Potensialitas & Aktualitas Jiwa Manusia



Potensialitas & Aktualitas Jiwa Manusia


Kita melihat bahwa jiwa manusia memiliki beragam potensi dengan tak terkira level pencapaiannya. Melalui jiwanya, seorang manusia bisa mencapai ketinggian-ketinggian yang tidak bisa dicapai makhluk lain. Manusia mampu memahami semesta galaxy dan subatomik jasad-jasad renik melalui jiwanya. Manusia mampu menyingkap sebagian dari rahasia-rahasia langit melalui jiwanya.

Agar umat manusia mampu mengaktualkan kemampuan-kemampuan jiwanya menjadi yang paling luhur, paling mulia dan paling sempurna, manusia membutuhkan seorang manusia lain yang berfungsi sebagai :

(i) model sempurna secara lahir batin bagi aktualisasi kekuatan-kekuatan jiwanya

(ii) kesempurnaan terwujudnya potensi potensi luhur dan mulia dalam eksistensinya

Mengenai mengapa yang dibutuhkan seorang manusia, argumentasinya sama dengan bukti (3b).

Tentang kesempurnaan manusia ini, maka pribadi pengaktualisasi potensi-potensi luhur jiwa manusia ini harus seorang manusia paripurna yang telah mengaktualisasi potensi-potensi luhurnya secara maksimal. Filsafat dan al-hikmah menyebut pribadi seperti ini al-insan al-kamil (manusia sempurna).

Tentang kekuatan khusus pribadi ini untuk membantu dan mendorong eksistensiasi potensi-potensi luhur dalam jiwa umat manusia adalah kekuatan yang dianugerahkan oleh Yang Mahabijak pada pribadi ini. Kekuatan ini merupakan bagian dari malakut (Kerajaan) langit dan bumi. Kekuatan ini pada satu sisi disebut walayat (kewalian), dan pada sisinya yang lengkap disebut nubuwwah (kenabian).

Tentang manusia sempurna, pandangan Shadr al-Muta'allihin adalah sebagai berikut:

(i) Manusia sempurna adalah "cermin" dari Hakikat/Zat [1]

(ii) Manusia sempurna adalah kosmos secara keseluruhan, "archetype" (model sempurna) kitab-kitab yang diturunkanNya, cahaya-cahaya yang dituliskan dalam "tangan" ar-Rahman [2]

(iii) Manusia sempurna adalah realisasi hakikat kenabian. Realitas hakiki wujud nabi adalah "yang dengan cahaya petunjuknya, menyempurnakan jiwa-jiwa orang-orang yang beriman dan mengiluminasi intelegensia-intelegensia manusia, membuat mereka beralih dari potensi menjadi aktual. "[3]

Al-Qur'an mengisyaratkan tentang hakikat kenabian adalah kesempurnaan aktualisasi jiwa-jiwa manusia dalam ayat berikut:

"Nabi itu lebih utama bagi orang-orang mukmin daripada diri mereka sendiri. " (QS 33 (AL-AHZAB):6)


Catatan Kaki:


[1] Shadr al-Din Shirazi, Tafsir al-Qur'an al-Karim, vol4, pp. 398-400, disadur dari Christian Jambet "The Act of Being: The Phylosophy of Revelation in Mulla Sadra", Zone Books, New York, 2006, pp. 412-413

[2] Shadr al-Din Shirazi, Tafsir al-Qur'an al-Karim, vol4, pp. 398-400, disadur dari Christian Jambet "The Act of Being: The Phylosophy of Revelation in Mulla Sadra", Zone Books, New York, 2006, pp. 412-413

[3] Shadr al-Din Shirazi, Tafsir al-Qur'an al-Karim, vol4, pp. 398-400, disadur dari Christian Jambet "The Act of Being: The Phylosophy of Revelation in Mulla Sadra", Zone Books, New York, 2006, pp. 412-413