Prinsip Hidayah Universal dan al-wahyu



Prinsip Hidayah Universal dan al-wahyu


Bukti (3a): Prinsip Hidayah Universal dan al-wahyu [1]

Keimanan kepada wahyu dan kenabian merupakan hasil dari semacam pandangan mengenai alam semesta dan umat manusia, yang bisa disebut "prinsip hidayah universal". Prinsip ini bersifat mendasar dalam pandangan dunia Islam yang bersifat monotheistik, dari mana prinsip kenabian muncul. Tuhan adalah Wujud yang Musti Ada (wajib al-wujud, Necessary Being) yang wujud dengan DzatNya Sendiri. Dia adalah sumber Rahmat yang mutlak dan Dia menganugerahkan rahmatNya itu kepada setiap jenis makhluk sejauh yang dimungkinkan dan cocok untuk makhluk tersebut. Dia membimbing semua makhluk pada jalan menuju kesempurnaan mereka.

Bimbingan ini diberikan kepada semua wujud, sejak dari partikel-partikel yang paling kecil hingga bintang-bintang yang paling besar; dari benda mati yang berderajat paling rendah hingga makhluk yang paling luhur dan paling cerdas, yakni manusia. Barangkali karena hal tersebut al-Qur'an telah menggunakan kata wahyu dengan artian bimbingan kepada manusia maupun kepada benda-benda mati, tumbuh-tumbuhan dan binatang-binatang.

"Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah: "Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibuat manusia", kemudian makanlah dari tiap-tiap (macam) buah-buahan dan tempuhlah jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan (bagimu). Dari perut lebah itu ke luar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang memikirkan. " (QS 16 (AN-NAHL):68-69)

"Karena sesungguhnya Tuhanmu telah memerintahkan (yang sedemikian itu) kepadanya. "
(QS 99 (AL-ZALZALAH):5)

"…dan Diamewahyukanpadatiap-tiaplangiturusannya…"
(QS 41 (FUSHSHILAT):12)

Tak satu pun wujud di dunia ini yang bersifat statis dan diam. Setiap wujud berubah status dan posisinya, dan bergerak menuju suatu tujuan. Bersamaan dengan itu, ada indikasi bahwa terdapat semacam "kehendak" dan "ketertarikan" pada setiap wujud terhadap tujuan yang ia bergerak menuju kepadanya itu. Dengan kata lain, semua wujud ditarik kearah tujuannya oleh sejenis kekuatan-dalam (inner force). Kekuatan ini adalah kekuatan yang ditafsirkan sebagai "bimbingan ilahi" itu. Dari sisi semua, wujud di dunia, kekuatan ini bisa dipandang berasal dari cinta ('isyq) sekalian alam padaNya. Sedangkan dari sisiNya, kekuatan ini bisa dipandang sebagai manifestasi CintaNya pada sekalian alam [2].

Jadi, dunia kita ini adalah dunia yang berorientasi, dunia yang diarahkan kepada tujuan. Artinya, terdapat suatu dorongan-internal dalam semua wujud untuk bergerak menuju suatu tujuan kesempurnaan. Berada dalam keadaan diarahkan kepada tujuan sama artinya dengan telah menerima bimbingan ilahi (baca pula: wahyu).

Maha Suci Dia Yang Maha Menuntun semesta wujud dengan WahyuNya, baik internal (seperti halnya akal) maupun eksternal. Kata wahyu digunakan berulang kali dalam al-Qur'an. Berbagai penggunaan kata ini di dalam al-Qur'an menunjukkan bahwa wahyu tidak hanya berkaitan dengan manusia saja, tapi juga mengalir dalam tiap-tiap sesuatu, atau paling tidak dalam diri tiap makhluk hidup. Demikianlah, bahkan dalam kasus lebah, al-Qur'an berbicaara mengenai wahyu. Perbedaannya hanyalah dalam derajat wahyu dan bimbingan yang sesuai dengan perkembangan makhluk yang bersangkutan.

Derajat tertinggi wahyu adalah yang diterima oleh para nabi. Wahyu jenis ini didasarkan pada kebutuhan umat manusia akan bimbingan ilahi. Bimbingan ilahi, di satu pihak, membawa umat manusia kepada suatu tujuan yang berada di luar batas jangkauan benda-benda material dan panca indera, dan merupakan way of life mereka. Di lain pihak, ia memenuhi kebutuhan-kebutuhan umat manusia dalam kehidupan sosialnya yang secara konstan membutuhkan hukum-hukum ilahi yang terjamin. Kebutuhan umat manusia akan suatu ideologi membawa mereka kepada kesempurnaan. Ketidakmampuan mereka untuk menciptakan sendiri ideologi yang mampu membawa mereka menuju kesempurnaan telah dijelaskan pada bukti 1.


Catatan Kaki:


[1] Disadur Dari Murtadha Muthahhari, Falsafah Kenabian, Pustaka Hidayah, Jakarta, 1991, pp. 7-9

[2] Lihat Tauhid for Teens bukti (9s) dan bukti (9t)

 

 

 

 

 

 



1 2 3 next