semacam ini, karena hal ini keluar dari tujuan utama penulisan buku ini. Dan lagi, kajian semacam ini sudah terbahas secara panjang lebar dalam sejarah Islam.

Di sini kita hanya akan membawakan pengaruh dan dampak paling signifikan dari diutusnya para nabi dari sudut pandang Al-Qur’an:

1. Pelajaran

Tugas pertama yang diemban seorang nabi adalah memberikan pelajaran pada manusia tentang hakikat yang tidak mereka ketahui atau yang tidak mampu mereka pahami. Dalam pembahasan terdahulu telah kami sebutkan secara terperinci bahwa faktor utama yang melandasi pentingnya pengutusan para nabi adalah kebodohan dan ketidaktahuan manusia akan jalan kebahagiaan dan kesempurnaan yang menjadi tujuan hidupnya. Para nabi datang untuk melenyapkan kebodohannya dan memberikan pengajaran kepadanya.

Ya Tuhan kami, utuslah untuk mereka seorang rasul dari kalangan mereka, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat-Mu, dan mengajarkan kepada mereka Al-Kitab (Al-Qur’an) dan hikmah serta mensucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (Al Baqarah : 129).

“Sebagaimana (Kami telah menyempurnakan ni’mat Kami kepadamu) Kami telah mengutus kepadamu rasul di antara kamu yang membacakan ayat-ayat Kami kepadamu, mensucikanmu dan mengajarkan kepadamu Al-Kitab dan hikmah, serta mengajarkan kepadamu apa yang belum kamu ketahui. (Al Baqarah : 151).[14]

Ajaran para nabi bisa kita golongkan dalam dua kategori: pertama, hakikat dan kenyataan yang tak mungkin dipahami oleh manusia, baik melalui usaha indra atau rasio, seperti hakikat hari kebangkitan.Kedua, hakikat yang dapat dipahami oleh akal manusia. Namun, untuk memahaminya ia harus melakukan eksperimen dan upaya yang berkesinambungan bertahun-tahun, bahkan  bisa jadi berabad-abad lamanya.

Para nabi as dalam hal ini datang untuk mempersingkat dan mempermudah pengetahuan dan ilmu yang semacam ini.

2. Penyucian

Para nabi adalah pribadi-pribadi suci nan agung yang memiliki segala keutamaan, dan senantiasa terpelihara dari segala sifat-sifat tercela dan buruk. Mereka yang merupakan perwujudan keadilan, cinta, kebaikan, kejujuran, kesucian, kebesaran jiwa, dan keselamatan, mengajak manusia pula untuk menyandang sifat-sifat terpuji dan mencampakkan sifat-sifat tercela. Menurut ungkapan Al-Qur’an, mereka membersihkan dan menyucikan manusia.

Urgensitas tazkiyah[15] dan tarbiyah manusia dapat kita pahami dari peletakan dan penyebutannya dalam Al-Qur’an yang selalu didahulukan dari kata ta’lîm. Selain yang termaktub dalam ayat ke 129 surah Al-Baqarah, itupun berasal dari sabda nabi Ibrahim dan Isma’il dalam realisasi dan praktek. Artinya, ketika dalam tahapan praktis pengajaran dan didikan selalu diutamakan, awal pemberian teori kemudian disebutlahtazkiyah.

3. Peringatan

Telah kami sebutkan pada pembahasan-pembahasan sebelumnya bahwa manusia memiliki fitrah, yang sanggup membantunya menggapai kesempurnaan dan kebahagiaannya, seperti keyakinan akan Tuhan, kecenderungan untuk menyembah-Nya, dan cinta kebaikan dan keutamaan. Akan tetapi, kerap kali fitrah tadi menjadi pudar dan tercemari akibat kelalaian, kelupaan, dan buaian gemerlapnya materi. Oleh karena itu, para nabi satu persatu datang berusaha memberikan peringatan dan mengingatkan pengetahuan-pengetahuan yang telah terpendam dan terlupakan, serta menghidupkan dan menyadarkan kembali kecenderungan yang sudah mati. Oleh karena itu, Allah memperkenalkan para nabi sebagai sosokmuzdakkir, pemberi peringatan.

 “Maka berilah peringatan, karena sesungguhnya kamu hanyalah orang yang memberi peringatan”. (Al-Ghâsiyah : 21)

“Tidaklah demikian, sesungguhnya ia (Al-Qur’an) merupakan sebuah pengingat”. (Al-A’raf : 157)

4. Kebebasan dari Segala Macam Belenggu dan Perbudakan

Para nabi memiliki peran yang sangat signifikan dalam upaya membebaskan manusia dari kekangan dan segala macam belenggu. Mereka telah menyelamatkan manusia dari berbagai praktek perbudakan yang dilakukan oleh segelintir orang dan penguasa lalim yang diktator. Lebih dari itu, mereka juga melenyapkan segala belenggu dari dalam jiwa manusia yang berupa hawa nafsu dan kecenderungan yang berlebihan terhadap materi.

“….dan ia (nabi) membuang belenggu-belenggu yang ada pada mereka”. (Al-A’râf : 157)

Para nabi selalu menyeru manusia untuk menyembah Tuhan dan hanya menjadi hamba-Nya, sehingga di saat mereka tidak menjadi hamba Tuhan, maka mereka sama sekali tidak akan dapat  mencicipi manisnya rasa kebebasan. Jika manusia tidak tunduk akan perintah Tuhan, niscaya ia akan menjadi budak hawa nafsu dan kecenderungan-kecenderungan hewani untuk selamanya. Dengan demikian, ia akan terombang-ambing. Namun, sekali saja ia kunjungi istana ke-Tuhanan, maka akan terlepaslah segala belenggu yang menghimpitnya.

5. Penegakan Keadilan

Salah  satu dari tujuan pokok di utusnya para nabi adalah untuk menegakkan keadilan dalam masyarakat sosial. Al-Qur’an secara gamblang menegaskan hal ini: ”Sesungguhnya Kami telah mengutus Rasul-rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah kami turunkan Al-Kitab dan neraca (keadilan) supaya manusia dapat melaksanakan keadilan”. (Al-Hadîd : 25)

6. Suri Tauladan

Para psikolog kontemporer sepakat bahwa suri tauladan dan contoh kongkret memiliki peran menentukan dalam menciptakan dan mengkader masyarakat. Suri tauladan termasuk faktor terpenting dalam mendidik dan menyiapkan proses pencapaian kesempurnaan manusia. Salah satu poin positif dari eksistensi para nabi di tengah-tengah masyarakat adalah peran mereka sebagai suri tauladan dan contoh dalam kehidupan sosial.

“Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan kedatangan hari kiamat dan ia banyak mengingat Allah. (Al-Ahzâb : 21)

Tujuan Pokok Diutusnya Para Nabi

Dari pembahasan-pembahasan di atas dapat kita pahami bahwa para nabi diutus untuk membimbing manusia menuju kebahagiaan. Pertanyaan yang lazim diutarakan adalah kebahagian mana yang diinginkan oleh para nabi? Apakah mereka menganggap hanya kebahagiaan akhirat saja, sehingga kebahagiaan duniawi harus dikorbankan? Ataukah karena salah satu tujuan mereka adalah menegakkan keadilan di tengah masyarakat, mereka memandang bahwa kehidupan akhirat sebagai cabang dan pelengkap saja? Atau keduanya (kebahagiaan akhirat dan dunia) merupakan tujuan pokok diutusnya mereka?

Jawaban valid tentang soal-soal di atas dapat kita pahami dari beberapa proposisi berikut ini:

·   Kehidupan duniawi manusia tidak lah seberapa dan tak bernilai sama sekali dibandîng kehidupan akhirat. Sebagaimana bilangan seribu tak bisa kita bandîngkan dengan satu juta, kendati umur manusia di dunia tidak lebih dari seribu tahun, namun di sana sudah tidak ada lagi pembatas jarak dan waktu.

·  Dengan memperhatikan poin di atas, kita dapat memahami bahwa kebahagiaan dunia dibanding kebahagiaan akhirat sangatlah tidak berarti, dan keduanya sama sekali tidak dapat disejajarkan. Dengan kata lain, kebahagiaan akhirat adalah tujuan pokok, sedang kebahagiaan dunia hanyalah cabang saja.

·  Oleh karena itu, tujuan asli para nabi adalah membimbing manusia untuk sampai pada kebahagiaan akhirat.

·  Dengan mencermati ayat-ayat Al-Qur’an, kita dapat menarik sebuah kesimpulan bahwa satu-satunya jalan untuk sampai pada tujuan di atas adalah mendekatkan diri pada Tuhan dan pasrah secara absolut atas segala kehendak-Nya, di mana kesempurnaan manusia tersimpan di dalam pemasrahan tersebut.

·  Akan tetapi, perlu dipahami bahwa kesempurnaan ukhrawi manusia sama sekali tidak menafikan kebahagiaan dunia. Artinya, jika manusia menempuh jalan untuk bertaqarrub kepada Allah, kehidupan dunianya akan menjadi surga, dan memandang segala kesengsaraan dan kesulitan di dalamnya manis terasa.

·  Andaikan kita mencermati ayat-ayat Al-Qur’an lebih lanjut, kita akan mengetahui bahwa salah satu “program kerja” para nabi adalah memerangi para durjana dan penegakan supremasi hukum. Karena jika rezim yang diktator dan zalim memimpin masyarakat, maka gerak langkah pencarian Tuhan dalam diri manusia akan terhambat dan mengalami tantangan yang sangat serius. Oleh karena itu, dari sini dapat kita pahami maksud dari ayat ke 25 dari surah Al-Hadîd.

·  Kongklusinya adalah tujuan utama para nabi adalah menyeru kepada Tuhan, menyembah-Nya, mendekatkan diri pada-Nya, tunduk pada segala kehendak-Nya. Ini adalah inti sari dari semua ajaran agama-agama Ilahi. “Sesungguhnya agama di sisi Tuhan adalah Islam”.

Akan tetapi, perlu diperhatikan bahwa hal ini bisa terealisasi dengan tegaknya keadilan. Dengan terciptanya supremasi hukum manusia tidak hanya akan mendapatkan kebahagiaan akhirat, namun lebih dari itu, kebahagiaan dunia pun bisa diraihnya.

Ringkasan

·  Tugas-tugas terpenting para nabi adalah sebagai berikut:

1.Mengajarkan hakikat yang tak diketahuai oleh manusia, atau yang tidak mampu diketahui olehnya. (Al-Baqarah : 129 dan 151; Âli ‘Imrân : 164; Al-Jum’ah : 2)

2.Penyucian manusia dari segala kejelekan dan mengajak manusia pada kebaikan. (Al-Baqarah :129 dan 151)

3.Mengingatkan dan menghidupkan kembali fitrah yang terpendam dalam diri manusia yang sudah mati. (Al-Gâsyiyah : 21)

4.Membebaskan manusia dari belunggu para kuasa zalim, dan menyelamatkannya dari cenkeraman hawa nafsu. (Al-A’râf : 157)

5.Penegakan keadilan sosial. (Al-Hadid : 25)

6.Suri tauladan dan contoh hidup bagi para pencari kebenaran. (Al-Ahzâb : 21)

·   Tujuan pokok diutusnya para nabi adalah menyeru pada Allah, menyembah-Nya, mendekatkan diri pada-Nya dan pasrah dan tunduk akan kehendak-Nya; karena Ialah yang menyediakan kebahgiaan ukhrawi nan abadi bagi manusia.

·   Apa yang kita sebut dalam poin tadi sebagai tujuan pokok diutusnya para nabi, tidaklah bertentangan danmenafikan kebahagiaan dunia. Bahkan kebahagiaan ukhrawi juga menjamin kebahgiaan duniawi juga.

·  Jika masyarakat sosial dipimpin oleh sistem yang tidak adil, gerak langkah para pencari kebenaran akan menghadapi tantangan yang amat serius. Oleh karena itu, memerangi para penguasa zalim selalu menjadi perhatian utama para nabi dan utusan Tuhan. 

‘Ishmah Para Nabi

Salah satu ciri dan tanda-tanda yang dimiliki oleh seorang nabi adalah ‘ishmah (keterjagaaannya dari segala dosa). ‘Ishmah secara linguistik bermakna pencegahan dan penjagaan. Artinya, pertama, para nabi dalam menerima, menyampaikan wahyu sama sekali tidak mengalami kesalahan, dan kedua, mereka terjaga dari perbuatan dosa.

