Kaidah Basith Al-Hakikah bag 2



Kaidah Basith Al-Hakikah

(Bagian Kedua)

 

Menegaskan Ke-basith-an Wâjib al-Wujûd

Apakah hakikat Wâjib al-Wujûd[1] adalah basith? Bagaimana hubungan antara  ke-basith-an dan wujud?

        Mulla Shadra, dalam jilid pertama kitab Asfar, menguraikan pembahasan yang cukup mendetail tentang penetapan ke-basith-an hakikat wujud. Menurutnya, jika hakikat wujud tidak basith, yakni terangkap dari genus dan diferensia, maka genusnya adalah wujud atau sesuatu non-wujud, sementara tidak ada sesuatu selain wujud. Karena kedua premis tersebut adalah batil maka asumsipun menjadi salah. Dan sebagai konklusi, hakikat wujud adalah suatu hakikat yang basith dan tak berangkap.

Dengan membuktikan bahwa hakikat wujud adalah basith dan tak terangkap dari genus dan diferensia, maka asumsi rangkapan hakikat wujud dari materi dan forma serta seluruh hukum kuiditas, seperti hukum-hukum yang berhubungan dengan kuantitas dan kualitas, dengan sendirinya menjadi ternafikan; yakni wujud tidak memiliki bagian-bagian kuantitas seperti seperdua dan sepertiga; sebab sesuatu yang menerima pembagian maka ia adalah kuantitas dan setiap sesuatu yang kuantitas mesti memiliki genus dan diferensia, dan sesuatu yang mempunyai genus dan diferensia niscaya tergolong kuiditas. Jika ada sesuatu yang tidak memiliki kuiditas (mahiyah), maka sebagaimana ia tidak memiliki bagian-bagian di alam pikiran dan di alam eksternal, ia juga tidak akan memiliki bagian-bagian kuantitas. Dengan demikian, karena wujud tidak memiliki genus dan diferensia, maka wujud tidak mempunyai batasan dan defenisi. Wujud tidak bisa didefenisikan.[2]

Ke-basith-an, merupakan kesempurnaan wujud. Sebagaimana wujud itu sendiri bergradasi (tasykik), maka derajat paling tinggi adalah wujud yang paling sempurna, dan wujud yang paling sempurna ini hanya mempunyai satu individu, yaitu Wâjib al-Wujûd yang merupakan hakikat basith dengan seluruh pengertian.

Kaidah basith al-hakikah secara mendasar diaplikasikan terhadap dzat Tuhan dan penjelasan atas ilmu-Nya. Mulla Shadra sebelum menjelaskan kandungan kaidah ini secara argumentatif, ia terlebih dahulu mengkonstruksi argumen pembuktian ke-basith-an hakikat Wâjib al-Wujûd dari berbagai sisi. Ia membawakan dalil-dalil yang cukup untuk menegasikan setiap bentuk komposisi pada dzat Tuhan, baik komposisi rasional (di alam pikiran) dan eksternal, maupun komposisi batasan dan kuantitas. Selanjutnya ia juga berupaya mengkonstruksi argumen untuk menafikan Tuhan dari komposisi kekurangan dan kepemilikan (negasi dan afirmasi).[3]

Kendatipun filosof sebelumnya, baik filososf peripatetik maupun iluminasi, semua sepakat dan berargumen tentang ketunggalan dan ke-basith-an dzat Tuhan, tetapi untuk menjauhi pembahasan yang panjang dalam tulisan ini, maka kami hanya memuat argumen dan pandangan Mulla Shadra tentangnya. Argumen-argumennya akan mengungkap secara gamblang dan jelas tentang ke-basith-an hakikat dzat Tuhan, argumennya akan menjadi premis minor dalam proposisi yang menetapkan kaidah basith al-hakikah.



1 2 3 4 5 6 7 8 next