Surah Al-Ahzāb : 6



Ayat Wilayah

"Nabi itu lebih utama bagi mukminin dari pada diri mereka sendiri"

Ayat ini turun untuk mempertegas kepemimpinan Ali bin Abi Thalib a.s.

Dalam suatu riwayat, Al-Barra' bin' Azib berkata: “Kami bersama Rasulullah SAWWW dalam suatu perjalanan, lalu kami sampai di suatu tempat bernama Ghadir Khum. Nizcaya Nabi menyeru: “Mari shalat berjema' ah!”. Dalam keadaan panas yang melelahkan Nabi melakukan shalat Zhuhur di bawah dua pohon. Lalu Nabi memegang tangan Ali bin Abi Thalib seraya bersabda: "Tidakkah kamu tahu bahwa aku lebih utama bagi mukminin dari pada diri mereka sendiri?” Para sahabat menjawab: “Betul (engkau lebih utama bagi orang-orang mukmin dari pada diri mereka sendiri)”. Selanjutnya Nabi SAWWW bersabda: "Tidakkah kamu tahu bahwa sesungguhnya aku lebih utama bagi setiap orang yang beriman dari pada diri mereka sendiri?" Mereka menjawab: “Benar”. Maka Nabi SAWWW memegang tangan Ali bin Abi Thalib seraya bersabda: "Barangsiapa menjadikan aku pemimpinnya, maka Ali adalah pemimpinnya. Ya Allah, tolonglah orang yang menolong Ali dan musuhilah orang yang memusuhinya”. Lalu Umar bin Khattab mengucapkan selamat kepada Ali bin Abi Thalib: “Selamat atasmu, wahai putra Abu Thalib, engkau telah menjadi pemimpin setiap mukmin dan mukminah.

Dalam hadis lain yang diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah, Ahmad, dan An-Nasa'i, dari Buraidah, ia berkata: “Saat aku bersama Ali pergi ke Yaman untuk berperang, aku melihat ia marah. Ketika aku bertemu dengan Rasululah SAWWW, aku ceritakan semua peristiwa itu dengan nada sengaja ingin merendahkannya. Aku melihat wajah Rasulullah SAWWW berubah dan berkata: "Wahai Buraidah, bukankah aku lebih utama bagi orang-orang mukmin dari diri mereka sendiri?” Aku menjawab: “Benar, ya Rasulullah (engkau lebih utama bagi mukminin dari pada diri mereka sendiri)”. Lalu Nabi SAWWW bersabda: "Barangsiapa menjadikan aku pemimpinnya, maka Ali adalah pemimpinnya. "

Riwayat ini dan riwayat-riwayat lainyang semakna dengannya dapat Anda baca di dalam:

1.Musnad Ahmad, juz 4, hal. 281, 368 dan 372.

2.Shahīh Ibnu Majah, bab Fadhā`il Ashhab Rasulillah, hal. 13.

3.Khashā`ishun Nasa`i, hal. 25.

4.Ad-Durrul Mantsūr, karya As-Suyuthi, juz 6, hal. 566.

5.Kanzul 'Ummāl, karya Al-Muttaqi Al-Hindi, juz 6, hal. 390, 397, dan 399.

6.Musykilul Atsar, karya Ath-Thahawi, juz 2, hal. 307.

7.Al-Manāqib, karya Ibnu Al-Maghazili Asy-Syafi'i, hal. 18.

8.Usdul Ghābah, karya Ibnu Atsir, juz 2, hal. 307.

9.Al-Ishābah, karya Ibnu Hajar Al-'Asqalani, juz 4, hal. 16.

10.Ash-Shawā'iqul Muhriqah, karya Ibnu Hajar, hal. 25.

11.Ar-Riyādhun Nadhirah, karya Ath-Thabari, juz 2, hal. 169.

12.Tafsir Majma'ul Bayān, karya Ath-Thabarsi, juz 21, hal. 104.