Kenabian sebagai Manifestasi RahmatNya yang Meliputi Semesta dan lebih khusus lagi SifatNya ar-Rabb (Pemelihara) dan al-Hadi (Pemberi Petunjuk)



Kenabian sebagai Manifestasi RahmatNya yang Meliputi Semesta dan lebih khusus lagi SifatNya ar-Rabb (Pemelihara) dan al-Hadi (Pemberi Petunjuk)


Bukti (1) : Kenabian sebagai Manifestasi RahmatNya yang Meliputi Semesta dan lebih khusus lagi SifatNya ar-Rabb (Pemelihara) dan al-Hadi (Pemberi Petunjuk) [1]

Meskipun Tuhan Yang Maha Tinggi bebas dari segala kebutuhan macam apa pun, namun Dia mewujudkan alam semesta dengan segala makhluk yang mengisinya dan melimpahkan rahmat yang tak terbatas kepada mereka. Hal ini lebih jelas diuraikan dan dibuktikan dalam Tauhid for Teens Bukti [2] (9o) dan Bukti (9r), bahwa Tuhan adalah Kebaikan Murni (Khayrun Mahdhun) dan Rahmatnya meliputi seluruh semesta.

Manusia, seperti halnya makhluk hidup yang lain, berada dalam pemeliharaan Tuhan, sebagai ar-Rabb (Pemelihara/Sustainer), sejak saat kelahirannya hingga kematiannya. Setiap makhluk dibimbing oleh suatu sistem khusus menuju satu tujuan yang telah ditentukan, dan memperoleh perhatian penuh kasih sayang yang dibutuhkannya setiap saat. Dan ini adalah manifestasi dari RahmatNya yang meliputi semesta. Dia melimpahkan eksistensi pada al-wujudat al-imksniyyah kemudian menyempurnakan mereka semua.

"Yang Menciptakan, dan Menyempurnakan, Dan yang Menentukan Kadar (masing-masing ) dan Memberi Petunjuk," (QS 87 (AL-A'L?): 2-3)

Jika kita renungkan siklus kehidupan kita sendiri, yakni sejak dari masa kanak-kanak hingga usia tua, niscaya kesadaran kita akan menjadi saksi atas perhatian penuh yang diberikan Tuhan Yang Maha Tinggi kepada kita. Jika hal ini telah kita pahami, pikiran kita akan memutuskan tanpa ragu-ragu bahwa Pencipta alam semesta jauh lebih bermurah hati kepada setiap makhlukNya daripada siapa pun. Karena itu, Dia selalu berbuat demi kepentingan terbaik makhlukNyadan tak pernah menyetujui sesuatu yang tidak bijaksana atau yang akan mendatangkan kerusakan kepada makhlukNya.

Manusia adalah salah satu ciptaan Tuhan, dan kita tahu bahwa kepentingannya yang terbaik dan kebahagiaannya terletak pada sikap yang realistis dan berbuat baik ; yakni, memiliki keyakinan-keyakinan yang benar, nilai-nilai etis yang luhur, dan perilaku yang baik.

Di sini orang mungkin mengatakan bahwa manusia, dengan akal pemberian Tuhan, mampu membedakan kebaikan dan keburukan, dan menghindari jurang kehancuran.Akan tetapi, mesti disadari bahwa akal kita saja tidak bisa menguraikan masalah dan membimbing kita kepada realisme dan tindakan yang benar.

Semua sifat dan perbuatan buruk yang kita lihat di masyarakat manusia bersumber dari manusia-manusia ini juga yang mempunyai akal dan kemampuan untuk membedakan yang baik dan yang buruk. Karena egoisme, kerakusan, dan hawa nafsu, akal mereka dikalahkan oleh emosi dan tunduk kepada hawa nafsu. Akibatnya, mereka tersesat.

Sampai saat ini para pemikir, filsuf dan ilmuwan tetap berbeda pandangan tentang hakikat manusia dan bagaimana agar manusia, baik sebagai individu maupun sebagai makhluk sosial, mencapai kesempurnaannya dan kebahagiaannya. Padahal penelitian dan pencarian tentang manusia telah dilakukan tak terhitung pemikir dan cendekiawan dari berbagai bangsa dan melintasi milenium-milenium.

Hal ini menunjukkan ketidakmampuan akal manusia, baik sebagai individu maupun akal kolektifnya, untuk, membimbing dirinya sendiri menuju membangun suatu sistem tuntunan lengkap yang kesempurnaan alamiahnya dan kebahagiaannya sendiri. Oleh karena itu, Allah SWT mesti menyeru dan membimbing kita kepada kebahagiaan dengan cara lain, yang tidak pernah dikalahkan oleh hawa nafsu atau keliru dalam memberikan petunjuk. Cara ini adalah kenabian.


Catatan Kaki:


[1] Disadur dari 'Allamah Sayyid Muhammad Husayn Thabathaba'i, Inilah Islam, Pustaka Hidayah, Bandung, 1996, pp. 62-63
[2] Tauhid For Teens, Penyadur: Dimitri Mahayana, Typist: Muhammad Nizami, Last Edited: 2/21/2010 , pp. 68-69, 75-77