Untuk lebih memperjelas arti dari dua poin ‘ishmah di atas, marilah kita ikuti pembahasan berikut ini.

‘Ishmah Dalam Penerimaan dan Penyampaian Wahyu

Dalam menerima wahyu, mereka selalu terima dengan benar, memahaminya dengan sempurna, dan dengan penuh rasa tanggung jawab tanpa dikurangi dan ditambahi. Lalu mereka menyampaikannya pada umat manusia sebagai obyek utama mereka. Atas dasar ini, mereka menyampaikan misi-misi Tuhan yang diembannya sesuai dengan apa yang mereka terima.

Berdasarkan fakta kongkret di atas, mayoritas para teolog Islam, baik Syi’ah maupun Ahlussunnah sepakat akan validitas kedua macam ‘ishmah tadi, baik secara logis maupun tekstual.

Argumentasi Logis

Pada dasarnya, argumentasi logis yang digunakan untuk menetapkan urgensitas diutusnya para nabi, dapat kita gunakan pula dalam menetapkan poin di atas. Karena kebutuhan manusia pada petunjuk dan bimbingan para nabi akan efektif dan berpengaruh jika wahyu yang diterima mereka sempurna dan benar, dan para duta Tuhan itu tidak salah dalam menerima, memahami dan menyampaikannya kepada umat manusia.

Ketika kita tahu bahwa Tuhan adalah Maha Bijaksana, Ia menghendaki segala misi-Nya sampai ke telinga umat manusia tanpa terkurangi sedikitpun. Tuhan Maha Mengetahui cara supaya misi-Nya ini bisa diterima oleh manusia[16] dan pribadi-pribadi macam apakah yang mampu mengembannya sehingga misi yang menjanjikan kebahagiaan manusia tersebut diterima oleh mereka seutuhnya. Tuhan Yang Maha Kuasa akan mampu memilih sarana terbaik untuk menyampaikan segala misi-Nya serta mampu menjaga para duta-duta-Nya dari setiap kesalahan dan kerancauan yang dapat dimungkinkan.

Argumentasi Tekstual (Naqlî)

Al-Qur’an dalam penggalan ayat terakhir surah Al-Jinn menjelaskan bahwa Tuhan memiliki pesuruh dan pengawas yang bertugas menjaga wahyu dari berbagai hal yang dapat mempengaruhi wahyu sehingga ia tidak dapat diterima dengan sempurna.

“Ia adalah Tuhan yang Maha mengetahui yang ghaib, maka Ia tidak memperlihatkan kepada seorangpun tentang yang ghaib itu. Kecuali kepada para Rasul yang diridhai. Maka sesungguhnya Ia mengadakan penjaga-penjaga (malaikat) di muka dan di belakangnya supaya Ia mengetahui, bahwa sesungguhnya para rasul itu telah menyampaikan risalah Tuhan. (Sebenarnya) ilmu-Nya meliputi apa yang ada pada mereka, dan Ia menghitung segala sesuatu satu persatu”. (Al-Jinn : 26-28)[17]

‘Ishmah Para Nabi Dari Dosa

Dalam keyakinan kaum Syi’ah semua para nabi tercaga dari dosa-dosa sejak lahir sampai akhir hayat mereka, baik dosa besar atau kecil, disengaja ataupun  tidak, seperti lupa dan lalai.[18]

Arti dari ‘ishmah para nabi bukan hanya sekedar keterjagaan mereka dari dosa, akan tetapi perlu diketahui bahwa mereka memiliki malakah nafsiyah sebagai daya dan kekuatan yang membuat mereka terjaga dari dosa dalam kondisi apapun.

Sering kita dapati pribadi-pribadi yang sepanjang hidupnya tidak pernah melakukan dosa. Akan tetapi, jarang kita dapati orang yang mengklaim tidak pernah melakukan dosa sama sekali dalam kondisi apapun. Dengan demikian, dapatlah dibedakan antara tidak melakukan dosa dengan orang yang memilikimalakah.[19]

Argumentasi logis dan tekstual yang menetapkan ‘ishmah para nabi sangatlah banyak. Kami akan bawakan contoh masing-masing dari keduanya:

Argumentasi logis; Tuhan telah mengutus para nabi demi menyampaikan dan menuntun mereka menuju kebahagiaan. Jika para nabi tersebut melanggar undang-undang atau tuntunan yang disampaikannya sendiri, mereka akan kehilangan kepercayaan dari manusia.

Argumentasi tekstual; Al-Qur’an sering kali menyebut para nabi dengan pribadi-pribadi mukhlas[20](yang terikhlaskan). “Dan ingatlah hamba-hamba Kami; Ibrahim, Ishaq, dan Ya’qub pemilik tangan (kiasan dari orang yang memiliki kekuatan untuk beribadah) dan pemilik mata (kiasan dari pemahaman dan pengetahuan akan agama), sesungguhnya kami telah ikhlaskan mereka dengan keikhlasan yang istimewa ...”(Shâd : 45-46)

Dari sisi lain, sumpah setan dan para kroninya yang ingin menjerumuskan anak cucu Adam ke dalam kesesatan tidaklah mencakup mereka, karena orang-orang yang terikhlaskan dikecualikan dari mereka. “Ia (Iblis) berkata: ”Maka aku bersumpah demi kemulian-Mu, aku akan menyesatkan mereka (anak cucu Adam), kecuali para hamba-Mu yang Mukhlas”. (Shâd : 82-83)

Dan jelas, seandainya setan mampu menggoda para nabi, niscaya ia akan melakukannya. Dengan demikan, dikecualikannya para nabi dari anak cucu Adam yang lain karena setan sendiri tak mampu mempedayakan mereka. Dan dari ayat-ayat tadi dapat kita pahami bahwa setan tidak memiliki daya untuk menggoda para nabi.

Rahasia ‘Ishmah Para Nabi Dari Dosa

Untuk lebih memperjelas poin ini perlu kita bawakan terlebih dahulu proposisi berikut ini:

Manusia adalah sebuah eksisitensi mukhtar yang segala perbuatan dan tingkah lakunya berlandaskan atas ikhtiar dan hasratnya sendiri. Ia selalu memilih segala sesuatu yang bermanfaat baginya, dan akan selalu lari dari hal yang merugikannya, kecuali orang yang tak memiliki obsesi dan tidak mampu menguasai diri dan nafsunya. Karena orang semacam ini kerap kali bertindak berseberangan dengan rasio dan akal sehatnya. Atas dasar ini, terealisasinya sebuah perbuatan tergantung pada sejauh mana ia memiliki keuntungan atau tidak.

