Benarkah Muhammad SAW Nabi Terakhir ?



Benarkah Muhammad SAW Nabi Terakhir ?

 

Munculnya keragaman pemahaman dan aliran di level internal umat Islam adalah realitas yang sulit untuk dipungkiri. Meskipun Al-Qur'an secara tegas mengatakan, "Dan berpegang teguhlah pada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai." (Ali-Imran : 103), tetap saja aliran pemikiran dalam Islam penuh corak dan warna yang beragam. Perbedaanpun tidak hanya berkisar dalam tataran fikih (baca : fhuru') bahkan merembes pada persoalan ushul (asas) pada ajaran agama. Pemahaman yang menyimpang dari pemahaman mainstream umat Islam kemudian dicap dan dikategorikan sebagai pemahaman sesat apalagi jika berkaitan dengan persoalan ushul agama. Paling seringnya problem penyimpangan dalam Islam terjadi di wilayah kenabian. Doktrin Islam bahwa Muhammad nabi terakhir (khatam al-nabiyyin), Al-Qur'an yang dibawanya adalah kitab terakhir dan Islam yang beliau sampaikan adalah agama terakhir, justru menjadi 'inspirasi' sejumlah orang untuk mengklaim keberlanjutan nabi ada pada mereka.

Pada dasarnya doktrin khatam al-nabiyyin bukanlah monopoli kaum muslim saja, tetapi juga telah menjadi doktrin utama pada setiap agama yang ada. Setiap agama besar memiliki doktrin bahwa nabinya adalah yang terakhir dan paling utama dibanding nabi-nabi selainnya. Masing-masing agama ini menjunjung tinggi doktrin khatam al-nabiyyin, dan akan menganggap siapa saja yang melanggarnya telah tersesat.

Pada awal kemunculannya,  agama Kristen oleh kaum Yahudi dianggap sebagai sempalan agama Yahudi karena menganggap Isa as sebagai nabi setelah Musa as bahkan umat Kristiani menyebutnya sebagai anak Tuhan. Begitu juga, pada masa-masa awal kemunculan Islam, kaum Kristen di kawasan Bizantium (Kekristenan Timur) menganggap pengikut Muhammad sebagai ”sekte Kristen” yang sesat dan menyesatkan. Islam dianggap sekte sesat karena memperkenalkan nabi baru selain Isa as, yakni Muhammad, bahkan mengklaim sebagai penutup para nabi. Begitupun Buddha menganggap Sidharta Gautama adalah manusia paling utama diatas semua manusia. Agama yang tidak memiliki doktrin ini tidak akan bertahan lama dan tidak memiliki nilai 'jual' sama  sekali.

Setiap agama yang datang belakangan akan selalu mendapat penentangan dari penganut agama-agama sebelumnya. Proses  ini disebut oleh Luthfi  Assyaukanie ”proses heretisasi”, yakni upaya menjauh dari pemahaman ortodoks. Jika proses heretisasi berlangsung mulus, sebuah agama baru bakal muncul; jika tidak, konflik dan ketegangan akan terus terjadi. Proses heretisasi terjadi sepanjang sejarah. Jika kaum Yahudi menganggap Kristiani sebagai agama sempalan Yahudi, Kristen justru memandang Islam sebagai sekte sesat. Dan pada gilirannya, kaum muslimpun menyebut pengikut Baha'i sebagai agama sesat. Baha’i tidak lagi dianggap sebagai bagian dari Islam karena para pemeluknya tak mau menganggap Muhammad sebagai nabi terakhir, tetapi menjadikan pemimpin mereka, Baha’ullah, seorang guru rohani dari Persia, sebagai gantinya. Jika pengikut Ahmadiyah meyakini bahwa Mirza Gulam Ahmad adalah nabi pembawa syariat, maka jelas Islam memandang mereka sebagai sekte sesat dan diluar agama Islam. Begitupun sebaliknya agama-agama yang datang belakangan memandang agama sebelumnya sebagai agama sesat jika tidak mengakui kenabian agama baru tersebut.

