Baca Ulang Filsafat Islam; Sebuah Pengantar



Baca Ulang Filsafat Islam; Sebuah Pengantar

Oleh: A. Luqman Vichaksana

Kata Plato, suluk filosofis dimulakan dengan laku heran dan takjub, suatu laku ketercengangan dihadapan kenyataan yang hanya menyisakan setakhingga soalan. Namun ketakjuban itu bukan lantas menenggelamkan manusia dalam seru terperananya, tapi justru membakar hasrat keingintahuan manusia untuk menembus rahasia realitas yang meliputinya, misteri tentang hakikat dirinya, mencari tahu akan keberlanjutan hidupnya nanti, dan menyingkap makna di setiap ayat keberadaan.

 Selaku makhluk rasional yang memiliki ikhtiar dan kehendak; karuan saja manusia tak akan sanggup tinggal diam dalam kubang kejahilan. Ada kalanya ia berlari mencari jawaban pelbagai soalan asasi itu pada tuturan orang-orang terdahulu, lalu ia pasrah begitu saja dengan pesan mitologis yang diwariskan tradisi kaumnya; jika tak puas ia pun mencari-cari disela-sela lembaran kitab suci, andaikan ia tak larat pula dengan tuntutan iman-religi yang dikehendaki oleh doktrin kitab suci, mungkin saja ia akan berlari ke pelbagai teorema saintis dan beragam simpulan pengalaman empiris; kalaupun kemudian ia teguh dengan iman religinya, namun tak tahan dengan keringnya sakramen syariat, bisa jadi ia akan berupaya menyibak batin agama, dan mengembara di jalan sufistik sembari mencari makna hidup dari penyaksian irfani. Tapi, terkadang ada pula yang kembali pada kedalaman dirinya, dan berupaya menemukan jawaban seluruh soalan hidup secara filosofis dengan berpegang teguh pada daya rasional yang menjadi jatidiri insaniahnya. Tegasnya, ada banyak jalan yang bisa dipilih dan ditempuh manusia untuk menyikapi realitas dan keberadaan disekelilingnya.

 Maka filsafat adalah salah satu jalan yang menawarkan rasionalitas-burhani sebagai pilihan untuk menemukan makna hidup dan membangun pandangan dunia. Ia adalah kerangka interpretatif yang menitiskan beragam jawaban akan pertanyaan asasi eksistensialis. Demikian halnya dengan agama, agama pun memaknai realitas dengan ajaran wahyuninya, namun akal dan rasionalitas bukan satu-satunya jalan yang dikehendaki oleh agama. Dogma agama, senantiasa mensyaratkan iman bagi setiap pemeluknya, bahkan pada beberapa pembacaan atas agama, dimensi akliah manusia malah kudu dinafikan terlebih dahulu sehingga lantas bisa beranjak pada keluhuran derajat iman.

 Kehadiran Islam sebagai agama yang menkhotbahkan janji keselamatan dan kebahagiaan abadi turut pula menyuguhkan pandangan dunia yang mampu memaknai ayat-ayat eksistensial. Meski demikian, mengingat bahwa hakikat agama tersebut menjelma ke dalam beragam tingkatan fenomenal dan gatra, maka tidak semua manusia mampu menyingkap pasal-pasal penting kandungan agama dan pandangan-dunia yang ditawarkannya. Ada pelbagai piranti lunak yang diperlukan untuk menyingkap semua itu. dan sekedar berpegang pada iman, niscaya tidak akan mencukupi untuk mengupayakan hal itu. Maka, untuk sekian kalinya, fakultas akli manusia sebagai jauhar (substansi) filsafat harus tetap diberdayakan sekalipun dalam pelataran iman religi. Sehingga, pada noktah inilah, peran filsafat kian diperlukan oleh seorang mukmin.

 Tapi, apakah mungkin filsafat yang berjiwakan kebebasan berpikir rasional, bisa bersandingan mesra dengan agama (baca: Islam) yang notabenenya bercirikan penghambaan imani? Bukankah keunikan argumentasi falsafi dibangun berdasarkan premis swabukti akal (badihiyyat), sementara agama bersandarkan pada mukaddimah yang dinukil dari matan-matan suci dan proposisi wahyu? Apakah mungkin identitas kemurnian filsafat dan kesejatian agama (islam) dapat tetap terjaga ketika keduanya saling bersinergi dalam ranah yang sama? Bisakah keduanya berpadu harmonis? Simpul kata, mungkinkah filsafat islam itu? jikalau mungkin, adakah filsafat islam tersebut?

 Filsafat Islam: Mungkinkah?

Terlepas apakah dalam alur sejarah pemikiran, kita bisa temukan filsafat islam ataukah tidak, adalah soalan lain yang perlu kita baca ulang juga. Namun jika kita lebih jeli, pertanyaan sub-judul di atas jauh lebih urgen untuk kita telisik terlebih dahulu, dengan artian bahwa apakah mengawinkan filsafat dengan islam adalah suatu perkara yang mungkin?

 Sejatinya, tilikan atas soalan di atas akan bergantung dengan sejauhmana pandangan kita terhadap hubungan antara akal dengan agama. Dan hal inipun akan bergantung pula dengan pembacaan kita atas akal dan agama. Karena itu, layak adanya jika kita tegaskan terlebih dahulu apa pengertian akal dan agama yang termaksud di sini? Dan bagaimanakah hubungan antara keduanya itu?



1 2 3 next