Oleh karena itu, manusia yang mencintai hidupnya sekali-kali tidak akan mau menceburkan dirinya ke dalam api, atau meneguk racun yang mematikan. Orang semacam ini kendati mampu untuk melakukannya, namun tidak akan terpikir olehnya untuk melakukan hal itu.

Dengan memperhatikan proposisi di atas dapat kita asumsikan bahwa para nabi memiliki dua ciri dan keistimewaan:

Pertama, mereka meyakini dan mengetahui dampak dan imbas dari perbuatan buruk yang dikerjakan secara sempurna. Efek tersebut bisa jadi berbentuk api yang menjilat-jilat, atau racun yang mematikan.

Kedua, mereka memiliki keinginan yang besar dan kuat untuk mengontrol dan mengendalikan kecenderungan-kecenderungan dan syahwat. Para nabi adalah pribadi-pribadi agung dan pilihan yang sama sekali tidak memiliki keinginan yang lemah dan serba nanggung.

Berdasarkan dua keistimewaan tersebut, kita dapat menyimpulkan bahwa dalam situasi dan kondisi bagaimanapun tidak seorang pun dari mereka akan tercerembab dalam perbuatan dosa, kendati mereka mampu untuk melakukannya.[21]

Ringkasan

·   Secara linguistik, ‘Ishmah berarti pencegahan dan penjagaan. Maksud dari para nabi sebagai pribadi-pribadi ma’shûm adalah pertama, mereka terjaga dan tak pernah salah dalam menerima, menjaga, dan menyampaikan wahyu, dan kedua, mereka terjaga dari perbuatan dosa.

·   Argumentasi rasional yang digunakan untuk menetapkan lazimnya diutus seorang nabi, dapat pula kita gunakan sebagai argumentasi kema’shûman para nabi dengan arti yang pertama. Karena pemberian petunjuk dan bimbingan melalui wahyu akan terasa efektif jika hal itu terlaksanakan secara sempurna tanpa ada kesalahan dalam proses penerimaan, pemahaman, dan penyampaiannya. Tuhan yang Maha Bijak, Maha Mengetahui dan Maha Kuasa mengetahui sarana dan perantara yang layak untuk dipilih, dan Ia akan menjaganya dari berbagai kesalahan dan keluputan dalam menjalankan tugas mereka. Sebagaimana telah disinggung oleh Al-Qur’an dalam surah Al-Jinn ayat 26-28.

·   Menurut keyakian Syi’ah, para nabi semenjak lahir sudah terjaga dari dosa, dan mereka  tidak pernah melakkukannya sekalipun atas dasar lupa dan ketidaksengajaan.

·   Kema’shûman para nabi berarti mereka memiliki malakah nafsiyah yang amat kuat di mana dalam kondisi apapun ia dapat menjaga mereka dari perbuatan dosa.

·   Argumentasi rasional yang dapat disebutkan di sini untuk menetapkan kema’shûman para nabi adalah jika para nabi melakukan perbuatan dosa dan penyimpangan, niscaya kepercayaan masyarakat akan berkurang atau hilang sama sekali, dan akibatnya, misi memberikan hidayah kepada mansuia yang diembannya akan mengalami kegagalan dan tak membuahkan hasil sama sekali.

·   Argumentasi tekstual dalam hal ini adalah pertama, Al-Qur’an kerap kali menyebut para nabi denganMukhlasîn (hamba-hamba yang telah diikhlaskan/terpilih). (Shâd : 45-46) Kedua, dari Al-Qur’an kita juga memahami bahwa setan dan para kroninya tidak memiliki kemampuan untuk menjerumuskan mereka (para nabi) ke jurang kesesatan. (Shâd : 82-83).

·   Rahasia kema’shûman para nabi adalah pertama, pengetahuan dan keimanan mereka yang sempurna akan dampak yang ditimbulkan oleh perbuatan dosa. Kedua, keinginan kuat mereka untuk membendung kecenderungan-kecenderungan hawa nafsu.

Metode Penetapan Kenabian

Kenabian adalah sebuah kedudukan yang tinggi nan agung. Siapapun yang dapat menggapainya, ia akan dicintai oleh hamba-hamba Mukmin serta dihormati (disakralkan). Ketaatan kepadanya merupakan tugas agamis setiap manusia. Oleh karena itu, bisa jadi ada sekelompok orang yang mengaku menjadi nabi dengan harapan bisa menikmati keistimewaan lahiriyah di atas. Hal ini cukup membuat kita harus mengetahui jalan untuk mengetahui kebenaran seorang nabi. Dalam hal ini, minimal ada tiga jalan berikut ini:

a. Melalui bukti-bukti yang ada

 Salah satu cara untuk mengetahui kenabian seseorang adalah mengecek kondisi da’wah, latar belakang kehidupan, keutamaan etika, kandungan misi,  dan segala yang berhubungan dengan hal itu. Dengan bukti-bukti di atas, kita dapat membandingkan dan menilai kebenaran klaim-klaimnya.

b. Sponsor dan penentuan dari nabi sebelumnya

Jika seorang yang telah kita terima kebenarannya sebagai seorang nabi memberitahukan kepada kita bahwa akan datang seorang nabi setelahku yang memiliki ciri-ciri ini dan itu, dan kemudian teryata memang ada seseorang yang sesuai dengan ciri-ciri yang disebutkan, maka bagi mereka yang mempercayai kenabian nabi pertama ia juga harus meyakini kenabian nabi setelahnya.

3. Mu’jizat

Para nabi kerap kali menggunakan Mu’jizat untuk menguatkan klaim mereka. Dari ayat-ayat Al-Qur’an dapat dipahami manusia menginginkan dari para nabi untuk mempertontonkan Mu’jizat, dan ketika keinginan itu muncul dari rasa ingin tahu akan hakikat dan kebenaran, merekapun mengabulkan  dan selalu memberikan jawaban positif. Namun, tidak jarang pula mereka tidak bersedia untuk mengabulkan keinginan dan tantangan musyrikin yang berlandaskan pada ejekan dan motifasi-motifasi invalid. Begitu juga, mereka tidak akan mengabulkan sebuah tantangan yang muncul setelah semua dalil dan hujjah telah disampaikan.

