Bagaimana Al-Qur’an Dapat Menjadi Sebuah Mukjizat?



Sebagai pendahuluan, kami akan menukil ihwal keagungan Al-Qur’an dari beberapa ucapan para tokoh agama dan bahkan, orang-orang yang dicap sebagai orang yang memerangi Al-Qur’an.

 a. Abul A’la Al-Ma'arri

Orang yang telah menyatakan perang melawan Al-Qur’an ini berkata, “Pendapat masyarakat, baik dari kalangan Muslim maupun nonmuslim, sepakat bahwa kitab yang dibawa oleh Muhammad saw. membuat akal-akal mereka tumbang di hadapan Al-Qur’an. Dan hingga kini tak seorang pun dapat menghadirkan dan menyajikan yang serupa dengannya. Gaya bahasa kitab ini tidak menyerupai gaya-gaya bahasa yang akrab digunakan di kalangan bangsa Arab, termasuk orasi para orator, epik, syair pujangga, dan prosa ruhaniawan Yahudi. Keunggulan dan keperkasaan kitab ini sedemikian hebat sehingga sekiranya satu ayat dari kalimat Al-Qur’an diletakkan di antara kalimat-kalimat yang lain, ayat itu akan bergemerlapan ibarat bintang di malam gulita.”

b. Walid bin Mughirah al-Makhzumi

Walid bin Mugairah adalah orang yang memiliki popularitas dan tersohor di kalangan bangsa Arab. Untuk memecahkan pelbagai masalah sosial, mereka menggunakan pikiran dan pendekatan managerial Walid ini. Karena itulah mereka menamainya sebagai Raihan Quraisy (Kusuma Suku Quraisy)[1]Setelah mendengar Nabi saw. membaca beberapa ayat dari surat Al-Ghafir (Al-Mu'min), ia menghadiri majelis suku Bani Makhzum dan berkata, “Demi Allah! Aku bersumpah, aku mendengar dari Muhammad sesuatu yang tidak serupa dengan perkataan-perkataan manusia dan juga tidak dapat disamai oleh peri-peri …. Ucapannya memiliki keindahan dan kelezatan yang khas. Di atasnya (seperti cabang-cabang pohon-pohon yang berbuah) penuh buah dan di bawahnya (ibarat akar-akar pepohonan muda) penuh air. Ucapannya unggul atas segalanya dan selainnya tidak akan dapat mengunggulinya.”[2]

c. Carlyle

Sejarawan dan cendekiawan terkemuka Inggris berkomentar perihal Al-Qur’an, “Sekiranya sekali waktu kita mengalihkan pandangan kita kepada Kitab Suci ini, hakikat-hakikat unggul dan rahasia-rahasia unik keberadaan, kandungan-kandungan mutiaranya memiliki keistimewaan sehingga keagungan dan realitasnya dengan baik dapat terlihat. Dan hal ini merupakan keunggulan besar yang khusus dimiliki Al-Qur’an. Tidak satu pun keunggulan yang dimiliki Kitab Suci ini tampak pada buku-buku ilmiah, politik, ekonomi, dan buku-buku lainnya. Benar bahwa membaca sebagian buku memberikan kesan yang dalam di benak seseorang. Namun, hal itu tidak dapat dibandingkan dengan apa yang ditinggalkan Al-Qur’an pada benak seseorang. Dari dimensi ini, harus diakui bahwa keunggulan pertama Al-Qur’an dan pilar-pilar asasinya bertaut dengan hakikat, dimensi-dimensi kudus, obyek-obyek unggul permasalahan dan muatan-muatan pentingnya yang tidak dapat disangsikan. Keutamaan terakhir adalah menciptakan kesempurnaan dan kebahagiaan umat manusia. Dan Al-Qur’an memiliki ajaran yang dapat menciptakan kesempurnaan dan kebahagiaan ini dengan baik.”[3]

