Tauhîd




MENGENAL  TUHAN

Ugensitas Mengenal Tuhan[1]

Tanpa melihat dampak praktis individual atau sosial yang muncul dari pengenalan terhadap Tuhan,Asmâ`, dan sifat-sifat mulia-Nya, hal itu merupakan satu hal berharga yang dapat berpengaruh dalam kebahagiaan manusia. Karena kesempurnaan manusia terletak pada pengetahuan yang benar berkenaan dengan Diri-Nya. Manusia yang tidak mengenal Tuhan sebagaimana mestinya, ia tidak akan mungkin sampai pada kesempurnaannya, bagaimanapun ia berusaha dan beramal saleh.

Pengetahuan yang benar tentang Tuhan merupakan kesempurnaan spiritual tertinggi yang mampu membawa manusia kepada hakekat di sisi-Nya.

إِلَيْهِ يَصْعَدُ الْكَلِمُ الطَّيِّبُ وَالْعَمَلُ الصَّالِحُ يَرْفَعُهُ

“Kepada-Nya membumbung perkataan-perkataan yang baik dan amal yang salehlah yang menaikkan-Nya”. (QS. Fâthir : 10)[2]

Syahid Mutahhari dalam konteks ini menuturkan, “Kemanusiaan menusia terletak pada pengetahuannya tentang Tuhan, karena pengetahuan manusia tidak bisa terpisah dari-Nya, bahkan pengetahuan tersebut merupakan hal termulia dan termurni dalam eksistensi-Nya. Sejauh mana manusia mengetahui eksistensi, sistem, awal dan sumber eksistensi itu, maka terbentuklah kemanusiaannya yang separuh dari substansinya adalah ilmu pengetahuan. Menurut perspektif Islam, khususnya dalam perspektif Syi’ah, tanpa memandang efek praktis dan sosial yang ditimbulkan, mengenal Tuhan merupakan tujuan dari manusia dan kemanusiaan itu sendiri”.[3]

Tuhan, Siapakah itu?

Siapa wujud yang disebut Allah oleh orang Arab, God oleh orang Barat, dan Khudo oleh orang Persia? Apa sifat-sifat-Nya? Apa hubungannya dengan kita? Bagaimana cara kita berhubungan dengan-Nya? Dan seterusnya.

Dengan memperhatikan sejarah manusia, kita akan dapat memahami bahwa keyakinan terhadap keberadaan Tuhan telah muncul sejak dahulu kala. Dengan kata lain, sejarah keyakinan terhadap Tuhan muncul seiring dengan keberadaan manusia. Tetapi, hal ini bukan berarti semua orang yang meyakini Tuhan memiliki persepsi dan definisi yang sama.

Polemik dan perbedaan pendapat tentang Tuhan ini sangatlah dahsyat sekali, terlebih di kalangan orang-orang yang mengandalkan akal dan pemikiran pribadi tanpa mendengarkan tuntunan para duta Ilahi. Sebelum kita menjelaskan sifat-sifat Tuhan dalam kaca mata Islam, alangkah baiknya jika kita bandingkan terlebih dahulu konsep Tauhîd dalam Islam dan konsep ke-Tuhanan dan beragama dalam pandangan agama lain. Untuk itu, di sini kami akan bawakan beberapa pandangan para ilmuwan nomor satu dunia mengenai Tuhan.

a. Tuhan Dalam Perspektif Sokrates

Sokrates (399-470) tidak berbeda dengan orang Yunani kebanyakan. Ia meyakini Tuhan yang berbilang. Berdasarkan sejarah filsafat yang dinukil dari karya-karyanya, Sokrates berkeyakinan bahwa manusia tidak butuh lagi bimbingan dan “uluran tangan” Tuhan untuk sampai pada kebahagiaannya. Sokrates juga tidak menyebut sama sekali posisi dan hubungan Tuhan dengan kehidupan manusia, walaupun pada tempat lain ia berkeyakinan bahwa kesempurnaan manusia harus berlandaskan moral dan etika.

b.Tuhan Dalam Perspektif Plato

Plato (348/347-428/427) berasumsi bahwa ada dua eksistensi yang disebut sebagai Tuhan: pertama,kebaikan absolut, dan kedua, Pencipta. Plato beranggapan bahwa kebaikan absolut adalah Tuhan asli atau Tuhan Bapak, sedang Pencipta adalah Tuhan Anak. Menurut keyakinannya, pengetahuan tentang kebaikan absolut sangatlah sulit, bahkan merupakan pengetahuan tersulit yang dapat dicapai. Dua Tuhan ini hanya bisa diketahui dan dipahami oleh para filsuf, di mana mereka adalah pribadi-pribadi yang memiliki keistimewaan spiritual, nalar, dan bahkan fisik. Perlu diingat bahwa bukan sembarang filsuf yang ia maksud. Yang dimaksud adalah hanya para filsuf yang telah menginjak usia 50 tahun yang mampu memahami kebenaran absolut. Sedangkan kelompok lain yang merupakan mayoritas, tidak akan mampu memahami keberadaan-Nya sampai kapanpun.

c.  Tuhan Dalam Perspektif Arestoteles

Menurut keyakinan Arestoteles (322/321-384/383), alam senantiasa ada dari sejak dulu kala, dan tidak diciptakan oleh siapa pun. Oleh karenanya, Tuhan versi Arestoteles bukan Pencipta alam, tetapi penggerak alam itu sendiri yang diyakininya sebagai Tuhan; penggerak yang ia sendiri tidak bergerak. Ciri paling dominan yang dimilki oleh Tuhan versi Arestoteles ini adalah ia penggerak dan ia sendiri tak bergerak. Adapun poin penting dalam pengenalan Tuhan dalam perspektif Arestoteles adalah Tuhan tidak layak disembah, dicintai dan  dinanti pertolongan-Nya. Tuhan Arestoteles tidak bisa menjawab dan membalas cinta hamba-Nya. Ia tidak memiliki andil sedikitpun dalam setiap tindakan manusia. Ia hanya sibuk memikirkan diri-Nya sendiri.[4]

d. Tuhan Dalam Perspektif Kaum Kristiani Abad Pertengahan

Pada pembahasan faktor-faktor yang membuat orang lari dari agama di Barat, telah kita singgung illustrasi gereja tentang Tuhan. Di sini kita akan tambahkan bahwa pada abad pertengahan, konsep ber-Tuhan adalah salah satu penyebab dari sekian banyak sebab yang berpengaruh dalam kehidupan. Orang-orang yang meyakini keberadaan Tuhan pada era ini selalu berasumsikan bahwa setiap fenomena yang tidak diketahui penyebab aslinya, seperti gerhana matahari dan bulan, mereka larikan semuanya kepada Tuhan dan menganggap Tuhanlah penyebab segalanya.

Kongklusi dari pendapat ini adalah Tuhan hanya bisa diketahui dalam kebodohan mereka, dan secara otomatis, semakin bertambah pengetahuan kita, maka semakin sempitlah ruang lingkup Tuhan, sehingga andaikata pada suatu saat segala tabir yang menutupi manusia tersingkap dan manusia telah memahami faktor naturalis dari berbagai fenomena, niscaya tidak ada tempat lagi bagi Tuhan dalam kehidupannya untuk selamanya.

Berdasarkan persepsi ini, hanya sebagian saja dari eksistensi yang menunjukan keberadaan Tuhan. Eksistensi tersebut adalah eksistensi yang tidak diketahui sebab keberadaan-Nya. August Comte mengatakan, “Ilmu pengetahuan adalah pemisah Tuhan dari kerja-Nya”.[5]

Maksud dari ungkapan ini adalah sampai sekarang manusia berasumsi bahwa sebab dari segala sesuatu adalah Tuhan. Artinya, Tuhan adalah seperti simbol kekuatan yang dipahami oleh mereka. Tak ubahnya bagaikan tukang sihir yang tanpa pendahuluan apapun sanggup menciptakan sesuatu. Contohnya, jika seseorang sakit kepala, kemudian ia ditanya kenapa kau sakit kepala, jawabannya adalah Tuhan yang menciptakannya. Maksud dari ungkapan ini adalah tidak ada faktor alami yang membuat sakit kepala itu. Sebagai konsekuensinya, ketika dipahami bahwa sakit kepala itu disebabkan oleh firus ini dan itu, maka Tuhan tidak mendapatkan tempat lagi di dalam benak mereka. Dan begitulah seterusnya, semakin tersingkap sebab-sebab (segala fenomena alam) yang dulunya terselubung, maka pengaruh Tuhan akan semakin sempit dan sempit hingga akhirnya tidak mereka yakini sama sekali.

Pada dasarnya, kelompok yang meyakini Tuhan seperti ini, mereka menganggap Tuhan tak lebih dari bagian alam semata.[6] 

e.Tuhan Dalam Perspektif Galileo

Setelah abad pertengahan berlalu dengan mementaskan  parade akbar ilmu-ilmu empiris, para ilmuwan yang tentunya memiliki landasan empirik, seperti Galileo (1564-1642), berpandangan lain tentang Tuhan. Ia berpendapat, “Alam adalah kumpulan dari sekian milyard atom yang tak terhingga. Setiap benda tersusun dari atom-atom itu, sedang “kerja” Tuhan hanyalah menciptakan dan menyediakan atom-atom itu, sehingga ketika alam sudah tercipta berkat Tuhan (sebagai Pencipta atom), ia tidak butuh lagi kepada-Nya, dan berjalan sendiri secara independen”.[7]

f.Tuhan Dalam Perspektif Newton

Newton (1642-1727) menganggap bahwa hubungan Tuhan dan makhluk-Nya seperti hubungan jam dan pembuatnya. Sebagaimana jam bisa berjalan sendiri setelah dirancang dan disusun, alam pun juga demikian setelah diciptakan oleh Tuhan. Secara independen, ia wujud sebagaimana kita lihat sekarang. Newton juga menambahkan satu poin yang menjadi faktor pembeda pendapatnya dengan pendapat Galileo. Ia mengatakan, “Tuhan terkadang turun tangan dalam masalah tertentu. Tuhan juga meluruskan dan menata ketidakteraturan gerak planet-planet, dan mencegah benterokan-benterokan antara bintang satu dengan yang lain”.

Pendapat ini dapat kita katakan sebagai kelanjutan dari pandangan umum yang populer di abad-abad pertengahan yang meyakini Tuhan berada dalam tempat-tempat yang tak diketahui sebabnya. Ketika terungkap bahwa tidak terjadinya bentrokan antara galaksi bukan karena campur tangan langsung dari Tuhan dan sesuai dengan undang-undang ilmiah, maka untuk kesekian kalinya ”kerja” Tuhan kembali menyempit dan terbatas.[8]

Mayoritas ilmuwan yang hidup pada abad ke-17 dan 18 lebih meyakini pendapat Galileo ketimbang yang lain. Keyakinan tersebut, seperti yang kita bawakan sebelumnya, mengatakan, Tuhan menciptakan alam yang – dalam kelanjutannya – tidak membutuhkan lagi kepada Tuhan, seperti sebuah bangunan yang tidak butuh lagi kepada arsitek untuk kelanggengannya.

Ringkasan

1. Kemanusian manusia tergantung pada seberapa banyak pengetahuannya terhadap Tuhan, karena ilmu dan pengetahuan manusia merupakan bagian terpenting dan termulia dari eksistensinya. Mengenal Tuhan juga merupakan tujuan kemanusiaan.

2. Sokrates (399-470 SM.) meyakini adanya beberapa Tuhan, dan manusia untuk sampai pada kebahagiaannya tidak butuh lagi pada petunjuk dan bimbingan Tuhan. Sokrates tidak menjelaskan secara rinci kedudukan Tuhan serta hubungan-Nya dengan kehidupan manusia.

