Ahlulbait Nabi di dalam Al-quran da Sunnah



5.       Qs al-Insaan :5- 22

Maksudnya: “Sesungguhnya orang-orang yang berbuat kebajikan minum dari gelas (berisi minuman) yang campurannya ialah air kapur, iaitu mata air (dalam syurga) yang daripadanya hamba-hamba Allah minum, yang mereka dapat mengalirkannya dengan sebaik-baiknya. Mereka menunaikan nazar dan takut suatu hari yang azabnya merata di mana-mana, dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang tawanan. Sesungguhnya kami memberikan makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan kami tidak pula (ucapan) terima kasih. Sesungguhnya kami takut akan azab suatu hari yang (di hari itu orang-orang bermuka masam, penuh kesulitan) yang datang dari tuhan kami, maka tuhan memelihara

mereka dari kesusahan hari itu, dan memberi kepada mereka kejernihan (wajah) dan kegembiraan hati…” hingga ayat 22. Dalam ayat-ayat di atas al-Qur’an menceritakan Ahlul Bayt dengan meletakkan mereka itu di kemuncak pengaruh dan ketaqwaan dan menonjolkan mereka sebagai contoh dan teladan kepada umat manusia supaya generasi akan datang mencontohi mereka dan berjalan mengikut cara mereka sehingga menyebabkan turunnya ayat al-Qur’an itu. Peristiwa bersejarah sehingga menyebabkan turunnya ayat adalah menunjukkan tingginya kedudukan Ahlul Bayt as dan ketinggian mereka dalam perlaksanaan dan penglibatan syarak secara total juga keikhlasan yang sempurna kepada Allah Ta’ala dan mereka adalah golongan yang al-abrar yang dijanjikan dengan syurga dan barangsiapa yang mengikuti contoh mereka dan berjalan mengikut perjalanan mereka akan dihimpunkan bersama-sama mereka. Al-Zamakhshari telah mengemukakan pandangannya dalam mentafsirkan ayat ini dengan katanya: daripada Ibn Abbas rd bahawa “ketika al-Hasan dan al-Husayn sakit, Rasulullah menziarahi mereka bersama-sama dengan ramai.” Mereka berkata: “Wahai bapa al-Hasan (Ali b. Abi Talib) kalaulah kamu bernazar ke atas anak-anak kamu, lalu Ali, Fatimah dan seorang hamba bernama Fiddah, bernazar jika keduanya (al-Hasan dan al-Husayn sembuh (dari penyakit) mereka akan berpuasa tiga hari. Tiba-tiba kedua-duanya pun sembuh, tetapi mereka tidak mempunyai apa-apa pun, lalu ‘Ali meminjam daripada Syam’aun seorang Yahudi Khaibar sebanyak 3 cupak daripada gandum (sya’ir). Fatimah menguli satu cupak dan dibuat 5 roti sebanyak bilangan mereka (‘Ali, Fatimah, Hasan dan Husayn dan jariah). Kesemua roti itu diletakkan di hadapan mereka untuk berbuka puasa, tiba-tiba muncul di hadapan mereka seorang meminta-minta dengan katanya: “As-salamu-‘alaikum Ahlul Bayt: berilah aku makan nescaya Allah akan memberi kamu makan daripada hidangan syurga.” Maka mereka mengutamakan (orang yang meminta) dan mereka tidur dan tidak makan kecuali air dan

besoknya mereka berpuasa lagi, maka besok apabila sampai waktu petang dan sedang tangan mereka memegang makanan tiba-tiba muncul seorang yatim berdiri di hadapan mereka, mereka pun memberikan makanan kepadanya, dan pada hari yang ketiga datang seorang tawanan meminta-minta makanan, mereka pun berikan kepadanya seperti hari-hari sebelumnya. Maka pada keesokan harinya, ‘Ali dengan memegang tangan al-Hasan dan al-Husayn menemui Rasulullah s. ‘a.w dan apabila baginda s. ‘a.w melihat mereka dalam keadaan menggeletar kelaparan seperti ayam yang sangat lapar, baginda bersabda: apakah gerangan yang menyedihkan aku bila aku melihat kamu ini, lalu baginda pun bangun dan pergi bersama-sama mereka dan melihat Fatimah di mihrabnya duduk membongkok sehingga bertemu bahagian atasnya dengan perutnya dan mencurah keluar air matanya, maka keadaaan ini menyedihkan (Rasulullah), kemudian Malaikat Jibrail turun dan berkata: Wahai Muhammad ambillah dia (Fatimah), Allah memberikan tahniah pada Ahlul Bayt kamu lalu Jibrail pun membacakan Surah (al-Insaan).23