d. John Davenport

Penyusun buku 'Uzr-e Taqsiri beh Pishgâh-e Muhammad wa Qur'ân menulis, “Al-Qur’an sedemikian sucinya sehingga tidak memerlukan secuil pun perbaikan dan penyuntingan. Boleh jadi sejak awal hingga akhirnya dibacakan tanpa seseorang merasakan sekecil pun kejenuhan di dalamnya.”[4] Ia menambahkan, “Dan semua orang menerima bahwa Al-Qur’an turun dengan sefasih-fasih ungkapan, dan dengan dialek suku Quraisy yang merupakan dialek yang paling beradab dan paling wibawa di kalangan bangsa Arab …. Dan (Kitab ini) juga penuh dengan sejelas-jelasnya masalah dan sekuat-kuat perumpamaan ....”[5]

e. Goethe

Penyair dan cendekiawan berkebangsaan Jerman berkata, “Al-Qur’an merupakan karya yang (terkadang) dengan perantara redaksinya yang berat. Pada mulanya, pembaca akanterkejut, kemudian terpukau akan daya tariknya, dan pada akhirnya, terlena dengan keindahannnya yang tak terkira.”[6]

Di tempat lain, ia berkata, “Bertahun-tahun lamanya para pendeta tidak memberikan berita tentang Tuhan. Mereka telah membuat kami jauh dari hakikat-hakikat Al-Qur’an yang agung dan pembawanya nan kudus, Muhammad saw. Namun, sebanyak langkah kami ayunkan di jalan ilmu dan pengetahuan, tirai kejahilan dan puritanisme yang tidak berguna tersingkap (dari dunia kita), dan dengan segera, kitab (Al-Qur’an) yang tak tersifati ini membuat semesta alam tertarik dan menyisakan kesan yang dalam pada ilmu dan pengetahuan. Pada akhirnya, ia menjadi poros pemikiran dunia.”

Ia juga berkata, “Pada mulanya, kami bersikap acuh tak acuh terhadap Al-Qur’an. Akan tetapi, tidak lama berselang Kitab ini menarik perhatian kami, dan kami terjerembab dalam keheranan sehingga kami pun tertunduk pasrah dalam berhadapan dengan kaidah dan hukum ilmiah serta kebesarannya.”

f. Will Durant

Ia mengatakan, “Al-Qur’an yang berada di tangan Muslimin ini sedemikian membawa kebesaran jiwa (‘izzah an-nafs), keadilan, dan ketakwaan sehingga tidak satu pun titik di jagad raya ini yang sebanding dengannya.”

g. Jaul Lobum

Seorang cendekiawan dan penulis berkebangsaan Prancis dalam bukunya, “Tafsîl-e Âyât” berkata, “Ilmu dan pengetahuan  penduduk dunia ini berasal dari muslimin, dan mereka mendulangnya dari lautan ilmu (Al-Qur’an), serta sungai-sungai Al-Qur’an mengalir untuk manusia sejagad ….”

h. Dinuwart

Orientalis ini menulis, “Harus kita akui bahwa ilmu pengetahuan dunia, astronomi, filsafat, dan matematika yang menyebar di Eropa, galibnya adalah berkat pengajaran Al-Qur’an dan kita berhutang budi kepada muslimin. Bahkan dari sudut pandang ini, Eropa merupakan sebuah kota dari negeri Islam.”[7]

i. Vacsia Vagleiri

Seorang dosen universitas Nepal ini dalam buku “Pishraft-e Sari'-e Islâm” (Kemajuan Pesat Islam), menulis, “Kitab samawi Islam merupakan contoh dari sebuah mukjizat. Al-Qur’an adalah sebuah kitab yang tidak dapat ditiru. Metode Al-Qur’an dalam ilmu kesatraan belum ada model sebelumnya. Kesan yang diciptakan oleh gaya bahasa Al-Qur’an menunjukkan keunggulan dan keistimewaannya pada ruh manusia …. Bagaimana mungkin “kitab yang sarat dengan mukjizat ini” adalah buatan Muhammad, sedangkan ia tidak belajar pada seorang pun dari bangsa Arab. Dalam kitab ini Kita melihat pelbagai khazanah dan perbekalan ilmu yang berada di atas bakat dan kemampuan pikiran orang paling jenius sekali pun dan filsuf terbesar dan politikus yang berpengaruh dan ahli hukum kawakan. Berangkat dari sisi ini, Al-Qur’an bukan merupakan karya seorang manusia yang terpelajar dan seorang cendekiawan.”[8]

