Apakah kebijakan kita mencukupi untuk memahami realitas?



 

 

Apakah kebijakan kita mencukupi untuk memahami realitas?


Bukti (8a): Apakah kebijakan kita mencukupi untuk memahami realitas? [1]

Apakah kemajuan pengetahuan manusia dan iptek tidak mencukupi bagi manusia untuk menyingkap kebenaran dan realitas? Bila mencukupi ada dua alternatif kelanjutan pertanyaan ini.

Alternatif pertama, adalah kebijakan kita bisa menjangkau apa yang disampaikan para nabi pada kita. Dalam hal ini berarti kita tidak membutuhkan para nabi.
Alternatif kedua, adalah kebijakan kita tidak bisa menjangkau apa yang disampaikan para nabi. Dalam hal ini berarti kita tidak berkewajiban mengikuti seruan para nabi, karena kita tidak bisa mentoleransi atau menerima apa pun yang di luar daya jangkau kebijakan dan pengetahuan kita.

Jawaban terhadap pertanyaan ini adalah sebagai berikut. Kita seharusnya sadar bahwa pengetahuan kita tentang realitas adalah seperti setetes air dalam samudera luas tanpa batas, walaupun kemajuan ilmu pengetahuan sudah seolah demikian menakjubkan! Seluruh iptek yang diketahui umat manusia sampai saat ini adalah bak satu huruf alfabet dalam ensiklopedia semesta yang tak terukur tebal dan kedalamannya.

Sebagai contoh sederhana para fisikawan saat ini belum berhasil menemukan batas-batas terkecil jasad mikro sub atomik; dan para fisikawan besar berdebat tentang sifat-sifat alamiah hukum-hukum dasar fisika. Misalnya: penolakan Einstein tentang sifat probabilistik semesta sebagai implikasi mekanika kuantum.

Lebih simpel lagi, belum ada fisikawan dan ilmuwan yang mampu memecahkan sekedar sebuah persamaan gerak jatuhnya selembar daun dari pohon.

Contoh yang lain adalah para ilmuwan biologi sampai saat ini belum bisa mengungkap rahasia "hidup" dan apa batas yang tegas sesuatu disebut hidup atau mati bagi seorang manusia misalnya. Masih banyak contoh-contoh lain, dari berbagai disiplin ilmu yang menunjukkan bahwa ilmu yang telah dicapai manusia bahkan belum bisa menjelaskan realitas-realitas yang amat sederhana dalam kehidupan nyata, dan bahwa banyak hal dalam pondasi ilmu manusia yang rapuh bahkan tidak lepas dari kontradiksi diri (self-contradiction).

Dengan menyadari kenyataan bahwa seluruh ilmu pengetahuan manusia ini hanyalah bak satu alfabet dalam ensiklopedi super tebal semesta, jelaslah bahwa kebijakan kita bersama seluruh kemajuan ilmu dan pengetahuan kita tidak mencukupi bagi kita untuk memahami realitas.

Dengan kata lain: jangkauan pertimbangan kita atau kapasitas rasional kita adalah sangat kecil dan sempit (extremely minute). Kita sangat banyak tidak menyadari apa yang terjadi di sekitar kita.


Catatan Kaki:


[1] Bukti ini disadur dari Ayatullah al-'Uzhma Nasir Makarim Syirazi, Fifty Lectures on The Principles of Faith for Youth, The Ahl al-Bayt (as. ) World Assembly, Ten Lectures on Propethood, First Lecture, pp. 145-150, terima kasih pada al-Ustadz al-'Arif billah 'Allamah Miftah Fauzi Rakhmat yang telah menghadiahkan buku ini pada kami.



Prophethood for Teens, Bukti (8b): Kebutuhan akan Nabi sebagai Pendidik dan Cahaya PetunjukNya


Prophethood for Teens, Bukti (8b): Kebutuhan akan Nabi sebagai Pendidik dan Cahaya PetunjukNya [1]

Kita membutuhkan Nabi untuk mendidik umat manusia menuju ideologi dan jalan hidup yang benar. Hal ini bisa diamati dari beberapa hal berikut ini.

Pertama, ideologi dan jalan hidup yang benar hanyalah mungkin dibuat oleh yang benar-benar mengetahui hakikat dan realitas manusia. Dan dari penjelasan 8a, manusia dengan seluruh kebijakannya tidaklah memiliki pemahaman tentang hakikat dan realitasnya sendiri kecuali bak setetes air dalam samudera. Maka siapakah yang lebih mengetahui hakikat dan realitas manusia kecuali Sang Pencipta?

"Dan bukankah Tuhan yang menciptakan langit dan bumi itu berkuasa menciptakan yang serupa dengan itu? Benar, Dia berkuasa. Dan Dialah Maha Pencipta lagi Maha Mengetahui. " (QS 36 (YASIN):81)

Kedua, hal pertama di atas diperkuat oleh kenyataan munculnya hipotesa-hipotesa yang diperkokoh oleh propaganda sehingga terwujud menjadi ideologi-ideologi yang saling bertentangan satu sama lain seperti kapitalisme, komunisme, fasisme, rasisme, dll. Kita membutuhkan Nabi dan bimbingan langsung darinya sehingga tidak terombang-ambing dalam "pasar hipotesa" dan perang antar "ideologi" yang dibaliknya terdapat hegemoni kepentingan dan kekelaman hawa nafsu manusia. Nabi tidak lain adalah cahaya dariNya yang menunjuki menuju kebahagiaan dan kesempurnaan kita.


Catatan Kaki:


[1] Bukti 8b merupakan kelanjutan dari bukti 8a, jadi bisa dianggap sebagai saduran dari kitab Ayatullah al-'Uzhma Nasir Makarim Syirazi, Fifty Lectures on The Principles of Faith for Youth, The Ahl al-Bayt (as. ) World Assembly, Ten Lectures on Propethood, First Lecture, We Need Prophets for Educational Reasons, pp. 148-149 terima kasih pada al-Ustadz al-'Arif billah 'Allamah Miftah Fauzi Rakhmat yang telah menghadiahkan buku ini pada kami.




1 2 next