Sifat-sifat Dzatiyah



Sifat-sifat Dzatiyah

Mukadimah

    Telah kami jelaskan pada uraian yang lalu, bahwa Tuhan Pencipta merupakan “Sebab dan Illat Pengada”  bagi makhluk manusia dan alam semesta ini, dimana seluruh kesempurnaan wujud terdapat hanya pada dzat-Nya, dan berbagai kesempurnaan yang dimiliki oleh setiap maujud dan seluruh makhluk ciptaan-Nya itu bersumber dari-Nya. Sementara kesempurnaan zat-Nya tidak berkurang sedikit pun ketika Dia menganugerahkan kesempurnaan tersebut kepada makhluk-makhluk-Nya.

      Untuk lebih jelasnya, kami akan bawakan contoh yang kerap terjadi pada kehidupan kita sehari-hari. Misalnya tatkala seorang guru mengajarkan berbagai ilmu kepada murid-muridnya, apakah ilmu yang dimiliki si guru tersebut akan berkurang? Jawabnya tentu saja tidak, sama sekali. Demikian pula mengenai anugerah Wujud Tuhan. Sudah pasti bahwa anugerah wujud dan segenap kesempurnaan Wujud dari Tuhan Pencipta itu jauh lebih unggul dan mulia daripada contoh tersebut.  Lebih dari itu semua, bahwa kesempurnaan Tuhan Pencipta itu bersifat mutlak dan tidak terbatas. Oleh karena itu, setiap ungkapan, pujian, konsep ataupun mafhum yang mengungkapkan kesempurnaan yang tidak meniscayakan kekurangan dan batasan apapun, dapat diterapkan pada dzat Tuhan.

    Adapun sifat-sifat Tuhan Pencipta yang disebutkan di dalam kitab-kitab Filsafat dan Teologi, memang sangat terbatas. Sifat-sifat tersebut dapat dibagi menjadi dua kelompok, yaitu sifat-sifat dzatiyah (sifat-sifat esensial) dan sifat-sifat fi'liyah (sifat-sifat perbuatan). Pertama-tama, kami akan menjelaskan dua bagian tersebut. Setelah itu, kami akan menjelaskan beberapa sifat yang paling penting di antara sifat-sifat tersebut, kemudian menetapkannya dan membawakan argumentasinya.

Sifat-sifat Dzatiyah dan Fi'liyah

    Sifat-sifat dzatiyah (esensial) artinya sifat-sifat Tuhan yang dapat diambil dan dipahami dari esensi dzat-Nya. Dengan kata lain, bahwa sifat-sifat dzatiyah ialah sifat-sifat kesempurnaan yang dinisbatkan kepada Tuhan Pencipta yang berupa konsep-konsep atau gambaran di benak yang diperoleh akal dari pengamatannya atas zat-Nya, seperti; sifat hidup (al-Hayah), ilmu (al-'Ilm), dan kuasa (al-Qudrah) dan sifat-sifat lainnya. Adapun sifat-sifat fi’liyah (perbuatan) artinya sifat-sifat Tuhan yang diambil dan dipahami dari perbuatan-Nya. Dengan kata lain, bahwa sifat-sifat fi’liyah ialah sifat-sifat kesempurnaan yang berupa konsep-konsep yang diperoleh akal dari pengamatannya atas bentuk-bentuk hubungan antara Tuhan dengan makhluk-makhluk-Nya, seperti; penciptaan (Al-Khâliqiyyah) dan pemberian rizki (Ar-Râzikiyyah).

      Perbedaan mendasar antara dua sifat tersebut ialah bahwa sifat-sifat dzatiyah merupakan realitas objektif yang nyata bagi dzat Tuhan. Adapun sifat-sifat fi’liyah merupakan relasi atau nisbah antara Tuhan dengan makhluk-Nya. Artinya bahwa dzat Tuhan dan dzat makhluk-Nya, merupakan dua sisi relasi.  Misalnya Al-Khâliqiyyah, sifat ini diperoleh dari hubungan yang terdapat pada makhluk-makhluk-Nya dengan dzat Tuhan sebagai pencipta. Dalam hal ini, Tuhan dan seluruh makhluk-Nya merupakan dua sisi hubungan tersebut. Tetapi  dalam realitasnya,  tidak terdapat apa pun selain dzat Tuhan dan dzat-dzat makhluk-Nya. Artinya bahwa Al-Khâliqiyyah itu bukanlah sebuah realitas yang nyata. Melainkan ia merupakan cerapan dan pahaman yang diambil dari dua sisi hubungan tersebut.

     Pada tataran dzat, sudah jelas bahwa Tuhan memiliki sifat al-Qudrah (kekuasaan) untuk mencipta. Tetapi, sifat ini merupakan sifat dzatiyah. Adapun al-Khalq (penciptaan) merupakan mafhum idhâfi (konsep relasional) yang diperoleh pada tataran perbuatan dan tindakan Tuhan. Oleh karena itu, maka al-Khâliq (pencipta) termasuk sifat fi'liyah. Lain halnya jika kita menafsirkan  al-Khâliq (pencipta) dengan al-Qâdir 'alal khalq (kuasa untuk mencipta), maka dalam hal ini, ia kembali kepada sifat dzatiyah, yakni  al-Qudrah. 

     Sifat-sifat dzatiyah Tuhan Pencipta yang penting ialah al-Hayah (hidup), al-'Ilm (tahu), dan al-Qudrah (kuasa). Adapun sifat mendengar (as-Sami') dan melihat (al-Bashir), apabila kedua sifat ini ditafsirkan bahwa Tuhan mengetahui apa saja yang Dia dengar dan apa saja yang Dia lihat, atau Dia kuasa untuk mendengar dan melihat, maka sebenarnya kedua sifat tersebut menginduk  kepada al-'Alim dan al-Qadir (Mahatahu dan Mahakuasa). Namun, jika maksud kedua sifat itu adalah mendengar dan melihat secara fi'li (aktual) yang dicerap dan diambil oleh akal melalui hubungan Dzat Yang Mahadengar dan Mahalihat dengan segala sesuatu yang mungkin untuk didengar dan dilihat, maka kedua sifat tersebut termasuk atau digolongkan ke dalam sifat fi'liyah. Sebagimana sifat ilmu, terkadang digunakan dengan pengertian seperti itu pula, yang dinamakan sebagai ilmu fi'li.  Sebagian Teolog menggolongkan sifat “berkata” (al-Kalam) dan “berkehendak” (irâdah) ke dalam sifat dzatiyah, dan hal ini akan kita bahas pada bagian berikutnya.



1 2 3 next