Mengenal Sifat-sifat Tuhan



 

Mengenal Sifat-sifat Tuhan [1]

 

Mukadimah


Berbagai argumen telah kami sajikan di hadapan Anda untuk membuktikan wujud Tuhan Pencipta manusia dan semesta buana ini. Konklusi global dan mendasar yang dapat kita ambil dari beberapa uraian dan penjelasan sebelumnya ialah bahwa alam semesta ini tidak terjadi dan terwujud dengan sendirinya. Tetapi ia memiliki pencipta yang telah mewujudkannya. Dialah Tuhan Pencipta Yang Mahakuasa dan sempurna ilmu-Nya. Apakah hanya sekedar mengenal dan meyakini adanya Tuhan Pencipta, persoalan ketuhanan ini dapat dianggap selesai? Dengan kata lain, masih perlukah kita mengenal berbagai atribut dan sifat-sifat Tuhan Pencipta tersebut? Jika ya, lalu apa manfaatnya pengetahuan lebih lanjut tentangnya? Jawabnya adalah bahwa sekedar mengenal, mengetahui dan bahkan meyakini adanya Tuhan Pencipta bagi semesta buana ini, tidak dianggap memadai. Karena hal itu tidak akan membuahkan nilai-nilai positif dalam kehidupan, baik kehidupan dalam skala personal maupun sosial, dunia dan akhirat. Karenanya, diperlukan pembahasan lebih lanjut mengenai sifat-sifat Tuhan Pencipta tersebut secara logis dan filosofis, agar tujuan hidup (meraih kebahagiaan hakiki dan sejati) dapat terealisasi.

Terlebih, tanpa mengenal sifat-sifat-Nya, bisa jadi seseorang memiliki keyakinan tentang adanya Tuhan Pencipta, sementara gambaran dan pemahamannya terhadap Tuhan Pencipta tersebut masih kabur. Karenanya, tidak sedikit orang-orang yang menganggap benda tertentu atau energi tertentu sebagai Tuhan Pencipta mereka dan semesta ini.

Pada pembahasan terdahulu, kami telah jelaskan kepada Anda bahwa sebagian besar argumen filosofis itu hanya digunakan untuk membuktikan dan menetapkan keberadaan wâjib al-wujud (wujud Tuhan yang niscaya). Sementara untuk menetapkan sifat-sifat-Nya, baik yang berupa tsubutiyah (penetapan sifat-sifat kesempurnaan bagi-Nya), maupun yang berupa salbiyah (penafian sifat-sifat negatif dari-Nya) masih diperlukan argumen lain sebagai tambahan. Dengan ditetapkannya sifat-sifat tsubutiyah, akan menjadi jelas bahwa hanya Dia-lah yang layak disembah dan diibadati. Di samping itu, peluang untuk menetapkan keyakinan-keyakinan yang lainnya, seperti masalah utusan-Nya, hari kiamat dan lain sebagainya, menjadi terbuka lebar. Sementara penetapan sifat-sifat salbiyah atau penafian segala sifat-sifat yang tidak layak dari-Nya, dimaksudkan agar Tuhan Pencipta yang merupakan wâjib al-wujud itu tersucikan dari berbagai sifat-sifat yang disandang oleh makhluk-makhluk-Nya. Tanpa mengkaji dan memahami sifat-sifat salbiyah ini, seseorang akan terjerumus kepada tasybih (anthropomorphize), yaitu menyerupakan-Nya dengan makhluk ciptaan-Nya.

Pada penjelasan yang lalu -dengan berbagai argumen logis dan filosofis- dapat kita simpulkan bahwa Tuhan Pencipta itu tidak membutuhkan sebab selain-Nya dalam wujud-Nya, karena Dia merupakan wujud mandiri. Dan Dia-lah sebagai sebab dan illat bagi semua realitas yang bersifat mungkin. Dengan demikian -sebenarnya- ada dua sifat yang telah ditetapkan bagi-Nya di dalam uraian tersebut. Dua sifat tersebut ialah:

Pertama, bahwa wâjib al-wujud tidak butuh kepada selain-Nya, karena jika Dia butuh kepada wujud yang lain sekecil apa pun, maka wujud yang lain itu merupakan sebab bagi-Nya. Sementara telah kita ketahui bahwa hal itu mustahil terjadi bagi Tuhan Pencipta, karena akan terjadi tasalsul yang dinilai absurd.