Definisi Mu’jizat

Mu’jizat yang diambil dari kata a’jaza dan merupakan kata pekerja darinya, bermakna melemahkan dan memperdaya.[22] Sedangkan mu’jizat secara terminologis adalah hal spektakuler (di luar adat dan kebiasaan) yang berasal dari para nabi dengan restu Tuhan.[23]

Dalam dunia ini terdapat dua fenomena: pertama, hal-hal biasa. Artinya, hal-hal yang sebab keberadaannya dapat diketahui melalui eksperimen dan berbagai uji coba. Kedua, hal-hal yang luar biasa. Artinya, fenomena yang sebagian dari sebabnya tidak dapat dipahami melalui eksperimen dan uji coba. Fenomena yang kedua ini juga terbagi pada dua macam: pertama, hal-hal yang walaupun tidak memiliki sebab biasa, namun sebab di luar kebiasaannya dapat dipelajari dan dikuasai dengan latihan dan uji coba yang berkesinambungan, seperti yang dilakukan oleh para ahli tirakat dan kebatinan. Kedua, hal-hal yang keberadaanya tergantung pada izin Tuhan dan tidak akan muncul dari pribadi-pribadi yang tidak mendapat restu dan hidayah-Nya. Oleh karena itu, yang terakhir ini memiliki dua ciri: pertama, tidak bisa dipelajari dan diajarkan, dan kedua, sama sekali tidak dapat dikalahkan oleh kekuatan apapun. Hal-hal seperti ini jika muncul dari pribadi yang mengklaim sebagai seorang nabi dinamakan mu’jizat dan merupakan argumen dan hujjah  atas kebenarannya.[24]

Ringkasan

·   Untuk memahami kebenaran klaim seorang nabi terdapat tiga jalan: pertama, adanya beberapa bukti,kedua, sponsor dari nabi sebelumnya, dan ketiga, mu’jizat.

·   Secara linguistik, mu’jizat adalah melemahkan/memperdaya. Sedangkan secara terminologis, berarti sebuah hal luar biasa yang berasal dari seorang yang mengaku nabi dengan restu Tuhan.

·   Hal-hal luar biasa adalah fenomena-fenomena yang semua sebabnya tidak dapat dipahami melalui eksperimen dan uji coba sains, akan tetapi, ada bukti-bukti lain yang menjadi penyebab terjadinya hal tersebut.

·   Sebagian dari hal-hal yang luar biasa, kendati tidak memiliki sebab yang biasa, akan tetapi, sebab-sebab yang tidak biasanya masih bisa dipahami. Ada sebagian fenomena luar biasa yang perealisasiannya hanya berkat izin khusus Tuhan dan tidak akan jatuh ke tangan orang-orang yang tidak mendapatkan hidayah dari Allah. Dan mu’jizat berasal dari jenis yang terakhir ini.

·   Mu’jizat tidak dapat dipelajari dan diajarkan serta tidak dapat dikalahkan oleh hal apapun.

NABI ISLAM

Indikasi Historis

Pada tahun 570 M., di belahan bumi jazirah Arab seorang bayi lahir. Bayi itu diberi nama Muhammad SAWW, putra tunggal pasangan Abdullah dan Aminah. Setelah menjalani kehidupan yang bersih dan penuh amanah selama 40 tahun, ia akhirnya diutus oleh Tuhan untuk membawa sebuah ajaran yang bernama Islam. Ini adalah titik awal perombakan peradaban manusia, atau dapat kita katakan titik awal perombakan terbesar yang pernah tercatat dalam sejarah kehidupan manusia.

Setelah diutus sebagai seorang nabi, sekitar 13 tahun lamanya, Muhammad tinggal di Makkah, dan menyeru umat manusia kepada Islam dengan menanggung segala kesusahan dan kesulitan. Pada periode ini, lahir dan terbinalah pribadi-pribadi besar.

Kemudian beliau berhijrah ke Madinah yang Kemudian dijadikan sebagai pusat dakwahnya. Sekitar 10 tahun di Madinah, dengan bebas beliau menyeru masyarakat setempat untuk memeluk agama Islam. Di samping itu, beliau juga memerangi para pembangkang Arab hingga seluruh kekuatan musuh bertekuk lutut di hadapannya. Setelah 10 tahun berlalu, dapat dikatakan seluruh masyarakat jazirah Arab telah memeluk Islam. Di sepanjang hidupnya, ayat-ayat Al-Qur’an turun secara bertahap dan beliau membacakannya di hadapan umat manusia sekaligus mengajari mereka.

Pristiwa demi pristiwa datang silih berganti tak hanya setelah beliau diutus menjadi. Namun, sebelum itu pun terjadi berbagai keajaiban yang menakjubkan. Telah banyak buku-buku ditulis demi membahas dan menganalisa peristiwa-peristiwa tersebut secara mendetail sehingga tidak perlu lagi kami singgung di sini.

Bukti-bukti Kebenaran Nabi Islam

Sebagaimana telah kami singgung di atas, pembuktian kenabian seorang nabi dapat dilakukan dengan tiga cara. Kami akan menerapkan ketiga cara di atas terhadap Nabi Islam SAWW.

1. Terkumpulnya berbagai bukti.

Latar belakang kehidupan seseorang dapat dijadikan jalan terbaik dalam menentukan jujur tidaknya klaim dan pengakuannya. Kehidupan Nabi SAWW sepanjang 40 tahun di tengah-tengah masyarakat Jahiliah merupakan tampilan segala bentuk kesucian, amanah, kemurahan jiwa, dan kemenangan yang nyata dan utuh. Kepercayaan manusia kepada beliau begitu besarnya sehingga gelar Al-Amîn pun mereka sandangkan padanya. Setelah diutus menjadi nabi, para musuh dan kroni-kroni mereka tidak memiliki alasan lagi untuk menuduh beliau pembohong, zalim, tak dapat dipercaya, dan berbagai hal-hal tecela lainnya.

