Kenabian adalah Cara Ia Yang Mahabijak (al-Hakim) untuk mengingatkan manusia akan hakikat dirinya



 Kenabian adalah Cara Ia Yang Mahabijak (al-Hakim) untuk mengingatkan manusia akan hakikat dirinya


Jalan kesempurnaan alam adalah melalui CintaNya sebagai al-Habib al-Haqiqi pada sekalian alam, maupun cinta ('isyq) padaNya sebagai al-Mahbub al-Haqiqi.

Apa beda manusia sebagai makhluk yang memiliki free will (kehendak bebas) dan akal budi adalah mereka bisa memilih secara sukarela (voluntarily) untuk mengikuti jalan kesempurnaan alamiahnya sejauh dalam otoritas kesadaran dan kekuasaannya atau tidak.

Walaupun tertanam dalam dirinya 'isyq (cinta Ilahiah, manusia seringkali tidak menghiraukan dorongan internal ini bahkan lupa sama sekali akan dorongan fitri ini. Al-Qur'an mengungkapkannya dengan indah sebagai berikut:

"Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada mereka sendiri… " (QS 59 (AL-HASYR):19)

Indah sekali ungkapan Al-Qur'an yang mengisyaratkan bahwa bila seseorang lupa akan al-Mahbub al-Haqiqi, Dia Yang Awal dan Akhir semua kesempurnaan, maka hal ini akan mengakibatkan mereka lupa pada diri mereka sendiri. Hal ini menjadi lebih jelas dengan memahami (melihat) bahwa cinta Ilahiah adalah mengalir dalam kesadaran diri terdalam seorang manusia.

Apa yang menyebabkan kebanyakan manusia lupa akan Cinta Ilahiah; dan melupakan al-Mahbub al-Haqiqi? Di antaranya adalah keintiman (intimacy) dengan urusan-urusan duniawi. Kemudian, manusia memiliki kelemahan-kelemahan seperti sifat lupa, lalai dan kurang cermat dalam mengambil kesimpulan (fallacies).

Akumulasi cinta pada dunia dan kesalahan berpikir ini berkelindan membuat manusia masuk sedikit demi sedikit ke alam-alam kegelapan (azh-zhulumat) dan akhirnya lupa sama sekali akan Cinta Ilahi yang tertanam dalam hakikat dirinya Sendiri yang terdalam. Dalam sebuah hadits disebutkan : [1]

"Cinta dunia adalah sumber segala keburukan"

Untuk mengingatkan kembali manusia akan arah perjalanannya menuju kesempurnaan, yakni Jalan Cinta Ilahi, maka al-Habib al-Haqiqi mengutus manusia-manusia yang Ia pilih tidak lain adalah para nabinya.

Fungsi (Tugas) utama para nabi adalah "mengingatkan" manusia akan realitas Ilahiah dalam diri mereka sendiri. Tuhan mengirimkan para nabi untuk mengingatkan manusia bahwa Dia-lah sumber semua cinta dan Dia-lah tujuan sejati cinta.

"Sungguh, pada yang demikian itu pasti terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai hati atau yang menggunakan pendengarannya, sedang dia menyaksikannya. " (QS 50 (QAF):37)

"Tidak diwahyukan kepadaku, melainkan bahwa sesungguhnya aku hanyalah seorang pemberi peringatan yang nyata. " (QS 38 (SHAD):70)

"Sesungguhnya kamu hanyalah seorang pemberi peringatan; dan bagi tiap-tiap kaum ada orang yang memberi petunjuk. " (QS 13 (AR-RA'D):7)

Respon manusia pada peringatan ini tidak sekedar berimplikasi mengenal kebenarannya. Ingat pada Allah adalah membangkitkan pemahaman fitrah tentang KetunggalanNya dan menyatakan pemahaman ini dalam bahasa dan amal nyata (praxis). Maka fungsi kedua para nabi adalah memberikan petunjuk-petunjuk yang membuat manusia hidup dalam cara-cara yang menguatkan Cinta Ilahiah dan selaras dengan Kebaikan, Keindahan, dan KebenaranNya (yang baik, yang indah dan yang benar).

Melalui ketaatan pada peringatan Ilahiah yang dibawakan oleh para nabi, manusia menjadi semakin dekat dengan keadaan "mengingatNya dalam setiap waktu dalam setiap aktivitas". Asy-Syaikh al-Akbar Ibn al-'Arabi menyebut keadaan ini sebagai "hadir bersama Yang Esa Lagi Diingat (baca bula: Yang Esa Lagi Senantiasa Didambakan)" [2]

Pada puncaknya, manusia akan menjadi "hamba murni" ('abdun mahdhun), yang senantiasa tercelup dalam CintaNya dan oleh karena itu senantiasa mendambakanNya.

"Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia kecuali beribadah kepada-Ku. " (QS 51 (ADZ-DZARIYAT):56)
Jadi kenabian (nubuwwah) adalah cara dari Yang Mahabijak menuntun umat manusia menuju kesempurnaan alamiahnya, yakni menjadi "hamba murni".
Tentang Nabi sebagai pengingat manusia atas fithrahnya, dalam khutbah 1 Nahjul Balaghah, Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib kw. bersabda:

"… Maka Allah mengirimkan rasul-rasulNya dan sederetan Nabi kepada mereka agar mereka memenuhi janji mereka terhadap fithrahNya, dan mengingatkan kepada mereka nikmatNya…" [3]



Catatan Kaki:


[1] Kanzul 'Umm?l - Volume 3, Muassasah ar-Risalah , Beirut, 1989, Ahlulbayt Library 1. 0, no. 2114, pp. 192

[2] Ibn 'Arabi, al-Fut?hat al-Makiyyah, Cairo, 1911, III 255. 33, dikutip dari William C. Chittick, Ibn 'Arabi Heir to the Prophets, Oneworld Publications, 2007, Oxford, pp. 56

[3] Nahjul Bal?ghah, Ansariyan Publications, Qum, 2002 M/1423 H, Vol. 1, Khutbah 1, pp. 29