Kebutuhan akan Nabi sebagai Pemimpin Moral dan Penyuci Jiwa Manusia



 Kebutuhan akan Nabi sebagai Pemimpin Moral dan Penyuci Jiwa Manusia


Selain intelegensia dan akal budi, manusia memiliki kekuatan instinktif seperti syahwat, amarah, daya seksual, daya pemilikan. Bila daya-daya instinktif ini tidak dikendalikan dan jika mereka menguasai diri kita, intelegensia kita akan berubah dan berperilaku bak harimau ganas atau babi yang rakus, atau bahkan jauh lebih buruk lagi.

Pengendalian terhadap daya-daya instinktif hewaniah serta lebih jauh lagi daya instinktif syaithaniah yang ada dalam diri kita, bukanlah semata persoalan intelektual atau rasional. Sering kita mengetahui sesuatu adalah buruk bagi kita namun kita dengan sadar tetap melakukannya karena dorongan hawa nafsu.

Untuk tujuan ini, dibutuhkan seseorang model dan contoh nyata sekaligus panutan yang diperkuat dengan suatu kekuatan yang lebih dari dan tidak sekedar daya intelektual manusia biasa.

Beratnya perjuangan hawa nafsu ini digambarkan oleh suatu hadits sebagai berikut:

"… bahwa Nabi saw. ketika melihat pasukan yang kembali dari sebuah peperangan, beliau bersabda, 'Selamat datang, wahai orang-orang yang telah melaksanakan jihad kecil dan masih tersisa bagi mereka jihad akbar. ' Ketika orang-orang bertanya tentang makna jihad akbar itu, Rasul saw. menjawab, 'Jihad melawan diri sendiri (jihad al-nafs)"

Orang yang mampu menjadi model, panutan dan pendidik umat manusia untuk mengendalikan daya-daya instinktif ini seharusnya telah berhasil menyucikan dirinya dengan sempurna (ma'shum, infallible, bebas dari kesalahan). Kemudian, orang ini mampu menarik kita semua, dengan kekuatan intelektual dan supra-intelektualnya, dari ketenggelaman dalam hawa nafsu dan syahwat kita, Lebih lanjut, orang ini mengajarkan kepada kita prinsip-prinsip moral (akhlaq) yang luhur seperti kasih sayang, kepahlawanan, pengorbanan, kedermawanan, kerendahhatian, keberanian.

Dan tidak mungkin karakter-karakter ini bersatu dalam diri seseorang kecuali mereka yang mempunyai hubungan khusus dengan Sang Pencipta, sehingga orang tersebut memperoleh karunia limpahan langsung PengetahuanNya dan penguatan langsung dariNya sehingga mampu mengantarkan manusia dari kegelapan-kegelapan hawa nafsunya menuju Alam Cahaya Murni!

"Allah Pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman).Dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya ialah syaitan, yang mengeluarkan mereka daripada cahaya kepada kegelapan (kekafiran). Mereka itu adalah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya. "
(QS 2 (AL-BAQARAH):257)

Catatan Kaki:


[21] 'Allamah Majlisiy, bihar al-anwar, Beirut, 1983, ahlulbayt library 1. 0, vol. 19, pp. 182



Prophethood for Teens, Bukti (9): Bagaimana pendapat al-Farabi tentang kenabian?


Tentang pemimpin al-madinah al-fadhilah (masyarakat yang utama) al-Farabi menuliskan:

"…manusia ini adalah manusia yang padanya Intelek aktif telah diturunkan.

Ketika ini muncul pada kedua fakultas rasionalnya, yakni fakultas rasional teoritis dan praktis, juga fakultas imaginasinya, maka adalah manusia ini yang menerima wahyu, dan Allah 'azza wa jalla mewahyukan kepadanya melewati perantaraan al-'aql al-fa'al (Akal Aktif), sedemikian hingga emanasi dari Allahtabaraka wata'ala ke al-'aql al-fa'al tersebut ('aqluhu al-munfa'al) melalui perantaraan al-'aql al-mustafad (Acquired Intellect), dan kemudian kepada daya imaginasi. Maka dialah, melalui emanasi al-'aql al-fa'al kepada akal pasifnya, seorang manusia bijak dan filsuf dan pemikir yang sempurna (dengan Intelek yang didalamnya bersifat Ilahiah), dan melewati emanasi dari Intelek Aktif (al-'aql al-fa'al) ke daya imaginasinya adalah Nabi yang mengingatkan hal-hal yang akan terjadi dan mengabarkan hal-hal partikular yang ada saat ini.

Manusia ini adalah dalam derajat yang paling sempurna kemanusiaan dan telah mencapai derajat kebahagiaan yang tertinggi.

Jiwanya menyatu dengan al-'aql al-fa'al (Akal Aktif) (sebagaimana sebelumnya), dengan suatu cara yang telah kita katakan (dijelaskan al-Farabi pada bab sebelumnya). Dia adalah manusia yang mengetahui tiap perbuatan yang dengannya kebahagiaan bisa diraih. "