TUJUAN KENABIAN



TUJUAN KENABIAN

         

Tuhan, dalam mengutus para Nabi dan Rasul-Nya mengacuh pada satu pandangan dunia universal yang agung, tujuan yang tinggi, dan paedah yang beragam  untuk memekarkan benih ilmu dan amal manusia sehingga mereka bermikraj bertemu dengan Tuhan, yakni maqam yang paling tinggi bagi maujud mumkin. Sebagian dari tujuan dan paedah kenabian di antaranya adalah:    

 

1. Mengajarkan Ilmu dan  Makrifat

Al-Qur'an menyebutkan bahwa pengajaran dan tarbiyah merupakan tujuan dari pengutusan para Nabi dan Rasul As; "Sebagaimana Kami telah mengutus kepadamu seorang Rasul (Muhammad) dari (kalangan) kamu yang membacakan ayat-ayat Kami, menyucikan kamu, dan mengajarkan kepadamu Kitab dan Hikmah, serta mengajarkan apa yang tidak mampu kamu ketahui."[1]             

Ungkapan: "Dan mengajarkan kamu apa yang tidak mampu kamu ketahui" menyampaikan tentang keberadaan suatu pengetahuan dan hakikat yang tidak terjangkau oleh intelek dan pikiran manusia dengan segala kemajuannya dalam pengetahuan, ilmu, dan teknologi, tapi hakikat-hakikat tersebut hanya dapat diketahui lewat jalan kenabian dan wahyu. Jika tidak ada Nabi dan Rasul yang diutus Tuhan maka akal dan pikiran manusia yang paling pertama sampai yang paling akhir tidak akan sanggup mengkonsepsi dan mengetahui hakikat samudera tauhid dan maad yang sangat dalam.

Dari mana akal bisa tahu bahwa kiamat mempunyai lima puluh stasiun. Akal dan pengetahuan manusia, kendatipun setiap saat mengalami kemajuan dan kesempurnaan, namun tetap tidak akan dapat meraih makrifat dan pengetahuan semacam ini dengan sendirinya; hatta akal para Nabi ulul azmi atau akal paling tinggi dari mereka, yaitu akal kull (total, semesta) hadhrat Muhammad bin Abdullah Saw. Berpijak pada ini maka Allah Swt menyatakan matlab tersebut kepada beliau Saw: "…Allah telah menurunkan Kitab (al-Qur'an) dan Hikmah kepadamu, dan telah mengajarkan kepadamu apa yang belum engkau ketahui. Karunia Allah yang dilimpahkan kepadamu itu sangat besar".[2] Oleh karena itu, sekiranya bukan karena karunia dan inayah Allah Swt kepada Nabi-Nya maka beliau Saw tidak akan mampu memperoleh makrifat dari sebagian masalah-masalah gaib dan metafisika.

Di tempat lain dari al-Qur'an, Tuhan berbicara kepadanya dengan firman-Nya: "Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu (Muhammad) ruh dengan perintah Kami. Sebelumnya engkau tidaklah mengetahui apakah Kitab (al-Qur'an) dan apakah iman itu, tetapi Kami jadikan al-Qur'an itu cahaya, dengan itu Kami memberi petunjuk siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sungguh, engkau benar-benar membimbing (manusia) kepada jalan yang lurus".[3]

Jelas bahwa fiil mâdhi manfi (kata kerja bentuk lampau negatif) "Maa kunta tadrii" menunjukkan penafian segala bentuk kemampuan pemahaman terhadapnya (sebelum diwahyukan), oleh karena itu, hanya karena berkat inayah dan wahyu Tuhan maka tirai dan hijab makrifat hakiki alam gaib terbuka bagi manusia dan manusia dapat menyingkap pengetahuan sejati serta hakikat-hakikat tak terbatas dan akal manusia dapat berkembang dalam dimensi ilmu dan makrifat ini (mabda, ontologi dan eskatologi).



1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 next