3. Plato (348/7-428 SM.) meyakini adanya dua Tuhan. Namun, hanya para filsuf sajalah yang mampu memahami dan mengenal dua Tuhan tersebut. Itupun setelah melalui beberapa jenjang dan tahapan yang amat padat di usia 50 tahunan. Sedang lapisan masyarakat yang lain, mereka tidak akan dapat mengenal Tuhan untuk selamanya.

4. Arestoteles (322/1-384 SM.) berasumsi bahwa alam itu Qadîm yang tidak diciptakan oleh siapapun. Tuhan versi Arestoteles bukanlah Pencipta alam, akan tetapi Ia hanya penggerak alam. Dalam keyakinannya, Tuhan tidak layak untuk disembah, dicintai, dan tak dapat dinanti pertolongan-Nya, sebab Ia tak mampu menjawab cinta kasih manusia, dan tak dapat melakukan apapun untuk manusia.

5. Kaum Kristiani abad pertengahan memiliki gambaran lain akan Tuhan. Mereka mensejajarkan Tuhan dengan sebab-sebab lain yang berpengaruh dalam kehidupan, dan ketika penyebab sebuah pristiwa tidak mereka ketahui, mereka langsung mengembalikannya kepada Tuhan.

6. Dalam perspektif Galileo, “kerja” Tuhan hanyalah menciptakan atom-atom saja. Dunia, setelah tercipta, tidak lagi membutuhkan Tuhan. Oleh karena itu, ada-tidaknya Tuhan setelah itu tidak berpengaruh sama sekali atas alam. Teori dan pendapat ini banyak dianut oleh para ilmuwan abad ke-17 dan 18-an Masehi.

7. Newton meyakini hubungan Tuhan dan alam seperti hubungan arloji dan pembuatnya. Ia berkeyakinan, sewaktu-waktu Tuhan juga turun tangan untuk mengatur alam. Dan Ia juga mencegah sebagian ketidakteratuan dalam gerak dan perputaran galaksi.

TUHAN DALAM ISLAM

Sekilas Tentang Sifat-Sifat Tuhan Dalam Perspektif Al-Qur’an

Bisa dikatakan bahwa argumen pokok munculnya Islam adalah penjelasan tentang hakikat Tuhan sebagaimana mestinya.[9] Tidak ada teks dan literarur agama yang selengkap dan sebaik Al-Qur’an dalam memaparkan sifat-sifat Allah SWT. Bahkan agama sebelum Islam pun tak mampu menjelaskannya secara komprehensif. Al-Qur’an telah menjelaskan sifat-sifat Allah SWT dalam bentuk yang paling komplit walaupun dalam batas kemampuan pemahaman dan bahasa manusia.

Menurut Al-Qur’an, Tuhan adalah Maha Luas (rahmat-Nya), Maha Mengetahui,[10] Paling Cepat Menghisab,[11] Maha Hidup, Maha Kekal dan Senantiasa Mengurus Makhluk-Nya,[12] Maha Tinggi, Maha Besar, Maha Benar (Maha Benar, Tepat dan Pemilik Hakikat)[13], Dzat Yang Memiliki Kebesaran dan Kemuliaan,[14] Tuhan Yang Tidak Bergantung pada sesuatu yang lain, dan segala sesuatu  bergantung kepada-Nya.[15]

Tuhan adalah Maujud sebelum terwujudnya segala sesuatu, dan sekaligus Ia Akhir dari segala sesuatu, Maha Zhâhir dan sekaligus Bâthin.[16]

Tuhan Yang Tinggi (Transedental)[17], artinya Ia lebih tinggi dari segala yang kita tak akan dapat memahami dan menggambarkan sedikitpun hakikat, keindahan, dan keagungan-Nya.[18]

Mata-mata telanjang tak akan mampu melihat-Nya, sedang Ia melihat mata-mata.[19]

Tuhan Yang Tunggal dan Tidak Ada Tuhan Selain-Nya,[20] Ia Esa (Ahad),[21] Ia Satu (Wâhid),[22] dan tiada sesuatu yang sepadan dengan-Nya.[23]

Nama-nama terbaik adalah milik-Nya dan Ia dapat dipanggil dengan nama-nama tersebut.[24]

Ia adalah Raja Dunia yang sejati, Maha Suci dari segala cela, Pemberi selamat, Yang Mengaruniakan keamanan, Maha Pemelihara segala sesuatu, Maha Perkasa, Maha Kuasa, Yang Pantas Sombong.[25]

Pemilik sifat-Sifat Terbaik.[26] Kemanapun kita arahkan wajah kita, Ia senantiasa berada di sana.[27]

Ia Mengetahui segala sesuatu,[28] dan Kuasa atas segala sesuatu.[29]

Tuhan yang walaupun Maha Agung,  Tidak Terbatas, tak memiliki tandingan dan partner, namun Ia lebih dekat kepada manusia dari urat nadi mereka, bahkan Ia mengetahui segala bisikan dalam jiwa manusia.[30]

Tuhan yang Maha Pengasih dan Penyayang. Dua sifat ini begitu banyaknya di mana setiap surah Al-Qur’an selalu diawali dengan dua sifat ini “Bismillâhirrahmânirahîm”. Tuhan yang mewajibkan rahmat dan kelembutan bagi diri-Nya.[31]

Tuhan yang Maha Pengampun, Penghapus dosa, Maha Mengampuni, Maha Kuat,[32] Penakluk,[33]Maha Penakluk,[34] Penerima Taubat,[35] Maha Pemberi Anugerah,[36] Maha pencinta,[37] Maha pengasih,[38] Pemilik nikmat,[39] Pemilik rahmat,[40] Maha pengampun,[41] Pemilik keutamaan yang agung.[42]

Ia adalah Tuhan yang mendengar permintaan hamba-Nya sekaligus mengabulkannya,[43] tangan penuh rahmat dan kuasa-Nya senantiasa terbuka lebar, setiap yang diminta, pasti diberikannya, Ia Dzat Pemberi rizki.[44]

Tuhan dalam perspektif Al-Qur’an adalah Tuhan yang Maha Pencipta,[45] Pencipta langit dan bumi.[46]Bahkan lebih tinggi lagi, Ia adalah Pencipta segala sesuatu.[47] Dengan demikian, segala fenomena dan eksistensi yang ada di dunia bergantung dan butuh pada-Nya.

 Tuhan, yang di langit sebagai Tuhan dan di bumi sebagai Tuhan pula.[48]

Di mana kita berada, Tuhan selalu bersama kita, dan Ia mengetahui segala perbuatan yang kita kerjakan.[49]

Tuhan dalam Al-Qur’an adalah Rabb (pemilik ikhtiar, raja, pengatur dan pengurus segala sesuatu) dan Tuhan semesta alam.[50]

Ia tak memiliki tandingan dan padanan, baik dalam Penciptaan, pemerintahan,[51] pengaturan,[52]  pengadilan,[53] syafa’at,[54] dan kesempurnaan. Setiap bagian dan sempalan kesempurnaan bersumber dan berasal dari-Nya.[55]

Pada dasarnya, Al-Qur’an adalah sebuah kitab pengenalan terhadap Tuhan. Dari kedalaman dan kedetailan ayat-ayat-Nya sampai-sampai cendekiawan besar manapun tak sanggup untuk mengetahui hakikat dan realita-Nya. Definisi Al-Qur’an tentang Tuhan merupakan definisi terlengkap dan termudah, serta paling komperehensif. Oleh karena itu, Imam Khomeini ra, seorang arif nan bijak, pemikir dan mufassir besar mengatakan, ”Andaikan Al-Qur’an tidak ada, niscaya pintu untuk mengenal Allah akan tertutup selamanya…. Tak ada  satu kitab pun yang dapat menjelaskan Tuhan sebagaimana yang dipaparkan olehnya, bahkan dalam kitab-kitab irfânî sekalipun...”.[56]

Ringkasan

1. Tidak ada Satu kitab pun yang mampu mengenalkan Tuhan selain kitab suci Al-Qur’an.

2. Tuhan memiliki segala sifat kesempurnaan, dan nama-nama terbaik hanya milik-Nya semata.

3. Ia Tunggal, Satu, dan tiada sesuatu yang sepadan dengan-Nya.

4. Tuhan, kendati Maha agung dan besar, namun Ia lebih dekat kepada manusia daripada urat nadi mereka, dan di manapun kita arahkan wajah kita, Ia pasti berada di sana.

5. Maha Pemberi Anugerah, Maha Pengasih, dan Tuhan Yang Rahmat-Nya Mengalahkan amarah dan murka-Nya.

6. Tangan-Nya selalu terbuka lebar, pengabul segala do’a, dan pecinta  para hamba-Nya.

7. Tuhan Pencipta segala sesuatu dan pengatur segala urusan.

8. Andaikan Al-Qur’an tidak ada, niscaya pintu untuk mengenal Allah akan tertutup untuk selamanya (Imam Khomeini).

TUHAN, WUJUD BADÎHΠ(APRIORI)[57]

Aprioritas Eksistensi Tuhan Dalam Kaca Mata Al-Qur’an[58]

Buku-buku filsafat dan Kalâm seringkali dimulai dengan kajian mengenai penetapan keberadaan Tuhan yang dengan berbagai argumentasi berupaya membuktikan bahwa alam ini mempunyai Tuhan dan Ia bukanlah makhluk dan ciptaan siapapun.

Adapun dalam kitab-kitab langit seperti Al-Qur’an, tema tentang Tuhan dijelaskan sangat berbeda. Dalam kitab-kitab suci jarang ditemukan argumentasi secara langsung dalam menetapkan asal keberadaan Tuhan. Seakan-akan keberadaan-Nya adalah suatu hal yang gamblang dan jelas, yang tidak bisa diingkari dan tidak membutuh dalil maupun argumentasi.

Allamah Thabathabai dalam tafsir Al-Mîzânnya menegaskan, “Al-Qur’an menganggap keyakinan terhadap Tuhan merupakan permasalahan apriori (badîhî). Dengan artian, meyakini hal itu tidak memerlukan argumentasi. Yang perlu diargumentasikan adalah sifat-sifat-Nya saja, seperti ke-Esaan Tuhan, Penciptaan, ilmu dan kekuasaan-Nya.[59]

Menurut keyakinan mufassir besar ini dalam syi’ar Islam lâ ilâha illalâh sebagai inti tuntunan Al-Qur’an – yang perlu diargumentasikan adalah sisi negatifnya yang berarti “tidak ada Tuhan selain Allah”. Adapun “Tuhan itu ada” sama sekali tidak memerlukan agumentasi sedikitpun”.[60]

Logika Al-Qur’an dalam menetapkan eksistensi Tuhan, adalahafillâhi syakk (apakah ada keraguan dalam keberadaan Allah?) [61]

Aprioritas Eksistensi Tuhan Dalam Perspektif Agama Lain

Sebagaimana telah kami terangkan di atas tadi, dalam kitab agama-agama langit yang lain teori semacam ini juga dipakai. A.J. Alberry dalam bukunya  ‘Aql va Wahy dar Qur’ân (Akal dan Wahyu Dalam Al-Qur’an) mengatakan, “Di  zaman Plato, Yunani menjadi asal muasal di mana penetapan keberadaan Tuhan membutuh argumentasi. Ini merupakan langkah pertama yang dilakukan masyarakat Barat dalam mencari Tuhan. Tidak ada  seorang pun dari penulis kitab Perjanjian Lama (Taurat) yang mengalami kebuntuan dan kejelimetan dalam menjelaskan keberadaan Tuhan, yang menimbulkan pertanyaan dan keraguan. Karena bangsa Sâmî (bangsa Arab dan Yahudi) mengenal dan mengetahui Tuhan dalam wahyu itu sendiri. Hal ini juga terdapat dalam kitab Perjanjian Baru (Injil) kendati terdapat sedikit perbedaan”.[62]

Dari kitab Avesta (kitab suci agama Zoroaster – Pen.) juga  bisa dipahami bahwa keberadaan Tuhan adalah sebuah hal yang apriori. Dengan demikian, aprioritas wujud Tuhan bukanlah keyakinan kaum Sâmîsemata.

