Membaca Peta Filsafat Politik Islam



Membaca Peta Filsafat Politik Islam

 

Oleh: Moh. Yasin

 

Pemikiran politik Al Farabi tidak hanya berpengaruh pada filosof-filosof Islam klasik yang datang setelahnya. Tapi khazanah pemikiran politik Al Farabi menjadi sangat penting kaitannya dengan pemikiran politik Islam kontemporer. Pemikiran Ayatullah Khomeini (seorang tokoh revolusi Iran) misalnya, tidak beranjak jauh dari konsep-konsep yang dikembangkan oleh Al Farabi. Filsafat politiknya beranjak dari latar belakang yang sama, yaitu mengapresiasi pemikiran Plato dan teori kepemimpinan (Imamah) Syi'ah.

 

Tidak hanya Khomeini para pemikir Islam lain seperti Jawad Mughniyyah, Muhammad Baqir Shadr, Kahzhim Hairi juga mengembangkan pemikiran politik Al Farabi. Mereka memunculkan konsep pemerintahan yang Islami, dengan dua bentuk spektrum, mulai dari yang paling populist (berorientasi pada rakyat) sampai yang paling statist (berorientasi pada negara).

 

Para filosof klasik setelah Al Farbi seperti Ibn Shina, Al Razi, Al Thusi, Ibn Gabirol, dan Maimonides mengakui Al Farabi sebagai filosof politik Islam par excellence. Kualitas filsafat politik Al Farabi bagi mereka sulit untuk dilampaui. Sebagai filosof Islam klasik pertama ia mendapat julukan "guru kedua" setelah Aristoteles "guru pertama". Hal itu karena kemampuan Al Farabi mempertalikan, menghadapkan dan menyelaraskan filsafat politik Yunani klasik dengan Islam dan membuatnya bisa di mengerti dalam konteks agama-agama wahyu.

 



1 2 3 next