 

b. Dalil Naqli (Hadits)

  1. Diriwayatkan oleh Sa’id bin Manshur dari Said bin Jubair tentang firman Allah dalam ayat : “Katakanlah : Aku tidak meminta dari kalian sesuatu upahpun atas seruanku kecuali kasih sayang terhadap keluarga.” (QS 42 : 23) Ia berkata yang dimaksud keluarga dalam ayat itu adalah keluarga Rasulullah saww.
  2. Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Ibnu Abbas tentang ayat 23 surat Asy-Syuura yang artinya : “Dan siapa mengerjakan kebaikan.” Ia berkata : “Yang dimaksud kebaikan adalah kecintaan kepada keluarga Muhammad saww.”
  3. Diriwayatkan oleh Ahmad, Al-Turmudzi dan ia menshahihkannya, Al-Nasa’i dan Al-Hakim dari Al-Muththalib bin Rabi’ah ia berkata bahwa  Rasulullah saww bersabda : “Demi Allah, iman tidak akan masuk ke hati seorang Muslim hingga ia mencintai kalian (keluarga Nabi saww) karena Allah dan karena hubungan keluarga denganku.”
  4. Diriwayatkan oleh Muslim, Al-Turmudzi dan Al-Nasa’i dari Zaid bin Arqam bahwa Rasulullah bersabda : “Aku ingatkan kalian tentang Ahl Baytku.”
  5. Bukhari meriwayatkan dari Abu Bakar Al-Shiddiq, ia berkata : “Peliharalah Muhammad saww dengan memelihara keluarganya.”
  6. Ibnu ‘Adi meriwayatkan dari Abu Said Al-Khudri ia berkata bahwa Rasulullah bersabda : “Barang siapa membenci kami Ahlul Bayt, maka ia adalah munafik.”
  7. Ibnu Hibban dan Al-Hakim meriwayatkan dari Abu Said Al-Khudri ia berkata bahwa Rasulullah bersabda : “Demi yang jiwaku di tangan-Nya, tidak seorangpun membenci kami kecuali akan dimasukkan Allah ke neraka.”
  8. Al-Thabrani meriwayatkan dari Ibnu Umar, ia berkata : “Akhirnya ucapan Rasulullah sebelum wafat adalah : “Perlakukan aku sepeninggalku dengan bersikap baik kepada Ahlul Baytku.”.”
  9. Al-Thabrani meriwayatkan dari Fathimah Al-Zahra’ ra beliau berkata bahwa Rasulullah bersabda : “Setiap putra ibu akan bergabung dalam nasabnya kepada ashabahnya (keluarga pihak ayah), kecuali anak-anak Fathimah. Akulah wali mereka dan akulah ashabah mereka.”   
  10. Al-Thabrani meriwayatkan dari Ibnu Abbas ia berkata bahwa Rasulullah bersabda : “Semua sebab dan nasab (keturunan)  akan terputus pada hari kiamat kecuali sebab dan nasab yang bersambung denganku.”
  11. Al-Thabrani meriwayatkan dari Ibnu Abbas ia berkata bawa Rasulullah saww berkata kepada Fathimah : “Sesungguhnya Allah tidak akan menyiksamu dan anak cucumu.”
  12. Al-Thabrani meriwayatkan dari Ibnu Umar ia berkata bahwa Rasulullah bersabda : “Pertama orang yang akan aku beri syafa’at dari kalangan umatku adalah Ahl Baytku (kerabatku).”
  13. Al-Khatib meriwayatkan dari Ali ia berkata bahwa Rasulullah bersabda : “Syafa’atku bagi umatku (hanya) teruntuk orang yang mencintai Ahlul Baytku.”

 

        Makna Ahlulbait yg maksum (Khususul khusus) diterangkan oleh dalil naqli yg bersifat:

1.       a. Menjelaskan kesucian (kemaksuman) dari segala dosa diantaranya  surat Al-Ahzab 33, untuk ayat almawaddah dan ayat lainnya tidak secara khusus menjelaskan kesucian. Suci secara hukum akal berarti maksum, bahkan dalam ayat tersebut ditegaskan kembali dengan (Wayuthahhirakum thathhiiran).

b. hadit ke 11 diatas.



back 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 next