Alhasil, dalam UpaniShâds yang termasuk kitab-kitab suci agama Hindu, kendati terdapat penjelasan akan pertayaan tentang keberadaan Pencipta,[63] akan tetapi, lebih banyak didapati ungkapan siapa Pencipta itu? Apa sifat-sifat-Nya? Dan jarang ditemukan ungkapan tentang keraguan wujud Tuhan.

Masyarakat Jahiliyah Dan Keyakinan terhadap Tuhan

Dari ayat-ayat Al-Qur’an kita dapat memahami bahwa keberadaan Tuhan sudah diyakini oleh masyarakat jahiliyah kala itu. Tak terkecuali para penyembah berhala.

وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنُ خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَاْلأَرْضَ وَسَخَّرَ الشَّمْسَ وَاْلقَمَرَ لَيْقُوْلُنَّ اللهُ فَأَنَّى يُؤْفَكُوْنَ

“Dan jika mereka ditanya, “Siapa Pencipta langit dan bumi, dan siapa yang mengendalikan matahari dan rembulan?, niscaya mereka akan menjawab, “Allah!”, maka betapa mereka dapat dipalingkan dari jalan yang benar".[64]

وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ نَزَّلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَحْيَى بِهِ اْلأَرْضَ مِنْ بَعْدِ مَوْتِهَا لَيَقُوْلُنَّ اللهُ قُلِ الْحَمْدُ ِللهِ بَلْ أَكْثَرُهُمْ لاَ يَعْقِلُوْنَ

“Dan disaat kamu bertanya pada mereka, “Siapakah yang menurunkan air hujan dari langit, lalu Ia menumbuhkan bumi setelah matinya, niscaya mereka akan akan berkata, “Allah!”. Katakanlah segala puji bagi Allah, akan tetapi sebagaian besar dari mereka tidak berakal dan tak berfikir".[65]

وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَاْلأَرْضَ لَيَقُوْلُنَّ خَلَقَهُنَّ الْعَزِيْزُ الْعَلِيْمُ

“Dan ketika kamu bertanya pada mereka, “Siapa yang menciptakan langit-langit dan bumi, niscaya mereka akan mengatakan bahwa Dzat yang Maha Agung dan Maha mengetahuilah yang menciptakan semuanya”.[66]

Keyakinan Kaum Nuh, ‘Âd, Dan Tsamûd Terhadap Eksistensi Tuhan

Dari beberapa ayat Al-Qur’an juga dapat dipahami bahwa keberadaan Tuhan tidak hanya diyakini oleh masyarakat yang hidup sezaman dengan nabi SAWW. Kaum Nuh, ‘Âd, dan Tsamûd, serta kaum-kaum yang hidup setelah mereka, sama sekali tidak berpolemik dengan para nabi zamannya tentang masalah keberadaan Tuhan. Yang mereka pertentangkan adalah ke-Esaan Tuhan, kenabian, dan hari pembalasan. Para penyembah berhala juga demikian. Mereka menerima wujud Tuhan sebagai Pencipta alam, sedang patung dan berhala-berhala itu mereka sembah karena dianggap sebagai manifestasi wujud Tuhan.

Dengan kata lain, mereka menyembah berhala-berhala sebagai sarana dan penolong bagi mereka untuk berdialog dan mendapatkan keinginannya dari Tuhan.

أَلَمْ يَأْتِكُمْ نَبَأُ الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ قَوْمُ نُوْحٍ وَعَادٍ وَثَمُوْدَ وَالَّذِيْنَ مِنْ بَعْدِهِمْ لاَ يَعْلَمُهُمْ إِلاَّ اللهُ ... فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُتَوَكِّلُوْنَ

“Apakah telah sampai pada kalian kabar tentang kaum sebelum kalian; kaum Nuh, ‘Âd, dan Tsamûd serta generasi setelah mereka yang tidak diketahu kecuali oleh Allah? Para nabi di zaman mereka telah datang dan berusaha mengajak mereka, namun mereka menutup mulut-mulut mereka dengan tangan mereka,[67] dengan suara lantang mereka berkata, ”Kami tidak meyakini risalah dan misi yang kalian bawa dan kami sangat meragukan apa yang kalian serukan kepada kami untuk mempecayainya”.

Para nabi bertanya kepada mereka, “Apakah ada keraguan bahwa ada Pencipta langit dan bumi? Ia menyeru kalian sehingga dosa-dosa kalian terampuni, dan pada waktu yang telah ditentukan Ia telah memberikan tenggang waktu”. Akan tetapi mereka malah mengatakan, ”Tidak, kalian manusia biasa seperti kami, dan kalian ingin memalingkan kami dari apa yang telah disembah oleh para leluhur kami. Oleh karena itu, paling tidak berikan kami dalil yang lebih jelas lagi”.

Para nabi berkata, ”Memang kami manusia biasa seperti kalian, namun Tuhan telah memberikan nikmat-Nya pada hamba-Nya yang memiliki keinginan, dan misi ini sama sekali bukan ikhtiar kami sendiri untuk menjelaskan pada kalian, tetapi berkat izin Allah. Dan para Mukmin hanya bertawakkal kepada-Nya. Kemudian, kenapa tidak pasrahkan pada-Nya, padahal Ia telah menunjukkan jalan bagi kita? Kami tabah akan siksaan yang kalian lancarkan pada kami, dan orang-orang yang pasrah hanya bertawakal pada Allah”.

Allamah Thabathabai dalam  menafsirkan ayat-ayat di atas, lebih menitikberatkan pada satu poin bahwa keraguan para penyembah berhala tidak tertuju pada konteks wujud Tuhan. Akan tetapi, mengenai ke-Esaan-Nya, risalah (kenabian), dan hari kebangkitan. Bahkan jika dicermati lebih dalam lagi, penggalan ayat yang mengatakan fâthiris samâwâti wal ardh juga dalam konteks pemberian argumentasi tentang ke-Esaan Tuhan, bukan mengenai wujud dan keberadaan-Nya.[68]

Thabarsî dalam tafsir Majma’ul Bayân dan Sayyid Qutub dalam  Fî Zhilâlil Qur’annya serta sekelompok mufassir yang lain juga berpendapat yang sama, bahwa pengingkaran para penyembah berhala itu tertuju pada konteks ke-Esaan Tuhan, bukan wujud-Nya.

Ringkasan

1. Dalam kitab-kitab langit, seperti Al-Qur’an, keberadaan wujud Tuhan merupakan hal yang telah diterima (oleh semua) dan amat gamblang sehingga tidak perlu diragukan dan diargumentasikan lagi.

2. Seperti dikatakan oleh sebagaian penulis Barat, tidak ada seorang pun penulis kitab Taurat dan Injil yang mengalami kerancuan dalam keberadaan Tuhan, dan menganggapnya sebagai hal yang tak perlu diargumentasikan. Hal serupa juga dapat kita jumpai dalam Avesta dan kitab-kitab suci agama yang lain.

3. Dari ayat-ayat Al-Qur’an kita dapat memahami kalau masyarakat yang hidup sezaman dengan Nabi, tak terkecuali para penyembah berhala, telah meyakini wujud Tuhan.

4. Dari berbagai ayat Al-Qur’an juga dapat dipahami bahwa keyakinan akan wujud Tuhan juga telah diyakini oleh kaum Nuh, kaum ‘Âd, kaum Tsamûd, dan kaum-kaum lain setelah mereka. Polemik dan pertentangan yang digalang oleh mereka hanya berkisar pada ke-Esaan (Tauhîd), kenabian (Nubuwwah), dan hari kebangkitan (Ma’ad). 

FITRAH DAN TUHAN

Dari ayat-ayat Al-Qur’an kita dapat meyimpulkan beberapa poin penting berikut ini:

1. Keyakinan akan wujud Tuhan.

2. Kecenderungan untuk ber-Tuhan.

3. Kecenderungan untuk menyembah-Nya merupakan hal fitri. Artinya, hal itu sudah ada dalam diri manusia.

Sebelum kita bawakan ayat-ayat yang memuat pon-poin di atas, alangkah baiknya jika kita sebutkan beberapa proposisi lazim berikut ini:

Arti Linguistik Fitrah

Fitrah yang bermakna robek dari sisi panjang, diambil dari akar kata فطر Kemudian, semua yang terbelah dan terkoyak disebut fitrah. Ciptaan disebut juga demikan, sebab wujud dan keberadaan telah merobek alam kegelapan dan ketiadaan yang membungkusnya. Makna ini adalah arti paling populer dari kata fitrah, sebagaimana inovasi dan kreasi baru juga bisa dipahami dari kata ini.

Fitrah yang mengikuti wazan  fi’lah berarti nau’ (kualitas dan cara). Oleh karena itu, secara linguistik fitrah bermakna sebuah sistem khusus penciptaan. Dengan demikian, fitrah manusia artinya ciptaan khusus yang tersimpan dalam diri manusia.[69]

Kata fitrah ini juga pertama kali dipakai oleh Al-Qur’an dalam kaitannya dengan manusia, dan sebelumnya tidak pernah ada pemakaian kata fitrah seperti ini.[70]

Fitrah Dalam Al-Qur’an

Al-Qur’an banyak sekali memakai kata fitrah dan musytaqnya, seperti berikut:

- فَاطِرِ السَّمَوَاتِ وَ الأَرْضَ[71].

- فَطَرَكُمْ أَوَّلَ مَرَّةٍ[72].

- فَطَرَنَا[73].

- فَطَرَنِي[74].

- فَاطِرُ السَّمَوَاتِ وَ الأَرْضَ[75].

ِِِِAdapun arti dari penggalan ayat-ayat di atas adalah berbeda-beda. Ada yang bermakna ciptaan, maujud, dan sebagainya. Futhûr dalam ayat ke-8  surah Al-Mulk bermakna belahan, sedangkanMunfathirdalam ayat ke-18 surah Al-Muzzammil berarti sesuatu yang terbelah.

Sedangkan kata fitrah sendiri hanya sekali dibawakan oleh Al-Qur’an. Itu pun dengan dinisbatkan kepada Allah (Fithratallâh), dan hanya dikhususkan pada manusia (fatharan nâsa alaihâ). Kata itu terdapat dalam ayat 30  surah Ar-Rûm.

Ayat inilah yang menjadi sumber munculnya terminologi fitrah dalam Islam dan mengilhami para filsuf, cendekiawan, dan kaum arif dalam mengkaji ma’rifatullâh dan ma’rifatul insân.

Fitrah Ilahi Manusia

Setiap aliran yang mengklaim bahwa kesempurnaan dan kebahagiaan manusia bisa dicapai dengan mengamalkan segala tuntunannya, lazimnya memiliki pandangan dan definisi tersendiri mengenai manusia, yang pada akhirnya, berdasarkan definisi dan pemahaman tersebut, mereka dapat menentukan jalan dan kiat untuk sampai padanya.

Dalam Islam, pandangan dan kajian tentang manusia yang termuat  di dalam Al-Qur’an atau dalam riwayat para ma’shûm as tidak bisa dihitung jumlahnya. Begitu banyaknya kajian dan analisa berkenaan hal itu, membahasnya akan banyak memakan waktu dan memunculkan  buku-buku yang sangat tebal.[76]

Kata terbaik untuk mengungkap dan mengekspresikan pandangan Islam tentang manusia adalah istilah fitrah. Dengan demikian, bisa dikatakan teori Islam dalam menganalisa dan menyelami wujud manusia adalah teori fitrah.