Kedua, bahwa semua wujud yang bersifat mungkin adalah akibat yang membutuhkan sebab. Sementara tidak ada sebab dan illat lain selain Tuhan Pencipta sebagai wâjib al-wujud yang merupakan sebab dan illat utama bagi kemunculan dan keberadaan wujud-wujud mungkin tersebut.

Pada pembahasan kita kali ini, berdasarkan dua kesimpulan di atas, kami akan membahas konsekuensi masing-masing yang berhubungan dengan kedua sifat tersebut. Sehubungan dengan penetapan sifat-sifat tsubutiyah dan salbiyah, kami akan menjelasakan argumen-argumen yang sederhana dan sesuai dengan pembahasan-pembahasan yang telah lalu, agar dapat dipahami dengan mudah.

Tuhan Bersifat Azali dan Abadi


Penjelasan mengenai wujud mungkin atau mumkin al-wujud telah kita lewati pada pembahasan yang lalu. Ciri-ciri wujud mungkin adalah bahwa ia tidak wujud (eksis) secara mandiri, tetapi ia merupakan realitas akibat yang keberadaannya membutuhkan kepada realitas lainnya. Dengan demikian, ia berarti bergantung kepada wujud selainnya, karena ia pernah mengalami ketiadaan pada masa tertentu. Ketiadaan dan kesirnaannya pada masa tertentu itu menunjukkan bahwa dia butuh kepada selainnya, yaitu butuh kepada yang mengadakannya, Dialah wujud wâjib atau wâjib al-wujud. Mengingat bahwa wâjib al-wujud itu ada dengan sendirinya dan tidak membutuhkan kepada yang selainnya, maka berarti Dia bersifat abadi dan azali. Abadi artinya wujud-Nya tidak berakhir dan tidak diakhiri atau dibatasi oleh sesuatu. Azali artinya bahwa wujud-Nya tidak bermula atau tidak didahului oleh ketiadaan pada masa tertentu.

Dari uraian di atas, kita dapat menetapkan dua sifat pada wâjib al-wujud. Pertama, bahwa wâjib al-wujud itu bersifat azali, yakni Dia tidak didahului oleh ketiadaan. Kedua, Dia adalah abadi, yakni tidak akan tersentuh oleh ketiadaan selama-lamanya. Kedua sifat ini dapat juga disebut dengan sifat sarmadi.

Berdasarkan penjelasan ini, setiap sesuatu yang didahului oleh ketiadaan, atau ada kemungkinan menjadi sirna -walaupun hanya sekejap-, maka ia bukanlah wâjib al-wujud. Dari penjelasan ini menjadi jelas bahwa materi, sekuat apapun, tidak mungkin dan mustahil sebagai wâjib al-wujud atau wujud yang niscaya.

Sifat-sifat Positif dan Negatif


Sifat-sifat tsubutiyah atau positif ialah segala sifat kesempurnaan, seperti mahakuasa, mahatahu, mendengar, melihat dan lain sebagainya. Bila dikatakan bahwa Tuhan Pencipta itu mesti menyandang sifat-sifat tsubutiyah, artinya bahwa Dia memiliki berbagai sifat-sifat kesempurnaan yang tidak terbatas, berbeda dengan sifat-sifat kesempurnaan yang ada pada makhluk-Nya. Sifat-sifat kesempurnaan yang terdapat pada manusia itu terbatas dan bersumber dari-Nya. Lawan dari sifat-sifat tsubutiyah ialah sifat-sifat salbiyah (sifat-sifat negatif). Tuhan Pencipta Mahasuci dari sifat-sifat negatif ini, seperti tidak kuasa, tidak pandai, terangkap dan tersusun dan lain sebagainya. Tuhan Pencipta bersifat kuasa, esa dan basâthah (sederhana), artinya Dia tidak tersusun atau terangkap, karena Dia mandiri dan tidak butuh kepada selain-Nya. Sementara makhluk-makhluk-Nya, manusia misalnya, tersusun dari jasmani dan ruhani. Jasmaninya tersusun dan terangkap dari bermacam-macam anggota. Dan setiap yang tersusun dan terangkap pasti membutuhkan kepada yang lainnya yang merupakan sebab baginya.