Salah satu argumentasi kebenaran Al-Qur’an dan keberasalannya dari Allah swt. adalah tidak adanya pertentangan dan perbedaan pada segenap kandungannya. Untuk menjelaskan hakikat ini, mari kita renungkan bersaman uraian di bawah ini:

Kondisi jiwa manusia senantiasa mengalami perubahan. Konsep kesempurnaan, dalam keadaan normal, tanpa pengecualian, termasuk kondisi pikiran, lisan, dan pikiran, serta ucapan-ucapannya dapat menciptakan gejolak dalam dirinya dengan berlalunya hari, bulan, dan tahun. Sekiranya kita amati dengan seksama tulisan seorang penulis, sekali-kali tidak akan pernah sama. Bahkan, pada permulaan dan penutup penulisan sebuah buku, ia pasti mengalami perbedaan, khususnya apabila ia sedang mengalami pengalaman dan peristiwa besar yang berlangsung. Peristiwa-peristiwa yang merupakan landasan bagi suatu revolusi pemikiran, sosial, dan ideologi, berfungsi sebagai pondasi pemikiran dari berbagai dimensi. Betapapun menghendaki ucapannya memiliki kesatuan arah dan keutuhan dengan ucapan-ucapan sebelumnya, ia tidak akan mampu, khususnya apabila ia tidak belajar atau terbina di dalam lingkungan yang terbelakang.

Akan tetapi, Al-Qur’an dalam masa 23 tahun diturunkan sesuai dengan kebutuhan dan keperluan masyarakat yang berada pada kondisi dan tempat yang sangat berbeda. Al-Qur’an membahas tema-tema yang beragam, dan tidak seperti buku-buku biasa yang melulu membahas masalah sosial, politik, filsafat, hak-hak, atau sejarah. Terkadang ia berbincang tentang keesaan Tuhan (tauhid) dan rahasia-rahasia penciptaan, dan terkadang menerangkan hukum dan undang-undang, adab, dan peradaban. Di lain waktu, ia berkisah tentang umat-umat terdahulu dan nasib mereka yang mengerikan. Terkadang ia juga berbicara tentang nasihat dan wejangan, ibadah dan hubungan antara hamba dan Tuhan.

Meminjam ucapan Dr. Gustav Lebon, bahwa sebagai kitab samawi umat Islam, Al-Qur’an tidak hanya terbatas pada ajaran-ajaran dan aturan-aturan agama saja, melainkan juga membahas masalah aturan-aturan sosial dan politik.

Galibnya, kitab dengan tipologi semacam ini mustahil bebas dari kontradiksi, pertentangan, dan statemen-statemen yang berlainan, serta plus-minus yang banyak. Akan tetapi kaitannya dengan berbagai dimensi, kita saksikan bagaimana seluruh kandungan ayat-ayat Al-Qur’an selaras dan seirama dengan yang lainnya, bebas dari segala bentuk kontradiksi, pertentangan, perbedaan dan inkoordinasi. Dengan baik kita dapat menduga bahwa kitab ini bukan merupakan hasil pemikiran manusia, melainkan berasal dari Tuhan, sebagaimana Al-Qur’an menjelaskan realitas ini dengan indah.[9]