Sejarah awal kemunculan Islam merupakan saksi nyata bahwa Nabi Muhammad adalah pribadi yang memiliki keluhuran budi pekerti, ketabahan, kemurahan, sportifitas dalam berinteraksi, dan – alhasil – segala sifat terpuji lainnya.

Dari sisi lain, beliau adalah orang yang tidak mengenal bangku sekolah, seorang anak yang tumbuh dalam lingkungan masyarakat yang mayoritas buta huruf,[25] namun walaupun demikian, beliau mampu mengenalkan kepada manusia cara berpikir yang tinggi, pengenalan terhadap Tuhan, diri manusia, dan jalan lurus dalam menelusuri dan menjalani kehidupan. Beliau juga membawa sebuah kitab yang tak tertandingi di sepanjang sejarah manusia.

Ketika kita kompilasikan fakta dan realita di atas dengan berbagai bukti-bukti, seperti kadar dampak dan pengaruh Nabi dalam kawasan, komitmen beliau terhadap tujuannya, metode valid yang dipraktekkan dalam mencapai tujuan,  kecepatan dan kelanggengan pengaruh sabda-sabda dan ajaran beliau, kebenaran, kesucian dan kejujuran para pengikut yang menerima misi beliau dengan lapang dada, maka tidak akan ada keraguan lagi kalau Muhammad putra Abdullah SAWW adalah seorang nabi pesuruh Allah untuk memberi petunjuk kepada manusia.

2. Sponsor dari para nabi sebelumnya

Dari kajian sejarah dapat kita pahami bahwa para nabi sebelumnya telah memberikan kabar gembira tentang akan diutusnya Nabi Islam.[26] Sekelompak dari Ahli Kitâb yang mengetahui tanda-tanda nabi yang akan muncul itu hari demi hari selalu menanti kedatangan beliau.[27] Mereka mengatakan kepada kaum Arab bahwa akan datang seorang nabi dari keturunan Ismail (bangsa Arab) yang telah dikabarkan dan dibenarkan oleh nabi-nabi sebelumnya.[28] Sebagaian dari pemikir Yahudi dan Kristen dengan bersandarkan hal-hal yang kita sebut di atas jauh-jauh hari telah beriman kepada beliau.[29] Kendati sekelompok lain dari mereka karena berbagai alasan dan faktor-faktor material tak mau mengimani serta menolaknya.

Al-Qur’an telah menjelaskan berbagai cara dalam rangka mengenal seorang nabi. “Dan apakah tidak cukup menjadi bukti bagi mereka bahwa para ulama Bani Israil mengetahuinya? (Asy-Syu’arâ` : 197)

Poin yang layak kita perhatikan dan cermati di sini adalah bahwa di dalam kitab Injil dan Taurat masa kini yang sudah tidak orisinil lagi, terdapat upaya dan usaha intensif untuk mengahapus kabar gembira tersebut. Namun, tetap saja ditemukan indikasi dan hujjah bagi para pencari hakikat dan kebenaran. Hal inilah yang membuat sekelompok cendekiawan Yahudi dan Nasrani[30] berbondong-bondong untuk memeluk agama Islam. [31]

3. Mu’jizat

Seperti telah kita singgung di atas, metode terpenting untuk mengetahui kebenaran klaim seorang yang mengaku sebagai nabi adalah mu’jizat yang dibawanya. Dengan metode ini akan gamblang bagi manusia  sejauh mana hubungannya dengan Tuhan. Kitab-kitab sejarah dan hadis banyak memuat dan mencatat berbagai mu’jizat yang berasal dari nabi Islam, seperti pristiwa kerikil-kerikil yang berbicara di hadapan beliau,[32] kesaksian srigala-srigala akan risalah beliau,[33] terbelahnya rembulan,[34] bergeraknya pepohonan ke arah beliau dan kembalinya mereka ke tempat semula,[35] dan pemberitahuan kabar suatu peristiwa yang belum terjadi.[36] Penukilan mu’jizat ini begitu banyaknya sehingga hal itu sudah mencapai batas mutawâtir dan menjadi sesuatu yang telah disepakati dalam sejarah.[37]

Akan tetapi, mu’jizat abadi beliau adalah Al-Qur’an.

Para nabi banyak yang memiliki kitab sebagai bahan pegangan. Namun, hanya kitab suci Nabi Islam SAWW yang dijadikan sebagai mu’jizat. Al-Qur’an selain kitab petunjuk Tuhan yang berada di tangan Rasulullah SAWW, juga merupakan argumentasi dan bukti misi beliau. Hal ini memiliki rahasia yang tak sedikit, di antaranya:

Pertama, agama Islam agama abadi untuk segala masa dan kondisi. Oleh karenan itu, ayat-ayatnya harus bersifat permanen dan abadi.

Kedua, dengan dijadikannya kitab sebagai mu’jizat Nabi, dengan bergulirnya masa seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan, dimensi-dimensi baru dari mu’jizat Al-Qur’an akan semakin tersingkap yang selama ini belum pernah terlintas di benak kaum-akum terdahulu.

Mu’jizat Al-Qur’an

Dari sekelumit penjelasan di atas, dapat kita pahami bahwa Al-Qur’an adalah mu’jizat nabi SAWW. Untuk memperjelas kongklusi ini lazim kami ketengahkan beberapa poin penting berikut ini:

1. Al-Qur’an mengatakan secara tegas bahwa tak ada seorang pun mampu membuat sebuah kitab seperti Al-Qur’an, walaupun jin dan  manusia saling bahu-membahu untuk membuatnya[38]. Bahkan, Al-Qur’an menegaskan, mereka tak akan sanggup untuk menciptakan 10 surah saja.[39] Lebih dari itu, mereka tak akan mampu membuat walau pun satu surah pendek.[40]

2. Sejak dari dini, Al-Qur’an telah menantang para pengingkarnya dan mendeklarasikan ketidakmampuan mereka menyusun rangkaian-rangkaian seperti yang terdapat dalam Al-Qur’an. Hal ini mengindikasikan bahwa Al-Qur’an adalah kitab langit yang berasal dari Tuhan.[41]

3. Sejarah Islam telah membuktikan kepada kita adanya upaya-upaya yang berkesinambungan dari para musuh Rasul dan Islam, musuh baik internal maupun ekternal, untuk memadamkan ajaran-ajaran Islam semenjak diutusnya Nabi dan dimulainya dakwah beliau. Pada masa sekarang pun, kita masih dapat menyaksikan upaya-upaya maksimal negara-negara adidaya dunia yang menganggap Islam sebagai penentang dan musuh, atau aral yang merintangi mereka dalam mewujudkan arogansi dan hegemoni mereka untuk membendung dan memadamkan cahaya Islam ini.