Penjelasan Global Tentang Teori Fitrah

·   Manusia dengan bentuk ciptaannya memiliki format khusus. Ia juga memiliki pengetahuan-pengetahuan serta kecenderungan-kecenderungan khusus yang muncul dari dalam wujudnya, bukan dari luar fisik. Dengan kata lain, manusia bukanlah kain putih nan polos dan tak bertulis sebelumnya (kosong dari segalanya). Akan tetapi, dalam lubuk hati setiap manusia sudah tersimpan sejumlah kecenderungan-kecenderungan dan pengetahuan-pengetahuan khusus.

·   Kecenderungan yang berada dalam diri manusia itu sebagian berhubungan dengan bagian hewani, dan sebagian lagi berhubungan dengan kemanusiannya. Fitrah Ilahi manusia hanya bertalian dengan kecenderungan kelompok kedua (kecenderungan manusiawi), dan tidak berhubungan sama sekali dengan insting kebinatangan mereka, seperti insting seksualitas.

·   Kecenderungan-kecenderungan inilah yang menjadi faktor pembeda dan kelebihan manusia dari binatang. Oleh karena itu, siapapun yang kehilangan kecenderungan-kecenderungan tersebut, ia tak ubahnya seperti hewan dalam bentuk manusia.

·   Kecenderungan ini adalah spesies manusia. Artinya, kecenderungan itu tidak terbatas pada segelintir orang saja atau khusus dimiliki kelompok masyarakat dalam masa tertentu. Kecenderungan itu dimiliki oleh semua manusia di setiap waktu dan tempat serta dalam kondisi bagaimanapun.

·   Kecenderungan ini potensial sifatnya. Dengan kata lain, ia dimiliki oleh setiap manusia. Akan tetapi, tumbuh dan berkembangnya bergantung pada upaya dan usaha masing-masing individu manusia.

·   Jika manusia mampu memelihara dan memupuk kecenderungan ini, ia akan menjadi makhluk terbaik, bahkan lebih baik dari para malaikat sekalipun, dan ia akan sampai pada kesempurnaannya. Tapi sebaliknya, jika kecenderungan itu mati yang secara otomatis kecenderungan hewani akan menguat dan unggul, orang semacam ini akan lebih rendah dari setiap binatang dan terjerembab ke dasar neraka yang paling dalam.

·   Sebagaimana telah kita katakan tadi,  fitrah manusia terkadang masuk dalam kategori persepsi dan pengetahuan, terkadang  masuk dalam kategori kecenderungan dan keinginan. Ekstemporal primer (badihiyât awwaliyah) yang dibahas dalam ilmu logika, merupakan bagian dari pengetahuan-pengetahuan fitri manusia. Sedangkan hal-hal, seperti rasa ingin tahu, cinta keutamaan, dan cinta kecantikan dan keelokan adalah bagian dari kecenderungan-kecenderungan fitrah manusia.

Mengenal Dan Menyembah Tuhan Adalah Hal Fitri

Dari ajaran Al-Qur’an bisa kita pahami bahwa mengenal Tuhan dan kecenderungan ber-Tuhan merupakan sebuah hal yang fitri. Sebagaimana yang telah kami jelaskan dalam pembahasan “Tuhan Wujud Aprior bagi Semua”, keyakinan akan wujud Tuhan adalah sebuah “kesepakatan” dan bukan hal samar yang terselubung sehingga memerlukan argumentasi untuk membuktikannya. Dari pembahasan itu kita bisa memahami arti mengenal Tuhan adalah fitri.

Salah satu ayat yang mengidikasikan hal tersebut adalah ayat ke 30 surah Ar-Rûm.

فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّيْنِ حَنِيْفًا فِطْرَةَ اللهِ الَّتِيْ فَطَرَالنَّاسَ عَلَيْهَا لاَ تَبْدِْيلَ لِخَلْقِ اللهِ ذَلِكَ الدِّيْنُ الْقَيِّمُ وَلَكِنَّ أَكْثَرَالنَّاسِ لاَ يَعْلَمُوْنَ

Ayat ini dengan gamblang menegaskan bahwa agama adalah hal yang fitri. Dalam  menjelaskan arti dari “agama” (dîn) yang terdapat dalam ayat di atas, para mufassir terbagi ke dalam dua kelompok:

a. Kelompok pertama berpendapat bahwa maksud dari agama  (dîn) tersebut adalah sekumpulan ajaran, hukum yang berlandaskan ke-Islaman. Berdasarkan pendapat ini, semua yang terdapat dalam agama – dimana tuntunan terbaiknya berupa pengenalan dan penghambaan terhadap Tuhan – adalah bersifat fitri dan tersimpan dalam setiap diri manusia. Allâmah Thabathabai, salah satu dari sekian banyak mufassirîn yang meyakini pendapat ini.

b. Kelompok kedua berpendapat bahwa maksud dari agama yang sesuai dengan fitrah adalah kondisi pasrah dan tunduk secara murni di hadapan Tuhan. Karena tunduk dan taat sepenuhnya atas perintah Tuhan merupakan inti dari agama.

إِنَّ الدِّيْنَ عِنْدَ اللهِ اْلإِسْلاَمُ

Berdasarkan pendapat ini, maksud dari naluri beragama adalah sebuah fitrah )kecenderungan( untuk menyembah Tuhan sudah ada dari dulu dalam jiwa manusia. Dan jelas, ketika kita katakan penyembahan terhadap Tuhan suatu yang fitri, maka pengenalan tentang-Nya pun harus fitri juga. Karena bagaimana mungkin secara fitrah kita menyembah Tuhan, di saat kita tidak mengenal-Nya (secara fitri)?

Ringkasan

1. Ayat-ayat Al-Qur’an secara gamblang menjelaskan bahwa keyakinan terhadap keberadaan Tuhan, kecenderungan untuk ber-Tuhan dan naluri untuk menyembah-Nya adalah hal yang fitri.

2. Salah satu arti kata fathara adalah penciptaan, sedangkan fitrah  secara linguistik bermakna sistem khusus penciptaan. Dengan demikian, fitrah manusia berarti sebuah sistem ciptaan khusus bagi manusia.

3. Kata fitrah hanya sekali disebutkan dalam Al-Qur’an (Ar-Rûm : 30), itupun dengan bentuk penisbatan kepada Allah, dan khusus bagi manusia.

4.Perspektif Islam tentang manusia dapat dijelaskan melalui teori fitrah.

5.Berdasarkan teori fitrah:

·  Manusia sesuai dengan tabiat ciptaannya yang pertama, memiliki bentuk khusus, dan sudah sejak awal memiliki pengetahuan dan kecenderungan-kecenderungan khusus.

·  Fitrah Ilahi manusia hanya berkaitan dengan kelompok kecenderungan-kecenderungan khusus insani, bukan kecenderungan yang sama-sama dimiliki oleh manusia dan hewan.

·  Pengertian dan kecenderungan fitrah manusia merupakan faktor pembeda antara manusia dan hewan.

·   Kecenderungan fitri dimiliki oleh setiap individu manusia.

·   Kecenderungan tersebut tersimpan dalam diri manusia dan potensial sifatnya, di mana tumbuh dan berkembangnya tergantung pada setiap usaha masing-masing individu.

·   Apabila manusia dapat memupuk dan mengembangkan kecenderungan itu, ia akan lebih utama dari pada malaikat, dan sebaliknya, andaikan kecenderungan potensial ini gersang dan mati, niscaya ia akan lebih rendah dari posisi hewan.

·  Badihiyât awaliyah(apriori primer) termasuk pengetahuan fitrah, sedang rasa ingin tahu, rasa ingin unggul dari yang lain, rasa cinta keindahan termasuk kecenderungan-kecenderungan fitriyah.

6. Sesuai dengan ayat-ayat Al-Qur’an, mengenal Tuhan dan naluri ber-Tuhan adalah hal yang bersifat fitri.

7. Maksud dari dîn dalam ayat fitrah (Ar-Rûm : 30)  bisa berarti sekumpulan ajaran-ajaran dan hukum-hukum pokok Islam, atau kondisi penyerahan diri dan tunduk secara total di hadapan Allah. Alhasil, dari ayat di atas dapat dipahami bahwa mengenal Tuhan dan meyembahannya adalah hal yang bersifat fitri.

ARGUMENTASI KETERATURAN

Telah kami jelaskan bahwa wujud Tuhan adalah hal yang jelas. Dan keyakinan itu termasuk fitrah manusia. Artinya keyakinan ini muncul dari lubuk hati manusia. Akan tapi, hal ini bukan berarti tidak ada argumen dan dalil untuk membuktikan-Nya.[77] Ada beberapa argumentasi yang sudah pernah muncul di sepanjang sejarah.

Salah satu dari argumentasi tersimpel dan tergamblang adalah argumentasi keteratuaran. Argumen ini memiliki dua proposisi:

a. Ada sebuah sistem harmonis dan teratur dalam dunia ini.

b. Setiap sesuatu yang harmonis dan teratur pasti memiliki pengatur. Dengan demikian, keteraturan dan keharmonisan alam memiliki pengatur.

Pemahaman kandungan argumentasi ini sangatlah mudah. Setiap manusia, orang buta huruf sekalipun, mampu memahaminya, dan keberadaan Tuhan sebagai pengatur akan dapat dipahami dengan mengamati efek dan dampak keteraturan alam. Akan tetapi, untuk memahaminya lebih dalam lagi, terlebih dahulu kita harus menjelaskan definisi keteraturan itu dan sedikit menjelaskan mengenai dua proposisi di atas.

Definisi keteraturan

Keteraturan adalah berkumpulnya bagian-bagian beragam dalam sebuah tatanan dengan kualitas dan kuantitas khusus, yang berjalan seiring menuju sebuah tujuan tertentu.

Seperti sebuah jam. Kita katakan sebagai sebuah benda yang teratur, karena di sana didapati berbagai komponen-komponen yang memiliki kualitas dan kuantitas tersendiri. Artinya, jarum jam harus terbuat dari bahan ini, dan harus seukuran ini, kerja sama dan interaksi di antara komponen-komponen itu harus terjalin; jarum jam harus berputar dengan benar, sehingga hasilnya yang berupa penunjukan waktu bisa tercapai dengan tepat dan seterusnya.

Proposisi pertama

Tak seorang pun dapat memungkiri – kecuali para penolak keberadaan Tuhan –, bahwa  alam memiliki keteraturan. Keharmonisan dan keteraturan inilah yang menjadi bahan kajian dan telaah ilmu-ilmu empirik. Dengan berkembangnya sains dan ilmu pengetahuan, pentas dan nuansa baru tentang sistem baru alam mulai terkuak. Sekarang ini, jika kita bertanya kepada seorang ilmuwan tentang keteraturan alam, baik ia meyakini Tuhan atau tidak, ia akan menjawab bahwa di dalam alam ini terdapat sebuah sistem menakjubkan nan mempesona, mulai dari kinerja super detail organ-organ tubuh kita, keharmonisan yang terjalin di antara masing-masing organ tubuh dengan organ yang lain atom terkecil dari wujud kita (senyawa) dan kerangkanya yang rumit, sampai pada masing-masing organ-organ tubuh kita (hati, otak, saluran urat nadi), hubungan dan kerja sama erat antara satu dan yang lain, sampai kumpulan besar langit yang kita ketahui, semua berjalan sesuai dengan keteraturan yang detail, sempurna, dan menakjubkan.

Proposisi kedua

Proposisi kedua yang terdapat dalam argumen keteraturan adalah satu hal yang jelas dan diterima oleh semua orang, dan tanpa kita sadar selalu kita gunakan dalam pergaulan kita sehari-hari.

Ketika kita saksikan sebuah bangunan mentereng nan megah, niscaya kita akan berguman bahwa pastilah bangunan ini dibangun oleh insinyur yang profesional dan sangat ahli di bidangnya.