Apabila kita berasumsi bahwa Tuhan Pencipta itu tersusun, tetapi bagian-bagiannya tidak ada secara fi'li (aktual), artinya belum terwujud saat sekarang ini dan akan muncul kemudian (bil quwwah/potensial), maka asumsi semacam ini batil. Karena sesuatu yang mempunyai bagian-bagian secara bil quwwah atau yang akan muncul kemudian, secara rasional pasti akan dapat dibagi. Walaupun secara fi'li (aktual=pada saat sekarang), bagian-bagiannya itu belum terealisasi dan belum terwujud. Dan adanya asumsi bahwa Tuhan Pencipta itu dapat dibagi, hal ini memestikan bahwa secara keseluruhan Dia bisa sirna. Misalnya seperti garis yang panjangnya satu meter. Apabila garis itu dibagi dua, yakni menjadi dua kali setengah meter, maka garis yang panjangnya satu meter tersebut telah sirna dan tidak ada lagi. Sementara telah kita pahami dari pembahasan yang telah lalu, bahwa Tuah Pencipta (wâjib al-wujud) tidak mungkin mengalami kefanaan ...(transient) dan kesirnaan, walaupun hanya sekejap saja.

Selain itu, perlu diperhatikan bahwa di antara karakter benda dan materi itu dapat disusun dan dirangkap, baik secara bil fi’li (aktual) maupun secara bil quwah (potensial). Sementara non-materi tidaklah demikian. Hal ini dapat ditangkap secara logis, sehingga tidak memerlukan kepada pemikiran filosofis yang dalam atau analisa dan penelitian. Dengan kata lain, bahwa setiap materi itu terangkap, dan setiap yang terangkap mustahil sebagai wâjib al-wujud dan Tuhan Pencipta. Berdasarkan hal di atas, kita dapat pula menetapkan kenon-materian Tuhan. Menjadi Jelas pula, bahwa Tuhan tidak mungkin dapat dilihat dengan mata kepala dan tidak mungkin dapat dijangkau dengan indera apapun, karena setiap yang dapat dilihat dan dijangkau oleh indera merupakan sifat-sifat khas benda dan materi. Sementara telah kita buktikan bahwa Tuhan itu non-materi.

Sampai di sini, kita telah dapat menetapkan sifat salbiyah lainnya bagi Tuhan Pencipta, yaitu ternafikannya ciri dan karakter materi dari zat-Nya. Dengan ternafikannya sifat materi tersebut, maka akan ternafikan pula semua sifat-sifat yang disandang oleh benda dan materi dari-Nya, seperti butuh kepada tempat dan masa. Karena ketika kita menggambarkan sebuah tempat, maka akan tergambar sesuatu yang memiliki bentuk dan panjang yang menempati tempat tersebut. Dengan demikian, mustahil bagi Tuhan Pencipta membutuhkan tempat. Demikian pula dengan masa. Setiap sesuatu yang bermasa dan tidak lepas dari zaman, pasti dapat dibagi kepada ekstensi masa dan durasinya. Oleh karena itu, hanya materi sajalah yang bermasa atau membutuhkan masa. Dengan penjelasan ini, dapat pula ditetapkan bahwa wâjib al-wujud tidak butuh kepada masa dalam wujud-Nya. Dan setiap yang membutuhkan tempat dan masa pasti bukan wâjib al-wujud.

Dengan demikian, kita sama sekali tidak mungkin dapat menggambarkan Tuhan Pencipta itu sebagai dzat yang butuh kepada tempat dan masa. Begitu pula, segala sesuatu yang membutuhkan tempat dan masa bukanlah wâjib al-wujud. Kemudian dengan ternafikannya waktu atau masa dari wâjib al-wujud, maka akan ternafikan pula adanya gerak, perubahan dan penyempurnaan dzat dari-Nya. Karena, setiap gerak atau perubahan apapun tidak mungkin terwujud tanpa masa. Oleh karena itu, orang-orang yang meyakini bahwa Tuhan Pencipta itu berada pada satu tempat seperti 'arsy atau menisbahkan gerak kepada-Nya, seperti Dia turun dari langit, atau meyakini bahwa Tuhan itu dapat dilihat dengan mata, atau dapat berubah dan meningkat, maka sebenarnya mereka tidak dan belum mengenal Tuhan dengan sebenarnya. Atau Tuhan yang mereka kenal itu adalah bukan Tuhan yang sebenarnya, melainkan Tuhan buatan, gambaran dan khayalan mereka sendiri. Secara global, bahwa setiap arti, gambaran dan konsep atau pemikiran yang menunjukkan kekurangan, keterbatasan dan kebutuhan pada dzat Tuhan, maka hal itu semua ternafikan dari dzat-Nya Yang Mahasuci. Inilah yang dimaksud dengan sifat salbiyah Ilahiyah (sifat-sifat negatif bagi Tuhan).

Sebab Pengada



1 next