4. Semestinya, upaya termudah dan sangat efisien dalam memerangi agama Islam adalah menjawab tantangan-tantangan Al-Qur’an di atas dan menciptakan ungkapan-ungkapan yang sepadan dengan Al-Qur’an.

5. Sampai saat ini, tak seorang pun yang mampu menciptakan uraian kata yang – dari sisi kefasihannya – setara dengan Al-Qur’an. Lebih dari itu, setiap orang yang berusaha mencobanya, selalu mengakhirinya dengan kegagalan dan rasa malu.[42]

Dengan demikian, Al-Qur’an adalah mu’jizat Tuhan yang diberikan pada Nabi Islam. Oleh karena itu, Muhammad SAWW sebagai pembawa Kitab Suci ini adalah benar-benar seorang nabi, dan apa yang disebut wahyu yang diutarakan dan diucapkannya adalah Kalâm Tuhan yang otentik, tanpa dikurangi dan ditambahi sedikit pun.

Ringkasan

·   Salah satu cara untuk membuktikan kenabian Nabi Islam adalah melalui bukti-bukti kehidupan selama 40 tahun yang dipenuhi oleh berbagai kebenaran, kejujuran dan kesucian dari berbagai macam noda dan kotoran, memiliki segala sifat-sifat seorang pemimpin Ilahiah, tumbuh dan besar di kalangan orang-orang buta huruf, pemaparan hakikat yang luhur tentang Tuhan, manusia, alam dan jalan kehidupan, kadar pengaruhnya dalam lingkungan, keimanan terhadap tujuan dll. semua itu adalah pertanda dan indikator akan kebenaran kenabian beliau.

·  Para nabi terdahulu telah memberikan kabar gembira akan diutusnya beliau. Oleh karena itu, sekelompok Ahli Kitab jauh-jauh hari sebelumnya telah menunggu kedatangan beliau sebagaimana mereka juga memiliki tanda-tanda yang jelas tentang beliau. Bahkan, dalam Taurat dan Injil yang sudah ditahrif sekalipun masih terdapat indikasi akan kenabian Nabi Muhammad SAWW, sehingga beberapa cendekiawan Ahli Kitab mendapatkan petunjuk dan memeluk agama Islam.

·  Ada setumpuk mu’jizat yang dimiliki Rasulullah yang tercatat dalam kitab-kitab sejarah dan hadis. Di antaranya, kerikil-kerikil yang berbicara di hadapan beliau, kesaksian segerombolan serigala akan kenabian beliau, terbelahnya rembulan, bergeraknya pepohonan ke arah beliau dan kembalinya ke tempat semula dan pemberitahuan akan peristiwa yang akan terjadi.

·  Mu’jizat terbesar dan terpenting baginda nabi adalah Al-Qur’an. Hanya kitab beliaulah yang dijadikan sebagai mu’jizat sekaligus, di samping sebagai kitab petunjuk.

·  Rahasia dari realita di atas adalah pertama, agama Islam adalah agama yang kekal. Dengan demikan, tanda dan bukti kebenarannyapun juga harus kekal dan abadi. Kedua, Kemu’jizatan Al-Qur’an semakin hari dan tahun akan semakin tersingkap dengan jelas.

·   Al-Qur’an sebagai mu’jizat dikarenakn beberapa faktor: pertama, Al-Qur’an mengatakan secara terbuka bahwa tiada seorang pun yang sanggup membuat sebuah surah pendek yang sepadan dan setara dengannya, kedua, ketidakmampuan ini merupakan pertanda bahwa Al-Qur’an memang berasal dari langit,ketiga, semenjak kemunculan Islam, para musuh Al-Qur’an senantiasa berusaha untuk menenggelamkan  dan memadamkan cahayanya, keempat, semestinya, cara terbaik dan termudah untuk itu adalah menyusun rangkaian kata yang setara dengan Al-Qur’an, dan kelima, akan tetapi, sampai saat ini tidak satu orangpun yang sanggup melakukannya.

PAMUNGKAS (KHATM)KENABIAN

Satu Agama atau Multi Agama?

Pada pembahasan pengenalan agama, biasanya kata agama disebutkan dengan bentuk jamak, dan setiap nabi memiliki agama tersendiri; agama Yahudi, Kristen dan Islam. Akan tetapi, dalam Al-Qur’an mulai dari nabi Adam as hingga Nabi Muhammad SAWW agama hanya satu. Mereka menyeru umat manusia kepada satu agama.[43] Asas dan pondasi agama para nabi ini adalah tunggal, sedangkan perbedaan agama mereka hanya pada dua sisi:

Pertama, masalah parsial yang berbeda-beda sesuai dengan tntutan zaman dan kondisi mereka masing-masing.

Kedua, tingkat keilmuan. Setiap nabi datang satu persatu demi menyempurnakan ajaran nabi-nabi sebelumnya. Contoh, di dalam ajaran Islam, pengetahuan tentang Tuhan, hari akhir dan manusia lebih diperjelas dan diperdalam dibandingkan dengan ajaran para nabi sebelumnya.

Umat manusia tak ubahnya seperti seorang pelajar yang melalui jenjang keilmuannya dari kelas satu sampai kelas terakhir. Oleh karena itu, ungkapan yang benar dalam hal ini adalah penyempurnaan agama satu, bukan perbedaan antar multi agama.

Al-Qur’an sama sekali tidak pernah membawakan kata dîn yang bermakna agama dalam bentuk jamak. Al-Qur’an malah menegaskan bahwa misi para nabi adalah untuk menguatkan dan membenarkan satu sama lain. Atas dasar ini, klaim ini dapat diterima bahwa seandainya seorang nabi hidup di zaman nabi lain yang memiliki kondisi dan situasi khusus, niscaya ia akan melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan oleh nabi tersebut.