Ketika kita baca Nahjul Balâghah atau Shahîfah Sajjâdiyah, kita dapat menerka dan memahami bahwa kedua kitab tadi adalah hasil karya orang yang memiliki kefasihan, hikmah, ma’rifah, dan pengetahuan tak terhingga.

Dan ketika kita lihat sebuah arloji kecil yang sangat tepat dan apik kerjanya, kita akan memahami bahwa perancangnya adalah seorang spesialis yang sangat tahu tentang kerja arloji dan komponennya.

Apakah dengan kasus-kasus tadi dan ribuan kasus lain, dapat dimungkinkan semua hal yang ada (di dunia ini) terjadi akibat kebetulan saja, dan  semua berasal dari non spesialis di bidangnya?

Apakah kita akan mengklaim bahwa kertas yang berisi sebuah kajian ilmiah yang detail, ditulis oleh anak kemarin sore dan tanpa disadari, tangannya bergerak dengan sendirinya dan mengetik kajian detail itu?

Dengan demikian, semua tahu bahwa setiap keteraturan itu pasti memiliki pengatur.

Poin-poin penting

·   Kemampuan dan kebijakan selalu beriringan dengan keterturan. Artinya, semakin teratur dan detail sebuah benda dan sistem, semakin besar pula keyakinan kita akan kebijakan dan kemampuan pengaturnya.

·   Dalam argumentasi keteraturan, tidak perlu pembuktian adanya keteraturan di seluruh sejagad raya, tetapi cukup kita ketahui bahwa di dunia ada keteraturan. Dengan kata lain, dari keteraturan yang kita lihat, kita dapat memahami bahwa alam ini memiliki keteraturan, terlepas  bagian lain dari alam –  yang tidak kita ketahui – memiliki keteraturan ataukah tidak.

·   Argumen keteraturan menolak asumsi sekelompok ilmuwan yang mengatakan bahwa alam ini lahir dari alam yang tak memiliki perasaan dan akal, serta asumsi bahwa alam ini tercipta akibat gerak dinamis berbagai atom yang saling berinteraksi antara satu dengan lainnya.

·   Semakin ilmu empiris berkembang, akan semakan banyak keteraturan baru yang akan terkuak. Konsekuensinya, hal itu akan mengokohkan argumentasi keteraturan. Karena setiap inovasi dan penyingkapan baru dari sistem alam, akan menambah petunjuk dan tanda-tanda baru keberadaan Tuhan. Dalam pandangan para ilmuwan, seperti yang diungkapkan Hertsel, seorang astronom kenamaan, “Semakin luas sains dan pengetahuan, semakin kuatlah argumen keberadaan Tuhan Yang Azali dan Abadi”.[78]

·   Al-Qur’an kendati tidak menyebutkan argumentasi wujud Tuhan secara gamblang – karena menurut Al-Qur’an keberadaan Tuhan sebuah hal apriori –, namun tidak jarang Al-Qur’an menyebutkan dan menyinggung bahwa Tuhan tidak memiliki sekutu dan partner dalam urusan penciptaan, pengaturan alam, dan menetapkan bahwa hanya Dialah pengatur segala alam, serta kerap kali disebutkan keharmonisan dan keteraturan alam yang menakjubkan, sekaligus menyeru manusia untuk merenungkannya, karena setiap fenomena yang ada di alam merupakan bukti dan tanda keberadaan-Nya. Di bawah ini kami bawakan ayat yang berkaitan dengan hal itu:

إِنَّ فِيْ خَلْقِ السَّمَوَاتِ وَاْلأَرْضِ وَاخْتِلاَفِ الَّليْلِ وَالنَّهَارِ َلآيَاتٍ ِلأًولِي اْلأَلْبَابِ

“Sesungguhnya di dalam Penciptaan langit dan bumi dan silih bergantinya siang dan malam, terdapat tanda-tanda (keberadaan Allah) bagi orang-orang yang berakal".[79]

وَفِيْ خَلْقِكُمْ وَمَا يَثْبُتُ مِنْ دَابَّةٍ َلآيَاتٍ لِقَوْمٍ يُوْقِنُوْنَ

“Dan di dalam penciptaan kalian serta hewan-hewan melata terdapat tanda-tanda (keberadaan Allah) bagi kaum yang beriman”.[80]

إِنَّ فِيْ خَلْقِ السَّمَوَاتِ وَاْلأَرْضِ وَاخْتِلاَفِ الَّليْلِ وَالنَّهَارِ وَالْفُلْكِ الَّتِيْ تَجْرِيْ فِي الْبَحْرِ بِمَا يَنْفَعُ النَّاسَ وَمَا أَنْزَلَ اللهُ مِنَ السَّمَاءِ مِنْ مَاءٍ فَأَحْيَى بِهِ اْلأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا وَبَثَّ فِيْهَا مِنْ كُلِّ دَابَّةٍ وَتَصْرِيْفِ الرِّيَاحِ وَالسَّحَابِ الْمُسَخَّرِ بَيْنَ السَّمَاءِ وَاْلأَرْضِ َلآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَعْقِلُوْنَ

“Sesungguhnya di dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya siang dan malam, kapal-kapal yang berlayar di lautan yang bermanfaat bagi manusia, air yang telah diturunkan oleh Allah dari langit lalu Ia hidupkan bumi yang sebelumnya telah mati (kering) dan menebarkan berbagai jenis hewan di atasnya, dan perubahan arah angin dan awan yang terkendali antara langit dan bumi, terdapat tanda-tanda (keberadaan Tuhan) bagi orang-orang yang berakal”.[81]

وَ فِي اْلأَرْضِ آيَاتٍ لِلْمُوْقِنِيْنَ وَفِيْ أَنْفُسَكُمْ أَفَلاَ تُبْصِرُوْنَ

“Dan di dalam bumi terdapat tanda-tanda (keberadaan Tuhan) bagi kaum yang beriman, serta di dalam diri kalian, apakah kalian tidak mengetahui?”[82]

Ringkasan

1.Isi argumentasi keteraturan adalah:

·   Di alam semesta ini terdapat keteraturan.

·   Setiap hal yang teratur pasti memiliki pengatur yang mengaturnya.

·   Dengan demikian, keteraturan yang terdapat dalam alam memiliki pengatur.

  1. Nazhm (keteraturan) adalah berkumpulnya bagian-bagian yang beraneka ragam dengan kualitas dan kuantitas khusus pada sebuah kesatuan, di mana keserasian dan keharmonisan di antara bagian-bagian itu bergerak kepada satu tujuan.
  2. Adanya keteraturan sendiri dalam alam merupakan hal yang diterima oleh semua pihak, bahkan orang-orang yang mengingkari wujud Tuhan sekalipun.
  3. Proposisi kedua dalam argumentasi keteraturan juga diterima oleh semua pihak, dan tanpa disadari, kerap kali digunakan dalam kehidupan sehari-hari.
  4. Semakin detail dan rumit sebuah keteraturan, kita semakin yakin akan kebesaran, kekuasaan, dan hikmah pengaturnya.
  5. Dalam dalil ini, kita tidak perlu bersusah payah untuk menetapkan keteraturan seluruh alam. Namun, cukup bagi kita dengan mengetahui bahwa di alam terdapat sebuah keteraturan.
  6. Dalil ini menepis asumsi sebagian kelompok yang mengatakan bahwa alam ini muncul dari alam yang tak berperasaan.
  7. Dalil ini semakin kuat dan kokoh dengan semakin canggihnya ilmu empirik dan terkuaknya sistem baru alam.
  8. Al-Qur’an dengan berdalilkan keharmonisan dan sistem menakjubkan alam, telah menetapkan kalau Tuhan dalam masalah penciptaan, merupakan pengatur dunia dan sama sekali Ia tak memiliki sekutu.

SIFAT-SIFAT TUHAN

Sifat Sejati (Dzâtî) dan Relatif (Fi’lî)

Sifat-sifat Tuhan dapat diklasifikasikan dalam beberapa klasifikasi. Bagian terpenting darinya adalah pengklasifikasian sifat-sifat itu pada dua kategori; sifat sejati dan sifat relatif.

Sifat sejati adalah sifat-sifat yang kita nisbah-kan kepada  Tuhan tanpa melihat sesuatu yang lain dari Dzat-Nya. Dengan kata lain, untuk menyifati Tuhan dengan sifat-sifat ini, yang diperlukan hanyalah Dzat Tuhan dan tidak perlu memperhatikan hal lain yang diluar Dzat-Nya. Contoh, Maha Hidup, dan Maha Kuasa. Andaikan di alam ini tidak ada wujud lain selain-Nya, kita tetap dapat menyifati-Nya dengan Maha Hidup, dan Maha Kuasa.

Sifat relatif bisa dikatakan kebalikan dari sifat sejati. Definisinya adalah sejumlah sifat yang tidak disandang oleh Tuhan selagi hal lain masih belum ada. Oleh karena itu, sifat relatif adalah sifat-sifat yang pe-nisbah-annya kepada Tuhan tidak cukup dengan memeperhatikan Dzat-Nya semata. Akan tetapi, harus ada sesuatu yang lain selain Dzat Tuhan, dan terdapat relasi antara keduanya.

Contoh, andaikan tidak ada wujud yang tercipta, Tuhan tidak bisa menyandang sifat Khâliq (Pencipta), dan jika tidak ada makhluk yang dibebani tanggung jawab (taklîf), Tuhan tidak bisa di sifati sebagai Syâri’, dan jika tidak ada hamba yang bermaksiat, Tuhan tidak bisa disifati dengan Dzat yang Maha Pengampun (Ghafûr).

Dari sini bisa kita tarik sebuah kesimpulan, sifat-sifat seperti Khâliq, Syâri’, dan Ghafûr, termasuk dalam kategori sifat relatif Tuhan.

Perbedaan signifikan dan mendasar antara kedua sifat di atas adalah:

1. Sifat-sifat relatif adalah sifat-sifat yang disandang Tuhan dengan memperhatikan perbuatan dan dengan membandingkannya dengan perbuatan tersebut. Dengan kata lain, sifat-sifat ini diambil dan dipahami dari perbuatan Tuhan, sedang sifat-sifat sejati Tuhan tidaklah demikian. Sifat-sifat itu cukup dipahami dari Dzat-Nya.

2. Sifat-sifat relatif dapat di-nafi-kan dan di-nisbah-kan. Artinya, pada suatu kondisi Tuhan menyandangnya dan dalam kondisi yang lain Ia tidak menyandangnya. Dengan kata lain, penetapan dan penafian sifat tersebut bisa saja terjadi bagi Tuhan; sebelum menciptakan alam semesta, Ia tak dapat kita katakan sebagai Pencipta alam, dan baru setelah Ia menciptakannya, ia dapat disebut sebagai Pencipta alam. Begitu juga, sebelum Ia mengutus nabi Muhammad SAWW, dan belum menurunkan Al-Qur’an pada beliau, ia tak bisa disebut sebagai Dzat yang menurunkan Al-Qur’an. Ia dapat disebut demikian setelah menurunkannya. Adapun sifat-sifat sejati, akan senantiasa dimiliki oleh Allah SWT, dan tidak dapat di-nafi-kan dari-Nya sama sekali. Ia dari tak akan terpisah dari sifat-sifat tersebut. 

Sifat Afirmatif (Tsubûtiyah) Dan Sifat Negatif (Salbiyah)

Sifat afirmatif adalah sifat yang menjelaskan kesempurnaan Tuhan. Perlu diingat bahwa sifat afirmatif Tuhan sama sekali tidak dicampuri oleh kekurangan sedikitpun, dan  kita tidak bisa menyifati Tuhan dengan sebuah konsep yang berkonsekuensi kekurangan. Seperti keberanian yang bermakna ketidaktakutan atau ketidakgentaran ketika menghadapi sesuatu yang dapat mengancam manusia. Sifat ini kendati memiliki sisi kesempurnaan –  karena pemberani lebih sempurna dari penakut –, akan tetapi, penyandangan sifat keberanian mengindikasikan bahwa si pemberani terancam, dan ketika di alam tidak ada yang sanggup melukai dan “menganiayanya”, maka tidak bisa kita sandangkan keberanian pada Tuhan. Dalam hal ini, Tuhan harus dinafikan dari dua sifat di atas; sifat berani maupun sifat penakut.

