Kenabian sebagai Pembimbing untuk memahami perintah-perintahNya



Kenabian sebagai Pembimbing untuk memahami perintah-perintahNya


Bukti (2) : Pembimbing untuk memahami perintah-perintahNya [1]

Dari pembahasan kita "Tauhid for Teens", telah jelas bahwa Allah SWT Maha Mencintai sekalian alam, dan bahwa Dia-lah harus memelihara mereka setiap saat setiap waktu. Jelasnya, setiap fenomena di dunia, sejak saat kemaujudannya pertama kali, membaharu untuk menghilangkan kekurangan-kekurangannya dan memenuhi kebutuhan-kebutuhannya satu demi satu - mencapai kesempurnaan dan kemandirian sejauh yang mungkin bisa dicapainya.

Ia mengikuti arah eksistensi yang telah ditentukan, yang tertib dan berkelanjutan (perfectly governed & sustainable). Yang menentukan arah perjalanan makhluk dan membimbingnya tahap demi tahap adalah Tuhan Yang Maha Mencinta (al-Habib al-Haqiqi) lagi Maha Memberikan Petunjuk (al-Hadi).

Kita bisa menarik satu kesimpulan yang pasti dalam hal ini: setiap fenomena di dunia ini mempunyai program yang unik, untuk mengatur perilakunya, yang terungkap sepanjang hayatnya. Dengan kata lain, setiap fenomena mempunyai seperangkat peran dalam kehidupan atas bimbingan Tuhan. Al-Qur'an merujuk kepada kebenaran ini melalui ucapan nabi Musa mengatakan kepada Fir'aun yang semasa dengannya dalam firmanNya:

"Tuhan kami adalah (Tuhan) Yang telah memberikan kepada tiap-tiap sesuatu bentuk kejadiannya, kemudian memberinya petunjuk" (QS 20 (THAHA):50)

Ini berlaku pada setiap aspek ciptaan, tanpa kekecualian. Langit di atas kita dan bumi di bawah kita, unsur-unsur yang membentuk keduanya, senyawa-senyawa yang membentuk fenomena yang sederhana, tanaman dan hewan - semuanya diatur oleh kebenaran ini. Manusia juga diatur oleh kebenaran ini, tetapi ada perbedaan antara manusia dengan makhluk-makhluk lain. Penjelasannya adalah sebagai berikut.

Bumi ini diciptakan berjuta-juta tahun yang lalu. Ia mengerahkan seluruh kekuatan tersembunyinya untuk bekerja, dan sejauh yang dimungkinkan oleh unsurnya, ia tetap bekerja, memperlihatkan efek-efeknya dalam rotasi dan gerak orbitnya. Dengan cara demikian-lah ia menjamin kelanjutan eksistensinya. Ia akan terus beroperasi dengan cara yang sama, tanpa pernah gagal memenuhi fungsinya yang mana pun, kecuali suatu faktor yang berlawanan yang lebih kuat ikut campur dalam operasinya.

Semenjak munculnya sebuah bibit pohon jeruk dari sebuah biji, hingga saat ia mencapai kematangannya, ia melaksanakan fungsinya: menghidupi dan menghasilkan buah (dengan kata lain, ia mengikuti jalan perkembangannya). Ia tidak menyimpang dan tak mungkin menyimpang dari jalan itu, kecuali jika sesuatu faktor berlawanan yang lebih kuat ikut campur. Hal yang sama berlaku pada fenomena-fenomena yang lain.

Akan tetapi, manusia melaksanakan perbuatannya dengan pilihan sukarela, melalui pemikiran dan pengambilan keputusan. Hal ini biasanya disebut bahwa manusia memiliki kehendak bebas (free will) atas perbuatan-perbuatannya. Betapa sering manusia gagal melakukan perbuatan-perbuatan yang bermanfaat untuk dirinya sendiri, sekali pun tidak ada faktor eksternal yang mencegahnya; dan betapa sering dia melakukan hal-hal yang mendatangkan kerusakan bagi dirinya - secara sadar, dengan pertimbangan, dan pilihan bebas! Kadang-kadang dia menolak meminum obat walaupun sakit, dan kadang-kadang dia meminum racun untuk membunuh dirinya sendiri.

Jelas, suatu makhluk yang diciptakan dengan pilihan bebas tidaklah berada dalam keadaan terpaksa (mujbir) untuk mengikuti bimbingan Ilahi. Memang benar bahwa manusia bisa memperoleh gagasan tentang apa yang baik dan apa yang buruk, apa yang bermanfaat dan apa yang merusak bagi dirinya sendiri, dengan menggunakan akalnya. Tetapi yang lebih sering terjadi adalah akal tersebut menyerah kepada kecenderungan-kecenderungan hawa nafsu; kadang-kadang akal juga melakukan kekeliruan. Kekeliruan ini menunjukkan bahwa bimbingan Ilahi harus diberikan melalui sarana tambahan selain akal, suatu sarana yang sepenuhnya bebas dari kesalahan. Dengan kata lain, setelah membimbing manusia untuk memahami perintah-perintahNya secara umum melalui akal, Dia mesti memperkuat pemahaman tersebut dengan cara lain.

Cara ini adalah kenabian; lewat kenabian, Tuhan Yang Maha Tinggi mengajarkan perintah-perintahNya kepada salah seorang hambaNya melalui wahyu, dan menugaskan menyampaikan perintah-perintah tersebut kepada umat manusia, mengajak mereka untuk mengikutinya dengan menggunakan rasa takut dan harapan, dorongan, dan ancaman-ancaman.
Allah SWT berfirman:

"Sesungguhnya Kami telah memberikan wahyu kepadamu sebagaimana Kami telah memberikan wahyu kepada Nuh dan nabi-nabi yang sesudahnya. Dan Kami berikan wahyu kepada Ibrahim dan Isma'il dan Ishaq dan Ya'qub dan anak cucunya, dan Kami datangkan kepada Zabur Dawud…. (Mereka Kami utus) selaku rasul-rasul pembawa berita gembira dan pemberi peringatan agar supaya tidak ada alasan bagi manusia membantah Allah sesudah diutusnya rasul-rasul itu" (QS 4 (AN-NISA):163,165)

Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib kw. bersabda: [2]

"… Maka Allah mengirimkan rasul-rasulNya dan sederetan Nabi kepada mereka, … , dan agar mereka berhujah kepada mereka dengan tabligh, untuk membukakan tabir hikmah dan kebajikan terhadap mereka, dan menunjuk kepada mereka tanda-tanda kekuasaanNya… "


Catatan Kaki:


[1] Disadur dari 'Allamah Sayyid Muhammad Husayn Thabathaba'i, Inilah Islam, Pustaka Hidayah, Bandung, 1996, pp. 63-65

[2] Nahjul Bal?ghah, Ansariyan Publications, Qum, 2002 M/1423 H, Vol. 1, Khutbah 1, pp. 29-31