Al-Qur’an menegaskan secara gamblang bahwa para nabi bagaikan sebuah mata rantai; para nabi terdahulu datang dan memberi kabar gembira akan datangnya nabi setelahnya, dan para nabi yang datang setelah mereka, selalu membenarkan dan menguatkan ajaran para nabi sebelumnya. Dan dari merekalah diambil sebuah sumpah dan janji yang agung dan kokoh.

“Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil janji dari para nabi bahwa sesungguhnya apa saja yang Kuberikan kepadamu berupa kitab dan hikmah, kemudian datang kepadamu seorang rasul yang membenarkan apa yang ada padamu, niscaya kamu akan sunguh-sungguh beriman kepadanya dan menolongnya. Allah berfirman, ”Apakah kamu mengakui dan menerima janji-Ku terhadap yang demikian itu?” Mereka menjawab, ”Kami mengakui”.  Allah berfirman, ”Jika begitu, saksikanlah (wahai para nabi) dan Aku menjadi saksi (pula) bersama kamu”. (Alî ‘Imrân : 81)

Nabi Pamungkas

Salah satu dari hal lazim (dharûriyât) dalam Islam adalah bahwa Nabi Islam, Muhammad SAWW adalah nabi terakhir dari mata rantai kenabian Tuhan, dan tiak akan ada lagi nabi yang akan datang setelah beliau. Al-Qur’an dalam surah Al-Ahzâb : 40 secara gamblang mejelaskan hal ini.

“Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak seorang laki-laki di antara kamu, tetapi ia adalah rasul Allah dan penutup para nabi. Dan Allah adalah Maha Mengetahui segala sesuatu[44].

Rahasia Kenabian Pamungkas

Para nabi datang satu demi satu. Pertanyaan yang muncul adalah mengapa fenomena ini tidak terdapat lagi setelah nabi Islam? Mengapa hal tersebut tidak terulang selepas diutusnya nabi Muahmmad SAWW? Untuk menjawab soal ini kita harus mencermati tiga poin berikut ini:

1. Manusia zaman dahulu[45] - maksudnya mereka yang hidup sebelum masa Rasulullah SAWW - tidak mampu menjaga kitab dengan ketidakmatangan berfikir dan rasio yang mereka miliki. Oleh karena itu, kitab-kitab langit yang terdahulu terkadang hilang dan tak jarang yang diselewengkan. Dengan demikian, dibutuhkan pada pembaharuan misi dan pembawanya. Akan tetapi, hal ini tak bisa kita samakan dengan masa  pengutusan nabi kita. Umat manusia pada masa itu, - dapat dikatakan -telah melalui masa kanak-kanaknya dan telah sampai kepada kematangan bernalar yang dengan itu mereka mampu menjaga warisan dan peninggalan kebudayaan dan religius mereka. Atas dasar ini, hanya Al-Qur’anlah kitab samâwi yang tidak mengalami perubahan dan tahrîf.

2. Manusia tedahulu tidak mampu menangkap metode umum dan universal  untuk menapaki dan menjalani kehidupan. Atas dasar ini, sangatlah diperlukan penuntun dan pembimbing yang datang silih berganti, dan hal ini tidak akan kita jumpai di saat nabi diutus. Manusia sudah memiliki kemampuan untuk mendapatkan jalan dan garis fundamental untuk menempuh jalan kehidupannya.

3. Sebagaian dari para nabi yang diutus oleh Tuhan adalah pemilik syariat (misi) baru, dan sebagaian tidak. Yaitu, mereka hanya penyampai misi yang telah dibawa nabi sebelumnya. Dengan demikian, para nabi dapat dikategorikan ke dalam dua kelompok: nabi tasyrî’î  (pemilik syariat) dan nabi tablîgî (penyampai risalah nabi sebelumnya). Dan perlu diketahui, mayoritas para nabi termasuk dalam katagori nabi tablîgî. Adapun jumlah kelompok pertama tidak lebih dari 10 orang saja. Tugas dan misi para nabi tablîgî ini hanya berkisar pada pemasyarakatan dan penyebarsluasan ajaran nabi yang datang sebelum mereka, menyampaikan, mengamalkan dan menginterpretasikannya.

Dengan memperhatikan poin-poin di atas, kita dapat menemukan bahwa rahasia kenabian pamungkas adalah tersimpan dalam kematangan intelektual dan sosial. Karena pada masa diutusnya Nabi Muhammad SAWW, pertama, umat manusia telah mampu menjaga kitab dari segala macam Tahrif, kedua, mereka dapat mengambil dan mendapatkan jalan kebahagiaan dan kesempurnaanya, ketiga, pamasyarakatan, penyampaiaan dan memerintah kebaikan dan melarang kerusakan (amar ma’ruf dan nahi munkar) dapat dilakukan oleh para ulama dan hamba-hamba yang salih, dan keempat, dengan berlandaskan ijtihad mereka dapat menafsirkan universalitas wahyu sesuai dengan zaman dan kondisi yang ada, di mana hal ini juga diemban oleh para ulama.

Ringkasan

·   Agama Tuhan dalam Al-Qur’an hanya ada satu. Semua para nabi menyeru manusia pada satu agama.

·   Perbedaan antara syari’at para nabi terdapat pada: pertama, permasalahan parsial yang sesuai dengan kondisi zaman masing-masing dan ciri khas masyrakat kala itu, dan kedua, tingkat pengajaran.

·   Al-Qur’an tidak pernah menyebutkan kata dîn dengan bentuk jamak, dan seringkali menjelaskan bahwa para nabi merupakan satu kesatuan, dimana seorang nabi menguatkan dan membenarkan nabi lainnya. (Âli ‘Imrân : 81)

·   Nabi Muhammd merupakan nabi pamungkas mata rantai kenabian Tuhan. (Al-Ahzâb : 40)

·   Rahasia kenabian pamungkas terletak pada kematangan intelektual dan sosial masyarakat. Karena masyarakat di saat nabi SAWW diutus telah mampu:

1.Menjaga kitab langit dari berbagai tahrîf dan pemutar-balikan fakta,

2.Mendapatkan program untuk mendapatkan hidayah, kebahagiaan dan kesempurnannya,

3.Menyebarluaskan dan bertabligh, dan

Dengan konsep ijtihad, mereka menerapkan wahyu yang universal pada kasus tertentu dan menarik sebuah hukum parsial dari asas dan pokok agama, maka tidak diperlukan untuk diutusnya seorang nabi pasca periode beliau.