Kongklusinya, sifat afirmatif adalah sifat yang memiliki konotasi kesempurnaan tanpa ada kekurangan sama sekali.

Sifat Salbî (negatif), sifat yang menafikan kekurangn dari Tuhan, seperti Tidak Beraga, Tidak Lemah, Tak Bertempat, dan Tak Berzaman.

Sifat negatif menjelaskan perbedaan Tuhan dengan makhluk dan penyucian-Nya dari segala kekurangan.[83] Sedangkan sifat afirmatif tidak demikian, karena sifat ini menunjukkan kesempurnaan Tuhan.

Sifat afirmatif dinamakan juga sifat Jamâliyah dan sifat Salbî disebut sifat Jalâliyah.

Ringkasan

·   Sifat Tuhan terbagi dalam dua katagori; sifat Dzâtî (sejati) dan sifat Fi’lî (relatif).

·   Sifat sejati (Dzâtî) adalah sifat-sifat yang kita sandangkan pada Tuhan dengan tanpa melihat hal yang lain di luar Dzat-Nya, seperti Hay dan Qudrat.

·   Sifat Fi’lî adalah sifat-sifat yang kita sandangkan kepada-Nya dengan melihat sesuatu yang lain di luar Dzat-Nya, dan terdapat hubungan antara keduanya, seperti sifat Khâliq dan sifat Ghafûr.

·   Beberapa perbedaan antara sifat Dzâtî dan Fi’lî, di antaranya adalah;

- Sifat Fi’lî diambil dari perbuatan Tuhan, sedang sifat Dzâtî diambil dari Dzat-Nya.

- Sifat Fi’lî dapat dinapikan atau ditetapkan kepada Tuhan, sedang sifat Dzâtî sama sekali tidak dapat dinafikan dari wujud Tuhan; sifat-sifat itu selamanya tetap ada pada-Nya.

·   Dalam klasifikasi lain, sifat Tuhan dapat diklasifikasikan dalam dua klasifikasi : sifat Tsubûtî dan sifatSalbî.

·   Sifat Tsubûtî adalah sifat-sifat yang menerangkan kesempurnaan Dzat Tuhan, seperti Maha Mengetahui, dan Maha Kuasa.

·   Sifat Salbî adalah sifat-sifat yang menafikan kekurangan dari Dzat Allah, seperti tidak beraga dan tidak lemah.

·   Sifat-sifat Tsubûtî menunjukkan kesempurnaan tanpa tercampuri oleh kekurangan di dalamnya, sedang sifat-sifat Salbî menerangkan keterjagaan Tuhan dari segala kekurangan.

Ilmu[84]

Tuhan Maha Tahu akan segala sesuatu, dan tidak ada sesuatu yang raib dan tersembunyi dari pengetahuan-Nya. Apa yang telah terjadi dan yang akan terjadi, besar atau kecil, semuanya jelas bagi-Nya. Karena, bagaimana mungkin Ia tidak akan mengetahui segala sesuatu karena semuanya adalah makhluk dan ciptaan-Nya?

Bukti-bukti dari Al-Qur’an

Selain argumen rasional, Al-Qur’an juga memberikan argumentasi mengenai ilmu Tuhan yang tak terbatas, seperti ayat-ayat berikut ini:

وَ اعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيْمٌ

“Dan ketahuilah, sesungguhnya Allah Maha mengetahui segala sesuatu”.[85]

أَلاَ يَعْلَمُ مَنْ خَلَقَ وَهُوَ الَّلطِيْفُ الْخَبِيْرُ

“Camkanlah bahwa Dzat yang menciptakan segala sesuatu pasti mengetahui keadaaan mereka? Ia Maha Mengatahui rahasia dan misteri-misteri yang terselubung sekalipun”.[86]

وَهُوَ اللهُ فِي السَّمَوَاتِ وَاْلأَرْضِ يَعْلَمُ سِرَّكُمْ وَجَهْرَكُمْ وَيَعْلَمُ مَا تَكْسِبُوْنَ

“Ialah Allah, Tuhan yang Tunggal, baik di langit maupun di bumi, Ia mengetahui apa yang kalian tampakkan dan yang kalian sembunyikan, dan Ia mengetahui apa yang sedang kalian kerjakan”.[87]

وَيَعْلَمُ مَا فِي السَّمَوَاتِ وَمَا فِي اْلأَرْضِ

“Dan Ia mengetahui apa yang di langit dan apa yang di bumi”.[88]

وَعِنْدَهُ مَفَاتِيْحُ الْغَيْبِ لاَ يَعْلَمُهَا إِلاَّ هُوَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْبَرِّ وَ الْبَحْرِ وَ مَا تَسْقُطُ مِنْ وَرَقَةٍ إِلاَّ يَعْلَمُهَا وَلاَ حَبَّةٍ فِيْ ظُلُمَاتِ اْلأَرْضِ وِلاَ رَطْبٍ وَلاَ يَابِسٍ إِلاَّ فِيْ كِتَابٍ مُبِيْنٍ

“Ialah adalah pemilik segala kunci-kunci keghaiban yang tidak diketahui oleh Selain-Nya. Ia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tidaklah dedaunan jatuh kecuali atas sepengetahuan Allah SWT, dan tidak juga sebuah biji dalam kegelapan dasar bumi, dan tidak pula kering dan basah kecuali telah tercatat dalam kitab yang jelas (dalam kitab=ilmu Allah)”.

Ringkasan

·   Salah satu dari sifat Dzâtî Tuhan adalah sifat ilmu. Tuhan Maha Mengetahui segala sesuatu, karena Ia Pencipta mereka. Segala sesuatu tampak jelas di hadapan-Nya, dan Ia mengetahui setiap yang apa yang dikerjakan olehnya. Kunci-kuci alam ghaib berada di tangan-Nya, dan Ia mengetahui apa yang ada di darat dan yang ada di laut, dan Ia juga mengetahui kasus terkecil apapun yang sedang terjadi di dunia ini.

Qudrah (Maha Kuasa)

Satu lagi dari sifat-sifat afirmatif Allah adalah Maha Kuasa. Artinya, subyek pelaku pekerjaan akan melakukan segala sesuatau yang diinginkan-Nya, dan meninggalkan segala sesuatu yang tidak disenangi-Nya.

Berdasarkan hal di atas, Qadîr adalah orang yang melakukan atau meninggalkan segala sesuatu dengan pilihan-Nya. Dengan demikian, orang yang dipaksa berdiri, dan orang yang duduk karena desakan pihak lain, tidak bisa dikatakan orang yang kuasa. Orang yang memiliki kemampuan terhadap keduanya (melakukan dan meninggalkan), maksudnya adalah jika ingin duduk, ia lakukan dan jika ingin berdiri juga demikian. Dari penjelasan tersebut di atas telah jelas bahwa hanya subyek yang melakukan pekerjaan-Nya dengan  keinginan dan pilihan-Nya sendiri yang dapat kita katakan Qadîr (kuasa).

Tuhan adalah Maha Kuasa secara mutlak. Ia menciptakan setiap makhluk yang diinginkan-Nya dan hal tersebut akan tercipta.

Bukti-bulti Al-Qur’an

Ayt-ayat Al-Qur’an sering kali mengindikasikan kekuasaan absolut Tuhan, di antaranya:

وَ ِللهِ مُلْكُ السَّمَوَاتِ وَاْلأَرْضِ وَاللهُ عَلَى كُلِّ شَيْئٍ قَدِيْرٌ

“Dan bagi Allah kerajaan langit dan bumi, dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu”.[89]

تَبَارَكَ الَّذِيْ بِيَدِهِ الْمُلْكُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْئٍ قَدِيْرٌ

“Maha suci Allah yang di tangan-Nya segala kerajaan, dan Ia maha Kuasa atas segala sesuatu”.[90]

اَللهُ الَّذِيْ خَلَقَ سَبْعَ سَمَوَاتٍ وَ مِنَ اْلأَرْضِ مِثْلُهُنَّ يَتَنَزَّلُ اْلأَمْرُ بَيْنَهُنَّ لِتَعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ عَلَى كُلِّ شَيْئٍ قَدِيْرٌ وَأَنَّ اللهَ قَدْ أَحَاطَ بِكُلِّ شَيْئٍ عِلْمًا

“Allahlah yang telah menciptakan tujuh langit dan bumi yang seperti-Nya, perintah-Nya selalu turun pada mereka supaya kalian tahu bahwa Allah Maha Kuasa dan ilmu-Nya meliputi segala sesuatu”.[91]

Soal: Mampukah Tuhan yang telah disebutkan dalam ayat-ayat di atas dengan sang Maha Kuasa atas segala sesuatu, untuk menjadikan 2+2=5? Kuasakah Ia menciptakan sesuatu yang seluruhnya berwarna putih sekaligus hitam? Kuasakah Ia menciptakan sesuatu yang tak sanggup Ia binasakan? Kuasakah Tuhan menciptakan batu yang tak dapat diangkat sendiri? Jika Tuhan menciptakan batu semacam ini berarti akan terjadi kontradiksi dengan kekuasaan-Nya. Begitu juga jika ia tidak mampu menciptakannya, hasilnya akan demikian. Alhasil, tidak bisa kita katakan Tuhan memiliki kukuasan absolut.

Jawab: Pertama, harus kita ketahui terlebih dahulu, ada dua faktor yang membuat sesuatu tidak terwujud dan teralisasi. Terkadang karena keterbatasan dan kelemahan subyek, terkadang pula karena ketidakmampuan itu bersumber dari obyek sendiri.

Semua hal-hal yang dipertanyakan di atas termasuk dalam kategori kedua. Artinya, hal-hal tersebut tidak memiliki potensi dan kemampuan untuk teralisir, bukan karena Tuhan yang tidak mampu menciptakannya.

Arti dari “Tuhan kuasa atas segala sesuatu dan mampu menciptakan apapun saja” adalah Tuhan dapat menciptakan segala sesuatu yang mungkin terwujud dan terjadi. Dengan demikian, setiap hal yang mustahil terwujud secara dzâtî, tidak akan bisa diciptakan oleh-Nya, dan masalah ini sudah keluar dari pembahsan kita.

Oleh karenanya, ketika 2+2 tidak bisa menjadi 5 atau tidak mungkin didapati makhluk yang sekujur tubuh-Nya berwarna putih dan hitam sekaligus, hal ini bukan sebuah indikator kelemahan dan ketidakkuasaan Tuhan.

Kongklusinya, hal-hal tadi tidak terwujud bukan karena kelemahan Tuhan, namun karena kelemahan mereka sendiri yang tidak memiliki potensi untuk wujud dan eksis.

Ringkasan

·   Kuasa termasuk sifat Dzâtî dan Tsubûtî Tuhan.

·   Kuasa artinya subyek jika berkehendak, pasti akan melaksanakan sebuah aktifitas dan tidak melakukannya jika ia tidak menginginkannya.

·   Tuhan adalah Maha Kuasa secara absolut, dengan artian, segala fenomena akan diciptakan jika Ia berkehendak, dan Ia hakim dan penakluk bagi segala sesuau.

·   Kerajaan langit dan bumi adalah milik Allah semata dan Ia Maha Mengetahui akan segala sesuatu.

