Seluruh Sifat-sifat Fi'liyah



Seluruh Sifat-sifat Fi'liyah

Mukadimah       

  Termasuk tema yang rumit dan persoalan yang sulit dipahami dalam kajian ilmu kalam adalah masalah  irâdah Ilahiyah (kehendak Tuhan). Masalah ini dapat dibahas dari beberapa sisi. Pertanyaan-pertanyaan yang biasanya dilontarkan sehubungan dengan masalah irâdah Tuhan ini adalah: apakah kehendak Tuhan itu termasuk sifat dzatiyah ataukah ia termasuk sifat fi'liyah (perbuatan)? Apakah sifat tersebut qadim ataukah hadits? dan apakah irâdah Tuhan tersebut satu ataukah berbilang?  Para teolog dan ulama berbeda pendapat dan pandangan dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. Dengan membaca, mengkaji dan memahami uraian berikut ini, Anda akan dapat menemukan jawaban dari beberapa pertanyaan tersebut. 

   Selain hal-hal yang telah disebutkan di atas, terdapat pula tema-tema lainnya yang dibahas dalam kajian filsafat mengenai kemutlakan  kehendak, khususnya kehendak Tuhan. Menurut kami, bahwa kajian atas tema ini secara luas dan mendetail, perlu dikaji dan dibahas, namun pada kesempatan lain yang lebih sesuai dengan ruang dan waktunya. Oleh karena itu, pada kesempatan kali ini, kami akan membahasnya secara lebih sederhana sebagai langkah pertama untuk masuk kepada penjelasan selanjutnya yang lebih luas dan mendalam. Kami akan memulai untuk membahas masalah ini dengan menjelaskan pengertian irâdah. Setelah itu, kami akan jelaskan secara ringkas dan sederhana tentang irâdah Tuhan Pencipta alam semesta.

Irâdah

  Irâdah (kehendak, keinginan) adalah kata yang biasa dan sering digunakan oleh masyarakat umum dalam percakapan mereka sehari-hari.  Jika kita coba melihat kata irâdah ini secara urf dan menurut pandangan masyarakat umum, maka setidak-tidaknya kata irâdah ini digunakan dalam dua makna. Salah satunya bermakna cinta (mahabbah), dan yang kedua bermakna keputusan (tashmim) untuk melakukan suatu perbuatan. Makna irâdah yang  pertama, yaitu mahabbah (cinta) mengandung pengertian yang sangat luas. Artinya bahwa makna yang pertama ini meliputi cinta akan segala sesuatu, baik yang berada pada diri seseorang yang berkehendak maupun segala sesuatu yang berada di luar dirinya. Berbeda halnya dengan makna yang kedua, yaitu mengambil keputusan. Karena makna yang kedua ini khusus digunakan untuk tindakan-tindakan dan berbagai perbuatan seseorang yang memiliki kehendak itu sendiri.

   Irâdah dengan pengertian pertama (mahabbah), meskipun bagi manusia hal itu merupakan aradh (aksiden) dan kaifiyah nafsaniyah (kualitas jiwa), tetapi akal kita dapat menggambarkan pahaman dan konsep umum baginya, yaitu dengan cara menyingkirkan dan mengosongkan berbagai kekurangan yang terdapat di dalamnya, sehingga ia dapat diterapkan atas berbagai maujud jauhariyah (substansial), bahkan dapat diterapkan atas Tuhan Pencipta. Sebagaimana penyingkiran dan pengosongan semacam itu dilakukan oleh akal terhadap pengetahuan (al-'Ilm).

  Oleh karena itu, Hubb (cinta) –yang diterapkan atas mahabbah (kecintaan) Tuhan terhadap dzat-Nya– dapat digolongkan pula ke dalam sifat-sifat dzatiyah (esensial). Dengan demikian, apabila yang dimaksud dengan iradah Ilahiyah adalah hubb al-kamal (cinta kesempurnaan) yang -pada prinsipnya- berhubungan dengan kesempurnaan Ilahi yang tidak terbatas, dan berikutnya berhubungan dengan kesempurnaan seluruh makhluk dari sisi bahwa kesempurnaan itu merupakan kesan (atsar) dari kesempurnaan-Nya, maka kita dapat menggolongkan sifat irâdah yang bermakna cinta ini ke dalam sifat-sifat dzatiyah, sebagaimana sifat dzatiyah lainnya, yaitu qadim dan esa, dan identik ('ayn dzat) dengan dzat Tuhan Pencipta itu sendiri. Dengan kata lain ia merupakan substansi dzat Tuhan itu sendiri.

Adapun irâdah dengan makna keputusan untuk melakukan suatu tindakan dan pekerjaan, maka -tidak diragukan lagi- bahwa ia termasuk sifat-sifat fi'liyah (perbuatan), yang jika kita melihatnya dari sisi kaitannya dengan fenomena-fenomena alam (hawâdits), ia terikat dengan batasan-batasan waktu dan zaman. Namun perlu diperhatikan bahwa disifatinya Tuhan dengan sifat-sifat fi'liyah seperti ini, tidak berarti bahwa dzat-Nya itu mengalami perubahan atau terdapat aradh (aksiden) padanya. Melainkan penyifatan ini hanyalah menyoroti dan memandang hubungan antara dzat Tuhan dan makhluk-makhluk-Nya dari sisi tertentu dan dengan syarat-syarat tertentu pula, sehingga dengan cara seperti itu dapat diperoleh sebuah pahaman dan konsep relasional (mafhum idhâfi)  yang tergolong sebagai sifat fi'liyah. Jika kita perhatikan relasi dan hubungan antara Tuhan Pencipta dan makhluk-makhluk-Nya, maka akan kita dapati bahwa sifat irâdah terdapat dalam relasi dan hubungan tersebut. Dengan uraian yang lebih jelas bahwa setiap makhluk itu diciptakan oleh Tuhan dari aspek bahwa ia memiliki kesempurnaan, kebaikan dan kemaslahatan. Artinya bahwa dalam penciptaan makhluk itu terdapat maslahat, kebaikan dan kesempurnaan bagi makhluk itu sendiri. Dengan demikian maka wujud makhluk tersebut –pada masa, tempat dan cara tertentu– terkait dengan ilmu dan cinta Tuhan. Dan sesungguhnya Tuhan menciptakan makhluk-Nya dengan kebebasan dan kehendak-Nya, tanpa ada pemaksaan dari siapa pun. Maka dengan memperhatikan hubungan tersebut, kita akan dapat memperoleh sebuah pahaman dan konsep yang dinamakan irâdah. Pahaman dan konsep relasional ini dibatasi oleh batasan-batasan tertentu dilihat dari kaitannya dengan sisi hubungan yang terbatas pula. Oleh karena itu, pahaman dan konsep irâdah -yang diperoleh dengan melihat hubungan semacam ini- bersifat huduts dan katsrah (proses kebaruan dan jamak). Hal itu karena idhâfah (relasi, hubungan) mengikuti dua sisi yang mengapitnya, dimana huduts dan katsrat berada pada salah satu dari dua sisi. Singkatnya bahwa untuk memperoleh gambaran dan pahaman tentang sifat irâdah sebagai sifat fi'liyah Tuhan adalah dengan memperhatikan kedua hubungan antara dzat Tuhan yang berada pada satu sisi dan makhluk ciptaan-Nya yang bersifat huduts dan katsrat yang berada pada sisi lainnya. Sirâyat dan merembetnya sifat huduts dan kasrat kepada sifat irâdah Tuhan tersebut, cukup untuk menilai bahwa sifat tersebut sebagai sifat fi'liyah-Nya.

 



1 2 3 next