Di dalam surat Hud [11], ayat 12-14, Al-Qur’an menegaskan mukjizatnya, “Ini bukanlah sebuah perkataan biasa dan bukan pula refleksi otak manusia, melainkan wahyu dari langit yang bersumber dari ilmu dan kekuasaan Tuhan yang tidak terbatas". Dengan alasan ini, Al-Qur’an melancarkan tantangan dan mengajak seluruh penghuni jagad raya untuk berjajal dengannya. Orang-orang yang hidup semasa dengan Nabi saw dan bahkan, hingga hari mencoba untuk mendatangkan yang serupa dengan Al-Qur’an. Namun, mereka tidak mampu. Mereka telah mengerahkan seluruh jiwa dan raga dengan menantang segala kesulitan untuk menciptakan Al-Qur’an baru. Akan tetapi, mereka tidak mampu melakukan tindakan untuk mengungguli ayat-ayatnya. Dengan ini, jelas bahwa pekerjaan seperti ini pada dasarnya tidak dapat dilakukan oleh manusia. Apakah mukjizat tidak lebih dari hal ini?”

Seruan Al-Qur’an ini masih saja terngiang di telinga kita. Mukjizat ini bersifat abadi, sebagaimana ia menantang seluruh penduduk jagad dan segenap pusat-pusat riset dunia untuk membuat bandingannya; tidak hanya dari sisi kefasihan (elokuensi), balâghah (retorika); daya tarik redaksi dan keelookan makna, tetapi juga dari sisi muatan dan kandungannya. Ilmu pengetahuan yang —menurut manusia masa itu— belum tersingkap, undang-undang yang menjamin kebahagiaan dan keselamatan manusia, penjelasan-penjelasan yang kosong dari setiap bentuk kontradiksi, sejarah-sejarah yang tidak dkotori oleh setiap jenis khurafat, dan semisalnya, semua itu sudah dijelaskan oleh Kitab ini.[10]

Bahkan, menurut Sayid Quthb dalam tafsir Fî Zhilâl Al-Qur’an, tatkala sekelompok kaum materialis di Rusia hendak meremehkan Al-Qur’an dalam kongres kaum Orientalis yang diselenggarakan pada tahun 1945 M, mereka berkata, “Kitab ini bukanlah refleksi pemikiran manusia (Muhammad), melainkan ia mesti bersumber dari hasil usaha dan upaya sekelompok orang-orang besar! Bahkan, tidak dapat dipercaya bahwa seluruh kandungannya ditulis dari jazirah Arab. Yang pasti, sebagian darinya ditulis di luar jazirah Arab.”[11]

Dari satu sisi, karena logika mereka mengingkari keberadaan Tuhan dan masalah wahyu, mereka mencarikan penafsiran yang bercorak materialistik untuk ayat Al-Qur’an. Dan dari sisi lain, karena mereka tidak mampu meyakini bahwa Al-Qur’an merupakan produk otak manusia di jazirah Arab, terpaksa mereka mencarikan penafsiran yang konyol. Dalam penafsiran ini, mereka membagi Al-Qur’an kepada produk jazirah Arab dan produk luar jazirah Arab. Penafsiran ini diingkari oleh sejarah secara keseluruhan.[12]


[1]Sebuah eulogi (pujian) yang diberikan kepada seorang Arab—pen..

[2]Majma’ al-Bayân, jilid 10, surat al-Muddatstsir.

[3] Dinukil dari permulaan buku Sâzemânha-ye Tamaddun-e Emperâtur-e Islâm.

[4] Idem, hal. 114.

[5] Idem, hal. 91.

[6] Dari buku 'Uzr-e Taqsiri beh Pishgâh-e Muhammad wa Qur'ân.

[7] Al-Mu'jizah al-Khâlidah, sesuai nukilan dari kitab Qur'an Bar Farâz-e A'sâr.

[8] Pishraft-e Sari'-e Islam dalam pembahasan ihwal mukjizat al-Qur'an disadur dari buku Qur'ân va Âkhirin Payâmbar.

[9] Qur'ân wa Âkhirîn Payâmbar, hal. 309; Tafsir Nemûneh, j ilid 4, hal. 28.

[10] Tafsir Nemûneh, jilid 9, hal. 42.

[11] Tafsir fî Zhilâl Al-Qur'an, jilid 5, hal. 282.

[12] Tafsir Nemûneh, jilid 11, hal. 410.