·   Untuk menjawab para pengkritik yang berasumsi bahwa mampukah Tuhan menjadikan hasil dari 2+2 = 5, kita dapat mengatakan bahwa perlu diketahui sebelumnya ketidakterwujudan sesuatu itu dapat disebabkan oleh dua faktor: akibat kelemahan subyek dan karena hal tersebut memiliki kekurangan yang menjadi kendala keberadaannya. Pertanyaan semacam ini termasuk dalam katagori kedua, yaitu akibat ketidak mampuan obyek untuk menjadi ada.

·   Ketidakterwujudan hal-hal yang mustahil bukan disebabkan kelemahan subyek, akan tetapi dikarenakan hal-hal tersebut tidak memiliki potensi dan kemampuan untuk eksis.

Hayâh (Maha Hidup)

Hayâh berarti sesuatu yang hidup. Hayâh digunakan dalam dua hal:

1. Hay adalah sesuatu yang tumbuh, berkembang, makan, dan berevolusi. Arti yang sering digunakan dalam spesies tumbuh-tumbuhan dan hewan ini, memiliki konsekuensi kekurangan dan ketergantungan. Karena sesuatu yang berkembang pada awal-Nya tidak memiliki kesempurnaan sedikitpun, dan berkat faktor-faktor eksternal ia berubah dan secara bertahap ia merangkak untuk menyempurna.

2. Hay adalah sesuatu yang melakukan segala sesuatu dengan kesadaran dan ikhtiar-Nya sendiri. Artihayâh ini memiliki konotasi kesempurnaan, dan tergolong dalam sifat sejati afirmatif (Tsubûtî) Tuhan. Atas dasar ini, arti hayat yang dimiliki Tuhan adalah Ia Maha Tahu dan dengan keinginan-Nya Ia melakukan segala sesuatu.

Bukti-bukti Al-Qur’an

Di dalam Al-Qur’an bayak kita dapati penyifatan atau penyandangan sifat Hayâh kepada  Tuhan, seperti ayat-ayat berikut ini:

هُوَالْحَيُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ فَادْعُوْهُ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ الْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

“Ialah Yang Maha Hidup, tiada Tuhan selain Ia, maka serulah Ia dengan memurnikan agama hanya untuk-Nya, segala puji bagi Allah Tuhan sekalian alam”.[92]

وَتَوَكَّلْ عَلَى الْحَيِّ الَّذِيْ لاَ يَمُوْتُ وَسَبِّحْ بِحَمْدِهِ وَكَفَى بِذُنُوْبِ عِبَادِهِ خَبِيْرًا

“Dan pasrahkanlah diri kepada Dzat yang Maha Hidup yang tak akan pernah mati dan bertasbihlah dengan memuji-Nya, dan cukuplah kalau Ia mengetahui dosa-dosa para hamba-Nya”.[93]

Ringkasan

·   Kata Hayâh memiliki dua arti: pertama, sesuatu berkembang, makan dan berevolusi, dan kedua, sesuatu yang melakukan pekerjaan dengan bekal pengetahuan dan pilihannya.

·  Hayâh dengan arti yang pertama menunjukkan kekurangan dan termasuk sifat Salbî (negatif) Tuhan, sedang arti kedua hayâh yang memiliki konotasi kesempurnaan, termasuk dalam sifat Dzâtî (sejati)-Tsubûtî(afirmatif) Tuhan.

·   Tuhan Maha Hidup dan sama sekali tak akan mati. Dengan artian, Ia wujud yang melakukan segala pekerjaan-Nya dengan pengetahuan dan pilihan-Nya.

Irâdah (Kehendak)

Irâdah adalah salah satu dari sifat Tuhan. Kendati  kehendak Tuhan merupakan hal yang telah disepakati, namun para ulama Islam berbeda pendapat tentang substansinya. Satu kelompok meyakini bahwa Irâdah ini tergolong dalam kategori sifat Dzâtî Tuhan, dan mereka meyakini Irâdah adalah ilmu DzâtîTuhan terhadap sistem yang lebih baik. Sedang  sekelompok lagi beranggapan bahwa Irâdah termasuk hal baru (amr hâdits), seperti kehendak manusia sebelum  melakukan aktifitasnya.

Buku ini tidak dapat membahas seluruh pendapat yang tertuang dalam masalah ini. Akan tetapi, cukuplah kita memahami bahwa Tuhan tidak terpaksa dalam melakukan pekerjaannya; tiada wujud lain yang memaksa-Nya untuk melakukan apa saja. Apa yang dilakukan-Nya selalu berlandaskan ilmu dan ikhtiar-Nya. Mungkin kehendak dan Irâdah Tuhan bisa kita artikan semacam ini.

Kongklusinya, maksud Tuhan berkehendak adalah Ia subyek yang mukhtâr (berkehendak) dan segala perbuataan-Nya tergantung pada kehendak-Nya.

Irâdah dengan arti yang telah dipaparkan berarti tergolong dalam sifat Dzâtî-Tsubûtî Tuhan. Kendati ada sebagaian kelompok yang bersikeras meyakini-Nya sebagai salah satu dari sifat Fi’lî Tuhan.[94]

Bukti-bukti Al-Qur’an

Di dalam Al-Qur’an banyak didapati penyifatan Tuhan dengan kata-kata berkehendak (Irâdah), walaupun Al-Qur’an tidak pernah menyifati-Nya dengan kata Murîd (subyek yang berkehendak). Ayat-ayat tersebut seperti:

إِنَّمَا أَمْرُهُ إِذَا أَرَادَ شَيْئًا أَنْ يَقُوْلَ لَهُ كُنْ فَيَكُوْنُ

“Sesungguhnya apabila Ia menghendaki sesuatu, Ia hanya cukup berkata kepadanya, “Jadilah!”, maka ia akan jadi”.[95]

إِنَّمَا قَوْلُنَا إِذَا أَرَدْنَاهُ أَنْ نَقُوْلَ لَهُ كُنْ فَيَكُوْنُ

“Sesungguhnya perkataan Kami terhadap sesuatu apabila Kami menghendakinya, Kami hanya mengatakan, “Jadilah!”, maka jadilah ia”.[96]

Ringkasan

·   Tiada perbedaan pendapat bahwa Allah memiliki kehendak. Perbedaan pendapat terdapat pada kasus interpretasi dari Irâdah dan kehendak itu sendiri.

·   Sekelompok ulama meyakini kalau Irâdah tergolong sifat Dzâtî (sejati) Tuhan; mereka menafsirkan IrâdahTuhan tersebut dengan ilmu Dzâtî Tuhan terhadap sistem dan undang-undang yang paling ideal, sedang kelompok lain beranggapan Irâdah adalah amr hâdits (hal baru), layaknya Irâdah dan kehendak manusia.

·   Satu hal yang telah disepakati bahwa Tuhan adalah subyek yang mukhtâr dan sama sekali tidak terpaksa dalam melakukan segala perbuatan-Nya. Hal ini dapat kita gunakan untuk memahami maksud dari ungkapan bahwa Allah berkehendak.

Hikmah dan Ke-Mahaadilan

Tuhan Maha Bijaksana dan segala perbuataan-Nya selalu bersifat bijaksana. Di sini perlu diperhatikan, hikmah memiliki dua pengertian, dan kedua arti tersebut merupakan sifat afirmatif (Tsubûtî) Tuhan:

a. Kemantapan dan kesempurnaan perbuatan subyek, sehingga tidak ada cela dan cacat sedikitpun.

b. Subyek tidak pernah melakukan perbuatan jelek dan tercela, dan ia selalu melakukan pebuatan yang baik dan terpuji.

Hikmah dengan arti yang pertama mengindikasikan bahwa Tuhan memiliki segala kesempurnaan, ilmu dan kekuasaan-Nya tidak terbatas dan tak berakhir, Ia Maha Mengetahui akan segala sesuatu, dan Maha Kuasa atas segala sesuatu, serta Ia tidak membutuhkan apapun juga. Dengan demikian, wajar dan pantas jika semua perbuatan-Nya juga paling sempurna, dan paling kokoh serta paling apik. Ia adalah Pencipta yang terbaik.[97]

Hikmah dengan arti yang kedua berlandaskan atas sebuah fakta bahwa tanpa Syari’at sekalipun, akal sehat manusia dapat memahami kalau sebagian perbuatan itu baik dan terpuji dan sebagian yang lain buruk dan tercela. Sebagai contoh, akal memandang dan menilai kejujuran, amanah, tanggung jawab, dan membantu sesama sebagai perbuatan baik, sebagaimana akal juga mampu menilai kebohongan, penghianatan, dan bertindak zalim terhadap sesama sebagai perbuatan tercela.

Hal tersebut di atas dapat disebut dengan istilah “rasionalitas kebaikan dan keburukan”.[98]

Setelah menerima konsep rasionalitas kebaikan dan keburukan, kita dapat berpersepsi bahwa Tuhan adalah Maha Kaya secara absolut, Ia sama sekali tidak butuh pada bantuan yang lain. Di samping itu, Ia Maha Kuasa, Ia mengetahui perbuatan baik, sekaligus mampu untuk melakukannya, sebagaimana Ia juga mengetahui perbuatan yang buruk, dan mampu untuk meninggalkan-Nya. Jika kita berpersepsi demikian, maka tidak mungkin Ia melakukan perbuatan jelek, dan tidak mungkin Ia meninggalkan perbuatan yang baik.

Ke-Mahaadilan

Tuhan adalah Maha Adil dan tak pernah berbuat zalim. Oleh karena itu, adil salah satu dari sifat Tsubûtî(afirmatif) Tuhan, sedangkan zalim termasuk sifat Salbî (negatif) bagi-Nya.

Maksud dari bertindak adil adalah meletakkan sesuatu pada tempatnya, seperti yang disabdakan Imam Ali as dalam Nahjul Balâghah beliau berkata,

العدل يضع الأمور مواضعها

“Keadilan adalah meletakkan segala sesuatu pada posisi dan kedudukannya masing-masing”.[99]

Tetapi, acap kali dikatakan bahwa bertindak adil adalah memberikan hak pada pemiliknya. Arti ini lebih spesifik dari arti pertama. Maksudnya, pemberian hak pada yang berhak adalah salah satu manifestasi dari peletakan sesuatu pada tempatnya.

Bertindak adil menurut kaca mata akal sehat adalah hal yang terpuji, sedang kezaliman adalah hal yang tercela. Dan karena Tuhan Maha Bijak dan selalu melakukan  perbuatan baik serta meninggalkan perbuatan jelek, pastilah Ia Maha Adil dan Tidak Zalim.

Dari keterangan di atas dapat dipahami bahwa keadilan Ilahi bersumber dari hikmah Ilahi. Dengan kata lain, buah dari keyakinan akan kebijaksanaan Allah adalah keyakinan akan keadilan-Nya.

Bukti-bukti Al-Qur’an

Ayat-ayat yang mengindikasikan bahwa Tuhan adalah Maha Bijaksana di antaranya:

- “Maka ketahuilah sesungguhnya Allah Maha Mulia lagi Maha Bijaksana.[100] Al-Qur’an juga mengingatkan bahwa Tuhan senantiasa menciptakan sesuatu dengan cara terbaik.[101]

- Tiada cela dan ketidakberaturan dalam ciptan-Nya; ”Kalian tidak melihat perbedaan dan cela dalam ciptaan-Nya, maka untuk kedua kalinya perhatikan dan lihatlah apakah terdapat kekurangan dan cela?”.[102]

- Ciptaan Tuhan tidak pernah sia-sia dan selalu memiliki tujuan: ”Apakah kalian menyangka sesungguhnya Kami menciptakan kalian sia-sia dan kalian tidak akan kembali kepada kami?”[103].Tidaklah Kami ciptakan langit dan bumi serta apa yang berada di dalamnya dengan sia-sia”.[104]

- Tuhan tidak pernah menzalimi hamba-Nya, namun merekalah yang menzalimi diri mereka sendiri;“Kami tidak menzalimi mereka, akan tetapi mereka yang menzalimi mereka sendiri”.[105] “Tuhan tidak menginginkan adanya kezaliman di alam semesta.[106]

Ringkasan

·   Hikmah memiliki dua makna: Pertama, kekokohan dan kemantapan sebuah perbuatan, dan kedua, subyek selalu melakukan perbuatan baik dan meninggalkan perbuatan buruk.