Tujuan diutusnya Para Nabi

Perlunya diutus nabi adalah masalah mendasar dalam prinsip kenabian. Salah satu argumen yang bisa diajukan yakni usaha ikhtiari manusia untuk mencapai kesempurnaannya membutuhkan pengetahuan yang benar tentang baik-buruk, tentang jalan-jalan yang benar dan yang salah. Hikmah Ilahiah meniscayakan adanya perangkat selain indera dan akal bagi umat manusia sehingga mampu menetapkan pilihan pada jalan yang akan ditempuhnya. Perangkat ini adalah wahyu dari Allah yang disampaikan oleh para nabi dan melalui merekalah umat manusia dapat memaanfaatkan dan mempelajarinya untuk mencapai kesempurnaan kemanusiaan dan kebahagiaan yang abadi. Jika tidak demikian, Allah tidak ubahnya seseorang yang mengundang teman bertamu kerumahnya namun tidak memberikan alamat rumah dan tidak pula mengutus seseorang untuk menjemput dan memberitahu jalan yang harus ditempuh. Inilah hikmahnya Allah mengutus para nabi, "Dan tidak ada satupun umat melainkan disana telah datang seorang pemberi peringatan." (Qs. Fathir : 24).

Dua Tipe Kenabian

Puluhan ribu nabi telah diutus sepanjang sejarah hidup manusia di segala penjuru dunia. Umat Islam meyakini mata rantai kenabian bermula dari Nabi Adam as dan berakhir di  tangan Muhammad SAW dan tidak ada lagi nabi sesudahnya. Para nabi yang dipersembahkan sejarah sebagian diantara mereka memiliki kitab-kitab samawi (langit) dan syariat tertentu. Allah SWT menurunkan syariat sesuai pemahaman dan jangkauan masyarakat setiap masa. Dan sebagian diantara mereka 'sekedar' memiliki tugas mengajak dan membimbing umat untuk mengikuti ajaran nabi sebelumnya dan menyucikan noda-noda yang menyelewengkan makna hakiki syariat dan ajaran sebelumnya. Dengan kata lain, ada dua tipe kenabian. Kenabian dari sisi syariat dan kenabian dari sisi penyampaian. Kita meyakini Islam dengan kesempurnaan, keseluruhan dan cakupan yang dimilikinya mengakhiri kenabian dari sisi syariat, namun bagaimana kita bisa menjelaskan bahwa kenabian dari sisi penyampaian juga berakhir sementara hikmah Ilahi meniscayakan adanya manusia disetiap masa yang memberi petunjuk dan bimbingan kepada umat manusia dengan pengetahuan keagamaan dan ilmunya terhadap wahyu (Al-Qur'an) tidak berbeda sedikitpun dengan nabi Muhammad SAW ?. Ditutupnya kenabian hanya bisa sesuai dengan hikmah dan falsafah diutusnya para nabi bila syariat samawi yang terakhir tersebut memenuhi seluruh kebutuhan umat manusia, disetiap masa dan disetiap tempat. Al-Qur'an sebagai kitab samawi terakhir telah dijamin oleh Allah SWT keabadian dan keutuhannya dari berbagai penyimpangan hingga akhir masa. Akan tetapi secara zahir Al-Qur'an tidak menjelaskan hukum-hukum dan ajaran Islam secara mendetail. Oleh karenanya penjelasan perincian hukum menjadi tanggung jawab nabi untuk menerangkannya kepada seluruh umatnya. Sewaktu Nabi Muhammad SAW masih hidup tanggungjawab itu berada dipundaknya. Karena itu hadits-hadits Nabi Muhammad SAW menjadi hujah dan sumber autentik ajaran Islam. Namun apakah semasa hidupnya, Rasulullah SAW telah menjelaskan seluruh hukum dan syariat Islam kepada seluruh umat ?. Kalau tidak semua, siapa yang bertanggung jawab untuk menjelaskannya ?. Siapa pula yang  bertanggungjawab menengahi silang sengketa sekiranya terjadi penafsiran yang berbeda tentang ayat-ayat Al-Qur'an dalam tubuh umat Islam?. Saya sulit menerima jika dikatakan tanggung jawab penjelasan syariat Islam pasca wafatnya Rasul jatuh ketangan para sahabat. Sementara untuk contoh sederhana sahabat sendiri berbeda pendapat  bagaimana cara Rasululullah melakukan wudhu dan shalat yang benar, padahal Rasul mempraktikkan wudhu dan shalat bertahun-tahun di hadapan mereka. Untuk persoalan wudhu saja mereka menukilkan pendapat yang berbeda-beda, karenanya pada masalah yang lebih rumit sangat mungkin terjadi penukilan yang keliru. Ataupun tanggungjawab penafsiran Al-Qur'an jatuh kepada keempat imam mazhab yang untuk sekedar menafsirkan apa yang dimaksud debu pada surah Al-Maidah ayat 6 saja sulit menemukan kesepakatan. Kata mazhab Syafi'i debu meliputi pasir dan tanah, tanah saja kata Hanbali; tanah, pasir, batuan, salju dan logam kata Maliki; tanah, pasir dan batuan kata Hanafi (al-Mughniyah, 1960; Al-Jaziri, 1986).



1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 next