·   Tuhan dengan arti pertama adalah Dzat yang Maha Bijak, karena ilmu dan kekuasaan-Nya sangatlah sempurna dan tidak ada kekurangan sedikitpun.

·   Tuhan juga Maha bijak dengan makna kedua, karena Ia mengetahui kebaikan dan keburukan, serta Ia mampu untuk melakukan perbuatan baik dan mampu pula meninggalkan perbuatan jelek, Ia Maha Kaya secara absolut dan tidak membutuhkan apa-apa sehingga Ia harus melakukan perbuatan buruk.

·   Bertindak adil adalah meletakkan sesuatu pada tempatnya.

·   Keadilan adalah sebuah kebaikan dan Tuhan Yang Maha Bijaksana selalu melaksanakan perbuatan baik. Dengan demikian, Tuhan Maha adalah Adil.

·   Kezaliman adalah sebuah keburukan. Tuhan adalah Maha Bijak dan sama sekali tidak pernah melakukan perbuatan buruk dan tercela. Dengan demikian, Tuhan Tidak zalim.

·   Al-Qur’an mengatakan bahwa Allah senantiasa menciptakan segala sesuatu dengan bentuk yang paling baik (As-Sajdah : 7), tiada kekurangan dan cela dalam ciptaan Tuhan (Al-Mulk : 3), langit dan bumi tidaklah diciptakan dengan sia-sia (Shâd : 27),  Tuhan tidak menginginkan kezaliman pada setiap makhluk (Âli ‘Imrân : 108).

TAUHÎD

Arti Terminologis Tauhîd adalah pengetahuan akan ke-Esaan Tuhan sebagai Pencipta. Agama Islam yang dinamakan agama Tauhîd bermaknakan keyakinan akan ke-Esaan Tuhan, yang tunggal, dan tak memiliki sekutu; keyakinan bahwa tidak ada yang layak disembah Selain-Nya. Jika kita ingin merangkum kajian dan tuntunan Islam, maka ringkasan tersebut adalah kalimat  lâ ilâha illallâh. Kalimat ini merupakan inti sari dari Al-Qur’an dan ringkasan dari sekian banyak tuntunan Islam. Oleh karena itu, syi’ar lâ ilâha illallâh ini disebutkan di dalam Al-Qur’an sebayak 60 kali, dengan berbagai redaksi yang berbeda-beda. Tiada Tuhan selain Allah.[107] Tiada Tuhan Selain-Nya[108]. Tiada Tuhan selain-Mu[109]. Tiada Tuhan selain-Ku[110]. Selain Allah tiada Tuhan lagi.[111] Tiada  Tuhan lain yang bersama-Nya.[112] Sesungguhnya Tuhan kalian hanyalah satu.[113] Ialah Tuhan yang satu.[114]

Urgensitas syi’ar ini begitu besarnya sehingga dalam ayat ke-18 surah Âli ‘Imrân yang pendek diulang sebanyak dua kali.

شَهِدَ اللهُ أَنَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ وَالْمَلاَئِكَةُ وَأُولُوا الْعِلْمِ قَائِمًا بِالْقِسْطِ لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ

Akan tetapi, perlu ditegaskan di sini, bahwa seruan akan ke-Esaan Tuhan bukan hanya klaim agama Islam semata, namun agama-agama lainnya pun, dan semua para delegasi dan duta Ilahi juga menyeru pada ke-Tauhîdan Tuhan.

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُوْلٍ إِلاَّ نُوْحِيْ إِلَيْهِ أَنَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنَا فَاعْبُدْنِيْ

“Kami tidak pernah mengutus seorang Rasulpun kecuali Kami wahyukan kepadanya bahwa tiada Tuhan selain-Ku. Oleh karena itu, sembahlah Aku.[115]

Tahapan dan Tingkatan Tauhîd

Tauhîd memiliki beberapa tahapan dan tingkatan, sebagaimana syirik sebagai lawan kata Tauhîd juga memiliki tingkatan yang berbeda-beda pula. Tingkatan-tingkatan itu adalah:

1. Tauhîd dalam Dzat (Tauhîd Dzâtî)

Tauhîd dalam Dzat adalah keyakinan akan ke-Esaan sang Pencipta. Dengan kata lain, hanya satu wujud yang menciptakan segala makhluk, baik melalui perantara atau tidak, dan Ia bukanlah cipataan siapapun.[116]

Dengan ungkapan lain, Tauhîd dalam Dzat adalah keyakinan bahwa setiap makhluk hanya memiliki satu Pencipta, dan dunia dengan segala isi dan kemegahannya ini adalah hasil “karya” seorang Pencipta.“Katakanlah bahwa Allah adalah Pencipta segala sesuatu”.[117]

Akan tetapi, seperti yang telah kami singgung di atas bahwa bisa jadi hal itu tercipta tanpa perantara, dan ada juga yang tercipta dengan satu atau beberapa perantara. Untuk memudahkan pemahaman, ada baiknya kami bawakan sebuah contoh berikut ini.

Tuhan menciptakan si A, dan dari-Nya muncul si B. Si B yang juga makhluk Tuhan memunculkan si C dan begitu seterusnya. Jadi Tuhan menciptakan si A dengan tanpa perantara siapapun, sedang si B diciptakan oleh Tuhan melalui satu perantara si A. Sedangkan si C tercipta dengan dua perantara. Dan hal ini tidak kontradiktif dengan Tauhîd Dzâtî Tuhan.[118]

2. Tauhîd dalam Sifat (Tauhîd Sifatî)

Tauhîd dalam sifat berarti semua sifat Tuhan adalah Dzat Tuhan itu sendiri (tidak keluar dari-Nya), seperti ilmu, kuasa, dan hidup. Sifat sejati Tuhan – dari sisi konsep – berbeda dengan diri-Nya, namun ditinjau dari sudut pandang manifestasi-Nya di alam nyata, sifat itu hanya satu, dan itu adalah wujud Tuhan, tidak lebih.

Pada dasarnya, ada dua poin yang tersimpan dalam Tauhîd sifat ini:

a. Sifat Tuhan, seperti ilmu dan kuasa tidak berada diluar Dzat Tuhan.

b. Sifat-sifat ini tidak mengindikasikan ketersusunan dan keterbilangan Dzat Tuhan. Dua poin tadi dapat kita katakan sebagai hasil dari ke-ainiyah-an sifat Tuhan.[119]

Dzat Tuhan adalah simpel  dan sama sekali tak tersusun dari apapun juga selain diri-Nya sendiri.[120]

3. Tauhîd Af’âlî

Tauhîd Af’âlî adalah keyakinan bahwa semua mahkluk selalu bergantung pada Tuhan dan tidak memiliki independensi; segala tindakan dan perbuatannya pun adalah anugerah dan berkat kekuatan Tuhan. Artinya, manusia dalam aksi dan tindakannya juga tidak mempunyai independensi.

Dengan kata lain, Tauhîd dalam Dzat mengindikasikan bahwa Tuhan dalam Dzat-Nya tidak memiliki sekutu, sedangkan Tauhîd Af’âlî adalah bahwa Tuhan dalam aktifitas-Nya adalah tunggal tak bersekutu. Perlu diingat, hal ini bukan berarti bahwa mahkluk tidak memiliki peran sama sekali dalam setiap tindakannya. Akan tetapi, maksud dari yang kita jelaskan di atas adalah semua tindakan manusia dan pengaruhnya muncul berkat bantuan dan kekuatan Ilahi. Ringkasnya, syi’ar agama  haula wa lâ quwwata illâ billlâhmenjelaskan secara detail arti dari Tauhîd Af’âlî ini.

Dampak Dan Pengaruh Tauhîd Af’âlî

Tauhîd Af’âlî dan keyakinan akan ke-Esaan subyek, serta apapun yang dimiliki oleh wujud selain-Nya merupakan anugerah dan inâyah-Nya. Keyakinan semacam ini akan menghasilkan Tauhîd dalam ibadah (Tauhîd ‘ibâdî). Artinya, manusia tidak akan menganggap ada Tuhan yang layak disembah selain-Nya.[121]

إِنِ الْحُكْمُ إِلاَّ ِللهِ أَمَرَ أَنْ لاَ تَعْبُدُوْا إِلاَّ إِيَّاهُ ذَلِكَ الدِّيْنُ الْقَيِّمُ

“Segala hukum hanyalah milik Allah semata, Ia memerintahkan agar kalian tidak menyembah selain-Nya. Hal itu merupakan agama yang kokoh”.[122]

Di samping dampak tersebut, ada dampak lain lagi yang bisa diperoleh. Hal itu adalah bahwa manusia akan selalu bergantung pada Tuhan dan selalu memasrahkan segala urusannya kepada-Nya, hanya dari-Nya ia minta pertolongan, tidak akan takut selain kepada-Nya, tidak akan menaruh harapan kepada selain-Nya, bahkan tidak akan putus asa dan patah semangat ketika pada akhirnya kenyataan bertolak belakang dengan apa yang diinginkannya. Karena ia yakin bahwa jika Tuhan berkehendak, dengan seketika Ia akan merubahnya menjadi sebuah kenyataan. ”Dan barangsiapa takut kepada Allah niscaya, Ia akan mencarikan jalan keluar baginya dan memberikan rizki dengan tanpa diduga, dan barangsiapa bertawakkal kepada Allah, Ia akan mencukupinya. Sesungguhnya Ia akan menuntaskan urusannya, dan Ia telah menentukan ukuran dan kadar bagi setiap sesuatu.[123]

Ringkasan

·   Tauhîd adalah keyakinan akan ke-Esaan Tuhan sebagai Pencipta. Tauhîd merupakan rukun paling pokok dalam keyakinan Islam dan dapat dikatakan bahwa lâ ilâha illallâh adalah inti sari dari tuntunan Islam.

·   Al-Qur’an menyebutkan ungkapan tersebut sebanyak 60 kali dengan redaksi yang berbeda-beda, bahkan ungkapan ini terulang dua kali pada sebuah ayat yang relatif pendek. Realita ini mengindikasikan bahwa ungkapan itu sangatlah urgen.

·   Tauhîd memiliki beberapa tahapan; 1. Tauhîd Dzâtî. 2. Tauhîd Sifatî. 3. Tauhîd Af’âlî.

·   Tauhîd Dzâtî adalah keyakinan akan ke-Esaan Pencipta alam dan Tuhan sebagai Pencipta segala sesuatu. Akan tetapi, hal ini bukan mengindikasikan bahwa segala sesuatu bersumber dari Allah secara langsung tanpa sebuah perantara.

·   Tauhîd Sifatî adalah keyakinan bahwa semua sifat-sifat Tuhan merupakan Dzat Tuhan itu sendiri. Berdasarkan Tauhîd sifati; 1. sifat-sifat Tuhan seperti ilmu dan kuasa tidak keluar dari Dzat Allah SWT. 2. Sifat-sifat tersebut tidak membuat semacam ketersusunan dan plural dalam Dzat Tuhan.

·   Tauhîd Af’âlî adalah keyakinan bahwa seluruh maujud yang ada di alam ini, begitu juga segala aktifitasnya bergantung kepada Allah. Apapun yang mereka kerjakan tidak akan pernah keluar dari lingkaran keinginan dan kekuatan Ilahi.

Tauhîd Af’âlî mengindikasikan: pertama, manusia tidak akan pernah mendapatkan Tuhan yang layak disembah selain Allah, kedua, hanya Tuhan tempat bergantung dan kepercayaan manusia, dan mereka akan memasrahkan diri kepada-Nya.